No. 1418 AYA SOPHIA

today July 17, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Hai anak Adam, pakailah pakaian yang indah setiap kali kamu memasuki masjid ‘ ( QS. Al A’raf : 31)

Aya Sophia atau Hagia Sophia pertama kali didirikan di atas pondasi atau tempat kuil pagan pada 325 Masehi, atas perintah Kaisar Konstantinus I. Putranya, Konstantius II, lalu menjadikan bangunan ini sebagai gereja Ortodoks pada 360 masehi. Hagia Sophia semula hanyalah bangunan beratap kayu dan tak semegah yang sekarang. Pada tahun 404 masehi, Hagia Sophia sempat terbakar akibat kerusuhan karena konflik politik di kalangan keluarga Kaisar Arkadios yang kemudian menjadi penguasa Bizantium pada 395-408 masehi. Selepas Arkadios mangkat, penerusnya, Kaisar Theodosis II membangun struktur kedua di Hagia Sophia. Pembangunan gereja Hagia Sophia berlanjut di masa kekuasaan Justinan I (532 M). Perbaikan dilakukan karena Hagia Sophia rusak akibat rusuh yang terjadi saat revolusi Nikka.


Setelah kerusuhan yang melanda Konstantinopel itu, Justinian I memerintahkan arsitek terkenal pada masanya, Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles), untuk mendirikan ulang bangunan Hagia Sophia. Pada masa Kaisar Justinian I inilah yang paling masyhur diakui sebagai fondasi awal dari bangunan Hagia Sophia yang sekarang demikian terkenal. Pada 1453,  Kekaisaran Bizantium berakhir karena ditaklukkan oleh Kerajan Usmaniyah dibawah kepemimpinan Muhammad Al Fatih atau yang lebih dikenal sebaai Sultan Mehmed kedua.


Nama Hagia Sophia ( dalam bahasa Turki disebut Aya Sophia ) masih dipertahankan oleh Sultan Mehmed II. Sebagaimana arti kata sophia dalam bahasa Yunani adalah kebijaksanaan, maka arti lengkap dari Hagia Sophia adalah tempat suci bagi Tuhan. Sultan Mehmed II mempertahankan kesucian Hagia Sophia dan hanya mengubah status fungsinya dari gereja menjadi tempat ibadah umat Islam.


Pada masa Kesultanan Usmaniyah, struktur bangunan Hagia Sophia memperoleh sentuhan arsitektur Islam. Misalnya, mihrab yang kemudian dibangun, hingga pendirian empat menara yang digunakan untuk melantunkan Adzan. Bangunan seperti madrasah, perpustakaan hingga dapur umum juga melengkapi Hagia Sophia pada masa Ottoman. Pada masa Kerajan Usmaniyah ini bangunan Hagia Sophia sempat difungsikan menjadi masjid selama 482 tahun.


Pada 1739  Sultan Mahmud I menambahkan madrasah, imaret atau dapur umum, dan perpustakaan pada bangunan Ayasofya. Setelah Kerajan Usmaniah dijatuhan oleh kelompok modernis Turki maka bentuk kerajaan dirubah negara republik Turki, maka Mustafa Kamal Atturk pada tahun 1935 merubah  status bangunan Hagia Sophia dari masjid  menjadi museum.

Alhamdulillah, pada masa pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan ini, Hagia Sophia diubah status fungsinya kembali menjadi masjid, setelah putusan pengadilan administrasi utama Turki, status Hagia Sophia yang selama 85 tahun berfungsi sebagai museum dicabut, sehingga Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid sebaagimana fungsi pertama sejak Hagia Sophia diberi oleh Sultan Muhammad al Fatih.

Dalam surat keputusan nomor 2729 yang ditandatangani oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, 10 Juli 2020, tertulis sebagai berikut :Keputusan Dewan Menteri tanggal 24/11/1934 dan bernomor 2/1589 tentang  konversi Masjid Hagia Sophia di distrik Fatih Provinsi Istanbul, dengan keputusan  Kesepuluh Lingkup Dewan Negara tertanggal 2/7/2020 dan bernomor E: 2016/16015, K: 2020/2595 dibatalkan, diputuskan bahwa sesuai dengan Pasal 35 Undang-Undang tentang Pembentukan dan Departemen Urusan Agama nomor  633 tanggal 22/6/1965 resmi dibuka menjadi tempat ibadah.”

Ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan keputusan Presiden Turki dalam mengubah status Hagia Sophia dari muzium kepada masjid, dengan alasan bahwa bangunan tersebut sudah termasuk cagar budaya yang dilindung dan banyak dikunjungi oleh turis dari berbagai negara di dunia.

Merubah fungsi dan status dari museum menjadi masjid itu tidak akan merusak bangunan, sebab dinayatakan sebagai cagar budaya bukan karena fungsinya, tetapi karena keindahan bangunan fisiknya. Malahan dengan berubah fungsi dari museum kepada masjid seharusnya dunia berterima kasih, sebab dengan berfungsi sebagai masjid, maka pemeliharaan, perawatan Gedung akan lebih terjaga, sebab memelihara kesucian tempat beribadah merupakan ajaran agama.

Demikian juga dengan perubahan fungsi menjadi masjid, juga tidak akan mengurangi kedatangan turis dari berbagai negara, karena tidak ada larangan bagi tusti untuk mengunjungi Hagia Sophia walaupun sudah berubah status dari museum kepada tempat ibadah, sebagaimana terjadi di masjid-masjid terkenal di negara muslim yang lain.

Oleh sebab itu ,  tindakan Erdogan dan mahkamah Turki adalahsuatu tindakan yang benar, sesuai dengan fungsi bangunan ketika Sultan Muhammad al-Fatih membuka kota Istanbul. Terlebih lagi Bangunan Hagia Sophia  sebenarnya   telah membeli Hagia Sophia dari pihak  Patriarch Kristen Ortodoks dengan duit peribadi Sultan Abdul Hamid itu sendiri. Maka sebenarnya  gereja tersebut menjadi hak milik pribadi Sultan, bukan mlik pemerintah Turki, terlebih lagi pembelian tersebut tidak menggunakan duit negara atau dana dari  Baitulmal.

Terdapat  dua dokumen pembelian Sultan Muhammad Al-Fatih daripada Patriach Hagia Sophia. Salinan yang pertama, yang tertulis pada kulit antelope sepanjang 66 meter  disimpan di Kantor Arsip Ctatan Bangunan  Kuno sedang  dokumen yang dalam bahasa Arab, disimpan di Muzium Kesenian Turki dan Islam. Setelah pembelian tersebut, beliau telah mewakafkan Hagia Sophia menjadi masjid atas nama beliau. Maka Hagia Sophia telah menjadi masjid secara wakaf.

Sebenarnya pada waktu Mustafa Kemal Attarturk mengubah bangunan Aya Sofia dari masjid menjadi muzium adalah melanggar syariat Islam dan melanggar undang-undang wakaf. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengembalian fungsi dari musum kepada masjid merupakan suatu kewajiban pemerintah kepada bangunan yang bernilai sejarah tersebut.

"Masyarakat Turki yang mendapat hak untuk bersolat di dalam Hagia Sophia itu yang dianugerahkan oleh Sultan Muhammad al-Fateh itu sendiri tidak boleh dihalang untuk menggunakan hak dan faedahnya yang ditinggalkan oleh Fatih Sultan Mehmet Han Foundation", demikian dikatan oleh Hakim yang memutuskan  perkara tersebut.
Dilanjutkan lagi bahwa  bangunan itu tidak boleh digunakan sebagai bangunan selain dari masjid, kerana perkara tersebut telah tertulis dalam akte wakaf dari bangunan tersebut.


Untuk menjaga kelangsungan pemeliharaan bangunan tersebut, maka Sultan   Muhammad al-Fateh mendirikan yaayasan yang bertugas untuk menjaga dan memelihara bangunan wakaf tersebut sepanjang zaman. Dibuat Yayasan, dengan tujuan pemeliharaan bangunan tersebut tidak tergantung dengan politik pemerintahan, dan kebijakan penguasa, sebab bangunan tersebut bukan milik negara, tetapi telah menjadi milik Allah, yang dipergnakan untuk keentungan semua manusia.

