No. 1372 Peranan Ulama Dalam Perjuangan Bangsa

today September 10, 2019 account_circle Arifin Ismail

PERANAN ULAMA DALAM PERJUANGAN BANGSA

“ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati,sebenarnya mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya “ ( QS. Al Baqarah : 154 )

Menurut ahli sejarah, pada abad keenam belas, sebagian besar kerajaan-kerajaan di Indonesia telah dikuasai oleh Islam , maka kedatangan penjajah Portugis segera mendapat perlawanan dari umat Islam. Setelah Portugis berhasil menundukkan Melaka, maka mereka berusaha menundukkan kerajaan Demak. Usaha ini gagal tetapi dengan bantuan kerajaan hindu pajajaran, Portugis berhasil mendirikan pangkalannya di Sunda Kelapa pada Agustus 1522.   Hal ini segera mendapat perhatian khusus dari Sunan Gunung Jati atau Fatahillah  yang segera dia memimpin perlawanan bersenjata melawan Portugis selama lima tahun dan akhirnya pada 22 Juni 1527 Fatahillah dapat mengusir Portugis dari Sunda Kelapa dan segera menggantikan nama kota tersebut dengan Jaya Karta,yang akhirnya sekarang berubah menjadi Jakarta.

Semenjak pertengahan abad ke tujuh belas bangsa Belanda berusaha untuk mengukuhkan kekuatannya di bumi Indonesia dengan melumpuhkan kekuatan kerajaan dan kesultanan Islam. Dalam setiap perjanjian yang mengakhiri peperangan antara kesultanan Islam dan penjajah, imperalis Belanda memberikan syarat “ Dilarangnya kesultanan Islam tersebut mengadakan kegiatan lautnya “. Para sultan yang menandatangani perjanjian dengan Belanda, selain ditegaskan tentang status simbol kesultanannya, juga diwajibkan menanggalkan syariat Islam dan menghidupkan kembali hukum adat yang lebih berorientasi pada agama tradisi. Kelemahan pertahanan maritim dan politik dari kesultanan Islam di bumi nusantara akhirnya memberikan dorongan untuk membentuk kekuatan lain.

Dalam Islam, terdapat suatu tradisi dimana masyarakat akan mengangkat orang yang berilmu sebagai pemimpin. Oleh karena itu masyarakat segera memilih ulama sebagai pemimpin dalam perjuangan melawan imperalise-penjajah. Pemilihan masyarakat terhadap ulama bukanlah berdasarkan voting suara atau angket sebagaimana yang dilakukan sekarang tetapi berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam dimana ulama adalah pemimpin dan pemimpin adalah ulama.  Sangat disayangkan peranan ulama dalam perjuangan bangsa banyak diabaikan dalam penulisan sejarah , apalagi dalam literatur sejarah yang diajarkan dalam bangku sekolah; sehingga terkesan seakan-akan perjuangan Indonesia terlepas dari ulama dan ummat Islam. Padahal kalau kita kaji sejarah, hampir seluruh pejuang kemerdekaan adalah ulama.

Merekalah yang memimpin dan menggerakkan masyarakat untuk berjuang melawan Belanda. Dalam sejarah, kita mengenal Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cik Di Tiro,Kdan lain sebagainya, sebenarna mereka itu adalah para ulama, tetapi karena adanya disrtorsi sejarah ( pemutar balikan fakta sejarah )  maka mereka tidak pernah disebut sebagai ulama, malahan ada sebagian dari mereka ditulis dalam sejarah sebagai non-muslim, seperti Kaputan Pattimura, pahlawan dari Sulawesi yang beragama Islam. Thomas Stamford Raffless menuliskan betapa besarnya peranan ulama dalam perjuangan melawan penjajah “ Dan mereka ( ulama ) menjadi aparat yang sangat berbahaya di tangan penguasa pribumi dalam melawan kepentingan Belanda…Kita menjumpai bahwa pendirian ulama-ulama selalu tidak berubah dan mereka selalu dijumpai dalam setiap pembrontakan ( melawan penjajah ) “.

