No. 1353 Persiapan Ramadhan

today May 12, 2019 account_circle Arifin Ismail

PERSIAPAN RAMADHAN

“ Setiap sesuatu itu ada zakatnya , dan zakat ( penyucian ) badan itu adalah puasa “ ( Hadis riwayat Ibnu Majah )

Manusia adalah makhluk termulia yang mempunyai peranan utama dalam kehidupan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tugas khalifah adalah tugas yang suci tersebut hanya mampu dipikul oleh manusia yang dapat mensucikan dirinya, yang mempunyai fikiran yang suci , dan  perbuatan yang suci karena sudah menjadi suatu peraturan alam bahwa hanya mereka yang suci itulah  yang dapat dan mampu memikul tugas yang suci. Dalam setiap tahun, dalam menjalani kehidupan,  manusia memerlukan latihan-latihan ( training ) kehidupan sehingga kehidupan manusia tersebut tetap berada dalam proses penyucian dan pembersihan. Diharapkan dengan latihan dan training tersebut manusia dapat membiasakan dirinya dengan kebiasaan dan tradisi yang suci. Karena dengan adanya kebiasaan, tradisi dan budaya  suci itu   manusia akan terlatih dan terbiasa dengan kesucian diri. Training tersebut harus dilakukan secara berulang kali, sehingga manusia terhindar dari penyakit kemanusiaan yang tidak baik. Latihan penyucian diri dan training jiwa manusia yang berlangsung dalam masa tertentu ini berlaku bagi seluruh ummat manusia sejak nabi Adam as hingga akhir zaman. Latihan penyucian diri tersebut selama ini dikenal dengan nama “ puasa “ dan bagi ummat Muhammad saw, latihan tersebut berlangsung secara berkala pada setiap  bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda : “ Setiap sesuatu itu ada zakatnya, dan zakatnya badan adalah puasa “ (Ibnu Majah ). Zakat berakna pembersihan dan penyucian. Al Qur an menyatakan : ” Hai orang – orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana juga orang-orang yang terdahulu, agar kamu dapat menjadi orang yang bertaqwa “ ( Surah Al Baqarah : 183

Dari keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa  puasa di bulan Ramadhan bagi ummat Islam adalah merupakan pusat dan media pendidikan serta latihan penyucian diri sekaligus merupakan sarana pembinaan moral dan akhlaq. Dengan mengadakan proses penyucian diri , membentuk pribadi yang suci dalam pikiran, suci dalam perbuatan dan suci hati inilah manusia baru mempunyai hak untuk menerima predikat manusia termulia yaitu “ Taqwa “. Dan barang siapa yang mendapat predikat taqwa tersebut maka selepas bulan puasa dia akan dilantik sebagai manusia fitrah yaitu manusia suci  bagaikan “ bayi yang suci tanpa noda dan dosa”.

 Puasa Ramadhan hanya diterima jika dilakuan  oleh orang yang ikhlas untuk mengikuti perintah Allah. Dengan berpuasa manusia hanya taat dan patuh pada Allah, tanpa ada maksud-maksud tertentu atau maksud untuk mencari keuntungan pribadi . Dalam hadist Qudsi Allah swt berfirman, “ Puasa adalah untuk-Ku dan hanya Aku yang akan membalasnya ( orang yang berpuasa)”.

Dalam bulan Ramadhan, seorang manusia bukan hanya menahan diri dari makan, minum,dan hal-hal yang membatalkan puasa tetapi dia juga harus dapat mensucikan diri, agar terhindar dari perbuatan dosa, maksiat dan pengaruh hawa nafsu. Menjauhkan diri dari berkata dusta, fitnah, dengki, sombong dan lain sebagainya. Jika seorang muslim melaksanakan puasa Ramadhan sedangkan dia tetap dalam perbuatan maksiat, melakukan perbuatan dosa, maka berarti dia belum dapat melaksanakan puasanya dengan baik dan puasanya itu akan menjadi sia-sia belaka. Rasulullah saw telah sejak awal telah memperingatkan hal tersebut dengan sabdanya : “ Berapa banyak mereka yang melakukan puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. (Riwayat Nasai dan Ibnu Majah).Dalam hadis lain disebutkan “ Puasa itu adalah sarana untuk memelihara manusia dari perbuatan maksiat”.

 Seorang muslim dalam melaksanakan puasa harus dapat menguasai diri agar terhindar dari segala perbuatan dosa dan maksiat. Pada saat berpuasa seorang muslim harus dapat melihat,mendengar, merasakan dan melakukan sesuatu perbuatan yang sesuai dengan tuntutan Ilahi. Dia tak boleh berdusta, berkhianat,ingkar janji, sombong, mencaci, mengumpat, iri hati, dengki dan lain sebagainya. Seorang muslim yang berpuasa harus dapat memelihara pendengaran dan penglihatannya dari hal yang dilarang oleh Allah serta menjaga kaki dan tangannya dari perbuatan negatif

 Sikap hidup yang baik, perasaan yang suci  merupakan akhlaq  yang harus dimiliki dan senantiasa dibentuk dalam proses selama bulan puasa ramadhan tersebut. Ini adalah latihan dimana selama satu bulan penuh manusia terbiasa dengan akhlaq yang baik sehingga setelah ramadhan manusia tersebut diharapkan akan terus hidup dengan akhlaq dan moralitas yang mulia. Setelah Ramadhan berlalu diharapkan manusia sudah terbiasa melakukan hal-hal yang positif dan menghindarkan diri dari perbuatan yang negatif. Inilah tujuan dan maksud utama dari bulan puasa Ramadhan. Menjadikan manusia memiliki predikat ” ManusiaTaqwa”

