No.1381 Ukhuwah Dan Persaudaraan

today October 30, 2019 account_circle Arifin Ismail

UKHUWAH DAN PERSAUDARAAN

“ Sesunguhnya orang yang beriman itu bersaudara “ ( QS.al Hujurat 10 )

Ketika kaum muhajirin Makkah tiba di kota Madinah, maka kaum Anshar Madinah memberikan bantuan apa saja untuk menyambut dan menerima kehadiran dan kedatangan saudara mereka dari kaum Muhajirin. Bantuan dan simpati serta perhatian kaum Anshar tersebut begitu hebat sampai mereka lebih mendahulukan kepentingan kaum Muharijin daripada diri mereka sendiri. Hal ini dinyatakan Allah dalam Kitab suci Al Quran : “ Dan orang-orang yang menempati kota Madinah dan telah beriman ( yaitu kaum Anshar ) sebelum kedatangan mereka ( kaum Muhajirin ) , mereka sangat mencintai orang yang berhijrah kepada mereka . Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, sehingga mereka lebih mengutamakan kaum muhajirn daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan susah. Dan siapa yang terpelihara daripada kekikiran , maka mereka itulah orang yang beruntung “ ( QS. Al Hasyr : 9 ).

Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar satu persatu, dan beliau berkata kepada para sahabat : “ bersaudaralah kalian berdua “. Beliau kemudian mempersaudarakan antara Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’az bin Jabal; Abubakar as-Shiddiq dengan Kharizah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utbah bin malik, Abu Ubaidah dengan Saad bin Mu’az, Abdurrahman bin Auf dengan Saad bin Rabi’, Zubair bin Awwam dengan Abdullah bin Mas’ud, Usman bin Afan dengan Aus bin Tsabit, Thalhah bin Ubaidillah dengan Ka’ab bin malik, Mus’ab bin Umair dengan Khalid bin zaid, Abu Khuzaifah bin Utbah dengan Abbad bin Bisyr, Ammar bin Yasir dengan Hudzaifah Al yamani, Abu Dzar al ghiffari dengan Munzir bin Amru, Khatib bin Abi Balta’ah dengan Uwaim bin Saadah, Salman al Farisi dengan Abu Darda’ dan Bilal bin Rabah dengan Abu Ruwaihah. Setiap satu orang anshar bertanggungjawab terhadap satu oarng Muhajirin, dengan demikian tercipta ikatan persaudaraan yang begitu kuat antar setiap individu dari kaum muslimin.

Setiap orang dari kaum Anshar ingin berbagi rasa dengan saudaranya dari kaum Muhajirin sehingga segala sesuatu yang ada di rumahnya mereka bagi dua, dibuktikan dengan ucapan Saad kepada Abdurrahman bin Auf : ‘ Ya Abdurrahmann..aku ini memiliki harta kekayaan, maka seperdua dari harta kekayaan itu aku bagi kepadamu. Demikian juga, aku memiliki beberapa orang istri, maka jika engkau menyukai salah satu dari mereka, katakanlah, sehingga dapat kuceraikan yang kamu inginkan itu dan nikahilah dia ". Begitulah hebatnya rasa persaudaraan orang Anshar dengan kaum Muhajirin sehingga segala sesuatu yang ada pada mereka berikan kepada kauj Muhajirin. Abdurrahman menjawab : ‘ Semoga Allah memberkati harta kekayaanmu dan keluargamu, aku tidak menginginkan itu semua, tetapi tunjukilah aku dimana tempat orang berniaga, sehingga aku dapat berdagang disana “.

Begitu hebatnya rasa persaudaraan yang tertanam dalam hati sanubari kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga mereka saling mewarisi harta yang ditinggalkan walaupun antar mereka tidak mempunyai hubungan darah dan kekeluargaan, sehingga turun ayat Al Quran ; “ Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain itu lebih berhak daripada orang mukmin dan kaum Muhajirin dalam harta warisan. Inilah yang ditentukan dalam Kitab Allah, kecuali jika ingin berbuat baik kepada saudaranya seaqidah “ ( Qs. Al Ahzab : 6 ).

Demikianlah Rasulullah saw telah membentuk ikatan persaudaraan dan ukhuwah antara kaum Muharijirin dan Anshar yang menjadi landasan utama dalam pembinaan suatu masyarakat madani, sehinga beliau bersabda : “ Demi yang Menguasai nyawaku ini, Tidak sekali-kali kalian masuk ke dalam surga kecuali jika kalian telah beriman, dan kalian tidak termasuk yang beriman kecuali jika kalian telah saling mencintai dengan yang lain “(Hadis Riwayat Muslim ). Itulah sebabnya diantara langkah awal yang dilakukan Rasulullah saw dalam membangun masyarakat di kota Madinah adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Persaudaraan yang dibina oleh Rasulullah adalah persaudaraan yang menghapuskan kata-kata “ aku “ ( menang sendiri , ego ) dalam bertindak, sehingga setiap orang yang bergerak dengan semangat dan jiwa kemasyarakatan serta bekerja untuk kemaslahatan dan cita-cita masyarakat. Tidak ada orang yang memandang dirinya terpisah dari masyarakat, setiap orang yakin sepenuhnya bahwa dirinya tak mungkin memperoleh kemajuan kecuali dengan bergaul di tengah masyarakatnya sendiri. Nabi Muhammad saw berhasil membina hubungan persaudaraan di antara sesama kaum muslimin itu sebagai ikatan perjanjian yang nyata dalam praktek kehidupan, bukan hanya sekedar konsep, teori atau ucapan yang tak bermakna…praktek yang benar-benar mengikat serta mempersatukan nyawa dan harta benda, bukan sekedar basa-basi atau ucapan tanpa kesan. Kaum Anshar sangat menghargai dan menghormati kaum Muhajirin. Setiap muslim yang hijrah ke kota Madinah dan datang , menumpang di rumah keluarga seorang Anshar, maka dia akan diterima dengan tangan terbuka dan si tuan rumah juga memberikan sebagian dari hartanya kepada si muhajirin tersebut. Kaum Muhajirin sangat menghargai keikhlasan budi kaum Anshar, namun mereka tidak mau menggunakan kesempatan itu untuk kepentingan diri mereka sendiri yang tidak pada tempatnya. Mereka hanya mau menerima bantuan dari kaum Anshar sesuai dengan jerih payah yang mereka lakukan dalam suatu pekerjaan.

