No. 1376 Hak Persaudaraan

today September 25, 2019 account_circle Arifin Ismail

 

“ Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara “ ( QS. Al Hujurat : 10)

 

Program pertama Rasulullah di Madinah setelah membangun masjid adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dari Makkah dengan kaum Anshar Madinah satu persatu, dan beliau berkata kepada para sahabat : “ bersaudaralah kalian berdua “. Beliau kemudian mempersaudarakan antara Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’az bin Jabal; Abubakar as-Shiddiq dengan Kharizah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utban bin malik, Abu Ubaidah dengan Saad bin Mu’az, Abdurrahman bin Auf dengan Saad bin Rabi’, Zubair bin Awwam dengan Abdullah bin Mas’ud, Usman bin Afan dengan Aus bin Tsabit, Thalhah bin Ubaidillah dengan Ka’ab bin malik, Mus’ab bin Umair dengan Khalid bin zaid, Abu Khuzaifah bin Utbah dengan Abbad bin Bisyr, Ammar bin Yasir dengan Hudzaifah Al yamani, Abu Dzar al ghiffari dengan Munzir bin Amru, Khatib bin Abi Balta’ah dengan Uwaim bin Saadah, Salman al Farisi dengan Abu Darda’ dan Bilal bin Rabah dengan Abu Ruwaihah. Setiap satu orang anshar bertanggung jawab terhadap satu oarng Muhajirin, dengan demikian tercipta ikatan persaudaraan yang begitu kuat antar setiap individu dari kaum muslimin.

Setiap orang dari kaum Anshar ingin berbagi rasa dengan saudaranya dari kaum Muhajirin sehingga segala sesuatu yang ada di rumahnya mereka bagi dua, dibuktikan dengan ucapan Saad kepada Abdurrahman bin Auf : ‘ Ya Abdurrahmann..aku ini memiliki harta kekayaan, maka seperdua dari harta kekayaan itu aku bagi kepadamu. Demikian juga, aku memiliki beberapa orang istri, maka jika engkau menyukai salah satu dari mereka, katakanlah, sehingga dapat kuceraikan yang kamu inginkan itu dan nikahilah dia ". Begitulah hebatnya rasa persaudaraan orang Anshar dengan kaum Muhajirin sehingga segala sesuatu yang ada, mereka berikan kepada kauj Muhajirin. Abdurrahman menjawab : ‘ Semoga Allah memberkati harta kekayaanmu dan keluargamu, aku tidak menginginkan itu semua, tetapi tunjukilah aku dimana tempat orang berniaga, sehingga aku dapat berdagang disana “.

Begitu hebatnya rasa persaudaraan yang tertanam dalam hati sanubari kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga mereka saling mewarisi harta yang ditinggalkan walaupun antar mereka tidak mempunyai hubungan darah dan kekeluargaan, sehingga turun ayat Al Quran ; “ Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain itu lebih berhak daripada orang mukmin dan kaum Muhajirin dalam harta warisan. Inilah yang ditentukan dalam Kitab Allah, kecuali jika ingin berbuat baik kepada saudaranya seaqidah “ ( Qs. Al Ahzab : 6 ).

Demikianlah Rasululah saw telah membentuk ikatan persaudaraan dan ukhuwah antara kaum Muharijirin dan Anshar yang menjadi landasan utama dalam pembinaan suatu masyarakat madani, sehinga beliau bersabda : “ Demi yang Menguasai nyawaku ini, Tidak sekali-kali kalian masuk ke dalam surga kecuali jika kalian telah beriman, dan kalian tidak termasuk yang beriman kecuali jika kalian telah saling mencintai dengan yang lain “(Hadis Riwayat Muslim ).

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan ada delapan hak –hak persaudaraan antara sesama muslim, yaitu :

(1) Hak membantu dengan harta atas apa yang diperlukan. Apabila seseorang itu memerlukan bantuan harta, dan orang muslim yang lain mengetahui bahwa orang itu sangat memerlukan sedangkan dia memiliki kelebihan harta, maka sebagai saudara sesama muslim orang yang memiliki harta tersebut harus segera menolong orang yang memerlukan tersebut. Oleh sebab itu kita lihat dalam kisah persaudaran antara muhajirin dan anshar diatas, orang anshar menawarkan harta kekayaannya kepada muhajirin, sebab orang anshar tersebut melihat bahwa muhajirin memerlukan bantuan harta.

Alkisah, seorang lelaki datang kepada Abu Hurairahdan berkata “ Saya ingin bersaudara dengan engkau pada jalan Allah “, maka Abu Hurairah bertanya kepadanya terlebih dahulu : “ Apakah engkau mengetahui hal persaudaraan ? Orang itu menjawab “ Aku tidak tahu, maka beritahukan kepadaku “, maka Abu Hurairah menjawab : “ Tidaklah engkau lebih berhak dengan dinar dan dirhammu daripadaku “.

(2) Hak menolong dengan jiwa, pikiran dan tenaga atas apa yang diperlukan dengan penuh kegembiraan. Sahabat Nabi bernama Atha berkata “ Habiskanlah waktumu untuk temanmu, jika temanmu itu mempunyai tiga perkara yaitu jika dia sakit, maka kunjungilah, jika dia memerlukan bantuan maka bantulah dia, dan apabila dia lupa maka peringatkan dia “.