 Dalam Bulan Ramadhan, manusia harus mengisi seluruh waktunya menjadi amal ibadah kepada Allah swt, sehingga tidurnyapun harus dapat bernilai ibadah kepada-Nya. Di pagi hari manusia tetap bekerja dan berusaha tetapi pekerjaan itu tidaklah berarti menghalangi manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah . Puasa di pagi dan siang agar manusia dapat membiasakan diri senantiasa taat dan patuh atas segala perintah Allah sehari penuh. Tidak  satu detikpun dari kehidupan seorang muslim yang terlepas dari nilai ibadah. Karena ibadah adalah segala sikap dan perbuatan berdasarkan iman kepada Allah dan semata-mata mengharapkan ridha ilahi. Makan menjadi ibadah, bekerja di dalam jabatan, belajar , berolahraga ,berniaga,berusaha baik di kantor, di rumah, di pasar dan di mana saja sampai di tempat tidurpun semuanya akan bernilai  ibadah. Inilah gaya hidup seorang muslim yang harus dilakukannya setiap saat “ seluruh kegiatan hidup di pagi dan di siang hari sebagai ibadah “. Tidak ada pemisahan antara ibadah dan kerja. Gaya hidup inilah yang dilatih pada bulan ramadhan.

Di malam hari seorang muslim tidak boleh lepas dari ibadah, malahan di malam hari manusia mempunyai waktu banyak untuk melakukan sholat, membaca Al Quran, bertafakkur dan bermunajat, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inilah yang dilatih pada bulan Ramadhan dengan melakukan sholat Tarawih, tadarus Al Qur an, sholat tahajjud dan lain sebagainya. Di malam hari seorang muslim menjadi ahli ibadah dan di siang hari menjadi penguasa dan pemimpin di muka bumi demi mengemban amanat Ilahi, menjadi Khalifah Allah .

Dalam bulan ramadhan, manusia juga dilatih agar mempunyai rasa ukhuwah, persaudaraan dan kesetiakawanan antar sesama manusia yang lain. Setiap manusia dengan berpuasa diharapkan dapat merasakan penderitaan orang lain sebagaimana orang kaya dengan berpuasa dapat merasakan penderitaan orang miskin yang kadang-kadang makannya hanya sehari sekali. Dengan merasakan penderitaan orang lain maka akan timbul rasa keinginan untuk saling membantu dan bersaudara. Rasa inilah yang dipupuk dalam bulan ramadhan .

Dalam berpuasa kita selalu mengerjakan sholat berjamaah lima kali sehari ditambah lagi dengan melakukan sholat tarawih berjamaah. Kadang-kadang berbertadarus Al Qur an secara berjamaah, bersahur jamaah dan berbuka puasa dengan berjamaah. Ini semua agar kita terbiasa dengan hidup berjamaah. Berjamaah dalam keluarga, berjamaah antar anggota keluarga, berjamaah dengan tetangga dan masyarakat terdekat dan masyarakat sebangsa dan se tanah air sebagaimana yang kita lakukan dalam dalam sholat berjamaah dengan seluruh kaum muslimin dalam sholat Idul Fitri.

 Jiwa ukhuwah, saling kasih sayang ini bukanlah sekedar “lip-service”, hiasan bibir tetapi harus dibuktikan dengan kerja nyata. Oleh karena itu setiap muslim diwajibkan membayar zakat fitrah bagi faqir miskin dan para mustahiq. Rasa ukhuwah, rasa persaudaraan harus dibuktikan dalam ukhuwah ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya. Dengan demikian akan tecipta rasa persaudaraan yang kuat dan akan merupakan kekuatan ummat Islam yang tak terkalahkan. Latihan-latihan ukhuwah dan pendidikan  sosial kemasyarakatan ini dibiasakan dalam bulan Ramadhan agar setelah ramadhan setiap muslim terbiasa hidup dengan penuh persaudaraan dan kasih sayang. Terbiasa hidup berjamaah dan berukhuwah. Terbiasa menolong yang memerlukan pertolongan dan membantu kaum yang du’afa’.

 Agar Ramadhan tidak berlalu tanpa berkesan dengan segala bentuk latihan tersebut, maka setiap muslim sebelum melakukan puasa Ramadhan perlu mempersiapkan diri dan mental untuk menghadapi bulan Ramadhan tersebut dengan program-program yangs sesuai dengan kemampuan dan keperluannya. Buatlah target yang akan dicapai dalam bulan ramadhan untuk meningkatkan iman dan taqwa , amal dan ibadah kepada-Nya. Dengan program dan target yang jelas, di akhir ramadhan kita dapat meng-evaluasi diri apakah kita lulus atau tidak dalam melaksanakan pendidikan dan latihan selama sebulan tersebut sehingga dengan begitu kita dapat mengukur kadar kesadaran dan ukuran iman kita masing-masing

Dalam bulan ramadhan inilah kesempatan emas untuk meningkatkan amal ibadah, melatih diri dengan kebiasaan beribadah kepada-Nya. Maka sangat rugilah mereka yang tidak dapat mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya . kesempatan yang penuh dengan janji Allah berupa rahmah, ampunan dosa dan lepas dari siksa api neraka. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan maghfirah tetapi ini semua tergantung pada sikap dan persiapan kita dalam menghadapi dan menjalankan puasa di bulan ramadhan nanti. Ahlan Wa sahlan  Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan.

 

Buletin

Share This