No. 1378 Komunisme Dan Agama

today October 30, 2019 account_circle Arifin Ismail

 

 “ Dan mereka ingin untuk memadamkan cahaya ( agama ) Allah, tetapi Allah akan tetap menyempurnakan cahayaNya" ( QS. Saf : 8 )

 

Menurut catatan sejarah, ajaran dan paham sosialisme dan komunisme masuk ke Indonesia dibawa oleh Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet. seorang warganegara Belanda yang datang ke Indonesia pada tahun 1913 bersama Adolf Baars. Setelah itu, Hendricus Sneevliet mendirikan organisasi “Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) yang berasaskan sosialisme. Pada mulanya organisasi ISDV ini tidak mempropagandakan komunis, namun lambat laun mengubah diri menjadi berpandangan komunisme-ateisme. Diantara anggota organisasi ISDV ini terdapat Semaun dan Darsono yang juga teratat sebagai pengikut dari organisasi organisasi Syarikat Islam yang telah berdiri sejak 1905. Dengan keberadaan kedua pengkut ISDV tersebut di dalam Syarikat Islam, maka organisasi tersebut terbagi dua kelompok yaitu Syarikat Islam Merah yang terpengaruh dengan ideologi sosialisme-komunisme dan Syarikat Islam Putih yang masih tetap istiqamah dengan ajaran agama.

Setelah mendengar keberhasilan Revolusi Komunisme di Rusia, akhirnya kelompok Syarikat Islam Merah ini memisahkan diri dari organisasinya, dan mendirikan Partai Komunis pada tahun 1917 yang dipimpin oleh Semaun. Dalam catatan sejarah partai ini telah melakukan beberapa kali pemberontakan seperti pemberontakan di Madiun pada tahun 1948 dan tahun diuangi kembali pada tahun 1965, dan syukur alhamdulilah kedua pemberontakan itu gagal, sehingga partai tersebut menjadi partai terlarang. Ajaran Komunisme adalah ajaran yang bertentangan dengan agama sebagaimana dikatakan oleh peletak dasar ideologi komunisme Karl Mark dalam buku “ A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right" bahwa : "Penderitaan religius, pada saat yang bersamaan, adalah ekspresi dari penderitaan riil dan merupakan protes terhadap penderitaan riil tersebut. Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jantung-hati dari dunia yang tak berperasaan, dan jiwa dari situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi masyarakat. Penghapusan dari agama sebagai ilusi kebahagiaan dari diri manusia, dan itu adalah tuntutan atas kebahagiaan yang nyata “.

Atas Pernyataan itu maka, Muktamar Alim Ulama seluruh Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 8-11 September 1957 di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, dan dihadiri oleh 325 orang Ulama. mengambil keputusan dalam menyatakan bahwa ajaran Komunis adalah :

1. Ideologi atau ajaran Komunis dalam lapangan filsafat berisi atheisme, dan anti agama;

2. ldeologi atau ajaran Komunis dalam lapangan sosial menganjurkan pertentangan kelas dan perjuangan kelas;

3. Ideologi atau ajaran komunis dalam lapangan ekonomi adalah menghilangkan hak perseorangan;

4. Ideologi atau ajaran demikian itu bukan saja berlawanan dengan ajaran Islam pada khususnya dan agama-agama lain pada umumnya, akan tetapi merupakan tantangan dan serangan terhadap hidup keagamaan pada umumnya.

Oleh sebab itu,  Muktamar memutuskan bahwa :

1. Ideologi atau ajaran komunis adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya;

2. Bagi orang Islam yang menganut ideologi atau ajaran komunis dengan keyakinan dan kesadaran, maka kafirlah ia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tidak pusaka-mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan setara Islam;

3. Bagi orang Islam yang memasuki organisasi atau partai yang berideologi komunis seperti Partai Komunis Indonesia, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, Pemuda Rakyat, dan lain-lainnya, maka sesatlah ia, dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka agar meninggalkan partai dan organisasi tersebut;

4. Haram hukumnya bagi umat Islam untuk mengangkat atau memilih Kepala Negara atau Pemerintah yang berideologi komunis;

5. Memperingatkan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar bersikap waspada terhadap gerakan komunis dan atheisme di lndonesia;

6. Mendesak kepada Pemerintah Republik lndonesia (Soekarno) untuk mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa PKI dan mantel organisasinya sebagai partai dan organisasi terlarang di Indonesia.

Keputusan Fatwa ‘Alim Ulama tersebut mendapat penguatan politik dengan keluarnya Keputusan. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara / TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang: “Pembubaran PKI, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Negara Repuklik Indonesia bagi PKI dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan paham atau ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme”. Dapat dikatakan bahwa ajaran komunisme itu adalah ajaran anti agama, dan akan menghancurkan segala sesuatu yang berkaitan dengan agama, seperti masjid, alQuran, pondok pesantren dan lain sebagainya.

Sebagai gambaran bagaimana Partai Komunisme Indonesia menyerang pondok pesantren dapat terlihat dalam tulisan Ahmad Ghozali Fadli , yang menceritakan bagaimana komunisme ingin menghancurkan pondok modern gontor yang berada di kota Ponorogo. Dalam tulisan yang berjudul : “ Gontor – PKI – Hizbullah “ dikisahkan bahwa : “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati,” inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia di Madiun pada tahun 1948. Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Otomatis, Magetan, Ponorogo, Pacitan menjadi sasaran berikutnya. Kyai di Pondok Takeran Magetan sudah dihabisi oleh PKI. Sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup.

Kemudian PKI geser ke Ponorogo. Dengan sasaran Pondok Modern Darussalam Gontor. KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), pun berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok. “Wis Pak Sahal, penjenengan ae sing Budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni Kyai Gontor yo panjengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dkenali PKI aku iki. (Sudah Pak Sahal, Anda saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya Anda. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini,” kata Pak Zar. Pak Sahal pun menjawab: “Ora, dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Zar, njajal awak mendahno lek mati“. (Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Zar, mencoba badan, walau sampai mati”.

Akhirnya, diputuskanlah bahwa beliau berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH Rahmat Soekarto. Berangkatlah rombongan pondok Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, “Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sakyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”. Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pondok Gontor. Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Senjata ditembakkan. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang di dalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok Gontor sudah dijadikan markas tentara. Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu ke dalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka. Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Suruh menghadapi PKI sini…). Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri yang terbuat dari gedeg bambu dirusak. Buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sarana peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.

Akhirnya, PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk ke rumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini). Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, (putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari). Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu. Membiarkan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam keadaan porak poranda. Semoga sejarah ini menjadi pengingat dan pelajaran berharga untuk perjuangan mempertahankan Islam, Pesantren, Bangsa dan Negara. Semoga catatan diatas dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, Fatabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This