No 1328 Perang Mut'ah Dan Bendera Tauhid

today October 28, 2018 account_circle Arifin Ismail

 

 

Buletin Jumat Istaid No 1328 / Shafar 1440 H / Oktober 2018

 

PERANG MU’TAH DAN KIBARAN BENDERA TAUHID

“Jika  di antara kalian terdapat 20 orang yang sabar, maka bilangan itu dapat mengalahkan 200 orang.” (QS. Al Anfal: 65)

Rasulullah shallallahu alaihissalam mengirim surat kepada Raja Bushra dengan mengutus sahabat Harits bin Umair al Azdi Dalam perjalanan, tatkala  sampai di daerah Mu’tah (suatu kawasan di Timur Yordania yang sekaang bernma Kirk ), utusan ini dihadang dan dibunuh,  padahal menurut adat yang berlaku pada saat itu –dan berlaku hingga sekarang- bahwa seorang utusan dari suatu negeri itu tidak boleh dibunuh dan bila seorang utusan dibunuh, berarti menyatakan sebuah peperangan kepada negara yang mengutusnya. Sebaik mendengar berita pembunuhan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengumpulkan 3000 pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda  “Jika Zaid bin Haritsah mati syahid, maka kepemimpinan berlih kepada Ja’far bin Abu Thalib, dan jika Jakfar bin Abu Thalib syahid, maka kepemimpinan beralih kepada Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawwahah syahid, maka hendaklah kaum muslimin memilih penggantinya ”. ( riwayat Bukhari, Ahmad  dan Obmu Sa’ad dalam Thabaqat ).

Rasulullah segera memberikan Liwa ( bendera kain putih dengan tulisan hitam berlafadz kalimat tauhid ) kepada Zaid bin Haritsah dan berpesan agar pasukan kaum muslimin menuju Mu’tah tempat sahabat utusan nabi yang terbunuh, dan segera mengajak penduduk negeri tersebut untuk memeluk agama Islam, dan jika menolak, maka perangi mereka, sebagai pembalasan terhadap pembunuhan yang telah mereka lakukan terhadap utusan nabi, dan segera meminta pertolongan kepada Allah sebab pasukan akan berhadapan dengan tentera kerajaan Romawi yang sangat terkenal dan memiliki angkatan perang dalam jumlah yang banyak.  Nabi tidak ikut dalam peperangan tersebut, tetapi beliau mengantarkan [asukan bersama-sama  kaum muslimin Madinah  ke luar kota Madinah pada bulan Jumadil Ula tahun 8 hijrah atau bertepatan dengan bulan September 629 Masehi.

Setelah kaum muslimin bergerak dari Madinah, kerajaan Romawi mengerahkan tentara sebanyak 200 ribu orang. Mendengar begitu besarnya pasukan musuh, mereka berhenti di Mu’an  untuk merundingkan strategi apa yang dilakukan. Diantara pasukan ada yang mengusulkan agar segera mengirim surat kepada Rasululah “ sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah untuk memberitahukan kekuatan musuh, sehingga mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar atau memerintahkan apa yang harus kita lakukan “. Tetapi Abdullah bin Rawwahah tidak menyetujui dan berkata : “ Wahai saudaraisaudaraku! Demi Allah! Sesungguhnya apa yang kalian benci jestru itulah yang kalian cari, iaitu syahid! Kita keluar memerangi musuh bukan kerana jumlah atau kekuatan atau berdasarkan jumlah, tetapi kita memerangi mereka demi mempertahankan agama Islam, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Oleh kerana itu berangkatlah! Sesungguhnya di hadapan kita hanya ada dua kebaikan yaitu kemenangan atau mati syahid". Kata-kata ini telah membakar semangat mereka, lalu mereka  berangkat dengan penuh keimanan  semata-mata kerana Allah. Terjadilah perang di kawasan Mu'tah, di mana. sejumlah 3.000 pasukan Islam berjuang habis-habisan melawan 200.000 tentera musuh.

Zaid bin Haritsah, merupakan panglima perang terus maju menggempur pasukan musuh dengan membawa bendera Nabi  di tangan. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar tumpah di bumi Mu’tah.. Melihat Zaid jatuh, Ja’far bin Abu Thalib segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya.

