No. 1395 Lari Dari Takdir Untuk Mencari Takdir

today February 10, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

‘ Dan jika engkau sakit, maka Dialah yang menyembukan  ( QS. Syuara’ : 80 )

Khalifah Umar bin Khattab dan para sahabatnya berjalan menuju negeri Syam, dan sewaktu mereka sampai di suatu kampung bernama al Jabiah, dekat dengan kota Damaskus, mereka mendapat berita bahwa penduduk kampung tersebut sedang terkena wabah penyakit yang telah menewaskan sebagian penduduk kampung tersebut. Mendengar keadaan kampung tersebut, para sahabat nabi berselisih pendapat apakah mereka akan meneruskan perjalanan masuk ke kampung tersebut atau menjauh dari tempat tersebut. Sebahagian sahabat berpendapat bahwa lebih baik kita tidak memasuki tempat tersebut, agar kita tidak terkena wabah penyakit. Sebagian sahabat yang lain berpendapat bahwa kita tetap meneruskan perjalanan memasuki kampung tersebut sebab penyakit itu merupakan takdir dan ketentuan daripada Allah, walaupun kita memasuki kampung tersebut, jika Allah tidak mentakdirkan terkena penyakit, maka kita  tidak akan terkena penyakit, kita cukup tawakkal kepada Tuhan atas takdir yang akan terjadi, dan jika Tuhan telah memutuskan takdir terkena penyakit, maka walaupun kita menghindar dari penyakit tersebut, maka kita tetap akan terkena penyakit. Malahan jika kita menghindar dari kampung ini seakan-akan kita seperti orang yang dikatakan dalam al Quran : “ Tidakkah kamu perhatikan beribu-ribu orang yang keluar dari rumahnya lari karena takut akan kematian “ ( QS. Al Baqarah : 243 ).

Untuk mengakhiri perdebatan tersebut, para sahabat bertanya kepada  Khalifah Umar bin Khattab atas perkara tersebut. Khalifah Umar bin Khatab berkata : “ Kita kembali dari meneruskan perjalanan, dan jangan masuk ke kampung yang telah berjangkit wabah penyakit tersebut . Sebagian dari sahabat bertanya : “ Wahai Umar, bukankah dengan tindakan tersebut berarti kita lari dari takdir Allah ? Khalifah Umar bin Khattab menjawab : “ Benar, kita lari dari takdir Allah untuk mencari takdir Allah yang lain . Kemudian Umar memberikan contoh kepada para sahabat tersebut, sambil berkata : “ Bagaimana pendapat kamu semua, jika kamu  sedang mengembala kambing turun ke suatu lembah yang mempunyai dua jalan yang bercabang, jalan yang satu menuju lembah yang subur mempunyai rumput yang banyak, sedangkan jalan yang satu lagi menuju padang yang tandus. Jika kamu terus berjalan menuju padang yang subur, maka kamu telah berjalan ke tempat yang ditakdirkan Tuhan agar kambing dapat memakan rumput yang segar, sedang jika kamu memilih jalan yang satu lagi, berarti kamu berjalan ke tempat yangakan ditakdirkan Allah tidak memiliki rumput dan kambing yang kamu gembala akan menderita kelaparan “.  Mereka menjawab : “ Benar, kami akan berjalan menujulembah yang subur agar kambing kami dapat memakan rumput yang hijau “. Umar berkata :  “ Demikianlah takdir Allah, jika kamu berjalan ke lembah yang tandus, maka  Allah memutuskan takdirnya dimana  kambing kamu tidak dapat memakan rumput, sebab rumput tidak ada di tempat tersebut tetapi jika kamu berjalan ke lembah yang subur, maka Allah juga  memberikan takdirNya agar kambing kamu untuk memakan rumput yang subur “.

Untuk lebih meyakinkan pendapatnya, Khalifah Umar bin Khattab mencari sahabat Abdurrahman bin Auf untuk bertanya tentang pendapatnya. Pada waktu itu Abdurahman bin Aif tidak ada, baru pada keesokan harinya datanglah Abdurrahman bin Aif, maka Umar bin Khattab segera bertanya tentang pendapatnya mengenai jawaban tersebut. Abdurahman bin Auf berkata : “ Wahai Khalifah Umar bin Khattab, aku pernah mendengar sesuatu daripada Rasulullah sallahu alaihi asallam tentang perkara ini “. Mendengar itu Umar bin Khattab berkata : “ Allahu Akbar “.

