No. 1375 Pasar Madinah Dan Gerakan Buy Muslim First

today September 25, 2019 account_circle Arifin Ismail

 

PASAR MADINAH DAN GERAKAN “BUY MUSLIM FIRST

“Dan Allah meghalalkan berjual beli dan mengharamkan riba “ ( Al Baqarah : 275 )

Sebelum hijrah dan kedatangan Rasul, kota Madinah memiliki empat buah pasar, sebagai tempat orang berniaga. Pertama pasar Zabalah dan kedua pasar Al Yasar kepunyaan kelompok Yahudi Bani Qainuqa. Pasar ketiga bernama Pasar Safasir, dan keempat bernama Zaqaq. Dari semua pasar tersebut Pasar Qainuqa yang dimiliki orang yahudi merupakan pasar yang paling maju dan lengkap, sebab segala keperluan hidup masyarakat terdapat disana sampai kepada tukang besi, tukang emas, penukaran uang dan lain sebagainya. Oleh sebab itu kegiatan pasar dan kegiatan ekonomi masyarakat Madinah sangat tergantung dengan ekonomi yang dikuasai oleh kelompok masarakat Yahudi yang ada di kota Madinah. Orang Islam sudah menjadi pelaku ekonomi, dimana sebagian umat ada yang bertani, dan sebagian lain ada yang menjadi pedagang, tetapi pasar masih dikuasai oleh pengusaha yahudi. Nabi Muhamad melihat bahwa kaum muslimin Madinah harus dapat melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi dari kelompok yang lain.

Umat islam perlu memiliki pasar perniagaan sendiri. Menurut riwayat Ibnu Zabalah dari Abas bin Sahal dari ayahnya disebutkan bahwa Nabi Muhammad mendatangi orang Bani Saidah ( kaum Saad bin Ubadah ) dan meminta mereka untuk menyerahkan sebidang tanah kosong untuk dijadikan pasar, padahal tanah tersebut pada awalnya dipersiapkan untuk menjadi lahan perkuburan. Permintaan Nabi tersebut mereka kabulkan, dan akhirnya nabi jadikan lahan sebagai tempat perniagaan bagi umat Islam yang disebut dengan nama “Saniyatul Wada’I”. Nabi Muhammad berdiri di lahan tersebut dan berkata sambil memukulkan tongkatnya ke atas tanah : “ Inilah pasar kamu. Semoga pasar ini tidak sempit dan tidak boleh dipungut hasil ( tidak ada uang sewa atau retribusi berniaga ) daripadanya “.

Sebagaimana diketahui, selama ini orang yang berniaga di Pasar Yahudi akan membayar sewa, maka sekarang, jika berniaga di pasar kaum muslimin, peniaga bebas dari sewa sebab tanah pasar tersebut adalah pasar wakaf, pasar umat. Akibatnya dalam waktu singkat, perniaga yang pada mulanya berjualan di Pasar Yahudi segera pindah ke pasar umat Islam. Jika di pasar yahudi harga barang sangat tinggi karena peniaga harus membayar sewa, maka di pasar umat Islam, peniaga tidak bayar sewa, sehingga harga barang di pasar wakaf umat lebih murah dari pasar yahudi. Akhirnya, penduduk Madinah lebih banyak berbelanja di pasar wakaf umat Islam daripada pasar yahudi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, akhirnya pasar yahudi tutup, tiada peniaga yang mau berniaga di pasar tersebut, peniaga lebih memilih pasar yang tidak ada sewa tempat. Dengan demikian, kegiatan ekonomi pasar dikuasai oleh umat Islam. Disebabkan pasar tersebut merupakan pasar wakaf, dan sebagai pemimpin masyarakat Madinah, Nabi selalu ikut mengawasi jalannya perniagaan yang ada di pasar tersebut.

Menurut Ibnu Abi Zuaib pernah pada suatu hari Nabi Muhammad saw melintasi pasar tersebut dan mendapatkan sebuah kemah , maka nabi segera bertanya : Kemah ini tempat perniagaan siapa..? Orang yang mendengar menjawab : “ Ini adalah kemah milik seorang lelaki dari Bani Harisah menjual kurma “. Mendengar hal tersebut maka Nabi berkata : “ Bakar kemah tersebut “. Maka kemah tersebut dibakar oleh Muhamad bin Maslamah, salah seorang panglima Rasulullah. Nabi menyuruh membakar kemah tersebut sebab kemah tersebut didirikan di pasar kaum muslimin, sedangkan menurut peraturan di dalam pasar tersebut tidak boleh ada tempat yang dimiliki oleh seseorang, atau di monopoli oleh seseorang sebagaimana sabda beliau sewaktu membuka pasar : “ Janganlah kamu sekat menyekat di tempat ini “. Jadi pasar umat Islam merupakan pasar bebas, bukan pasar monopoli seseorang atau satu kelompok.

