No 1393 Kemuliaan Bukan Pada Kepemilikan

today February 10, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Sesungguhnya manusia itu menyangka bahwa jika mendapat kenikmatan, berarti Alah memberinya kemuliaan, padahal sekali-kali tidak “ ( QS. Al Fajr : 13-14 )

Dalam surah al Fajr dinyatakan bahwa jika manusia itu dapat mempergunakan waktu dari pagi sampai malam hari, setiap hari sepanjang tahun,  dengan perbuatan yang positip, maka seseorang itu akan mencapai kesuksesan dalam hidup di dunia, sehingga seseorang itu akan memiliki kenikmatan dunia baik itu kekayaan, teknologi dan kekuasaan. Tetapi jika penggunaan kenikmatan kekayaan, teknologi, dan kekuasaan itu tidak sesua dengan petunjuk Tuhan, maka akan berakibat kepada kerusakan di muka bumi. Malahan kerusakan yang dilakukan dengan orang yang memiliki harta kekayaan lebih bahaya daripada kerusakan yang dilakukan oleh orang miskin, demikian juga kerusakan yang diakibatkan oleh orang yang berilmu dengan  teknologi yang canggih lebih bahaya daripada kerusakan yang dilakukan oleh orang yang tidak berilmu dan tidak memiliki teknologi, demikian juga kerusakan yang dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan itu lebih berbahaya daripada kerusakan yang dilakukan oleh rakyat jelata. Itulah sebabnya Allah nyatakan “ Inna rabbaka labil mirshaad “ ( QS. Al Fajr : 14) yang bermakna : “  Sesungguhnya Allah akan memperhatikan dan melihat dengan teropong apa saja yang kamu lakukan dengan kekayaan,  teknologi dan  kekuasaan yang telah diberikan kepadamu. Maksudnya dilihat dengan teropong bahwa sesuatu yang kecil akan menjadi besar, disebabkan kerusakan, kemaksiatan, kemungkaran yang dilakukan dengan memakai kekayaan, teknologi, dan kekuasaan akan mengakibatkan kerusakan yang besar dalam masyarakat.

Al Quran kemudian melanjutkan dengan ayat “ Sesungguhnya manusia itu apabila dia mendapat kekayaan, maka dia menyangka bahwa Allah telah memberikan kemuliaan kepadanya “ ( QS. Al Fajr : 13 ). Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa ada anggapan yang salah dalam diri manusia, bahwa kemuliaan seeorang itu akan dilihat dari berapa banyak kenikmatan yang didapat. Manusia menyangka jika mendapat harta yang banyak itulah kemuliaan. Demikian  juga mereka menganggap bahwa jika dapat mempergunakan teknologi yang  canggih, itulah kemanusiaan. Ada lagi manusia yang menganggap bahwa jika ia mendapat kekuasaan politik, itulah kemuliaan. Sebaliknya sebagian manusia juga menyangka bahwa kehinaan itu jika seseorang tidak memiliki harta kekayaan, atau tidak mempunya gelar kesarjanaan, atau tidak memakai teknologi yang canggih. Ada juga yang berpendapat bahwa kemuliaan pada kedudukan dan pangkat yang tinggi, sedang mereka yang tidak memiliki pangkat dan kedudukan adalah orang yang tendah dan hina.   “ Dan manusia menganggap  bahwa mereka yang tidak mendapat kekayan itu adalah hina” ( QS. Al Fajr : 14 ).

Menurut al Quran bahwa manusia yang menganggap bahwa kemuliaan hidup pada harta, teknologi dan kekuasaan, dan kehinaan itu terletak pada kekurangan harta, dan kekuasaan, itu merupakan anggapan yang salah  “ Kalla “, “ janganlah kamu menganggap demikian “. Mengapa pemilikan harta kekayaan, ilmu dan teknologi serta kekuasaan itu bukan suatu kemuliaan dalam hidup ? Menurut Al Quran, “ Bal La tukrimuunal yatim, wala tahaadduana ala thaaamil miskin “, Karena mereka tidak memuliakan anak yatim dan tidak menolong untuk memebrikan makanan kepada orang yang fakir dan miskin “. ( QS. Al Fajr : 15-16). Dengan ayat ini Al Quran menegaskan bahwasanya    bahwa itu bukan suatu kemuliaan jika hanya memiliki harta, ilmu dankuasa jika kenikmatan yang dimiliki tersebut tidak dipergunakan untuk kebaikan, seperti memperhatihan kondisi anak-abak yatim, dan memberikan makanan kepada faqir miskin.  Rasulullah sallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih menyatakan bahwa “ Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain “. Dari hadis ini terlihat bahwa orang kaya yang baik adalah orang kaya yang dapat memberikan manfaat bagi orang lan dengan harta yang dimilikinya. Orang berilmu yang baik adalah orang berimu yang dapat memberikan manfaat bagi orang dengan ilmunya. Orang yang sedang berkuasa itu menjai orang yang baik, jika dia dapat memberikan kebaikan bagi orang lan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Berarti kemuliaan itu bukan dalam pemilikian harta, ilmu dan kuasa, tetapi dalam penggunaan apa yang dimilikinya untuk orang lain.  Orang kaya yang bermanfat lebih baik daripada orang kaya yang tidak bernamfaat bagi orang lain. Orang berilmu yang dapat mempergunakan ilmunya untuk orang lan lebih baik daripada orang berilmu yang tidak bermanfat bagi orang lain, demikian juga orang yang dapat mempergunakan kekuasaannya untuk kemaslahatan orang lan lebih baik daripada orang yang memakai kekuasaan untuk dirinya sendiri.

