No. 1401 Sikap Muslim menghadapi Virus Corona

today March 18, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

““ Apa saja musibah yang terjadi adalah akibat perbuatan kamu sendiri “ ( QS. al Syura : 30 ).

Segala sesuatu terjadi itu dengan takdir  Allah Taala. Keyakinan tersebut termasuk dalam rukun iman kepada Qadha dan Qadar, baik kepada takdir  yang baik, maupun takdir yang tidak baik seperti musibah, bencana, dan lain sebagainya, sebab tidak ada sesuatu apapun, sampai kepada sehelai daun kering yang jatuh ke atas bumi, yang terjadi tanpa takdir Allah, demikian juga dengan virus corona, itu semua terjadi hanya dengan takdir Allah. Ini sikap pertama seorang muslim, bahwa segala sesuatu itu hanya dapat terjadi dengan kuasa Allah Taala.

Sikap kedua, seorang muslim harus meyakini bahwa dalam setiap takdir yang terjadi, baik bencana, itu semua terjadi dengan  rahmat dan kebijaksanaan Allah. Tuhan itu bersifat Rahman dan  Hakim ( Maha Bijaksana ) maka segala sesuatu itu terjadi hanya dengan IlmuNya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berpikiran negatif seperti menggerutu, apalagi memaki-maki segala  yang telah ditakdirkan, baik itu bencana, musibah atau  wabah penyakit, sebab itu semua adalah perbuatan Allah. Dalam hadis sahih dinyatakan : “ jangan kamu menuduh Allah pada segala sesuatu yang ditakdirkan terjadi  “. Terlebih lagi, kadang kala sesuatu yang tidak baik itu  mendatangkan kebaikan sebagaimana firman Allah : “ Kadang kala apa yang kamu tidak sukai itu lebih baik bagi kamu, dan kadangkala apa uang kamu sukai itu tidak baik bagi kamu, sebab Allah lebih mengetahui dan kamu tidak mengetahui “ ( QS. Al Baqarah : 216)

Sikap ketiga setiap muslim harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik atau  buruk seperti musibah, wabah dan bencana itu semua merupakan ujian iman. Allah telah berfirman: “ Dan Kami ( Allah ) akan uji kamu dengan kejadian yang baik atau dengan sesuatu yang buruk “ ( QS. Al Anbiya : 35 ). Dalam ayat lain dinyatakan :  “ Dan Kami akan uji kamu dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta,  jiwa dan kekurangan buah-buahan,dan berikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar “ ( QS. Al Baqarah : 155 ).

Musibah itu adalah ujian keimanan, apakah manusia dapat  sabar menghadapinya, sebab dalam kesabaran  terdapat pahala yang banyak, disamping itu, sabar menjadi media untuk mendapat  ampunan dosa dan menaikkan  kedudukan manusia disisi Allah Taala.  Dalam sebuah hadis sahih diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “ Tidak ada sesuatu musibah bagi seorang mukmin, daripada kesusahan, kegelisahan, kesedihan, sampai rasa sakit terkena duri yang terkena pada badannya kecuali Alah akan mengampunkan dosa-dosanya “ ( Hadis sahih riwayat Bukhari ).

Siti Aisyah bertanya kepada nabi tentang wabah penyakit yang tersebar, maka beliau memberitahu bahwa wabah itu merupakan siksaan yang ditimpakan Allah kepada siapa yang dikehendakiNya. akan tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang yang beriman, maka seseorang  yang tetap tinggal pada suatu daerah yang kejangkitan wabah dan ia sabar serta berdoa kepada Allah kemudian sadar bahwa ia tidak akan tertimpa wabah kecuali dengan taqdir Allah, maka ia mendapat pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid “ ( Hadis sahih riwayat Bukhari ).

Sabar bukan berarti diam, dan tawakkal, tanpa mencari dan berusaha untuk menanggulangi musibah, ini pemikiran yang salah. Tawakkal dilakukan setelah manusia berusaha dan beriktiar mencari solusi atas musibah terjadi, seperti mencari obat untuk penyakit yang diderita, atau menghindar dari penyebab terhadap penyakit tersebut. Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan  obat, dan menjadikan pada setiap penyakit itu ada obatnya, maka berobatlah kamu dan janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang telah dharamkan “ ( Riwayat Abu Daud ). Oleh karena itu seorang musim   berikhtiar agar terhindar dari terkena virus corona,  dan mencarikan obat bagi mereka yang sudah terkena wabah.

Diantara usaha yang dilakukan agar tidak terkena wabah adalah menghindar dari tempat perkumpulan, sebab Rasulullah   bersabda “ Apabila kamu mendengar wabah penyakit terjadi pada suatu tempat, maka janganlah kamu datang ketempat tersebut, dan apabila kamu berada ditempat wabah penyakit itu terjadi, maka janganlah kamu keluar dari tempat tersebut “. ( hadis riwayat Bukhari ).

Diantara usaha untuk menghindar dari irus corona, Kerajaan Saudi Arabia menutup pelaksanaan umrah buat sementara waktu, demikian juga fatwa ulama unuk menghentikan segala kegiatan majlis taklim, menghadiri shalat jamaah dan lain sebaginya, dengan alasan bahwa keadaan sekarang sudah merupakan keadaan darurat, sesuai dengan kaedah hukum islam bahwa  bahwa keadaan darurat itu dapat membolehkan untuk melakukan  sesuatu yang pada asalnya adalah tidak boleh dilakukan.

Dengan menghadiri majli ilmu, perkawinan, dan tempat yang ramai akan terjadi kontak sosial, dapat terjadi penyebaran virus, maka menghindar tersebut termasuk ikhtiar dan usaha, dan sesuai dengan al Quran: “ Dan jangan kamu menjatuhkan dirimu sendiri  dalam kebinasaan “ ( QS. Al Baqarah : 195 ).

