No. 1368 Haji Dan Khutbah Arafah Rasulullah SAW

today August 9, 2019 account_circle Arifin Ismail

 

 HAJI DAN KHUTBAH ARAFAH RASULULLAH

"Dan Alla“h telah mewajibkan manusia untuk melaksanakan ibadah haji dengan mengunjungi Baitullah “ ( QS.Ali Imran : 97).

 

Pada hari Kamis, setelah shalat dzuhur, tanggal 25 DzulQa’dah tahun 10 Hijrah, Rasulullah berangkat dari Madinah untuk melaksanakan ibadah haji bersama dengan keluarga dan 120 ribu sahabat. Setelah sampai di Dzulhulaifah (  Bir Ali ), Nabi dan selururuh sahabat berhenti dan bermalam di tempat tersebut.  Pada esok harinya, Nabi mandi dan memakai pakaian Ihram kemudian melakukan shalat sunat Ihram, melafazkan niat “Sengaja aku berniat haji dan berihram dengannya”,kemudian beliau melantunkan talbiyah bersama ratusan ribu sahabat  “ labbaikallahumma labaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wannikmata laka wal mulka laa syarika laka “.

Lafadz Talbiyah dibaca bersama-sama secara terus menerus oleh ratusan ribu sahabat dengan suara yang keras sepanjang perjalanan dari Bir Ali menelusuri lembah dan gurun, siang dan malam, dengan berjalan kaki yang diiringi oleh hewan kambing dan unta sehingga sampailah Nabi dan seluruh jamaah sahabat tersebut di Makkah pada tanggal 4 Dzulhijjah tahun 10 Hijrah. Nabi segera menuju Masjidil Haram, masuk dari pintu Babussalam, melakukan thawaf mengelilingi ka’bah, mencium hajarul aswad, meminum air zamzam, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan sa’I dari bukit safa berlari kecil dan berjalan menuju ke bukit marwa dilakukan sebanyak tujuh kali putaran.

Setelah Itu nabi tidak melakukan tahallul, sebab beliau melakukan haji qiran, tetapi beliau menyuruh sebagian sahabat yang tidak memiliki hewan kurban untuk melakukan tahallul, dan melaksanakan ibadah haji secara tamattuk..Nabi berada di Makkah menunggu waktu haji, sehingga pada tanggal 8 Dzulhijjah nabi berangkat menuju Mina. Pada malam itu Nabi dan sahabat menginap di Mina, dan keesokan harinya pada tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi dan sahabat berangkat ke Arafah. Sampai di Namirah nabi mendirikan khemah, dan setelah waktu dhuhur  nabi menaiki unta menuju lembah Uranah salah satu kawasan di arena padang Arafah, dan di tempat tersebut Nabi berhenti memberikan khutbah yang dikenal dengan khutbah Wada’ yang bermakna Khutbah Perpisahan. Setelah memuji Allah, Rasulullah berkhutbah :

“Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini.

“Wahai manusia,  Sesungguhnya darah kamu dan harta kekayaan kamu itu merupakan kemuliaan bagi kamu ( tidak boleh dirusak oleh orang lain ), sebagaimana kemuliaan hari ini (hari arafah ) di bulan yang mulia ini ( bulan Dzulhijjah ) , di negeri yang mulia ini ( negeri Makkah ).

“Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi dan adat kebiasaan jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan pada masa jahiliyah seperti pembunuhan yang terjadi disebabkan oleh balas dendam, dan lain-lain ) semua perkara itu mulai hari ini  dibatalkan dan tidak boleh berlaku lagi.Hari ini aku menyatakan pembatalan pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu.

“ Transaksi dengan sistem riba yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi sejak dari hari ini. Oleh sebab itu, aku nyatakan bahwa  transaksi riba yang dilakukan oleh Abbas bin Abdul Muthalib sejak hari ini,  tidak berlaku lagi. Sesungguhnya seluruh transaksi dengan sistem riba mula hari ini  semuanya batal dan tidak berlaku lagi “.

