No 1394 Gaya Hidup Pemimpin

today February 10, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Katakanlah bahwa kesenangan dunia itu hanya sedikit sedangkan kenikmatan akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa “ ( QS. Nisa : 77 )

Pada saat sekarang ini gaya hidup seseorang itu sangat mempengaruhi sikap dan pribadi seseorang apalagi seorang pemimpin dalam suatu masyarakat. Dalam sejarah Islam, seoprang pemimpin itu harus memiliki gaya hidup zuhud, sehingga gaya hidup zuhud itulah yang mencegah dirinya daripada perbuatan tidak baik seperti korupsi dan lain sebagainya. Zuhud dalam terminology ajaran Islam adalah sikap hidup tidak berkeinginan kepada sesuatu walaupun mempunyai kemampuan untuk mendapatkannya. Sebagian ulama memberikan makna kepada zuhud adalah mendahulukan kepentingan akhirat daripada kenikmatan dunia, berdasarkan kepada firman Allah : “ Katakanlah bahwa kesenangan di dunia itu hanya sedikit dan kenikmatan akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa " ( Surah an Nisa : 77 ). Sikap zuhud inilah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau sewaktu menjadi pemimpin masyarakat.

Para pemimpin terdahulu menjadikan sikap zuhud sebagai gaya hidup, sehingga gaya hidup inilah yang dapat membuat mereka terhindar daripada perbuatan korupsi, penyalah gunaan jabatan dan lain sebagainya. Tanpa disadari, sebenarnya gaya hidup mewah yang diperlihatkan oleh para pemimpin dengan pemilikan rumah mewah, simpanan kekayaan yang berlimpah ruah, merupakan penyebab utama daripada  tindakan korupsi yang terjadi selama ini. Para pemimpn pada saat ini telah kehilangan gaya hidup zuhud dan berganti dengan gaya hidup mewah dan pamer kekayaan, sehingga tanpa sadar, gaya hidup mewah, padahal gaya hidup zuhud inilah yang harus menjadi budaya pemimpin sebagaimana gaya hidup Raulullah dan para pemimpin islam terdahulu.

Dalam sejarah tercatat bahwa Rasulullah saw tidak pernah menyimpan harta di rumahnya walaupun beliau mempunyai hak atas seperlima daripada harta rampasan perang ( ghanimah ) , tetapi semua harta tersebut diagih-agihkan kepada faqir miskin, dan juga kepada mereka yang memerlukan. Dalam sebuah hadis beliau terlah bersabda : " Aku tidak senang jika mempunyai emas sebesar gunung uhud kemudian ada sedikit yang aku simpan, kecuali satu dinar yang akan aku pakai untuk menunasi hutangku ".

 Pada suatu hari rasulullah menerima sejumlah dinar yang sangat banyak , kemudian beliau memberikan kepada mereka yang memerlukan, sehingga tinggal enam dinar, dan uang itu segera diserahkan kepada isterinya. Tetapi kemudian beliau tidak dapat tidur sebab teringat dengan dinar yang diserahkan kepada isterinya tadi , dan segera beliau ambil lagi uang tersebut dan segera dibagikan  kepada faqir miskin dan barulah merasa  tenang sambil beliau berkata : " Sekarang barulah hatiku merasa tenang ". Rasulullah juga pernah mendapatkan harta yang banyak dari negeri Bahrain. Beliau keluar ke masjid untuk shalat tanpa melihat kepada harta tersebut, dan setelah shalat beliau bagikan seluruh harta kepada siapa saja yang dilihatnya.

Rasulullah tidak pernah mengumpulkan dua makanan dalam makanan beliau. Jika makan daging, beliau tidak menambak dengan makanan yang lain, jika makan roti, tidak memakan makanan yang lain, demikian juga jika beliau makan kurma, hanya memakan kurma sahaja. Aisyah berkata : Sesungguhnya rasulullah sama sekali tidak pernah merasa kenyang, dan pernah suatu hari aku berkata kepadanya : Diriku sebagai tebusan anda, ambillah bekal di dunia untuk menguatkan dirimu dan untuk mencegah lapar ". rasulullah menjawab : " Hai Aisyah, saudara-saudaramu para rasul Ulul azmi mendapatkan sesuatu yang lebih berat daripada ini. Mereka menghadap Tuhan dalam keadaan sabar, dan Tuhan menghormati mereka; maka aku malu jika bermewah-mewah dalam hidup. Derajatku nanti akan berada di bawah derajat mnereka. Bersabarlah dalam beberapa hari yang sedikit ini lebih aku sukai daripada kelak di hari akhirat aku mendapat bagian yang kurang ".

 Sikap zuhud Rasululah tersebut juga diikuti oleh sahabat yang menjadi pemimpin setelahnya. Suatu ketika, Abu Bakar r.a. pergi ke pasar hendak menjual beberapa kain dagangannya. Saat itu beliau belum lama dibaiat menjadi khalifah. Di tengah perjalanan, beliau berjumpa dengan Umar ra. Umar pun menyapa, “Wahai Abu Bakar, engkau mau kemana?“Ke pasar,” jawab Abu Bakar. Umar bin Khattab  berkata, “ Wahai Khalifah Abubakar Jika engkau sibuk dengan perdaganganmu, lalu bagaimana dengan urusan kenegaraan yang engkau pimpin?” Khalifah Abu Bakar al Shiddiq balik bertanya, “Kalau begitu, bagaimana aku menafkahi istri dan anakku?“ Mendengar jawaban Abubakar, maka Umar bin Khattan berkata : “ Kalau begitu, mari kita menemui Abu Ubaidah, yang bertugas sebagai penjaga Baitul Maal. Dia akan menetapkan santunan untukmu dari perbendahaan Baitul Mal,” kata Umar. Keduanya lalu pergi menemui Abu Ubaidah,  kemudian Abu Ubaidah menetapkan santunan yang diambil dari Baitul Mal sekadar untuk memenuhi keperluan pokok bagi Khalifah r Abu Bakar dan keluarganya untuk setiap bulan.