 Jika seseorang merasa ada gejala sakit demam , maka sebaiknya  menghindar untuk berjumpa dengan orang lain, sebab perjumpaan itu dapat menyebabkan terjangkit virus.  Rasulullah penah bersabda  :  “ Tidak boleh melakuan  sesuatu yang berbahaya atau sesuatu yang dapat membahayakan orang lain “ ( Hadis riwayat Ibnu Majah, Daru Qutni, dan Malik ).

Setelah ikhtiar pencegahan dilakukan, baru seorang muslim bertawakal kepada Allah. Sikap tawakkal itu dilakukan setelah ikhtiar dan usaha, bukan sebelum ikhtiar dan usaha, sebab Rasulllah berkata kepada seorang Arab badui yang masuk masjid : “ Sudahkah kamu mengikat kenderaanmu ?”. Arab badui menjawab : “ Belum, sebab saya bertawakkal kepada Allah “. Mendengar itu, Rasulullah bersabda : “ Ikat dulu kenderaanmu baru  bertawakkal “ ( Hadis riwayat Tirmidi dari sahabat Anas bin Malik ). Dari dialog antara Arab Badui dan Rasulullah tersebut  dapat disimpulkan bahwa tawakal itu dilakukan setelah berusaha dengan mengkikat kenderaan, bukan membiarkan kenderaan itu tanpa diikat dan bertawakal kepada Allah.

Dengan berikhtiar dan berusaha  bukan berarti itu merusak keyakinan kepada Allah dan keyakinan kepada takdir Allah. Demikian juga dengan berusaha menghindar tidak berarti mengurangi keyakinan kepada takdir sebab Imam Ghazali berkata : “ Siapa yang menyangka bahwa tawakkal itu adalah tidak berusaha, tidak berpikir dengan akal, dan menganggap bahwa tawakkal itu berserah tanpa usaha seperti kain yang dicampakkan jatuh ke bumi atau seperti daging yang terletak diatas tempat memotong daging. Itu semua adalah anggapan orang yang bodoh, dan itu adalah haram disisi syariat. Memang syariat agama memuji orang yang bertawakal dan mendapat kedudukan yang mulia, tetapi bagaimana mungkin seseorang mendapat kedudukan mulia dengan sesuatu yang dilarang oleh syariat itu sendiri. ( Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin, bab Amal Perbuatan Orang yang bertawakal ).

Sikap muslim setelah berikhtiar adalah berdoa kepada Allah agar terhindar daripada wabah penyakit. Rasulullah mengajarkan umatnya membaca doa agar terhindar dari penyakit : “ Allahumma inni a’udzubika minal baraso, wal jununi, wal judzami, wa min sayyi’il asqaami “, Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari terkena penyaki sopak, gila dan kusta, dan dari segala penyakit yang baruk dan mengerikan “ ( Riwayat Abu Daud ).

Demikian juga dapat dilakukan dengan membaca doa qunut nazilah, yaitu membaca doa qunut pada setiap rakaat terakhir dari shalat lima waktu selama satu bulan, karena Rasulullah pernah membaca qunut nazilah untuk mendoakan suatu kaum daripada kabilah Arab selama sebulan lamanya ( Fiqih Islam, Wahbah Zuhaili, bab Qunut Nazilah ).

Selain berdoa juga diantara menghadapi musibah juga berzikir dan bertasbih kepada Allah sebagaimana yan dilakukan oleh Nabi Yunus sewaktu beliau berada dalam perut ikat dengan bacaan “ Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minal dzalimin “ segaimana diceritakan dalam al Quran ( QS. Shad : 88 ) dan nabi Ibrahim sewaktu dilempar ke dalam api, datang malaikat bertanya apakah yang akan engkau pinta kepada Tuhanmu ? Nabi Ibrahim menjawab dengan zikir  “ Hasbiyalah wa nikmal nashir “, Cukuplah aku dengan Allah sebab Dia sebaik-baik pemolong “. Rasulullah bersabda :  siapa yang sibuk berzikir kepadaKu daripada meminta kepadaKu, maka Aku akan berikan kepadanya apa yang diminta oleh orang yang berdoa “ ( Tirmidzi ).

Sikap seterusnya hendaklah seorang muslim bersedekah sebab diantara keutamaan sedekah dapat menolak bala dan musibah berdasarkan hadist nabi saw : Sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan kemarahan tuhan dan menolak sesuatu yang buruk (HR. Tirmidzi dan Ibn Hibban)

 

Terakhir, sikap umat Islam hendaklah beristighfar, bertobat dan meminta ampun kepada Allah sebab kadangkala musibah terjadi disebabkan oleh dosa-dosa yang dilakukan. Dalam al Quran dinyatakan “ Apa saja musibah yang terjadi adalah akibat dari perbuatan kamu sendiri “ ( QS. al Syura : 30 ). Ibnu Qayim berkata : “ Tidaklah musibah terjadi melainkan karena dosa, oleh karena itu tidaklah musibah dihilangkan melainkan dengan taubat “. Sekian banyak dosa  yang  telah dilakukan manusia saat ini,  sampai ada yang menantang Tuhan dengan ucapan “kalau memang ini perbuatan dosa, mana azab Tuhan” dan ungkapan lain yang senada. Akhirnya Allah menunjukkan kekuasaanNya, dengan virus corona, maka  sudah waktunya kita melakukan taubat  atas dosa-dosa agar virus corona ini dapat segera berakhir.

Fa’tabiru Ya Ulil albab.

 

  

Buletin

Share This