No. 1398 Peristiwa Di Bulan Rajab

today March 11, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

‘ Sesungguhnya dalam kisah mereka ada pelajaran bagi orang yang berpikir  ( QS.an Nur : 44)

Bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia, sebagaimana dinyatakan Allah dalam kitab suci al Quran bahwa “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (QS. At Taubah:36).

Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasululah sallahu alaihi wasalam “ Waktu telah menyelesaikan putarannya dan telah mencapai kondisi saat Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Tahun terdiri atas 12 bulan dengan empat bulan tidak dapat diganggu gugat. Tiga di antaranya saling berurutan yaitu bulan Dhul-Qa'dah, Dhul-Hijjah dan Muharram dan Rajab, bulan  yang berada di antara bulan Jumada dan bulan Sha'ban." (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu pada bulan Rajab dilarang melakukan peperangan, sebab bulan Rajab adalah bulan kedamaian. Dalam al Quran dinyatakan : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya  ( QS. Al Madah : 2 ).

Walaupun dilarang untuk berperang di bulan Rajab, tetapi sejarah mencatat bahwa telah terjadi suatu peperangan pada bulan Rajab, yaitu Perang Tabuk. Peperangan  yang dilarang bagi kaum muslimin adalah melakuan peperangan, bukan mempertahankan diri dari penyerangan sebab jika umat Islam diserang, maka umat Islam wajib mempertahankan dirinya walaupun itu terjadi pada bulan Rajab. Hal ini terjadi pada perang Tabuk yang terjadi pada zaman Rasulullah. Pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijrah,  kaum muslimin mendapat berita dari kafilah dagang bahwa  orang Romawi telah menghimpun pasukan dalam jumlah yang sangat besar untuk melakukan peperangan terhadap umat Islam. Dalam hadis riwayat Thabrani dinyatakan bahwa jumlah pasukan kaum nasrani dari Romawi mencapai 40.000 orang yang terdiri dari suku Lakham, dan judzam, dan beberapa suku lainnya yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Sewaktu pasukan telah sampai di kawasan Balqa, nabi segera menghimpun kaum muslimin untuk siap siaga menghadapi mereka, padahal pada waktu itu adalah kaum muslimin berada dalam musim panas. Kaab bin Malik berkata : “ Rasulullah mengumumkan perang kepada kaum muslimin, tidak seperti biasanya jika beliau melakukan peperangan. Beliau mengumumkan perang Tabuk ini pada musim sangat panas, dengan menempuh jarak yang sangat jauh dengan jumlah pasukan yang sangat besar.

 

Peperangan ini dirasakan sangat berat, dan merupakan ujian untuk membedakan siapakah diantara yang beriman dan siapakah yang dalam hatinya ada sifat munafik “. Orang-orang munafik mempengaruhi orang beriman dengan ucapan : “ Janganlah kamu berperang, sebab ini musim sangat panas. Malahan Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik enggan untuk ikut dalam pasukan yang akan bergerak ke Tabuk, sehingga dalam al quran diceritakan bahwa :  “ Orang-orang yang ditinggalkan itu ( tidak ikut berperang ) merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata :  “ Janganlah kamu berangkat ( pergi berperang ) dalam panas terik seperti ini. Katakanlah hai Muhammad : “ Api neraka jahannam itu lebih panas daripada ini “ ( QS. at Taubah : 81 ).

Rasulullah berangkat bersama 30 ribu pasukan saat musim panas sehingga terasa sangat sulit bagi pasukan muslim. Pasukan ini disebut “ jaisyul ‘usrrah “ ( pasukan untk menghadapi peperangan yang sangat berat ) karena berasa dalam kesulitan saat perang Tabuk. Setelah di Tabuk, Rasulullah SAW berpidato yang membakar semangat kaum muslim. Dalam perang Tabuk juga terlihat bagaimana semangatnya umat islam untuk mengorbankan harta dan jiwa. Usman bin Affan menyumbangkan 300 ekor unta beserta pelana dan perlengkapannya, disamping uang sebanyak 1000 dinar yang diletakkan Usman di kamar Rasulullah. Abubakar as siddiq menyerahkan semua harta kekayaannya, sedangkan Umar bin Khattab menyerahkan separuh dari harta kekayaannya.  

