No. 1406 Diam Di Rumah Semasa Wabah, Itu Ibadah

today May 1, 2020 account_circle Arifin Ismail

  Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya semoga kamu mendapat rahmat “ ( QS. Ali Imran : 132)

 

Dalam Islam ibadah itu dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan tempat selama perbuatan itu dilakukan karena melaksanakan perintah Allah dan RasulNya, atau meninggalkan sesuatu perbuatan karena perbuatan itu telah di larang Allah dan RasulNya. Inilah maksud ungkapan bahwa segala perbuatan itu harus dilakukan dengan niat lillahi taala.  Melakukan sesuatu perbuatan itu bukan karena motivasi keinginan diri, tetapi melakukan sesuatu itu karena perbuatan itu diperintahkan Allah dan RasulNya, atau meninggalkan perbuatan itu karena dilarang oleh Allah dan RasulNya. Jika perbuatan itu dilakukan dengan mengikuti periintah Allah atau meninggalkan sesuatu karena perbuatan itu dilarang oleh Allah dan RasulNya, barulah sesuatu perbuatan itu bernilai ibadah. Hal ini berdasarkan hadis  Rasulullah sallahu alaihi wasalam bersabda : “ Apa saja yang aku larang, hendaklah kamu jauhi, dan apa saja yamg aku perintahkan, hendaklah kamu laksanakan “ ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ).

Bagi seorang muslim, segala sesuatu yang dilakukan harus bernilai ibadah, sebab manusia memang diciptakan untuk beirbadah : “ Dan Aku ( Allah ) tidak menciptakan kamu kecuali untuk beribadah “ ( QS. Al Dzuriyat : 56 ).  Inilah tujuan hidup penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah. Oleh sebab itu, ibadah dapat dilakukan dalam segala aktivitas manusia, baik ibadah dalam bentuk ritual, ibadah dalam bentuk akhlak sesama manusia, ibadah dalam perniagaan, ibadah dalam keluarga, ibadah dalam politik, ibadah dalam pergaulan, ibadah dalam apapun sikap yang kita lakukan. Oleh karena itu dalam setiap shalat kita akan membaca : “ Inna shalati “..sesungguhnya ibadah shalatku, “wa nusuuki”, dan segala perbuatanku selain shalat, baik itu bekerja, belajar, bergaul, berkeluarga, berniaga, berpolitik, semuanya itu aku lakukan dengan niat lillahi ta’ala, dilakukan karena perbuatan itu diperintahkan oleh Allah Taala, sejak aku dilahirkan “wa mahyaaya “, sampai aku meninggalkan dunia ‘ wa mamaati”…semuanya aku kerjakan “ lillahi rabbil alamin “ hanya karena diperintahkan Allah dan dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Berarti perbuatan itu dilakukan dengan landasan mengikuti perintah Allah dan tujuannya hanya untuk mencari keridhaan Allah.  Inilah maksud ucapan kita “ inna shalati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamaati lillahi rabbil alamin “.

Itu semua harus kita lakukan dengan niat yang satu, niat karena mengikuti perintah Alah “ lillahi taala”,tanpa ada niat yang lain, dan dengan tujuan yang satu, tujuan hanya mencari ridha Allah, tanpa ada tujuan yang lain seperti ingin merasa hebat, terkenal, dilihat orang,  dan lain sebagainya. Itulah sebabnya setelah itu kita membaca “ La syarika lahu “, sebagai pernyataan bahwa semua yang aku lakukan itu tanpa ada tujuan yang lain, semata-mata tujuanku hanya mencari ridha Allah dengan melaksanakan perintahNya atau meninggalkan laranganNya.  Inilah maksud ucapan kita “ Wa bidzalika umirtu “, dan dengan demikianlah aku diperintahkan untk melakukanNya perintahnya dan meninggalkan apa yang dilarangNya.  Itulah sebabnya dalam surah al bayyinah dinyatakan : Kamu tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah kepadaNya dengan penuh keikhlasan “ ( QS. Al Bayiynah : 5 ).

Dari keterangan  di atas dapat kita simpulkan bahwa mengerjakan apa yang diperintahkan itu adalah ibadah, demikian juga meninggalkan apa yang dilarang itu juga ibadah. Sebagai contoh, seorang perempuan sewaktu datang uzur/haid dimana dia tidak boleh melakukan shalat atau membaca al Quran, berarti jika dia  membaca al Quran sewaktu tidak haid, itu adalah ibadah, demikian juga saat dia tidak membaca al Quran sewaktu saat haid, itu juga ibadah, sebab tunduk dan patuh pada larangan Allah.  Membaca Quran sewaktu tidak haid, itu berpahala demikian juga tidak membaca al Quran pada waktu datang haidh juga berpahala karena melinggalkan apa yang dilarang oleh Allah taala.

Demikian juga yang terjadi pada hari ini, dimana fatwa ulama menyatakan bahwa untuk terhindar dari wabah penyakit, maka diharapkan kepada umat islam yang berdiam di daerah terkena wabah penyakit agar tidak ke masjid, tidak melakukan shalat jamaah di masjid, tidak melakukan shalat jum’at, tetapi cukup melakukan shalat jamaah di rumah masing-masing karena Rasulullah menyatakan bahwa : “ Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Tetapi jika wabah itu terjadi di tempat kamu berada maka janganlah kamu tinggalkan tempat tersebut “ ( Riwayat Bukhari ). Berarti bagi tempat yang terkena “lockdown”,  berada di tempat tersebut merupakan ibadah, karena melaksanakan perintah rasul, dan orang luar tidak masuk ke tempat wabah juga ibadah, karena melaksnaakan perintah Rasul dalam hadis diatas.