Abdurrahman bin Auf melanjutkan ucapannya : “ Aku mendengar Rasulullah sallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila kamu mendengar wabah penyakit terjadi pada suatu tempat, maka janganlah kamu datang ke daerah tersebut. Dan apabila telah terjadi wabah penyakit di suatu daerah dan kamu berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar, untuk lari daripadanya “. ( Hadis riwayat Bukhari ). Khalifah Umar bin Khattab sangat bergembira mendengar hadis tersebut, sebab kandungan hadis tersebut menguatkan pendapatnya agar lari dari suatu takdit untuk mencari takdir yang lan. Akhirnya para sahabat sepakat untuk meninggalkan kampung tersebut agar terhindar dari wabah penyakit.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa mengapa kita disuruh lari dari suatu tempat yang terkena wabah penyakit ? Sebab penyakit tersebut akan datang melalui udara, sehingga jika kita masuk ke tempat tersebut,menyebabkan mudah terjangkit penyakit. Larangan memasuki tempat yang terkena wabah penyakit itu agar terhindar kita terhindar dari irus penyakit tersebut, sedangkan bagi mereka yang sudah berada di dalam tempat tersbut dilarang untuk keluar agar penyakit itu tidak terbawa keluar. Tetap berada di dalam tempat tersebut, bukan berarti kita membiarkan mereka mati terkena penyakit, tetapi walaupun mereka diharuskan tetap berada di dalam tempat tersebut, segala usaha ikhtiar dan pengobatan wajib tetap dilakukan sehingga wabah penyakit tersebut dapat segera berakhir, sebab Allah telah menjadikan setiap penyakit pasti memiliki obat yang dapat dipakai untuk menyembuhkannnya. Rasulullah sallahu alaihi wasallam telah bersabda : “ Berobatlah kamu wahai hamba Allah, sebab Allah Taala itu menjadikan penyakit, juga menjadkan obat untuk penyakit tersebut “ ( hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah )  

Rasulullah suatu hari ditanya jika penyakit itu takdir Allah, apakah mencari obat itu bukan berarti menolak takdir Allah ? Rasulullah menjawab : “ Mencari obat dan berobat itu juga merupakan takdir Allah Taala “( riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Usamah bin Syarik ). Rasulullah juga telah bersabda : “ Tidaklah suatu penyakit itu terjadi kecuali telah disediakan baginya obat, boleh jadi obat itu telah diketahui oleh manusia atau belum  diketahui oleh manusia kecuali mati  “ ( riwayat Ahmad dan Thabrani daripada Ibnu Masud ).  Jika manusia sudah mengetahui obat tersebut, maka berobat dengan obat yang sudah diketahui, dan jika mansuia belum mengetahui obat atas penyakit tertentu, maka kewajiban manusia untuk melakukan penelitan mencari obat atas penyakit tersebut, sebab Allah telah menyediakan obat atas segala penyakit. Mencari obat untuk mengobati suatu penyakit merupakan suatu kewajiban, dan tidak berlawanan dengan tawakal seorang hamba  kepada Allah Taala sesuai dengan perkatan dan perbuatan Rasulullah sallahu alaihi wasallam.  Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib sedang menderita sakit mata, maka Rasulullah berkata kepada Ali : “ Jangan engkau makan ini yaitu kurma yang belum kering ( rutab ), tetapi makanlah ini yaitu siliq semacam tumbuh-tumbuhan yang dimasak dengan tepung, karena ini lebih sesuai untuk engkau “.( riwayat Abu Daud ). Demikian juga pada suatu hari kepala Rasulullah agak terasa pening, maka nabi segera melapisi kepalanya dengan inai ( riwayat al Bazzar dari Abu Hurairah ).

Nabi Musa alaihissalam bertanya kepada Tuhan : “ Wahai Tuhanku, dari siapakah datangnya penyakit dan obat ? Allah Taala menjawab : “ Penyakit dan obat datang daripadaKU “. Nabi Musa bertanya lagi : “ Jika demikian, apakah yang diperbuat oleh para dokter ? “. Allah Taala menjawab bahwa : “ Mereka makan dari rezeki yang Aku berikan kepada mereka, dengan memberikan obat kepada hamba-hambaKu, sehingga datang kesembuhan atas takdirKu “.

Jika penyakit telah datang, berarti itu takdir Tuhan, dan manusia wajib untuk mencari obat agar dapat sembuh dari penyakit tersebut, dan kesembuhan itu juga merupakan takdir Tuhan, sehingga tugas manusia adalah menghindar dari suatu takdir penyakit dengan mencari obat untuk mendapatkankan takdir kesembuhan daripada Allah Taala. Sabar atas takdir musibah penyakit yang sedang diderita itu adalah ibadah, “ Sesungguhnya orang yang sabar itu akan diberikan pahala yang tiada terhingga  ( QS. Az Zumar : 10 ). Tetapi sabar atas penyakit yng diderita, walaupun berpahala, tetapi orang yang sakit tersebut tidak boleh diam, dan tidak berusaha mencari obat, sebab orang yang sakit itu wajib berusaha dan berikhtiar mencari obat dan mengobati penyakit yang dideritanya sebab mencari obat untuk kesembuhan penyakitnya itu juga ibadah,  sebab berusaha dan berikhtiar untuk mencari obat itu merupakan  perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Kadang kala satu obat tidak dapat berhasil, maka perlu dicari obat yang lain sehingga dapat obat yang sesuai untuk pengobatan penyakit tersebut,  dan kesabaran untuk tetap dan terus berusaha mencari obat yang lain, dan sabar dalam menunggu kesembuhan yang Allah takdirkan dalam proses pengobatan dan penyembuhan itu juga merupakan ibadah sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi  bahwa Rasulullah telah bersabda : “ sebaik-baik ibadah adalah menunggu kemudahan dari suatu kesusahan “. Ikhitar adalah lari dari suatu takdir untuk mencari takdir yang lain, dan itu semua merupakan ibadah kepada Allah Taala.   Fa’tabiru Ya ulil albab.  

 

Buletin

Share This