No. 1390 Takdir Dan Ikhtiar

today January 5, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

"Dan tiap-tiap sesuatu itu telah ditetapkan disisi-Nya dengan kadar yang tertentu." ( QS. ar-Ra'd: 8)

Takdir atau “Qadar” adalah ketetapan tertentu yang telah ditentukan oleh Allah Taala dalam sesuatu perkara  atau suatu kejadian yang telah terjadi. Ketetapan tersebut dapat terlaksana berdasarkan peraturan ( sunatullah ) seperti sebab  akibat dan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untuk pergerakan alam, atau kejadian baik itu berupa penciptaan, atau kejadian alam, bencana alam, dan lain sebagainya.  Firman Allah Taala menyatakan : “ Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, Dzat yang menciptakan dan menyempurnakan penciptaan-Nya,  Dzat  yang menentukan kadar setiap sesuatu dan Dzat yang memberi petunjuk, ( QS. Al A’la/87 : 3). Setiap kejadian itu merupakan keputusan Allah yang memiliki hikmah dan merupakan keputusan yang terbaik di sisi Allah, sebagaimana dinyatakan dalam ayat  :“ Dan Dia ( Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu, dan menetapkan  takdir-Nya dengan sebaik-baiknya  ( QS. Al Furqan/25 : 2) . Oleh sebab itu, setiap sesuatuyang telah ditakdirkan itu merupakan ketentuan Allah yang telah ditetapkannya dengan ukuran dan kadar masing-nasing sebagaimana dinyatakan daam al uran : "Dan tiap-tiap sesuatu itu telah ditetapkan disisi-Nya dengan kadar yang tertentu." ( QS. ar-Ra'd: 8)

Oleh sebab itu seorang  yang beriman kepada Tuhan meyakini   bahwa segala yang telah ditakdirkan,  apakah itu takdir yang baik seperti mendapat kenikmatan, ataupun takdir yang buruk, seperti bencana dan musibah, itu semuayna  datang dari perbuatan dan keputusan Allah Subhanahu Wataala. Sebab orang beriman meyakini  bahwa  segala takdir yang telah ditetapkan dan diputuskan bagi semua makhluk adalah merupakan perbuatan  Allah Yang Maha Bijaksana, Dzat Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Dengan demikian seorang yang beriman meyakini bahwa dalam setiap perbuatan dan takdir yang telah ditetapkan tersebut, terdapat hikmah Allah yang hanya diketahui oleh Allah.  Dalam setiap  penentuan takdir terdapat hikmah hanya saja disebabkan keterbatasan ilmu dalam diri manusia yang sangat terbatas dan sedikit, kadangkala manusia tidak mengetahui hikmah dari takdir dan keputusan Allah tersebut.  

Suatu pemerintah yang berkuasa akan memberikan gaji kepada pegawainya dan meletakkan peraturan tertentu yang berguna kepada rakyat. Dalam waktu yang sama, pemerintah juga akan memberikan sanksi dan hukuman bagi kesalahan atas pelanggaran yang dilakukan. Hukuman bagi kesalahan adalah buruk bagi indiidu yang melakukan kesalahan tetapi hukuman itu mempunyai hikmah dan kebaikan bagi keamanan dan ketenraman hidup masyarakat walaupun kadangkala indiidu tersebut tidak melihat kebaikan yang dihasilkan dari keputusan hukuan tersebut.

 Contoh yang lain juga dapat terlihat apabila orang yang bodoh melihat seorang dokter bedah melakukan operasi kepada seorang  pesakit. Bagi orang yang tidak memiliki pengetahuan sewaktu melihat operasi yang dilakukan oleh dokter tersebut adalah sesuatu yang membahayakan bagi si pasien, padahal  sebenarnya dokter bedah tersebut membedah perut pesakit kerana ada tujuan dan maksud tertentu yang tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahui maksud dari perbuatan pembedahan tersebut. Contoh lainnya, Seandainya manusia itu tidak ditakdirkan lapar, maka manusia itu tidak akan berusaha untuk mendapatkan makanan. Sekiranya manusia tidak ditakdirkan sakit, maka  mereka tidak  berusaha untuk mencari obat dan menjaga kesehatan. Seorang yang pernah menderita sakit baru dapat mengetahui nikmat kessehatan dan demikian seterusnya.  

