No.1380 Sunnatullah Kepemimpinan

today October 30, 2019 account_circle Arifin Ismail

 

Dan telah Kami tetapkan dalam kitab Zabur bahwa bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba yang shaleh “ ( QS. Al Anbiya : 105 )

Setelah dua tahun tiga bulan menjadi pemimpin ummat menggantikan kedudukan Nabi Muhammad saw; Khalifah Abubakar Asshiddiq merasa bahwa dirinya tidak lama lagi akan dipanggil menghadap kepada khaliqNya. Oleh karena itu, beliau segera meminta pandangan dan pendapat dari beberapa sahabat bagaimana seandainya jika Umar bin Khattab dapat menggantikan kedudukan beliau tersebut. Secara terpisah, walau dalam keadaan sakit di atas tempat tidur, beliau memanggil beberapa sahabat utama rasulullah untuk dimintai pendapat mengenai ide dan usulannya tentang pencalonan Umar sebaai pengganti khalifah.

Pertama sekali Abubakar memanggil Abdurrahman bin Auf yang terkenal sebagai konglomerat di kalangan ummat.

Beliau berkata : “ Ya Abdurrahman, bagaimana penilaianmu tentang Umar bin Khattab..? "

Abdurrahman menjawab : “ Demi Allah, dia itu lebih baik dari siapa saja yang ada dalam pemikiran anda; hanya saja sikapnya agak keras “.

Kemudian Abdurrahman meneruskan : “ Hal ini mungkin disebabkan dia memandangku terlalu bersikap lembut. Jika pimpinan diserahkan kepadanya, niscaya sikap itu akan berubah. Buktinya, cobalah perhatikan ya Abu Muhammad (panggilan lain untuk Abubakar)..jikalau aku sedang marah kepada seseorang; maka dia membela orang tersebut. Sebaliknya jika aku bersikap lembut kepada seseorang, maka dia dengan sengaja akan bersikap tegas kepada orang tersebut..”.

"Baiklah....tetapi saya harap untuk sementara waktu agar pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja", demikian Abubakar mengakhiri pembicaraannya tersebut.

Keesokan harinya, Abubakar yang sedang sakit di atas pembaringan memanggil Usman bin Affan dan berkata :“ Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Khattab, wahai abu abdillah ( panggilan untuk Usman )”.

Usman menjawab : “ Anda lebih arif tentang dia “.

“ Benar, tetapi saya ingin meminta penilaianmu terhadap dia “.

 “ Menurut pengamatan saya, Umar itu hatinya baik walaupum sikapnya tegas. Tiada seorangpun yang sama dengannya dalam lingkungan kita “.

 “ Baiklah, terimakasih atas kedatangan anda dan saya harap agar pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja “.

Setelah Usman bin Affan pulang ke rumahnya, Abubakar memanggil Thalhah bin Ubaidillah. Setelah berlangsung beberapa pembicaraan dengan beliau, kemudian Thalhah berkata : “ Wahai Khalifah, engkau mengemukakan calon pengganti anda, dan engkau telah mengetahui bagaimana sikap dan apa yang diperbuatnya terhadap orang disekelilingnya; sedangkan anda masih hidup. Bagaimana lagi sikapnya nanti setelah engkau berpulang ke rahmatullah, dan kekuasaan berada tangannya. Oleh karena itu lebih baik engkau menanyakan bagaimana penilaian orang banyak dan masyarakat atas usulanmu tersebut “.

Mendengar usulan itu, Abubakar yang sedang berbaring minta didudukkan. Thalhah segera membantu beliau untuk duduk, kemudian Abubakar berkata : “ Apakah anda mengkhawatirkan pertanggungjawabanku terhadap Allah jika seandainya ajalku tiba dan Allah bertanya tentang tanggungjawabku maka aku akan menjawab : “ Aku telah menunjuk penggantiku seorang yang terbak idi kalangan hamba-Mu, bagi kepentingan hamba-Mu “.

Keesokan harinya Abubakar mengumpulkan seluruh masyarakat sesuai dengan saran dari Thalhah. Setelah seluruh penduduk negeri berkumpul di depan rumah, beliau minta didudukkan, dan beliau berkata: “ Saya harap agar kalian semua sudi untuk memberikan penilaian dan pendapat atas orang yang akan saya tunjuk untuk menggantikan kedudukanku sebagai khalifah. Demi Allah, penunjukan ini bukan main-main, bukan asal tunjuk dan  ini tidak berdasarkan atas hubungan keluarga. Aku menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah penggantiku. Bagaimana pendapat kalian, apakah kalian rela menerimanya...?”.

Secara aklamasi seluruh penduduk yang sedang berkumpul berkata : “ Sami’naa wa atha’naa ; kami setuju, dan akan mendengar serta mematuhinya “.

Setelah puas atas jawaban dari seluruh masyarakat, khalifah pun masuk ke dalam kamar dan dibaringkan seperti keadaan semula. Kemudian beliau memanggil Usman bin Affan untuk menuliskan surat amanat untuk Umar. Sambil berbaring Khalifah Abubakar berkata kata demi kata dan Usman menulis setiap kata yang keluar dari bibir beliau : “ Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah perjanjian yang dibuat antara Abubakar ibnu Abi Kuhafah terhadap kaum muslimin. Adapun kemudian......”. Sampai di kalimat terakhir ini tiba-tiba Abubakar tidak sadarkan diri sehingga kalimatpun terhenti. Dengan segera Usman bin Affan berinisiatif untuk meneruskan kalimat tersebut dan segera menulis : “ .....aku menunjuk Umar bin Khattab untuk menggantikanku dan  perjanjian ini kubuat demi untuk kebaikan bagi semua “. Tak lama kemudian, sehabis Usman meneruskan tulisan tersebut, Abubakarpun siuman dari keadaan nya dan kemudian beliau meminta agar Usman membacakan apa yang telah tertulis dalam surat amanat tersebut. Usman membaca surat amanat tersebut dari awal sampai akhir, termasuk kata-kata yang ditambahkannya sewaktu Khalifah tidak sadarkan diri.

