No. 1412 Membuktikan Persaudaraan

today June 9, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara “ ( QS. Al Hujurat : 10 )

Persaudaraan adalah pondasi utama dalam suatu masyarakat, karena persaudaraan itu akan dibuktikan dengan sikap peduli, kasih sayang dan tolong menolong  antar sesama masyarakat.tanpa sikap tersebut, maka persaudaraan tidak memiliki makna. Dan suatu masyarakat tidak benar-benar menjadi masyarakat jika di dalamnya tidak terdapat sikap peduli, kasih sayang dan sikap tolong menolong. Masyarakat yang memiliki sifat saling peduli, kasih sayang dan tolong menolong  antar sesama mereka inilah yang sangat perlu dipertahankan dalam suatu masyarakat di suatu umat, baik di kampung maupun di kota, baik masyarakat suatu agama yang disebut dengan umat, atau masyarakat suatu negara yang disebut dengan bangsa. Jika suatu masyarakat tidak memiliki sikap peduli, kasih sayang dan saling tolong menolong ini diantara individu masyarakat, disebabkan sikap egoisme, sikap individualis, maka masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang semu, umat yang katanya memiliki ukhuwah tapi kosong dalam aksi dan sikap.

Sikap peduli, kasih sayang dan tolong menolong inilah yang wajib ada pada setiap individu dalam suatu masyarakat. Seseorang itu baru dianggap bersaudara dengan yang lain, jika dalam diri orang tersebut ada sikap peduli, kasih sayang dan keinginan untuk saling membantu kepada saudaranya yang lain. Sikap inilah yang dibentuk oleh Rasulullah sewaktu pertama kali beliau datang ke Madinah, dimana dengan segera beliau mempersaudarakan setiap satu muhajirin Makkah dengan satu orang Anshar dari Madinah, sehingga tidak ada seorangpun diantara Muhajirin Makkah yang akan merasa terlantar, merasa terasing, merasa tidak dipedulikan oleh masyarakat Madinah, walaupun sebelumnya mereka tidak saling mengenal, apalagi saling berbeda kabilah, berbeda kota, berbeda keturunan, tetapi disebabkan karena sama-sama beriman kepada Allah, sama-sama umat Muhammad, maka perbedaan, tidak saling mengenal berubah menjadi saling peduli dengan penuh kasih sayang, dan siap membantu malah membela saudaranya yang lain, dengan harta, tenaga, pikiran dan apa saja yang dapat diberikan. Inilah maksud ayat yang menyatakan : “ Innamal Mukminuna ikhwah” , sesungguhnya sesama orang beriman itu ada ikatan persaudaraan, maka hendaklah setiap orang berusaha untuk memperbaiki keadaan kawannya yang lain”. Memperbaiki keadaan yang lain itu  dibuktikan dengan sikap saling peduli, kasih sayang dan tolong menolong antara seseorang yang beriman dengan saudaranya  beriman yang lain, tanpa melihat perbedaan warna kulit,perbedaan kelompok, dan kabilah, perbedaan kedudukan dan lain sebagainya, sehingga jika ada seseorang yang sedang susah dalam ekonomi, akan datang membantu kesulitan ekonominya, jika ada seseorang yang menghadapi masalah , akan dating saudaranya membantu permasalahan yang sedang dihadapinya, inilah makna dan bukti persaudaraan.

Sebaik sampai di Madinah, rasulullah segera mengumpulkan semua kaum muslimin baik yang datang dari Makkah maupun yang sudah menetap di Madinah. Rasulullah mempersaudarakan antar Muhajirin Makah dengan Anshar Madinah satu persatu. Sehingga setiap individu Anshar Madinah bertanggungjawab atas keadaan satu individu Muhajirin Makkah. Ja’far bin Abi Thaleb dengan Muadz bin Jabal. Abu Bakar As Shiddiq dengan Kharizah bin Zuhair. Umar bin Khattab dengan Utban bin Malik. Usman bin Affan dengan Aus bin Tsabit. Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Zubair bin Awwam dengan Abdullah bin Mas’ud. Ammar bin Yasir dengan Hudzaifah Al Yamani. Salman al Farisi dengan Abu Darda. Bilal bin Rabah dengan Abu Ruwaihah. Demikian selanjutnya sehingga setiap orang Muhajirin Makkah dipersaudarakan dengan salah seorang dari Madinah, yang akan memperhatikan, menolong dan membantu setiap Muhajirin Makkah yang sudah berhijrah ke Madinah, sehingga setiap orang dari Muhajirin Makkah merasa tenang, disebabkan setiap orang sudah memiliki seorang saudara yang akan memperhatikannya selama di Madinah.

Setiap orang dari Madinah yang dipersaudarakan dengan orang Makkah itu benar-benar gembira dengan ikatan persaudaraan tersebut, apalagi mereka dipersaudarakan disebabkan tali keimanan sehingga apapun setiap perhatian, kepeduliaan, kasih sayang, pertolongan yang akan dilakukan kepada sesama saudara muslim dari kota Makkah itu dilakukannya karena dasar iman, hanya mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, tanpa mengharapkan apapun dari orang yang ditolong. Inilah yang disebut dengan “ ukhuwah fillah “, persaudaraan karena Allah. Pertolongan dilakukan tanpa mengharapkan apapun balasan dari manusia yang ditolong, cukup dengan mengharapkan keridhaan Allah.

