No. 1408 AMALAN I’TIKAF DAN MUHASABAH DIRI

today May 15, 2020 account_circle Arifin Ismail

AMALAN I’TIKAF DAN MUHASABAH DIRI

 

“ Siapa yang berpuasa ramadhan dengan iman dan melakukan muhasabah diri maka Allah akan memberi ampunan atas dosa-dosanya “ ( Hadis Mutafaqun alaihi )

 

I’tikaf adalah “ duduk dan berada dimasjid”. I’tikaf ini merupakan salah satu ibadah dengan cara duduk dan berada di masjid, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Taala. Pada sepuluh hari di akhir bulan ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan i’tikaf di masjid, mengikuti perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam hadis yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Umar, Anas dan Aisyah menceritakan bahwa : “ Sesungguhnya Nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Baginda melakukan demikian sejak baginda datang ke Madinah sampai beliau meningal dunia “ ( hadis sahid riwayat Bukhari dan Muslim ).

Dalam amalan I’tikaf tersebut, kita melakukan zikir, istighfar, shalat sunat, membaca al Quran dan lain sebagainya. Tujuan I’tikaf di akhir ramadhan sebenarnya adalah melakukan muhasabah diri, setelah kita mengaji bertadarus quran selama ramadhan. Seakan-akan dengan I’tikaf , setelah tadarus, kita disuruh untuk melihat ke dalam diri kita dalam kehidupan ini :

apakah kita selama setahun ini telah melaksanakan  petunjuk al Quran dan mencegah diri dari perkara yang dilarang al Quran?  Dalam I’tikaf kita ber[ikir manakah yang lebih banyak dalam hidup saya selama  selama ini, apakah perbuatan yang baik dan positif atau pemikiran, perkataan dan perbuatan yang buruk dan negatif.?

Sudahkah selama ini kiita dapat mengendalikan hawa nafsunya dalam ucapan dan tindakan, ataukah selama ini kita telah dikuasai oleh hawa nafsu  baik dalam sehari-hari..? Manusia perlu meningkatkan diri dan kualitas penghambaannya pada setiap tahun. Proses peningkatan diri itu dilakukan di bulan ramadhan dengan mengkaji ulang petunjuk Allah, melalui tadarus, kemudian melakukan intropeksi atas kehidupan dengan muhasabah di waktu akhir ramadhan dengan amalan I’tikaf sepuluh hari akhir ramadhan.

Proses muhasabah hidup dengan bertanya kepada diri sendiri atas apa yang dilakukan  dalam setahun inilah yang dilakukan dalam beri’tikaf di masjid di akhir sepuluh ramadhan. Muhasabah ini diharapkan dapat memberikan kesadaran atas perbuatan yang salah, sehingga kita dapat dengan segera meminta ampun, beristighfar kepada Allah atas perbuatan tersebut, dan berjanji untuk segera memperbaiki diri di tahun depan, sehingga hidup setelah ramadhan akan lebih baik daripada sebelum ramadhan. Dengan muhasabah, hidup manusia akan lebih baik, dari tahun ke tahun, sebelum kita nanti di muhasabah oleh Allah di hari akhirat kelak.  Khalifah Umar bin Khattab ra. Berkata,” Hasibu Anfusakum qablan tuhasabu” ( hitunglah dirimu sendiri sebelum datang hari perhitungan kepadamu).

Dalam ber’tikaf di akhir ramadhan tersebut, diharapkan seorang muslim harus selalu mengadakan muhasabah dalam setiap langkah dan tindakannya baik yang berhubungan dengan kegiatan ibadah, rumah tangga, sosial, ekonomi dan seluruh kegiatan kehidupan. Oleh sebab itu muhasabah total tersebut memerlukan waktu sepuluh hari, sehingga muhasabah dapat sempurna dan meliputi semua amal ibadah, keluarga, hubungan sosial, pekerjaan, pergaulan, kedudukan, harta kekayaan, hubungan dengan anak dan istri, serta keluarga, dan masyarakat, dan lain sebagainya, sebab segala yang kita dengar, pikirkan, ucapkan, tindakan semuanya akan disoal oleh Allah pada hari akhirat kelak.

Dalam al Quran dinyatakan :  “ Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawaban” (QS. Al Isra : 36). Dalam ayat yang lain juga dinyatakan bahwa semua nikmat baik itu kesehatan, makanan, minuman, pakaian, anggota badan, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya semuanya akan ditanya pada hari akhirat kelak “ Kemudian pada hari itu kamu akan ditanya tentang segala nikmat yang telah kamu dapatkan” ( QS. At-Takatsur : 8 ). Sebelum kita ditanya di hari akhirat, sebaiknya kita tanya diri kita dulu pada setiap tahun sehingga kita sadar dan mengetahui dimana kekurangan dan kesalahan kita. Sebagai contoh untuk mempermudah proses muhasabah diri, disini kami sertakan beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada diri sendiri :

Muhasaah Ibadah

1. Sudahkah engkau melaksanakan sholat pada waktunya?

2. Apakah sholat tersebut dilaksanakan dengan berjamaah?

3. Sudahkah sholat tersebut dilaksanakan dengan khusyu’dan thu’maninah.

4. Sudahkah engkau melaksanakan puasa di bulan Ramadhan?

5. Apakah engkau mengikuti telah sunnah rasulullah puasa Senin dan Kamis dan puasa sunat 

pada hari 13,14,15 dari setiap bulan hijriyah?

