No. 1379 Doa Bersama

today October 30, 2019 account_circle Arifin Ismail

 

DOA BERSAMA

Dan do`a orang-orang bukan islam itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ghafir : 50).

Baru-baru ini umat Islam dikejutkan dengan berita tentang pembaaan doa oleh bukan muslim pada suatu acara resmi, dimana diantara peserta yang hadir mayoritas muslim. Hal ini dilakukan dengan sebuah anggapan bahwa semua agama memiliki hak yang sama dalam memimpin doa, akibat dari pemahaman pluralism agama, yaitu pemahaman yang menyatakan bahwa semua agama itu sama, sehingga atas nama toleransi beragama, maka semua pemeluk agama apapun berhak untuk memimpin doa bersama. Bagaimana hal ini boleh terjadi, padahal Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2005 telah mengeluarkan fatwa yang melarang umat Islam untuk ikut dan meng-amin-kan doa yang dibaca oleh orang bukan Islam . Majelis Ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan do’a Bersama adalah berdo’a yang dilakukan secara bersama-sama antara umat Islam dengan umat non-Islam dalam acara-acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan pada waktu dan tempat yang sama, baik dilakukan dalam bentuk satu atau beberapa orang berdo’a sedang yang lain mengamini maupun dalam bentuk setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing secara bersama-sama.

Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan keputusan Fatwa No. Nomor: 3/MUNAS VII/MUI/7/2005Tentang DO’A BERSAMA yang dikeluarkan pada tanggal 8 Juni 2005 dan tandangai oleh KH.Makruf Amien sebagai ketua komisi fatwa dan Hasanuddin sebagai sekretaris komisi memutukan bahawa :

1. Do’a bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-muslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, perbuatan itu termasuk sesuatu yang bid’ah.

2. Do’a Bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.

3. Do’a Bersama dalam bentuk “Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak” (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama) hukumnya HARAM.

4. Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin do’a” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.

5. Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin do’a” hukumnya MUBAH.

6. Do’a dalam bentuk “Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH.

Keputusan hukum tersebut diputuskan berdasarkan dalil-dari dari kitab suci Al quran dan Hadis Nabawi, seperti Firman Allah swt: “ Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).(QS.al-Naml : 62).

Bagi seorang muslim harus meyakini bahwa Tuhan yang dituju orang islam dalam berdoa itu berbeda dengan Tuhan yang dituju oleh orang bukan islam dalam membaca doa. Orang bukan Islam meyakini bahwa doa yang dibaca oleh bukan islam itu akan diterima oleh Tuhan mereka, dan pada waktu yang sama orang islam harus meyakini bahwa doa orang bukan islam itu tidak diterima oleh Tuhan orang islam, sebab doa yang dipanjatkan itu bukan ditujukan kepada Tuhan yang diyakini oleh orang Islam, sebab Tuhan orang Islam itu berbeda dengan Tuhan yang diyakini oleh orang bukan Islam. Itulah sebabnya dalam al quran dinyatakan bahwa doa orang bukan Islam itu adalah sia-sia. “ …Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ghafir : 50).

Jika seorang muslim ikut meng-amin-kan doa dari orang yang bukan Islam, berarti orang Islam itu sudah berdoa kepada Tuhan selain Allah, padahal sudah sangat jelas dinyatakan dalam al uran baha seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah, Tuhan yang diyakininya. “ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya) (QS.al-Furqan : 68).

Jika seorang muslim mengikuti dan meng-amin-kan doa yang dipimpin oleh seorang bukan Islam, berarti orang tersebut telah mencampur-adukkan ajaran agama, padahal hal tersebut sangat dilarang dalam agama Islam sebagaimana firman Allah : “ Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS.al-Baqarah : 42) Larangan mengikut ibadah orang bukan islam dinyatkan juga dalam surah al Kafirun : “ Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyem-bah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku-lah, agamaku”. (QS. al-Kafirun : 1-6).

Jika ada yang menyatakan bahwa dalam surah al Kafirun itu umat Islam dilarang untuk beribadah mengikut ibadah orang lain, sedang berdoa itu bukan ibadah. Dalam Islam, berdoa, membaa doa, meng-aminkan doa, itu semua termasuk ibadah, sebagaimana dinyatakan oleh Rasululah dalam sabdanya : “Do’a adalah otak (inti) dari ibadah.” (Hadis riwayat Tirmizi). Dalam hadis lain juga disebukan bahwa “ Sesungguhnya doa adalah salah satu ibadah. Kemudian Baginda membaca “ Tuhanmu berfirman :” Berdoalah kepadaku maka akan aku perkenankan.” Perbuatan ibadah dalam Islam harus sesuai dengan apa yang diontohkan oleh Rasulullah, sebab dalam kaedah ushul fiqh dinyatakan bahwa : “ Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqifdan ittiba'(mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi”. Oleh sebab itu Majelis Ulama Indonesia menatakan bahwa doa bersama seperti seorang bukan Islam memipim doa untuk orang Islam itu merupakan bid’ah, suatu perbutam yang tidak ada ontohnya dan tuntunannya dari rasulullah sallahu alaihi wasalam.