 Ja’far bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Beliau maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya sampai akhirnya, pasukan musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Sampai suatu ketika, ada seorang pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. Lalu bendera dipegang tangan kirinya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar. Tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang tersisa hanyalah sedikit lengan bagian atas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, Ja’far tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan.  Ada diantara mereka yang menyerang Ja’far dan membelah tubuhnya menjadi dua. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah. Akhirnya sebatang tombak menembusi tubuhnya dan beliau akhirnya gugur.

Bendera lalu disambar oleh Abdullah bin Rawahah dan terus dibawa dengan menunggang kuda menuju ke tengah musuh. Beliau juga turut syahid menyusuri kedua sahabatnya. Bendera lalu diambil oleh Tsabit bin Arqam seraya berteriak, "Wahai kaum Muslimin! Berkumpullah disekeliling seseorang." Lalu kaum Muslimin pun berkumpul mengelilingi Khalid bin Al-Walid dan bendera Nabi terus diserahkan kepada Khalid yang kemudian terus memimpin pasukan.

Pada awalnya pasukan Islam dibagi menjadi lima pasukan, yaitu: pasukan depan, belakang, kanan, kiri, dan tengah sebagai pasukan inti. Posisi ini dirubah oleh Khalid bin walid dengan posisi pasukan depan ke belakang dan sebaliknya, pasukan kanan ke kiri dan sebaliknya, sehingga tampak bagi musuh bahwa kaum muslimin mendapat bantuan tentara yang baru, sehingga menimbulkan rasa takut dalam hati mereka.

Dalam perang ini terjadilah sebuah mukjizat dimana nabi di Madinah mengetahui keadan perang tersebut, beliau dalam keadaan sedih meneteskan air mata dan berkata kepada para sahabat, “Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera perang dibawa oleh Saifullah ( Saifullah artinya Pedang Allah gelar untuk Khalid bin Walid ) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.”

Selain merobah posisi pasukan, panglima Khalid bin Walid mengulur-ulur waktu peperangan sampai sore hari karena menurut aturan peperangan pada waktu itu, peperangan tidak boleh dilakukan pada malam hari. Khalid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yang datang dengan membuat debu-debu berterbangan. Pasukan musuh yang menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa selama ini dengan 3000 orang pasukan saja mereka sudah merasa kewalahan menghadapi pasukan Islam, apalagi jika datang pasukan tambahan. Strategi ini menjadikan pasukan musuh merasa takut,

Imam Ibnu katsir mengungkapkan bahwa peperangan berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata, “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin, padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.” sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20.000 orang.

Ibnu Ishaq  mencatat delapan nama  syuhada perang Mu’tah  yaitu (1) Ja’far bin Abi Thalib, (2) Zaid bin Haritsah Al-Kalbi, (3) Mas’ud bin Al-Aswad  (4) Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh. Keempat orang ini dari kalangan Muhajirin,  sementara dari  kaum Anshar adalah (5) Abdullah bin Rawahah, (6) Abbad bin Qais Al-Khazarjayyan, (7) Al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, dan (8) Suraqah bin Amr bin Athiyyah, Di sisi lain, sejarawan Ibnu Hisyam  menambahkan empat nama  yaitu, (9) Abu Kulaib dan (10) Jabir, (11) Amr dan (1) Amir, keduanya adalah  anak dari Sa’d bin Al-Harits bin Abbad  dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

Perang ini adalah perang yang sangat berat meskipun demikian jumlah korban dari pasukan muslim hanya sedikit. Di dalam peperangan ini juga panglima Khalid bin Walid  telah menunjukkan suatu kegigihan dan strategi yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia berkata: “Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” (HR. Al-Bukhari 4265-4266) Ibnu Hajar mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka. Inilah kisah bagaimana pasukan muslim yang kecil dapat mengalahkan pasukan yang besar, dan bagaimana bendera Rasulullah berpindah dari satu panglima kepada panglima yang lain, sehingga kibaran bendera itu merupakan sikap umat Islam dalam perjuangan mebela kemuliaan agama. Fa’tabiru ya Ulil albab.

 

 

 


Buletin

Share This