No. 1402 WABAH, MAKSIAT DAN TAUBAT

today March 27, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, dan meminta ampun kpada Allah, niscaya akan diperolehnya karena Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “     ( QS. an Nisa : 110).

Pada bulan Muharram tahun 478 Hijriyah bersamaan dengan  terjadi wabah penyakit di seluruh Iraq, Hijaz ( Tanah Arab Saudi sekarang ) dan Syam ( kawasan Syria, Jordan, Palestine ) sehingga banyak korban yang meninggal tiba-tiba dari klaangan manusia, binatang liar dan ternak. Khalifah yang berkuasa pada waktu itu adalah Khalifah al Muqtadhi Billah, seorang khalifah yang alim, adil dan bijaksana. Keadaan sangat genting terlebih lagi pada bukan Rabiul Awal terjadi angin ribut yang merobohkan bangunan dan menumbangkan pohon-pohon kurma, dan halilintar dimana-mana. Melihat keadaan demikian, Khalifah mengeluarkan perintah untuk bertobat kepada Allah dengan menutup semua tempat hiburan, mencegah segala kemunkaran, di seluruh kampung dan kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dengan izin Allah, akhirnya wabah penyakit hilang dan negeri kembali dalam keadaan aman dan damai. Kisah ini dicatat oleh Ibnu Kasir dalam kitab Bidayah wan nihayah.( Ibnu Kasir, Bidayahwn Nihayah, jilid 11, hal. 140 ).

Dalam al Quran dinyatakan bahwa diantara penyebab terjadinya bencana adalah perbuatan manusia itu sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam ayat : “ Apa saja musibah yang menimpa kamu itu adalah disebabkan perbuatan kamu sendiri “ ( QS. As Syura : 30 ).

Demikian juga dalam hadis Aisyah bertanya kepada Nabi Muhammad sallahu alaih wasallam tentang wabah penyakit menular ( Thaun ) maka nabi menjawab : “ Sesungguhnya wabah pandemic itu adalah Azab yang Allah kirimkan kepada siapa yang Dia suka, tetapi menjadikannya rahmat bagi orang yang beriman, sebab tidak ada seorangpun dari orang beriman yang terkena wabah tersebut, dan dia diam di dalam negerinya, dengan penuh kesabaran dan bermuhasabah, dan dia mengetahui bahwasanya tidak akan ada sesuatu yang menimpanya kecuali semuanya itu terjadi dengan apa yang telah dituliskan Allah baginya, maka baginya seperti pahala orang yang syahid “ ( hadis riwayat Bukhari )

Dari hadis di atas dapat kita lihat wabah virus covid-19 adalah suatu bukti kekuasaan Allah di muka bumi, akibat kesombongan manusia yang ingkar kepadaNya. Kita mengetahui bahwa hari ini sekian banyak manusia yang tidak beriman kepadaNya, baik dengan menjadikan selain Allah sebagai Tuhan,ataupun mengingkari adanya Tuhan sebagaimana keyakinan kelompok Atheis Komunis, malahan telah berani menghina orang yang beriman dengan macam-macam sebutan dan hinaan seperti yang selalu kita dengar dalam sosial media.

Bukan saja mengejek, menghina, merendahkan orang beriman, malahan sampai menghina, mengejek kewujudan Tuhan itu sendiri, sebagaimana sewaktu datang wabah vius corona ini, ada tokoh islam liberal di Indonesia berani berkata : “  Coronavirus adalah bukti paling mutakhir bahwa Tuhan tidak ada, dia tidak peduli. Manusia saja yang kegeeran bahwa ada sesuatu bernama “ Tuhan”.

Para filsuf sejak lama memperbincangkan tentang konsep yang satu ini. Ada banyak argumen Tapi yang paling kokoh dan didukung temuan sains, “tuhan” adalah nomenklatur yang diciptakan manusia, dibayangkan, diagungkan, ditinggikan. Sebelum manusia muncul dimuka bumi, tuhan tidak ada. Setidaknya tidak dibicarakan. Simpans, landak, atau orang-utan, tak punya konsep tentang hal-hal yang abstrak. Karenanya mereka tidak mampu menciptakan tuhan. Hanya manusia yang mampu menciptakan tuhan.Tuhan diciptakan untuk memperingan dan mempermudah kehidupan manusia yang brutal. Sebelum tuhan ada, manusia hidup dalam kemurungan dan tanpa makna. Tuhan dan kemudian agama membantu menenangkan hidup mereka. Ada hal-hal yang bisa diatasi dengan tuhan, tetapi banyak sekali hal dimana tuhan tak mampu berbuat apa-apa2.Termasuk soal coronavirus”.   Demikianlah luahan hati seorang  liberal terhadap viruscorona.