Rasul juga melakukan inspeksi pemeriksaaan pasar. Dalam riwayat dari Abdurrahman bin Yakub menceritakan bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad saw datang ke pasar wakaf madinah tersebut, dan melihat ada orang yang berjualan tepung gandum. Nabi memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tepung gandum tersebut, dan nabi merasa ada gandum yang basah di bagian bawah, sedangkan diatasnya gandum kering. Nabi bertanya kepada si penjual : “ Mengapa di bawah ada gandum yang basah ? Penjual menjawab : “ Gandum itu basah sebab terkena hujan“. Mendengar jawaban tersebut, nabi berkata : “ Kenapa engkau tidak letakkan gandum yang basah itu di atas, sehingga dapat dilihat orang. Siapa yang menipu maka dia itu bukan dari golongan umatku. “. Nabi marah sebab peniaga mencampur gandum kering dengan gandum basah, dan dijual dengan harga yang sama, maka hal tersebut sudah dianggap penipuan. Ibnu Mughirah menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah berjalan melalui seorang penjual makanan di pasar itu dengan harga lebih tinggi dari yang lain. Rasul bertanya : “ Apakah kamu menjual makanan di pasar ini dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang telah kami tetapkan di pasar ini..? Orang itu menjawab : “ Benar Ya Rasulullah”. Rasul bertanya lagi : “ Apakah engkau lakukan itu karena mengharapkan keredhaan Allah ? “. Orang itu menjawab : “ Benar ya Rasululah “. Nabi bersabda : “ Ketahuilah olehmu bahwa orang yang menjual barang ke pasar ini sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Tetapi orang yang menyimpan barang untuk menjuanya dengan harga yang tinggi, sama seperti orang yang ingkar kepada Allah “.

Pengawasan pasar sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah juga dilanjutkan oleh khalifah beliau, seperti Umar bin Khattab. Riwayat menyatakan suatu hari Umar bin Khattab melihat ada seorang tukang pandai besi membuat tempat di tepi pasar nabi tersebut, maka Umar segera menyuruh untuk meruntuhkan tapak pandai besi tersebut dan berkata : “ Jangan dikurangi pasar yang telah dibuat oleh Rasulullah “. Artinya Umar bin Khattab tidak mengizinkan seorangpun mendirikan bangunan yang tetap di tempat tersebut, jika ada penjual yang ingin membuat tempat jualan yang tetap, maka hal itu dapat dilakuannya di luar kawasan pasar. Dari riwayat diatas dapat dilihat bahwa Rasululah sangat memperhatikan bagaimana agar umat islam mempunyai pasar sendiri, sehinga tidak tergantung dengan pasar yahudi, dan sejarah menyatakan bahwa tak sampai beberapa lama maka pasar yahudi di bani Qainuqa mengalami kehancuran, sebab akhirnya pasar yang ramai di madinah adalah pasar Rasulullah, sedangkan pasar yahudi yang awalnya ramai tetapi lama kelamaan menjadi kosong. Mengapa demikian, bukan karena sentimen agama , tetapi lebih utama di pasar Rasulullah, perniaga harus berakhlak dengan akhlak mulia, sehingga penjual tidak merasa tertipu atau terdzalimi. Di pasar yahudi pembeli tidak ada jaminan keselamatan dari penipuan dan lain sebagainya. Di pasar Rasulullah, harga terkontrol dengan baik, sedangkan di pasar Yahudi harga tidak terkontrol. Akibatnya maka pengunjung pasar Rasululah bertambah ramai, bukan hanya dari kalangan umat Islam tetapi juga dari kalangan yang lain. Dsamping itu Rasulullah juga selalu mendidik umat islam untuk berniaga dengan penuh kejujuran sehingga beliau mengatakan bahwa peniaga yang jujur adalah sama dengan orang yang berjihad, sedangkan peniaga yang tidak jujur adalah sebuah pengingkaran kepada perintah Allah. Dari kisah pasar wakaf diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa umat Islam harus dapat menguasai pusat ekonomi mereka sendiri, dan tidak tergantung dengan umat yang lain. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah “ Tidaklah orang yang memakan makananmu itu kecuali orang yang bertaqwa “ ( hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi ).

Baru-baru ini, masyarakat muslim di negeri jiran berisiniatif melakukan gerakan “ Buy Muslim First “, dimana umat Islam mendahulukan membeli barang yang dikeluarkan oleh pengusaha muslim daripada produk yang lain. Sebagai contoh, jika seorang musim membuka warung soto, maka di pemilik warung akan memakai kecap buatan muslim lebih utama daripada kecap buatan lain, demikian selanjutnya. Akibatnya barang yang diproduk oleh bukan muslim tersebut tidak laku di pasaran walaupun dijual dengan harga yang murah dengan potongan harga sampai 50 persen. Malahan masyarakat sadar ternyata selama ini harga tersebut dimonopoli oleh pengusaha dengan sesuka hati mereka. Gerakan “Buy Muslim First “ ini juga menjadikan umat Islam menjadi penentu ekonomi dan membangun ekonomi umat, sebab jika selama ini banyak barang yang dibuat oleh pengusaha muslim tidak dapat masuk ke pasar raya, sebab pasar raya di miliki oleh pengusaha non-muslim, dan mereka hanya menjual barang dari pengusaha besar non muslim. Sikap “Buy Muslim First “ ini merupakan hak setiap pembeli, sebagaimana juga hal ini dilakukan oleh orang bukan muslim. Sebagai contoh, orang yahudi di Amerika akan memilih untuk mengenderai taksi yang dimiliki oleh pengusaha yahudi daripada taksi yang lain, sehngga dengan sikap ini, pengusaha yahudi dapat menguasai ekonomi dunia.

Sudah selayaknya masyarakat muslim memilih untuk membeli barang produk muslim sehingga masyarakat muslim menjadi masyarakat mandiri, dan ekonomi umat menjadi lebih kuat. “Buy Muslim First”. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Buletin

Share This