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa nabi Musa alaihissalam menderita suatu penyakit. Kaum Bani Israil sewaktu mendengar bahwa nabi Musa menderita penyakit, maka mereka  berkata  “ Jika engkau berobat dengan obat ini, maka menurut kebiasaannya, engkau akan sembuh”. Nabi Musa menjaab  “ Aku tidak akan berobat, sehingga Allah akan menyembuhkanku tanpa obat “.Akhirnya nabi Musa tetap menderita sakit, sehingga Allah berfirman kepada nabi Musa alahissalam : “ "Wahai Musa, demi keagunganKu dan kebesranKu, Aku tidak akan menyembuhkan engkau, sebelum engkau berobat dengan apa yang mereka katakan kepada engkau “. Nabi Musa alaihissalam segera mengambil obat yang disarankan oleh kaumnya tadi dan tak lama kemudian nabi Musa sembuh dari sakit. Setelah itu , Allah berfirman kepada Musa  “ Wahai Musa, apakah engkau menghendaki agar Aku membatalkan hikmahKU dengan kepasrahan diri dan tawakkal tanpa mencari obat, padahal siapakah yang menyimpan obat yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan memberikan manfaat dari tumbuhan tersebut untuk memberikan kesembuhan selain Aku ?. “. Dari kisah ini kita lihat baha Allah yang mentakdirkan suatu penyakit dan Allah juga mentakdirkan obat untuk penyakit tersebut, sehingga manusia diperintahkan Allah untuk mencari dan berikhtiar untuk menolak takdir sakit dengan mencari  obat yang sudah ditakdirkan untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Itulah sebabnya sewaktu terjadi suatu wabah penyakit di suatu tempat, Khalifah Umar bin Khattab melakukan evakuasi masyarakat ke tempat yang lain agar terhindar dari penyakit yang sedang berjangkit tersebut. Melihat perbuatan dan keputusan khalifah Umar tersebut, ada seorang sahabat yang berkata  Wahai Khalifah, mengapa kita perlu evakuasi dan memindahkan masyarakat ke tempat yang lain, sebab jika memang Allah mentakdirkan seseorang itu sakit, maka dia akan terkena penyakit tersebut walaupun kita evakuasi ke tempat yang lain, dan jika Allah mentakdirkan seseorang itu sehat, maka dia akan tetap sehat walaupun berada di tempat yang sedang berjangkit wabah penyakit tersebut. Khalifah Umar berkata   “Kita lari  takdir dengan mencari takdir “. Maksudnya jika kita tetap berada di tempat  tersebut, maka akan ditakdirkan sakit sebab adanya virus dan wabah penyakit, oleh sebab itu kita perlu mencari takdir sehat dengan memindahan orang yang sehat daripada tempat wabah penyakit.   

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin berkata  “ kadangkala orang menyangka bahwa tawakkal itu adalah meninggalkan usaha dan ikhtiar dengan badan, meninggalkan pengaturan dengan hati, dan jatuh ke bumi laksana kain koyak yang dilemparkan ke atas tanah, ini adalah sangkaan orang yang bodoh, dan itu adalah haram dalam hukum syariat…karena tidaklah termasuk dalam makna tawakkal jika engkau menunggu Allah akan meniptakan kenyang kepada engkau tanpa roti atau makanan, atau engkau menunggu agar roti itu akan bergerak ke mulut engkau tanpa engkau sentuh, atau engkau mengharapkan malaikat datang untuk mengunyahlan roti itu bagi engkau atau membaanya ke dalam perut engkau, Ini semua merupakan suatu kebodohan.  

Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan pendengaran, penglihatan dan akal kepada manusia serta menurunkan sebuah kitab yang memberi petunjuk kepada kebaikan. Semua pemberian Tuhan ini mengajar manusia untuk mengenal takdir baik dan menyeru manusia supaya memanfaatkannya dan berusaha untuk mendapatkannya. Demikian juga manusia harus dapat mengenal tentang sebab akibat yang dapat menjadikan suatu musibah atau takdir yang r buruk agar manusia berikhtiar dan berudaha untuk menghindar dan menjauhi sebab yang akan mejadikan suatu musibah. Usaha dan ikhtiar inilah yang merupakan nilai bagi manusia disamping dengan sikap syukur dan sabar.

Manusia wajib memanfaatkan seuatu yang akan menjadi takdir baik dan  menjauhi segala sesuat yang akan menjadi takdir yang buruk. Mereka juga wajib menolak takdir buruk dengan takdir baik seperti menolak takdir lapar dengan melakukan takdir makan,menolak  takdir sakit dengan mencari takdir ubat dan seumpamanya. Inilak perintah Allah Taala kepada kita dalam kitab-Nya. Siapa yang menyalahi petunjuk Tuhan dan tidak memanfaatkan takdir Allah yang baik, tidak mengambil faedah dengan pendengarannya penglihatannya dan akalnya, dia adalah musuh dirinya sendiri.

 Oleh sebab itu siapa yang beriman bahwa Allah akan meyakini baha Allah telah menjadikan alam ini dengan takdir (ketetapan) tertentu, maka dia akan berusaha untuk mengenali takdir dan ketentuan Tuhan yang bermanfaat untuk memanfaatkannya. Dia juga akan bekerja mengikut tuntutan takdir ini dalam membangunkan,  mengeluarkan hasil-hasil bumi dan mempergunakan semua ciptaan yang bermanfaat dan baik yang diberikan oleh Allah di alam ini.

Siapa yang beriman kepada takdir juga akan mengetahui bahwa setiap yang wujud di alam ini berfungsi menurut hikmah yang Maha Tinggi. Apabila ditimpa perkara buruk, maka dia tidak akan gelisah. Apabila mendapat kejayaan dan kemenangan, maka dia tidak akan sombong. Qadar (takdir) adalah ketetapan tertentu yang ditentukan oleh Allah Taala kepada sesuatu perkara. Ketetapan tersebut terlaksana berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk perjalanan alam ini. Dalam hidup ini ada  takdir yang baik dan takdir yang buruk. Allah telah memberi kita petunjuk, pendengaran, penglihatan dan akal supaya dapat membedakan antara takdir yang baik untuk kita manfaatkan dan takdir buruk supaya kita dapat menjauhinya.

 Kita beriman bahwa semua takdir ini mempunyai hikmah Yang Maha Tinggi kerana Allah Taala adalah Maha Bijaksana dalam perbuatan dan ketentuan-Nya. Beriman kepada qadar (takdir) adalah salah satu rukun Iman. Keimanan kepada takdir itu untuk membangkitkan semangat dan kesungguhan berkerja untuk memanfaatkan perkara baik yang diberikan oleh Allah di dunia. Fa’tabiru Ya lil albab.

Buletin

Share This