“Wahai manusia, Sesungguhnya syetan itu telah berputus asa dari usaha  menggoda manusia di negeri ini untuk melakukan penyembahan kepadanya, walau demikian syetan itu akan terus berusaha ( untuk menganggu kamu ) dengan cara yang lain.Diantaranya, syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela, dan menghina yang lain. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan melakukan perbuatan yang baik dan tidak menghina  yang lain.

“Wahai manusia, Sesungguhnya sikap merobah-robah bulan suci itu akan menambah kekafiran. (Maksudnya : masyarakat jahiliyah ada ketentuan untuk tidak berparang pada bulan-bulan tertentu. Tetapi biasanya mereka suka melanggar ketentuan tersebut dan mengatakan bahwa sebenarnya yang tidak boleh berperang itu pada bulan ini, tetapi bulan yang lan. Inilah maksud merobah- robah bulan yang suci ). Dengan cara itu ( merobah-robah hukum ) maka orang-orang kafir menjadi sesat. Pada tahun yang satu mereka langgar kesucian bulan-bulan tertentu sedang pada tahun yang lain mereka sucikan bulan tersebut ( dengan tidak boleh berperang ) untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Dengan sikap seperti ini, nanti kamu akan menghalalkan hukum yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan hukum yang telah dihalalkanNya “.

“ Sesungguhnya zaman akan terus berputar, seperti keadaan berputarnya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Dan empat bulan diantaranya adalah bulan-bulan suci yaitu tiga bulan berturut-turut : Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban ( Pada bulan-bulan ini orang Makkah tidak boleh melakukan peperangan ).

“ Wahai Manusia, Takutlah  Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka ( menjadi isteri ) dengan amanah Allah dan kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah “.

“Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isteri kamu dan isteri kamu mempunyai kewajiban terhadap diri kamu. Kewajiban mereka terhadap kamu adalah mereka tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kamu suka ke dalam rumah kamu. Jika mereka melakukan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka. Maka perhatikanlah perkataanku ini, wahai manusia ..sesungguhnya aku telah menyampaikannya “.

“Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah dan sunnah nabiNya.”

“Wahai manusia, dengarkanlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin kamu , walaupun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran dari kitabullah  kepada kalian semua.”

“Perlakukan hamba sahaya denga sikap dan tindakan yang baik. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak dapat kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka “.

“ Wahai manuisia. dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah. Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorangitu  tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya yang lain kecuali jika benda itu diberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.  Ya Allah..sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka..?

“Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain “.

“Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah pada hari ini menyampaikan isi dan kandungan khutbah ini kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang mendengar khutbah ini lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini.

“Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan ? Semua yang hadir menjawab : “ Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat “. Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad kemudian bersabda : ” Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini..Ya allah saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini ”.

Setelah membaca khutbah, nabi duduk sebentar dan mendirikan shalat Dzuhur dan Ashar dengan jamak, kemudian nabi menaiki unta menuju Khakharat di kawasan Arafah, menerima wahyu ayat 3 dari surah al Maidah. Setelah matahari tenggelam,  Nabi melanjutkan ibadah haji  berangkat menuju Muzdalifah. Setalah sampai di Muzdalifah beliau shalat Maghrib dan Isya dan bermalam disana kemudian setelah subuh  10 Dzulhijah beliau melanjutkan perjalanan untuk melontar jamrah Aqabah.

 

Setelah melontar jamrah dan bertahalul, nabi menyembelih 63 ekor unta yang dibawa dari Madnah, dan dilanjutkan oleh Sayidina Ali menyembelih  30  unta yang dibawa dari Yaman. Keesokan harinya,  Nabi pergi ke Mekah, melaksanakan Thawaf Ifadah, dan kembali ke Mina setelah shalat dzuhur untuk kembali bermalam dan melempar jamrah. Pada tanggal 13 Dzulhijjah, setelah zuhur Rasul melontar jamrah yang terakhir dan kembali ke Makkah. Demikianlah perjalanan haji  Rasulullah dan khutbah terakhir beliau di padang Arafah  yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Semoga kita dapat 

merealisasikan wasiat beliau dalam kehidupan hari ini..Fa’tabiru ya Ulil albab.

 

Buletin

Share This