Sebagai contoh, bagaimana sikap peduli, kasih sayang dan pertolongan yang diberikan oleh muslim Anshar Madinah kepada muslim Makkah sebagai bukti dari persaudaraan tersebut adalah ucapan Saad bin Rabi kepada Abdurrahman bin Auf setelah kedua mereka dipersaudarakan oleh Rasulullah. Saad bin Rabi berkata kepada Abdurahman bin Auf : “ Wahai Abdurrahman bin Auf, engkau adalah saudaraku. Sekarang ini aku memiliki harta kekayaan, maka sekarang seperdua dari harta kekayanku ini aku berikan kepada engkau. Demikian juga aku memiliki banyak isteri, maka jika engkau ingin memiliki salah satu dari mereka, katakanlah sehingga nanati aku ceraikan isteriku tersebut dan aku berikan untyk engkau miliki dengan menikahinya “. Lihatlah bagaimana sikap kesediaan dari Sa’ad bin Rabi untuk memberikan sebagian harta kakayaannya agar Abdurahman bin Auf dapat memiliki harta yang sama dengan dia. Demikian juga dia bersedia menceraikan salah satu dari istrinya agar Abdurahman dapat memiliki istri sebagaimana dirinya telah memiliki istri. Sikap peduli, dan memberikan pertolongan serta kasih sayang ini merupakan bukti dari persaudaraan dari kedua mereka, jadi bukan hanya persaudaraan yang semu, ukhuwah tanpa makna.

Sikap persaudaraan dengan peduli dan memberikan kasih sayang dan pertolongan langsung atas dasar persaudaraan dan ukhuwah yang diikat oleh keimanan inilah menjadi landasan utama suatu masyarakat dan umat, tanpa melihat perbedaan golongan, paham keagamaan, kelompok, kabilah dan suku, sehingga Rasulullah bersabda : “ Demi Allah yang menguasai jiwaku. Tidak sekali-kali kamu masuk ke dalam surga, kecuali kamu beriman. Dan tidaklah kamu beriman, kecuali jika kamu sudah saling kasih sayang dan saling mencintai satu dengan lain “ ( Muslim ).

Sudahkah kita benar-benar beriman, jika kita masih tidak peduli dengan keadaan dan kondisi muslim yang lain, yang sedang kesusahaan, mengalami kekurangan makanan, berada dalam kemiskinan, disebabkan oleh kondisi pandemi covid, padahal kita memiliki kelebihan harta, kelebihan makanan, kelebihan kekayaan, yang dapat kita berikan kepada mereka. Dapatkah kita tidur dengan nyenyak di ruangan yang dingin, dengan kasur yang empuk, dan perut yang kenyang, padahal disamping kita masih ada tetangga yang tidak dapat tidur akibat kelaparan dan kemiskinan yang dideritanya, padahal rasulullah bersabda : ‘ Tidaklah beriman seseorang yang tidur dengan perut yang kenyang sedangkan mengetahui bahwa disamping rumahnya masih ada tetangga yang sedang kelaparan “ ( riwayat Thabrani  )

Kaum muslimin generasi salaf, generasi terdahulu merasa gembira jika mereka dapat menolong muslim yang lain, sehinga tercatat dalam sejarah, ada seorang salaf menghabiskan harta kekayaannya hanya untuk membantu keluarga dan anak-anak yatim dari kawan atau saudaranya yang telah meninggal dunia selama empat puluh tahun lamanya. Setiap hari kawan-kawan almarhum ayah mereka  mengunjungi rumah keluarga yang ditinggal tersebut, melihat dan membantu keperluan keluarga terebut, sehingga anak-anak yatim itu tidak merasa kesusahan walaupun ayahnya telah meninggalkan mereka, sebab keperluan rumah dilanjutkan oleh kawan-kawan ayah mereka yang telah meninggal dunia tersebut.

Sikap kepedulian, dan memberikan pertolongan inilah yang harus dilakukan sebagai bukti adanya  ukhuwah dan persaudaraan. Jadi ukhuwah dan persaudaraan itu bukan terjadi dengan sendirinya, tetapi lahir melalui proses dari sikap kepedulian dan sikap tolong menolong sesama umat yang memiliki kelebihan kepada mereka yang memerlukan.  Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk yang memang diciptakan untuk dapat memenuhi hajat keperluan manusia yang lain, sehingga semua mansuia akan selalu mengharapkan bantuan mereka. Mereka itulah nanti yang akan terlepas daripada azab Allah dihari kemudian “ ( hadis riwayat Thabrani ). Hadis yang lain juga menyebutkan : “ Jika besarlah nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang hamba, maka akan besarlah baginya kewajiban untuk menolong manusia yang lain “ ( Hadis riwayat Thabrani ).

Memberikan kepedulian, kasih sayang dan pertolongan merupakan amal yang paling utama, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis : “ Amal yang paling utama di sisi Allah adalah memberikan kegembiraan kepada sesama muslim, atau engkau tolong dia dalam menghadapi bencana, atau engkau berikan makanan agar terhindar dari kelaparan, atau eengkau melunaskan hutang yang sedang dideritanya “ ( riwayat Thabrani ). Menolong orang lain sehingga terhindar dari kesusahan lebih tinggi dari ibadah itikaf  sehingga rasulullah bersabda : “ Siapa yang berjalan untuk mengurus orang yang sedang dalam kesusahan, maka itu lebih baik daripada itikaf selama dua bulan di dalam masjidku “masjid Nabawi” ini. Hadis riwayat Thabrani dan Hakim. Mari kita buktikan persaudaraan dan ukhuwah kita dengan kepedulian dan pertolongan mereka yang sedang memerlukan terutama bagi mereka yang terkena dampak pandemik ini. Fa’tabiru ya Ulil albab.

 

  

 

 

 

 

     

 

 

 

 

 

 

 

Buletin

Share This