(3) Hak persaudaraan pada lidah, yaitu diam ( tidak menyebar luaskan ) kekurangan yang ada pada dirinya dan berbicara kepadanya dengan perkataan yang baik. Seseorang muslim hendaklah berdiam ( tidak menyebar luaskan )atas perkara yang tidak menyenangkan dari saudaranya yang lain, tetapi sebagai saudara apabila dia melihat saudaranya melakukan sesuatu yang melanggar syariat, maka saudaranya harus berbicara dan memberinya nasehat untuk mencegahnya dari perbuatan tersebut.

Rasulullah bersabda : “ Barangsiapa yang tidak menyebarkan aib kawannya, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak “ ( riwayat Ibnu Majah ). “Janganlah kamu mencari-cari aib dan kesalahan saudaramu, janganlah kamu memutuskan hubungan dengan saudaramu, dan janganlah kamu belakang-membelakangi dengan saudaramu, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara “. ( riwayat Bukhari dan Muslim).

Hak lisan dalam bersaudara juga adalah meninggalkan pertengkaran jika terjadi perbedaan dan perselisihan tetapi selesaikan dengan bermusyawarah dan berlapang dada.  “ Barangsiapa ang meninggalkan pertengkaran dan dia berada di pihak yang salah, maka dia akan mendapat rumah di tengah-tengah surge, dan barangsiapa yang meninggalkan pertengkaran sedangkan dia berada di pihak yang benar, maka dia akan mendapat rumah di tempat yang tertinggi daripada surga “.

(4) Hak keempat dalam persaudaraan adalah senang dan mengucapkan ucapan selamat atas sesuatu kesenangan yang didapat oleh saudara yang lain, dan tidak bersikap hasad dan dengki dengan sesuatu yang didapatnya. Rasulullah bersabda : “ Apabila kamu mencintai saudaranya, maka hendaklah dia memberitahukan hal tersebut kepadanya “ ( riwayat Abu Daud dan Tirmidzi ). Maksud hadis ini jika seseorang kawan mendapat kebahagian dan kesenangan, maka kewajiban seorang kawan yang lain juga ikut bergembira dan mengucapkan ucapan selamat, dan lain sebagainya. Malahan dalam sebuah hadis dinyatakan “ Saling memberi hadiah antara kamu jika kamu saling mencintai saudaramu yang lain “( riwayat Baihaqi ).

(5) Hak persaudaraan yang kelima adalah memaafkan atas kesalahan seorang kawan atau saudara sesama muslim yang lain. Ibrahim an Nakhai menyatakan : “ Janganlah engkau putuskan hubungan dengan saudaramu dan jangan engkau memboikotnya sewaktu dia berbuat dosa, karena pada hari ini ia mengerjakan suatu dosa dan kesalahan, dan pada hari esok dia akan meninggalkan kesalahan dan dosa tersebut “. Sahabat Nabi, Abu darda berkata “ Apabila terjadi perobahan pada perbuatan kawanmu, maka janganlah engkau tinggalkan dia sebab hari ini dia melakukan perbuatan yang tidak baik, dan besok dia akan melakukan perbuatan yang baik.

(6) Hak persaudaraan yang keenam adalah berdoa untuk kebaikan kawan dan saudaramu sebagaimana seseorang berdoa untuk kebaikan dirinya sendiri. Rasulullah bersabda : “ Jika seseorang berdoa untuk kawan atau saudaranya dan saudaranya itu tidak berada di hadapannya, maka malaikat berkata : “ Bagimu ( orang yang membaca doa ) akan mendapat seperti apa yang engkau doakan kepadanya “. ( riwayat Muslim ). Malahan doa kepada orang lain akan lebih dikabulkan daripada doa kita untuk diri sendiri, sehingga dengan mendoakan orang lain, sebenarnya kita juga mendoakan kepada diri kita sendiri. Rasulullah bersabda ; “ Doa untuk orang lain yang tidak ada di hadapanmu itu adalah doa yang tidak tertolak “. ( Daruqutni ).

(7) Hak persaudaran yang ketujuh adalah kesetiaan dan keikhlasan dalam berkawan dan bersaudara. Rasululah bersabda bahwa diantara orang yang akan mendapat perlindungan di hari kiamat kelak adalah “..orang yang saling bersaudara dan saling mengasihi karena Allah, berjumpa karena Allah dan berpisah juga karena Allah “. Kesetiaan bersaudara dan berteman itu bukan hanya selama saudara dan kawan itu hidup, tetapi juga setelah kematian dengan meneruskan persaudaraan dengan anak dan keluarga dari kawan atau saudara yang telah meninggal.

Pada suatu hari Rasulullah memuliakan seorang wanita tua, lalu sahabat bertanya tentang wanita tersebut, maka Rasulullah menjawab : “ Sesungguhnya wanita itu telah berkunjung kepadaku sewaktu istriku Khadijah masih hidup, dan sesunguhnya memuliakan itu setengah daripada agama “.

(8) Hak persaudaraan yang kedelapan adalah melakukan persaudaraan bukan dibuat-buat, dan dengan sesuatu cara yang tidak memberatkan sudaranya yang lain. Rasulullah bersabda : “ Orang yang bertaqwa itu adalah orang yang lepas dari perbuatan yang memberatkan orang lain “ ( riwayat Daruqutni ). Oleh sebab itu orang Arab dalam menyambut saudaranya yang datang, berkata “ Ahlan wa sahlan “, yang artinya engkau saudaraku, sekarang telah menjadi keluargaku, dan aku menerimamu dengan kemudahan tanpa beban “.

Demikianlah hak-hak persaudaraan dalam Islam, sehingga hubungan dan sikap persaudaraan sesama teman itu adalah cermin dalam menjalankan agama sebagaimana Rasulullah bersabda : “ Manusia itu atas agama temannya sendiri “. Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This