Wahai pembaca, bayangkan pernyataan diatas tidak layak keluar dari tulisan di facebook seorang yang mengaku muslim, tetapi karena pemikiran liberal dan bebas yang dimilikinya, maka pernyataan tersebut lebih sesat daripada pemikiran orang yang tidak beriman, malah terlihat pernyataan tersebut sama seperti pernyataan seorang ateis yang tidak bertuhan. Ditambah lagi, pernyataan tersebut keluar di saat virus corona yang sedang mewabah, padahal seharusnya datangnya wabah virus corona ini untuk menyadarkan manusia untuk kembali kepada Tuhan, mengakui ada kekuatan diatas kekuatan manusia, yang dikirim Allah hanya makhlukNya yang sangat kecil tidak kasat mata, yang dapat merusak semua sistem dalam badan manusia. Jika di negeri lain, dengan virus corona ini banyak orang  tidak beriman jadi mengakui kebesaran Allah, dan masuk agama Islam. Tetapi anehnya dengan viruscorona ini ada tokoh islam liberal Indonesia menghujat Tuhan, dan menafikan keberadaan dan kekuasaan Tuhan.. 

Di negara lain, kedatangan virus corona malah disambut dengan pesta gay di pantai, padahal perbuatan homoseksual, elgebete ini bertentangan dengan fitrah, agama dan kemanusiaan. Seharusnya dengan kedatangan visus corona ini manusia melakukan intropeksi atas segala kesalahan dan dosa yang dilakukan..Lihat bagaimana Allah datangkan virus corona ini sewaktu semua negara sibuk membicarakan kebebasan hak manusia untuk melakukan perkawinan sejenis, sehingga sekian negara telah meluluskan melegalkan hal tersebut, padahal semua perbuatan tersebut bertentangab dengan semua ajaran agama. bahkan baru-baru ini ada pelaku transgender yang menyatakan, jika perbuatan saya ini adalah salah menurut Tuhan, mana azab Tuhan..? Bayangkan, manusia yang lemah dan hina telah berani menantang Tuhan..?

Belum lagi jika kita melihat pembunuhan sesama muslim, negara muslim berperang dengan negara islam yang lain, kekejaman, pembunuhan atas orang muslim di negara yang mayoritas bukan islam terus berlanjut , pindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Penderitaan demi penderitaan seakan-akan tidak pernah berakhir. Di negeri mayoritas islam ,agama islam menjadi permainan, dan bahan perdebatan antara paham dan kelompok, pertikaian, saling tuding dan saling menghina menjadi berita di media masa. Ditambah lagi kemaksiatan yang merejalela, dari perzinaan, perjudian, pemerkosaan, narkoba, korupsi, kedzaliman, menjadi kebiasaan di seluruh tempat, sehingga agama menjadi hiasan belaka. Di negeri yang terdapat tempat suci, juga tidak terkecuali telah terpengaruh dengan budaya hiburan, sehingga hala dan haram sudah menjadi pilihan atas dasar kesukaan, bukan sesuatu yang harus dihindari dan dibasmi.

Telebih lagi, budaya malu, nilai-nilai akhlak dan adab telah tercabut dari masyarakat, sehingga tidak ada lagi hormat dan adab dengan ulama, pemimpin, orangtua, semua dianggap sama, rakyat menghina pemimpin, umat menghina ulama, fatwa menjadi bahan lelucon dan tertawaan, kenenaran dipalsukan, sedangkan kepalsuan menjadi anutan, padahal Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Umat berakhlak pada saat ini menjadi suatu yang langka. Ajaran agama, peringatan ulama, tidak digubris, bencana alam banjir dan gempa, dan tsunami tidak lagi menjadi peringatan, semoga virus corona dapat menyadarkan umat manusi. Jika ternyata umat juga tidak sadar diri, kita tidak dapat bayangkan apa lagi yang akan dikirim untuk dapat menyadarkan manusia ?                                                                                                                                

Sudah saatnya kita berbenah diri, muhasabah diri, bertobat kepada Allah, mengakui semua dosa dan salah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khalifah al Muqtadhi Bi amrillah menutup segala pintu kemaksiatan, sebab selama ini kita lupa dan alpa, terikut dengan gaya hidup mereka yang tidak beriman, berpikiran liberal, budaya liberal, gaya hidup liberal. Dalam sebuah hadis ada seorang lelaki yang baru sampai dari perjalanan yang panjang, rambutnya acak-acakan, tubuhnya penuh debu, dan ketika lelaki itu berdoa : Ya Allah..Ya Allah., Rasulullah bersabda : “ Bagaimana mungkin permohonannya akan dikabulkan Allah, sedangkan makanannya dari benda yang haram, minumannya dari minuman yang haram, pakaiannya dari uang yang haram..? ( Hadis riwayat muslim No.1015).

Wahai saudaraku... mari kita bersihkan diri kita, bersihkan keluarga kita, bersihkan lingkungan kita, bersihkan masyarakat kita dari segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan, kita tundukkan diri kita kepada Allah, memohon ampunan dan memohon agar semua bencana dan wabah virus corona ini segera diangkat,hanya Allah yang dapat mengangkat dan menghlangkan wabah ini dengan kekuatan dan keagunganNya, sebagaimana firman Allah : “ Dan orang yang telah melakukan perbuatan yang keji dan menganiaya dirinya sendiri, dan mereka ingat akan Allah dan memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah sebaik-baik orang yang beramal “ ( QS. Ali Imran : 135-137)

Mari kita meminta ampun, beristighfar, bertobat atas segala dosa dan kesalahan, berikhtiar dan berusaha dengan sungguh-sungguh ,  berdoa dengan ketundukan hati, mengharapkan pertolonganNya sehinga wabah virus corona ini akan berakhir. Fa’tabiru Ya Ulil Albab.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Buletin

Share This