Demikian juga dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda : “ Janganlah kamu campurkan antara yang sehat dengan yang sakit “ ( hadis riwayat muslim ). Dalam hadis yang lain juga dinyatakan : “ larilah kamu dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa “ ( hadis riwayat Bukhari ). Dari hadis ini dapat kita simpulkan bahwa  tidak mengadakan perhimpunan, tidak mengadakan shalat jumat, shalat jamaah di masjid, tidak mengadakan tadarus quran bersama-sama sebagaimana biasa, tidak mengadakan buka bersama, tidak mengadakan shalat taraweh di masjid di malam ramadhan, disebabkan karena mengikuti larangan Rasulullah  untuk tidak bercampur antara sakit dan shalat, dan perintah agar menghindar dari wabah sebagaimana tersebut diatas, itu semua juga adalah ibadah. Hal ini sengat perlu ditekankan sebab masih banyak orang beranggapan dengan dilarangnya shalat jamah, buka bersama, shalat jumat, dan lain sebagainya, mereka merasa telah dirugikan sebab tidak mendapat pahala berjamaah, padahal dengan duduk di dlaam rumah, tidak melakukan shalat jamaah di masjid, itu juga ibadah yang memiliki nilai pahala, sebab tidak shalat jamaah itu berarti patuh dantaat kepada larangan Rasulullah sallahu alaihi wa salam. 

 

Dalam hadis yang lain Rasulullah juga bersabda : “ Jika azan telah berkumandang, maka datanglah kamu ke masjid, kecuali  uzur. Sahabat bertanya apakah yang engkau maksud dengan uzur itu ya Rasulullah ? Rasul menjawab : uzur yang dimaksudkan itu sakit dan takut “ ( hadis riwayat Abu daud ). Pada saat wabah ini kita harus khawatir jika kita ikut berjamaah, sebab seseorang dapat telah memiliki virus covid tanpa dia sadar bahwa dia memiliki virus tersebut, sebab menurut pakar kesehatan gejala virus tersebut seperti sesema, batuk, itu baru akan terlihat setelah satu minggu kemudian. Sehingga kalau kita berkumpul, atau berjamaah, kita tidak dapat mengetahui apakah orang yang berdekatan dengan kita itu apakah telah membawa virus atau belum, sebab virus itu tidak terlihat dan gejala itu baru terlihat kemudian.  Sehingga jika sseorang itu tidak melakukan jamaah shalat taraweh di masjid, tidak mengadakan buka bersama, itu semua adalah ibadah sebab melaksanakan perintah Allah : “ jangan kamu campakkan diri kamu ke dalam kebinasaan “ ( QS. Al Baqarah : 195 ).

Allah mengetahui bahwa setiap muslim akan merasa rugi tidak mendapatkan pahala jamaah jika dia tidak shalat jamaah di masjid pada waktu terjadi wabah penyakit menular. Oleh sebab itu, Allah memberikan kepada mereka yang tidak keluar itu  pahala syahid menggantikan pahala shalat jamah di masjid, sebagaimana Aisyah, istri nabi bertanya  tentang  wabah suatu penyakit (thaun) kepada Rasulullah, maka beliau menjawab : “ Bahwasanya wabah pandemi ( thaun ) itu adalah sebagai azab yang Allah kirimkan kepada  siapa saja  yang Allah kehendaki, dan  juga merupakan rahmat bagi orang yang beriman.Maka bagi siapa yang berada di tempat terjadinya pandemik itu berdiam diri di rumahnya, dengan penuh kesabaran, sambil selalu muhasabah diri, dan  tetap yakin bahwa segala sesuatu itu terjadi dengan takdir Allah, maka baginya pahala seperti pahala orang meninggal dalam keadaan syahid “ ( hadis riwayat Bukhari, Nasai, dan Ahmad ). Dari hadis ini terlihat bahwa jika seseorang duduk di rumah, berdiam di rumah, agar terhindar dari terkena  wabah penyakit menular, maka orang tersebut akan mendapat pahala seperti pahala orang yang syahid. Apakah ada pahala yang lebih besar daripada pahala syahid.?  Jika berdiam di rumah semasa wabah penyakit itu mendapat pahala syahid, mengapa kita masih sibuk ingin keluar rumah untuk mencari pahala beribadah ke masjid shalat taraweh dan lain sebagainya ?

Hal ini sama dengan kisah pada suatu hari ada seorang perempuan bertanya kepada nabi Muhammad : Ya rasulullah, saya ini mewakili kaum wanita ingin bertanya kepadamu : “ Jika kaum lelaki mendapat  mendapat pahala berjihad fi sabililah, sedangkan kami tidak berjiha, sehingga  kami kaum wanita ynag tidak mendapatkan pahala kesempatan seperti mereka ? Rasulullah menjawab : Katakanlah kepada kaum wanita bahwa mereka berdiam di rumah saja, taat kepada suami mereka, maka mereka itu mendapat pahala jihad “. ( hadis riwayat thabrani ). Allah Maha adil dengan hambaNya, memberikan pahala sesuai dengan kondisi dan  keadaan masing-masing, selama kita melakukanhya karena taat pada perintahNya atau meninggalkan sesuatu taat  laranganNya, karena semuanya itu adalah ibadah. Fa’tabiru ya Ulil albab.

 

 

Buletin

Share This