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram doa bersama tersebut berdasarkan pendapat ulama dalam kitab Fathul Wahhab,juz V, halaman 226; juga di dalam kitab Hasyiyatul Jamal ala syarhi Minhaj juz II, halaman 119; demikian hal yang sama tertulis dalam kitab Mughnil Muhtaj,juz I, halaman 323; dan kitab al-Majmu’, juzV, halaman 72 dan 66 yang menyatakan bahwa : “ Kaum zimmi dan orang bukan islam tidak boleh bercampur dengan kita ( umat Islam) , baik di dalam tempat salat kita maupun ketika keluar (dari kampung, tempat tinggal); dalam arti hal itu hukumnya makruh. Mereka berada di tempat terpisah dari kita, karena mereka adalah musuh Allah. Boleh jadi akan ada azab menimpa mereka disebabkan kekufuran mereka, dan azab tersebut dapat menimpa kita juga. Padahal Allah berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu…” (QS. al-Anfal : 25). Oleh karena itu umat islam tidak boleh pula mengamini do’a mereka –sebagaimana dikemukakan oleh Imam Rauyani– karena do’a orang bukan islam tidak akan diterima (dikabulkan).

Walaupun sebagian ulama ada juga yang berpendapat, bahwa do’a mereka ( orang bukan islam ) itu boleh saja dikabulkan sebagaimana telah dikabulkan do’a iblis yang minta agar ditangguhkan, tetapi dikabulkannya doa yang dipimpin oleh orang bukan islam itu tidak dapat dibolehkannya untuk meng-amin-ka doa yang dibaca oleh orang bukan islam. Larangan orang islam untuk mengikuti acara doa bersama juga telah diikuti oleh ulama Malaysa, sehingga pada tahun 2006 Malaysia mengeluarkan Fatwa Kebangsaan yang menyatakan bahwa berdasarkan Rapat Jawatan Kuasa Perundingan Hukum Syarak Wilayah Persekutuan yang ke-113 memutuskan bahwa orang Islam tidak boleh mengikuti acara doa bersama dengan agama lain,"

Menurut Kementrian Agama Malaysia ( Jakim ) , larangan berdoa bersama itu dibuat berdasarkan kepada prinsip “ sadd al-zara’I” iaitu menutup jalan-jalan kerusakan agama, dan keputusan ini dibuat juga untuk bagi mengekang faham pluralisme agama. Bagaimana jika seandainya orang bukan islam ikut bergabung dengan orang Islam dalam doa meminta hujan ( doa istisqa ). Para ulama’ berbeda pandangan dalam perkara ini. Menurut mazhab Hanafi, orang bukan Islam tidak dibolehkan menghadiri acara salat istisqa’ tetapi jika seandainya ikut gabung itu tidak dilarang. ( Kitab al-Mabsut, 2/77) Menurut mazhab Maliki, orang bukan Islam tidak dilarang untuk hadir, bahkan tidak dilarang sekiranya mereka berdoa meminta hujan dan bertawaf dengan memohon kepada salib dan kesyirikan mereka. Tetapi hendaklah mereka dipisahkan tempatnya daripada kelompok umat Islam dan dilarang daripada memperlihatkan salib dan kesyirikan tersebut di tempat terbuka seperti pasar-pasar orang Islam ( Mahawib al-Jalil, 2/206) Menurut mazhab Hanbali, makruh sekiranya orang Islam meminta orang yang bukan beragama Islam untuk bergabung dalam acara solat Ististqa’. Adapun sekiranya mereka hadir tanpa diminta, maka tidak dilarang dan kehadiran mereka tidak makruh di sisi orang Islam. Tetapi hendaklah tempat ada orang Islam dan orang bukan Islam itu dipisahkan ( Kasysyaf al-Qina’, 2/69) Bagi mazhab Syafie, orang bukan Islam tidak dilarang untuk hadir jika mereka ikut secara sendiri kerana mereka juga dikurniakan rezeki oleh Allah SWT daripada sifat Rahman-Nya, bahkan kurniaan Allah itu luas. Akan tetapi, hendaklah tidak bercampur dengan orang Islam sewaktu mereka keluar menuju ke tempat solat istisqa’ begitu juga ketika di tempat berkenaan kerana hukumnya makruh dan hendaklah diapisahkan tempatnya. ( al-Majmu’ Sharh al-Muhazzab, 5/66; Minhaj al-Talibin, 185; al-Umm, 1/284).

Demikianlah hukum doa bersama dalam Islam, doa bagaimana ang dibolehkan dan doa yang bagaimana dilarang oleh agama. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Buletin

Share This