Dengan terciptanya persaudaraan, berarti hilanglah sikap fanatik kesukuan jahiliyah. Runtuhlah segala bentuk perbedaan yang dibina atas keturunan, warna kulit, fanatik golongan, fanatik kedaerahan dan lain sebagainya. Seluruh kaum muslimin laksana satu keluarga yang saling mengasihi dan menghormati satu dengan yang lain. Keimanan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya membuahkan persaudaraan dan rasa ukhuwah yang mendalam. Oleh karena itu sikap fanatik kelompok, golongan, ras, dan kedaerahan akan tercabut dari akar-akarnya. Islam sejak awal telah memerangi sikap fanatik yang berlebih-lebihan tersebut sehingga Rasulullah saw dalam sebuah hadisnya bersabda : “ Orang yang menganjurkan fanatisme golongan bukanlah termasuk pengikut kami (umat Muhammad ). Orang yang membela fanatisme golongan bukanlah termasuk pengikut kami, dan orang yang mati dalam mempertahankan rasa fanatisme golongan bukanlah termasuk pengikut kami “ ( Riwayat Abu Daud ).

Seorang sahabat Jabir bin Abdillah menceritakan bahwa ketika kami sedang menghadapi peperangan ada seorang dari kaum Muhajirin menendang seorang kaum Anshar. Kemudian orang Anshar itu berteriak memanggil kawan-kawannya dari kelompok Anshar agar dapat menolongnya: “ Hai kaum Anshar..! Orang muhajirin juga berteriak memanggil kaumnya : “ Wahai kaum muhajirin ..! Ketika melihat itu Rasulullah saw langsung melarang sikap tersebut dengan sabda beliau : “ Tinggalkan itu..Itu adalah sikap yang sangat buruk “ ( Riwayat Abu Daud ) . Rasulullah saw sangat melarang seseorang yang membela orang lain dengan semangat fanatisme jahiliyah. Karena pada masa jahiliyah, kaum Arab mempunyai semboyan dalam berkabilah : ‘ Bela saudaramu itu baik dia seorang yang dzalim ataupun seorang yang dianiaya ( madzlum )”. Dalam ajaran Islam yang boleh dibela dan ditolong adalah sahabat atau kawan yang berada dalam kebenaran. Islam menganjurkan kita untuk menolong siapa saja yang berada dalam kebenaran, bukan berdasarkan pada rasa kesukuan, golongan atau kedaerahan. Rasulullah dalam hadis yang lain bersabda : ‘ Barangsiapa yang membela kaumnya tidak berdasarkan pada kebenaran maka dia itu ibarat seekor unta pincang yang mencoba berdiri dengan ekornya “. Semangat persaudaraan dan ukhuwah harus menyatu dengan perasaan untuk mengutamakan kepentingan bersama, sehingga dengan demikian akan terbentuk masyarakat yang kokoh dan masyarakat yang mempunyai moralitas utama. Fanatisme golongan, pendapat, mazhab, dan kelompok harus diganti dengan semangat fanatisme menjalankan dan membela ajaran Islam. Perbedaan pendapat bukan harus menjadi pemicu dan penyebab perpecahan, tetapi harus dapat dijadikan pemicu rasa toleransi, dan merupakan suatu keluasan ajaran Islam, selama pendapat tersebut tetap berdasarkan pada nilai-nilai dasar keislaman yang tegak di atas nash Al Quran dan Hadis dan sunnah dari utusan Tuhan.

Dewasa ini timbul perpecahan dan sikap fanatik terhadap golongan.. Setiap kelompok merasa bahwa kebenaran itu hanya ada dalam jamaahnya saja, sedang di luar jamaahnya, di luar kelompoknya semua adalah sesat atau tidak benar. Sikap ini sangat dibenci oleh Islam, karena dapat memicu perpecahan umat. Sepatutnya banyaknya jumlah kelompok dan golongan tersebut bukan merupakan penyebab perpecahan tetapi menjadi penyebab kesatuan dan merupakan unsur kekuatan, sehingga kelompok yang banyak adalah merupakan pembagian tugas yang menuju pada satu tujuan untuk memperjuangkan dan melaksanakan perintah Allah subhana wa taala. Sepatutnya setiap kelompok saling bersinergi dengan kelompok yang lain, sehinga perbedaan itu dapat menjadi sebuah kekuatan, dan itu hanya dapat dicapai dengan menghargai dan menghormati perbedaan dalam ikatan ukhuwah dan persaudaraan. Fa’tabiruu ya Ulul albab.

Buletin

Share This