Untuk dana Yayasan pertama kali, Sultan  Al-Fatih telah memberikan dana sebesar   14,000 keping emas. Kekayaan wakaf tersebut terus bertambah, dan dijalankan melalui wakaf produktih, sehinga pada tahun 1478 terdapat 2.360 toko, 1.360 rumah, dan usaha lain sebagainya, sehingga kelagsungan masjid tersbut tidak bergantung kepada pemerintah.
 

Sebenarnya masyarakat dunia tidak perlu membantah perubahan fungsi bangunan Hagia Sophia kepada masjid, sebab itu juga merupakan keputusan negara Turki yang tidak dapat dipengaruhi oleh negara dan Lembaga international, sebab keputusan tersebut tidak menganggu kedamaian dunia, tidak menganggu negara lain, apalagi memang bangunan tersebut sudah menjadi wakaf bukan milik negara. Hanya perubahan fungsi itu harus dilaksanakan oleh negara.

Banyak negara lain yang merubah bangunan masjid yang merupakan milik umat berubah menjadi gereja, atau tempat hiburan. Sebagai contoh, Pada tahun 2019, Pemerintah Israel di Safed mengubah Masjid Al Ahmar menjadi bar dan ruang acara pernikahan, menurut laporan Al-Quds Al-Arabi.

Masjid tersebut termasuk salah satu masjid paling bersejarah di Palestina, tetapi sejak yahudi menguasai  Palestina, maka gedung masjid itu pertama kali diubah menjadi sekolah Yahudi, kemudian pusat kampaney pemilu Partai Likud, kemudian dirubah menjadi gudang pakaian dan terakhir  diubah menjadi klub malam. Surat kabar Al Quds Al Arabi yang berbasis di London itu melaporkan masjid itu diubah menjadi bar dan ruang acara pernikahan oleh perusahaan yang terkait pemerintah kota di Israel. Namanya pun diubah dari Masjid Al Ahmar menjadi Khan Al Ahmar.

Sekretaris Safed and Tiberias Islamic Endowment Khair Tabari menjelaskan, dia telah menunggu pengadilan Nazareth mengambil keputusan terkait gugatan yang dia ajukan untuk meminta dikembalikannya masjid itu dan diserahkan pada lembaganya. "Saya telah menyerahkan dokumen untuk membuktikan kepemilikan umat Islam atas masjid itu," kata dia yang meminta berbagai lembaga politik untuk meningkatkan kerja sama dengannya untuk menyelamatkan masjid itu dari penyalahgunan. Tetapi semua negara dan lembaga internasional diam seribu bahasa terhadap perubahan tersebut. Ini merupakan ketidak adilan masyarakat dunia.

Istana Alhambra adalah sebuah kompleks istana sekaligus benteng megah yang merupakan sisa peninggalan masa kejayaan Islam di Andalusia (kekhalifahan bani Umayyah) di Granada, Spanyol bagian selatan. Istana Alhambra berdiri di Bukit La Sabica. Istana ini dibangun pada masa kepemimpinan Dinasti Nasrid (Bani Ahmar) pada 1238-1358. Alhambra menjadi kediaman para pemimpin kerajaan dan sekaligus benteng pertahanan.

Dinasti Islam ini diserang oleh pasukan gabungan raja-raja Katolik yang dipimpin oleh Raja Ferdinan V dan Ratu Isabella. Setelah berkuasa, mereka  merubah masjid atau Mezquita yang ada di istana itu juga diubah menjadi Gereja Santa Maria. Selain di Granada, tercatat banyak masjid di wilayah lainnya di Spanyol yang kemudian diubah jadi gereja.

Jika kita tinjau dari kacamata sejarah, terlihat bahwa peralihan fungsi suatu bangunan merupakan hak suatu negara, dan itu merupakan keputusan yang tidak dapat dipengaruhi oleh negara lain atau badan internasiolal. Berari keputusan Turki mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid tidak dapat digugat oleh siapapun, karena itu merupakan hak negara Turki, terlebih lagi bangunan itu merupakan wakaf umat Islam, maka kewajiban umat Islam untuk menjaga bangunan tersebut sebagai masjid sebagaimana tertulis dalam akte wakaf bangunan tersebut. Fa'tabiruYa Ulil albab.

 

 

Buletin

Share This