 

Kondirsi yang demikian mengubah fungsi dan peranan pesantren yang tadinya merupakan lembaga pendidikan menjadi pusat perjuangan melawan penjajah. Oleh karena itu setiap perjuangan melawan penjajah Belanda tidak dapat dipisahkan dari ulama , santri dan pesantren. Oleh karena itu seorang ahli sejarah Clifford Geert menyatakan bahwa dalam abad ke sembilan belas saja, Belanda menghadapi empat kali pemberontakan Santri yang besar. Peperangan ini dalam sejarah dikenal dengan perang Sabil. Pertama adalah perang Cirebon yang dalam sejarah dikenal dengan perlawanan rakyat Banten melawan Belanda ( 1802-1806 ). Kedua, perang Diponegoro di Jawa Tengah ( 1825- 1830 ) . Ketiga perang Padri di Sumatera barat ( 1821 – 1838 ). Keempat adalah perang Aceh ( 1873 – 1908 ) sebagai pemberontakan santri yang terpanjang, dan Belanda tetap mendapat perlawanan dari para ulama sampai tahun 1942. Dari data di atas terlihat bahwa peranan ulama sangat dominan dalam membela kemerdekaan negara sejak kedatangan Portugis sampai detik-detik kemerdekaan.

Oleh karena itu menurut George Mc Turnan Kahin dalam bukunya “ Nationalism and Revolution in Indonesia” menyatakan bahwa ada tiga faktor penting dalam termujudnya integritas nasional di Indonesia. Pertama, agama Islam merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia. Kedua, agama islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk shalat  berjamaah, tetapi juga menanamkan gerakan anti penjajah. Ketiga, karena ummat islam telah menjadikan bahasa melayu sebagai bahasa  penyatu untuk membangkitkan aspirasi perjuangan nasional.  Sayangnya peranan Islam yang begitu hebat tidak mendapat tempat di buku-buku sejarah; dan digantikan oleh gerakan nasionalise-sekular.

Dalam buku sejarah Kebangkitan nasional bermula dari berdirinya gerakan Budi Utomo pada tahun 1908; padahal fakta sejarah menyatakan bahwa gerakan nasional pertama bukanlah Budi Utomo tetapi pergerakan Sarekat Islam yang mempelopori semangat nasional melalui Kongres Nasional Central Sarekat Islam di Bandung pada tahun 1916. Istilah nasional telah digunakan oleh ummat islam sebelum dipergunakan oleh gerakan yang lain.  Dalam dunia pendidikan buku sejarah mencatat peranan Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa ; padahal K.H. Ahmad dahlan dengan organisasi Muhammadiyah telah mempelopori pembaharuan sistem pendidikan sejak nopember 1912. Berarti pendidikan Muhammadiyah lebih awal dari pendidikan taman Siswa yang didirikan pada 1922.

Dalam emansipasi wanita Islam seperti usaha dan karie politik ratu-ratu kerajaan Aceh yang memerintah hampir setengah abad, perjuangan Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, kepakaran Laksamana Malahayati dalam militer, dan perjuangan ibu Rahmah el Yunusiah dalam pendidikan wanita kelihatannya kalah dibandingkan dengan perjuangan Kartini yang hanya terbukti dari surat menyurat sahaja. Dalam bidang ekonomi, peranan Sarekat Dagang Islam yang menghimpun potensi ekonomi ummat dan masyarakat melawan jaringan ekonomi Belanda yang memberikan kemudahan pada pedagang cina juga kurang mendapat tempat dalam buku-buku sejarah.