6. Apakah engkau sudah membayar zakat dari hartamu? Tahukah kamu itu merupakan hak para mustahiq zakat yang harus engkau pertanggungjawabkan di hari kiamat nanti?

7. Sudahkah engkau melaksanakan haji padahal hartamu sudah mencukupi untuk melaksanakannya? Apakah hajimu benar-benar karena Allah dan niat yang suci?

 

Muhasabah Sosial

1. Sudahkah engkau berbuat baik pada kedua orangtuamu? Ingatkah engkau akan firman Allah “ Berbuat baiklah kamu pada kedua orangtuamu “( QS. Al Isra : 23)

2. Sudahkah engkau berbuat baik pada tetangga dan masyarakat di sekitarmu? Ingatkah engkau bahwa Rasulullah telah bersabda, “ Barangsiapa yang menyakiti tetangganya berarti telah menyakitiku”. ( riwayat Ibnu Hibban )

3. Sudahkah hatimu bersih dari sombong, riya, takabbur, iri dan dengki ? Bukankah Rasulullah telah bersabda,” Tidaklah masuk ke dalam surga seseorang yang dalam hatinya masih ada rasa sombong walaupun sebesar biji sawi”( riwayat Ahmad )

4. Sudahkah lidahmu bersih dari ucapan kotor, dusta, khianat, ghibah, fitnah, tengkar dan ucapan yang sia-sia?.Padahal Allah telah berfirman :  “ Dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain, ” (QS. Al Hujurat : 12) dan “ Murka Allah atas mereka yang berdusta, “ ( Ali Imran : 61) . Rasulullah juga telah bersabda ,” Tidak luruslah iman seorang hamba selagi belum lurus hatinya dan tidak luruslah hatinya sebelum lurus ucapannya.”( riwayat Ahmad )

 

 

Muhasabah ekonomi

1. Sudahkah pekerjaan dan harta penghasilanmu bersih dari riba dan hal-hal yang diharamkan Allah? Ingatkah kamu akan peringatan Allah, “ Hai Orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan riba, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Mka jika kamu tidak meninggalkan riba tersebut ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu (QS Al Baqarah : 278-279). Rasulullah juga telah bersabda, “ Barangsiapa yang dalam dagingnya terdapat yang haram maka api nerakalah yang lebih baik baginya.”( riwayat Tirmidzi )

2.  Apakah harta penghasilanmu telah engkau pergunakan sesuai dengan perintah Allah? Sudahkah engkau menolong orang yang susah, fakir dan miskin, dari keluargamu, kawan-kawanmu, dan saudaramu yang lain ?

3.  Apakah kau pergunakan harta penghasilanmu secara boros ?, mubazir, foya-foya dan berlebih-lebihan? Tidakkah engkau ingat akan firman Allah, “ sesungguhnya orang yang memboroskan harta itu adalah saudara-sauara syetan “, ( QS. Al Isra : 27) Ingatlah sabda Rasulullah,” Tidak akan tergeraklah kedua kaki anak Adam di hari kiamat nanti sehingga ia akan ditanya empat perkara, untuk apakah umurmu  dipergunakan…? Apakah yang dilakukannya dengan anggota badannya….? Apakah amal perbuatannya selama hidupnya…? Dan darimanakah harta penghasilan hidupnya dan dipergunakan untuk apa sajakah harta kekayaan tersebut dikeluarkan? ( riwayat Ahmad ) 

 

Setelah semua pertanyaan itu kita jawab, maka segeralah kita melihat sekian banyak dosa dan kesalahan serta kelalaian kita dalam setahun yang lalu, dan segera kita beristighfar , meminta ampunan atas kesalahan , dosa, dan kelalaian tersebut, sehingga kita terlepas dari azab dan siksa api neraka. Dalam hadis disebutkan bahwa sepuluh terakhir ramadhan itu adalah merupakan hari-hari mendapat keselamatan dari siksa api neraka. 

Seharusnya I’tikaf dan muhasabah ini kita lakukan di masjid, tetapi pada saat ini sedang terjadi wabah virus corona, maka amalan I’tikaf tersebut tidak dapat kita lakukan, hanya saja proses muhasabah diri tetap dapat dilakukan walaupun kita berada di rumah.Dengan muhasabah diri yang kita lakukan maka kita dapat  mencapai tujuan I’tikaf sebagai pendekatan (taqarrub ) kepada Allah Taala. Sedangkan pahala I’tikaf juga kita bisa dapatkan walaupun kita di rumah,  dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa : “ Jika seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim atau ketika sehat “ ( hadis riwayat Bukhari ).

Ulama , Ibnu Hajar Asqalani menjelaskan bahwa : Hadis ini berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya, padahal dia sudah berniat bahwa kalau tidak ada yang menghalangi, maka amalan itu akan dilakukannya sebagaimana kebiasaannya secara rutin “ ( Fathul bari, jilid 5, hal, 136 ). Jadi walaupun kita berada di rumah, tidak dapat ke masjid karena adanya wabah sedangkan kita sudah berniat akan melakukan I’tikaf di masjid, insya Allah, kita ttetap mendapat pahala I’tikaf . Tujuan I’tikaf adalah mendekatkan diri  kepada Allah, maka untuk itu kita lakukan proses muhasabah diri selama sepuluh ramadhan tersebut sehingga tujuan I’tikaf dapat tercapai. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Buletin

Share This