Setelah selesai mendengar apa yang dibaca oleh Usman, beliau segera mengucapkan takbir sebagai pernyataan rasa syukur dan puas atas apa yang telah ditulis. Kemudian beliau berkata kepada Usman : “ Terimakasih atas apa yang telah engkau tambahkan, dan aku rasa sewaktu aku tidak sadar tadi dan tiba-tiba ajalku tiba, maka engkau khawatir jika kalimat terputus itu dapat menimbulkan bahaya dan kekacauan penafsiran di tengah masyarakat, karena kalimat tersebut belum menunjukkan suatu kepastian “.

"Benar", kata Usman.

Setelah surat amanat tersebut selesai ditulis, Abubakar segera memanggil Umar bin Khattab dan menyerahkan surat amanat dan kepercayaan tersebut kepadanya. Setelah surat itu disampaikan, Abubakar memberikan beberapa pesanan, dan wasiat.

Bunyi surat wasiat dan amanat Abubakar kepada Umar adalah :

“ Wahai Umar bin Khattab, jika Allah telah memberikan sebuah tanggungjawab kepadamu pada malam hari , maka janganlah kau tangguhkan tanggungjawab tersebut sampai siang hari. Jika Allah memberikan amanat dan tanggungjawab kepadamu di siang hari, maka janganlah kau tangguhkan hal itu sampai malam hari.

Wahai Umar, Ingatlah bahwa Allah tidak akan menerima amalan sunat sebelum amalan wajib dilaksanakan. Bukankah anda ketahui wahai Umar bahwa neraca timbangan seseorang itu akan berat pada hari kiamat disebabkan orang itu melaksanakan kebaikan-kebaikan. Bukankah engkau ketahui wahai Umar, bahwa timbangan seseorang itu akan ringan pada hari kiamat jika orang tersebut selalu membela kepalsuan...?

Wahai Umar, bukankah engkau telah menyaksikan bahwa ayat-ayat peringatan dan ancaman senantiasa diikuti dengan ayat-ayat pengharapan . Tujuannya adalah agar manusia merasa gembira dan gemetar. Bergembira dengan penuh harap, tetapi bukan atas apa-apa yang tidak diridhai Allah; sehingga dia tidak merasa takut di saat akan menghadap Allah kelak..”.

“ Wahai Umar, bukankah Allah telah menceritakan bagaimana penderitaan penduduk neraka, maka jika anda mengingatnya segera ucapkan dalam diri sendiri : “ Janganlah aku termasuk ke dalam golongan seperti itu “. Bukankah engkau juga Ya Umar telah menyaksikan bahwa Allah menceritakan tentang kebahagiaan penduduk surga..? Jika engkau mengingat hal tersebut maka ucapkanlah untuk dirimu sendiri : “ Semoga aku dapat bekerja dan beramal seperti apa yang telah mereka kerjakan “. Inilah amanat dan wasiatku untukmu. Jika anda mengingat amanatku ini, semoga anda lebih mencintai yang tidak nampak daripada yang nampak “.

Demikianlah wasiat dan amanat Abubakar asshiddiq kepada Umar bin Khattab yang akan menggantikan kedudukannya sebagai khalifah kaum muslimin.

Dari kisah diatas dapat kita lihat bagaimana para sahabat Rasulullah mencarikan orang yang akan menggantikan kedudukan dan jabatan mereka. Mereka merasa bahwa mencarikan pengganti dari mereka yang terbaik merupakan tanggungjawab yang akan ditanya nanti di hari kiamat. Oleh karena itu mereka tidak ingin mengangkat sembarang orang atau mengangkat berdasarkan asas nepotisme dan lain sebagainya. Tetapi mereka mencari pengganti yang benar-benar dapat diterima oleh masyarakat dan juga diridhai oleh Allah swt.

Dalam ayat di awal tulisan ini kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim menginginkan agar bumi ini diwariskan artinya diperintah dan dikelola oleh orang-orang yang shaleh. Mencari pemimpin diantara orang yang shaleh, pemimpin yang beriman dan bermoral , pemimpin yang dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat rupanya menjadi kewajiban ummat manusia, khususnya kaum muslimin jika mereka menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia; karena ini merupakan suatu sunnatullah ( hukum Alam ) yang tidak bisa ditawar-tawar dalam mencapai kebahagiaan di dunia. Jika sunnatullah ini dilanggar, dalam arti kita memilih seorang pemimpin yang memiliki kreteria shaleh, “shaleh lid ddunya” dalam arti mempunyai kapasitas, ilmu dan kecakapan; serta “shaleh lil akhirah” yaitu beriman dan bertaqwa, mempunyai akhlak yang mulia; maka tunggulah saat kehancuran. Rasulullah juga sudah memberikan perngatan agar umatnya jangan sampai salah mencari pemimpin sebagaimana dinyatakan dalam hadis “ jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya “ ( Riwayat Bukhari ).memilih pemimpin yang terbaik adalah Sunnatullah, tetapi sudahkan ummat Islam memperhatikan sunnatullah dan peringatan Rasul tersebut...? Fa’tabiruu Yaa Ulil Albaab, Wallahu A’lam.

Buletin

Share This