Suatu ketika, istri Abu Bakar memohon kepada beliau, “ Wahai suamiku, saya ingin sekali mencicipi manisan ini.” Khalifah Abubakar as Shiddiq  menjawab, “ Wahai istriku, pada saat ini aku tidak punya uang untuk membelinya. Istri khalifah melanjutkan : “ Jika demikian,  itupun jika  engkau setuju, saya akan menyisihkan sedikit dari uang belanja tiap hari sehingga dalam beberapa hari uang akan terkumpul,” kata istrinya. Khalifah Abu Bakar mengizinkannya dan selang beberapa hari, uang terkumpul. Istrinya lalu menyerahkan uang itu kepada beliau untuk membeli bahan-bahan manisan. Dengan peristwa terebut, beliau kemudian berkata, “Dari pengalaman ini, aku tahu, ternyata kita mendapatkan santunan berlebihan dari Baitul Mal.” Akhirnya, uang yang sudah terkumpul itu pun dikembalikan oleh beliau ke Baitul Mal, tidak jadi dibelikan bahan-bahan manisan. Selanjutnya, Khalifah Abu Bakar  meminta Baitul Mal agar memotong santunannya sebanyak yang pernah dikumpulkan istrinya setiap harinya.

 Demikian juga dengan Khalifah Umar bin Khatab dengan sikap zuhudnya. Suatu ketika, beberapa Sahabat radhiyallahu anum seperti  Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awam, dan Thalhah berkumpul dalam suatu majelis untuk membicarakan usulan agar tunjangan untuk Khalifah Umar bin al-Khaththab ditambah, karena dianggap bahwa tunjangan yang diberikan selama ini itu dalam jumlah yang  kecil. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang berani  mengusulkan hal itu kepada Khalifah Umar bin Khatab ra. Akhirnya, mereka bersepakat untuk meminta bantuan dari Hafshah, salah seorang istri Nabi saw., yang tidak lain adalah putri Khalifah. Ummul Mukminin Hafshah kemudian menyampaikan usul tersebut kepada ayahnya, Umar bin Khattab ra. Mendengar usulan tersebut, Khalifah Umar bin Khattab ra. bukannya senang; malahan wajah beliau terlihat marah. Beliau berkata, “Siapa yang telah mengajukan usulan itu. Seandainya aku tahu nama-nama mereka, aku akan memukul wajah-wajah mereka!” Khalifah Umar bin Khattab ra. kemudian berkata kepada Habshah , “ Wahai Habshah, sekarang, tolong ceritakan kepadaku tentang pakaian Nabi saw. yang paling baik yang pernah ada di rumahmu.” Ummul Mukminin Hafsah r.a. menjawab : “Beliau memiliki sepasang pakaian berwarna merah yang dipakai setiap hari Jumat dan ketika menerima tamu,” . Khalifah Umar bin Khattab bertanya lagi, “Makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah saw. di rumahmu? Hafsah menjawab : “Roti yang terbuat dari tepung kasar yang dicelupkan ke dalam minyak…,”. Khalifah Umar bertanya lagi : “Alas tidur apa yang paling baik yang pernah digunakan Rasulullah saw. di rumahmu?”

Ummul Mukminin Hafsah menjawab : “Sehelai kain, yang pada musim panas dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua; separuh untuk alas tidurnya dan separuh lagi untuk selimut,” Kemudian Khalifah Umar bin Khattab ra.  Berkata : “Sekarang, pergilah engkau kepada mereka yang mengusulkan perkara ini dan  katakan kepada mereka bahwa Rasulullah saw. telah mencontohkan gaya hidup sederhana, beliau merasa cukup dengan apa yang ada , untuk meraih kebahagiaan akhirat. Aku tentu akan mengikuti teladan beliau….”.

 Demikianlah gaya hidup zuhud pemimpin dalam sejarah Islam, tetapi apakah gaya hidup zuhud seperti ini masih terdapat dalam gaya hidup pemimpin umat Islam hari ini..? Sikap dan gaya zuhud inilah sebenarnya yang menjadikan umat Islam sebagai umat teladan bagi manusia bukan hanya dengan ibadah ritual wajib dan sunat seperti rajin melakukan shalat sunat, puasa sunat, umrah berkali-kali, dan berulang kali naik haji, serta membangun masjid disana sini, dan lain sebagainya. Sedangkan gaya hidup sehari-hari penuh dengan kemewahan dan pamer kekayaan. Dalam pepatah  Arab ada ungkapan : “ Asshalaatu ‘aadah, wasshaumu jalaadah, fakhtabirunnaasa bil maal “,yang artinya “  Mendirikan shalat (banyak shalat sunat) itu adalah biasa, jika berpuasa ( banyak puasa sunat ) itu hanya merupakan sifat mulia, tetapi jika kamu ingin  menguji iman seseorang itu maka ujilah dia dengan melihat bagaimana dia mendapatkan harta dan bagaimana dia mempergunakan  harta yang dimilikinya“. Banyak pemimpin umat hari ini melakukan shalat sunat, zikir ,puasa sunat, umrah berkali-kali, tetapi ketika digoda dengan harta kekayaan akhirnya tanpa rasasegan dan sungkan mereka melakukan korupsi, dan lain sebagainya. Bilakah umat Islam akan mencapai kemenangan, jika sikap dan gaya hidup zuhud belum menjadi gaya hidup pemimpin da umat. Fa’tabiru Ya Ulil absar.

 

Buletin

Share This