Rasulullah bersama pasukan kaum muslimin berjalan menuju Tabuk, dengan berbagai macam penderitaan. Imam Ahmad menceritakan bahwa dua dan tiga orang saling bergantian menaiki unta, mereka juga kehabisan air minum dan makanan sehingga terpaksa ada yang memotong unta mereka untuk diambil airnya dan dimakan dagingnya. Setelah pasukan sampai di Tabuk, mereka tidak menemukan pasukan musuh, sebab pasukan musuh tidak berani melakukan penyerangan setelah mereka mendengar bahwa Rasulullah membawa pasukan yang besar dalam menghadapi mereka.  Malahan, gubernur kawasan Yohanna, datang menemui Rasulullah meminta perjanjian damai dengan kesediaan membayar pajak ( jizyah ) kepada Rasulullah. Demikian juga dengan penduduk kawasan Jarba dan Adzrah yang masih memeluk agama nasrani, mereka juga bersedia tunduk kepada pemerintahan Rasululah dan bersedia membayar jizyah. Dengan adanya perjanjian damai ini maka kaum muslimin telah mendapat kemenangan. Akhirnya nabi dan pasukan kaum muslimin kembali ke Madinah,pada bulan ramadhan tahun ke Sembilan hijrah.

Peristiwa terbesar dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Rajab adalah peristiwa Israk Mikraj yaitu perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di kota Makkah menuju Baitul Madis, selanjutnya naik ke langit menuju Arsy. Perjalanan tersebut dilakukan pada waktu sebagian malam sebagaimana dinyatakan dalam al Quran :  “ Allah telah membawa hambaNya berjalan di malam hari dari masjidil haram menuju masjidil al Asha “ ( QS. Al Isra “ 1 ). Dalam surah an Najm, juga dinyatakan : “  Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain yaitu di Sidratil Muntaha.  Di dekatnya ada surga tempat tinggal. [Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampauinya.  Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda [kekuasaan] Tuhannya yang paling besar. ( QS. An Najm : 13-18).

Peristiwa lain yang terjadi pada bulan Rajab adalah Pembebasan Baitul Maqdis yang dilakukan oleh Panglima Islam  Salahuddin Al-Ayubi atau Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi. Perang Salib adalah salah satu babak yang paling kelam dan dramatis dalam sejarah perjalanan umat beragama yang tercatat dalam lembaran sejarah perang sebagai suatu perang yang memakan tempoh yang agak lama iaitu sekitar dua abad lamanya (1096- 1291 M) dengan tujuh siri peperangan. Setelah kemenangan pasukan Kristian Eropah pada Perang Salib pertama maka Baitul Maqdis jatuh ke tangan kaum kafir.  

Pada waktu itu, setelah kematian Nuruddin az Zinki di Mesir maka kerajaan Islam berada di bawah pimpinan Salahuddin al Ayyubi.  Mendengar Jerussalem jatuh ke tangan pasukan kaum Salin, maka Salahuddin Al Ayyubi mulai menggerakkan pasukkan perangnya menuju Baitul Maqdis pada bulan Jumadil Awal 583 Hijriah dan mulai melakukan penyerangan pada tanggal 26 buan Rabi Al-Thani 583 Hijriah. Pasukan islam di bawah panglima perang Salahuddin al Ayyubi berperang dengan pasukan Salib yang menguasi Jerussalem akhirnya  berhasil merobohkan benteng kota Jerussalam pada tanggal 25 bulan Rajab tahun 583 Hijriah bertepatan pada tanggal 2 Oktober 1187 sehingga kota Jerusaalem kembali kebawah kekuasaan umat Islam daripada kekuasaan tangan pasukan perang Salib yang menguasai Baitul Maqdis.

Sejarah lain yang terjadi pada bulan Rajab  adalah jatuhnya kekuasaan Khilafah  Utsmaniyyah Turki yang terjadi pada 27 Rajab 1342 Hijriyah atau 3 Maret 1924, dimana   pemerintahan Turki Modern di bawah pimpinan Mustafa Kemal AtTaturk  menghancurkan sistem khilafah, dan membuang Khalifah yang ke-101 yaitu Sultan Abdül Mecid II (Abdul Majid II) dengan pengasingan. Kekuasaan Turki Usmaniyah jatuh ke tangan pasukan Inggeris, dan Turki diserahkan oleh Inggeris dibawah kepemimpinan Mustafa Kemal atTaturk dengan syarat agar menghancurkan sistem khilafah yang merupakan sistem pemerintahan Islam  dan  menghancurkan segala usaha dalam menegakkan lembalinya sistem khilafah. Syarat kedua adalah  menggantikan undang-undang Islam dengan undang-undang Eropah, dan syarat ketiga adalah memerangi segala bentuk syiar agama Islam.

Perjanjian tersebut dijalankan oleh Mustafa Kemal atTaturk  dengan  melarang penggunaan bahasa Arab walau dalam azan shalat, melarang rakyat memakai pakaian muslim, sehingga mengubah pemakaian bangunan masjid Aya Sophia menjadi museum, dan lain sebagainya, sehingga masyarakat Turki yang pada mulanya melaksanakan sistem hidup islam berubah menjadi sekular. Semoga dengan kedatangan bulan Rajab, umat Islam dalam mengambil pelajaran yang berharga dari beberapa peristiwa bersejarah diatas. Fatabiru Ya Ulil albab.

  

Buletin

Share This