Al Quran kemudian menjelaskan bahwa manusia yang menganggap kemuliaan itu hanya terletak pada pemilikan harta kekayaan makan akan menyebabkan sikap rakus dan tamak sehingga seseorang itu tidak akan peduli apakah harta yang dimilikinya tersebut didapat dari jalan yang halal atau jalan yang haram, “ Wa ta’kulunyat turasa aklan lamma “, Dan mereka akan memakan dari  harta orang lain dengan cara mekakan yang penuh dengan keserakahan “ ( QS. Al Fajr : 17 ). Demikian juga jika seseorang itu merasa kemuliaan hanya pada ilmu, maka seseorang itu akan mencari gelar keilmuan walaupun dengan cara yang salah, seperti membeli ijazah, gelar dan lain sebagainya. Jika seseorang itu merasa bahwa kemuliaan itu hanya terletak pada pangkat, kedudukan, dan kekuasaan, maka dia akan mencari pangkat, kedudukan dan kekuasaan dengan berbgai cara tanpa memperdulikan apakah ara mendapatkan dengan cara yang halal atau yang haram, apakah kedudukan didapat dengan cara menyogok, suap, atau dengan cara kekerasan dan kedzaliman.

“ Kalla” , janganlah kamu sekali-kali berbuat demikian. Demikian lanjut al Quran. Sebab kehidupan dunia ini hanya bersifat sementara dan akan berakhir, “ Bahwa bumi ini semua akan hancur lebur “, dan setelah kehancuran dunia ini manusia akan dihidupkan kembali di alam akhirat untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah dikerjakannya dengan amanah kenikmatan, kekayaan, keilmuan, dan kekuasaan yang pernah dimilinua di dunia. Dalam hadis dinyatakan bahwa rezki itu semua akan ditanya : “ Bagaimana cara kamu mendapatkannya, dan bagaimana cara kamu mempergunakannya “. Semua manusia akan ditanya bagaimana kamu mendapatkan harta benda yang telah kamu  miliki, bagaimana cara kamu mendapatkan ilmu dan bagaimana cara kemu mendapatkan pangkat dan kekuasaan, apakah dengan cara-cara yang halal atau engkau mendapatkannya dengan cara-cara yang haram.

Setelah ditanya bagaimana cara kamu menperoleh harta kekayaan, bagaimana cara kamu mendapatkan pangkat dan kedudukan . manusia juga akan ditanya bagaimana cara dia mempergunakan kekayaan yang diterimanya, apakah hanya untuk memuaskan hawa nafsu dengan perbuatan maksiat, atau mempergunakan harta dengan foya-foya dan sesukanya, tanpa menghiraukan perintah dan larangan Allah dalam mempergunakan tersebut. Rasululah dalam hadis menyatakan bahwa “ seteguk air minum akan ditanya, demikian juga sebiji kurma yangdimakan juga akn ditanya . Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa dalam harta kekayaan tersebut   “ Halaluhu hisaabun wa haraamuhu azaabun “, Semua harta yang halal akan ditanya bagaimana kamu pergunakannya , dan semua harta yang haram pasti akan mendapat azab . Semua manusia akan berdiri di depan Tuhan untuk ditanya langsung  di hari perhitungan tersebut tanpa kecuali.

Pada saat itulah baru manusia itu sadar bahwa apa yang telah dilakukannya di dunia ternyata melanggar perintah Allah, tetapi apa artinya djika penyesalan itu di akhirat nanti, sebab disana manusia tidak dapt lagi mengelak dari pertanggung jawaban kepada Tuhan, sehingga manusia itu akan berkata “ Ya Laitani qaddamtu li hayati “, “celakanya aku atas apa yang telah aku lakukan”. Tetapi mereka tidak dapat lari sebab pada hari itu azab Allah telah menanti, dan tidak ada manusia yang dapat lari dari perjanjian dimana Allah telah menyatakan bahwa aab bagi siapa saja yang melanggar perintahNya. Hanya mansusia yang dapat mempergunakan nikmat kekayaanm keilmuan, dan kekuasaan dengan petunjuk Allah, mereka itu akan mendapat ketenangan di akhirat nanti, sehingga mereka selamat dari azab Allah, dan mereka akan diakui Allah sebagai hambaNya, sebab hidup dibawah hidayah dan petunjukNya. Mereka itulah yang akan mendapat keridhaan Allah, sebab selama di dunia mereka mempergunakan segala kenikmatan bukan untuk kesenangan dan ha fsu mereka, tetapi mereka pergunakan seluruh hidup dn kenikmatan itu untuk mencari keridhaan Allah, sehingga mereka itu layak mendapatkan tempat kemuliaan surga yang abadi. “  Hai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan penuh keridhaan dan mendapatkan keridhaan, dan masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah engkau ke dalam surgaKu..semoga kita dapat menjadi jiwa yang tenang dengan mempergunakan kenikmatan harta, ilmu, teknologi dan kekuasaan sesua dengan petunjuk Tuhan, sebab itulah kemulian hidup di dunia dan kemuliaan hidup di akhirat. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

 

Buletin

Share This