Penjajah Belanda dengan segala cara berusaha mematahkan perlawanan bangsa Indonesia yang dipimpin oleh ulama dan semangat ajaran islam. Untuk itu Belanda melancarkan beberapa stategi untuk melemahkan potensi ulama dan menyelewengkan pemahaman islam yang sebenarnya. Diantara stategi Belanda adalah : Pertama, penjajah belanda berusaha memisahkan antara Islam sebagai agama dan islam sebagai doktrin politik. Menurut mereka makin jauh antara kedua hal tersebut berarti akan mempercepat proses kehancuran Islam.

Kedua, penjajah Belanda menghidupkan golongan pemangku adat, karena mereka ini akan menentang Islam. Penentangan ini disebabkan lembaga Adat dibentuk berdasarkan tradisi lokal sedangkan Islam bersifat universal.  Ketiga, penjajah Belanda mendidik para priyai, birokrat dan pamong praja dengan didikan barat; dengan demikian, menurut Belanda mereka dapat memisahkan anak-anak muslim dari ikatan agama mereka. Keempat, penjajah Belanda meruntuhkan dan membumi hanguskan segala peninggalan kesultanan Islam dan khazanah intelektual karya ulama Islam. Hal ini dimaksudkan agar generasi muslim Indonesia mendatang tidak dapat lagi mengenal kejayaan kerajaan Islam di bumi Nusantara. Oleh karena itu tidak usah heran jika gemnerasi muslim hari ini tidak mengenal sejarah kerajaan Islam Tidore, kerajan islam Aceh , kerajaan islam Demak kecuali sedikit. Keenam, belanda menghidupkan kembali peninggalan kerajaan hindu dengan merenovasi candi-candi budha dan hindu; sehingga bangsa Indonesia lebih mengenal budaya budha dan hindu daripada budaya Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia.

Untuk mematahkan pemberontakan santri di Aceh, maka pemerintah Belanda melancarkan strategi tambahan, yaitu menjalankan operasi militer ke daerah pedalaman dan melakukan tindakan kriminalisasi dan  kekerasan terhadap ulama yang ada di kampung-kampung. Tetapi terhadap orang awam diyakinkan seakan-akan belanda melindungi agama islam dengan mendirikan masjid dan surau; sedangkan pelaksanaan operasional masjd dan surau dipegang oleh pengurus masjid yang ditunjuk oleh Belanda bukan oleh para ulama. Penjajah Belanda merasa yakin dengan strategi tersebut dapat mematahkan perjuangan bangsa. Tetapi ternyata itu semua tidak dapat melemahkan semangat jihad para ulama, para santri dan ummat Islam untuk meraih kemerdekaan.

Dengan semangat juang dan jihad tersebut, akhirnya  pada Hari Jumat, tanggal 17 Agustus tahun 1945  Allah memberikan rahmat kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, setelah dijajah oleh bangsa Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun. Itulah sebabnya dalam Pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia ini dapat terjadi : “ Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya “.

Malah setelah merdeka, terlihat peranan ulama dan umat Islam dikucilkan, dan banyak stategi dan kebijaksanaan uang dibuat  seakan-akan melanjutkan  strategi penjajah Belanda terhadap Islam seperti memisahkan ulama dengan politik, malahan persekusi dan melakukan kriminalisasi terhadao ulama, dan menghilangkan peranan ulama, santri, dan ummat Islam dari penulisan sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa ulama  adalah syuhada kemerdekaan, dapatkah kita melanjutkan perjuangan mereka dalam  mempertahankan Islam   di  bumi nusantara..? Mari kita bersyukur atas rahmat kemerdekaan bangsa ini  dengan mengisi kemerdekaan bangsa ini yang telah diperjuangkan oleh para ulama dengan sikap dan perbuatan yang diridhai Allah, sehingga rahmat kemerdekaan tersebut mendapatkan berkat dan ridha daripadaNya sehingga bangsa ini menjadi “Baldatun tayyibatun wa rabbun ghafir”, negeri  makmur dan penuh ridha Allah. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Buletin

Share This