No 1327 BENCANA ALAM Antara Fenomena Alam dan Iman

today October 21, 2018 account_circle Arifin Ismail

BENCANA ALAM  

Antara Fenomena Alam dan Iman

 

“..Kami jadikan kebaikan dan keburukan itu untuk menjad ujian bagi kamu.. “

( QS. Al Anbiya : 35 )

 

Banyak orang berkata bahwa bencana alam itu adalah hanya sebuah bencana yang terjadi dan merupakan proses dari alam itu sendiri, tanpa ada hubungan dengan perbuatan manusia atau takdir Tuhan.

Ini merupakan pendapat orang dan pemahaman yang memang tidak percaya dengan kewujudan Tuhan (pemikiran Atheis), atau orang yang memahami bahwa bahwa alam itu tidak ada hubungannya dengan perbuatan Tuhan, sebagaimana pemahaman orang sekuler dalam melihat bencana alam.  Padahal dalam pandangan hidup  Islam, setiap apapun yang terjadi di atas permukaan bumi  semuanya tidak terlepas dari takdir dan perbuatan Tuhan,  

 

Dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata lauh Mahfudh “ ( QS. Al An’am : 59)

 

Sebagai mukmin kita meyakini bahwa setiap  bencana dan musibah adalah perbuatan Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Oleh sebab itu pasti dalam setiap bencana atau musibah dan apa saja yang  ditakdirkan itu mempunyai maksud dan tujuan.

 

“Dan (ingatlah) tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya/21 : 16 / QS. ad Dukhan/44 : 38 ).

 

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu kejadian yang terjadi tanpa ada maksud dan tujuan yang dimaksudkan oleh Allah Subhana wa ta’ala. Berarti dalam konsep Islam, tidak ada yang terjadi karena kebetulan, tetapi semua terjadi dengan takdir Tuhan.

Demikian pula dengan setiap bencana alam yang terjadi, baik itu gempa, banjir, dan lain sebagainya, semua itu terjadi dengan takdir Tuhan yang memiliki maksud dan tujuan tertentu, bukan sekedar kejadian alam semata-mata

Setiap bencana alam merupakan takdir Ilahi, dan segala takdir yang terjadi merupakan perbuatan Tuhan yang Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Berarti dalam setiap bencana yang terjadi terdapat kebaikan dan rahmat Ilahi. Oleh sebab itu Rasulullah saw melarang umatnya untuk mencaci maki  taqdir musibah dan kejadian yang telah terjadi, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang maksudnya:

“Janganlah kamu menuduh Allah dengan suatu tuduhan yang tidak baik pada setiap kejadian yang sudah ditaqdirkanNya “. ( hadis riwayat Imam Ahmad ).

 

Bencana alam atau musibah  juga dapat merupakan peringatan Allah kepada manusia agar segera kembali kepadaNya.   “Pada waktu mereka lupa atas apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami akan bukakan bagi mereka semua pintu-pintu segala sesuatu, dan apabila mereka bergembira dengan apa yang datang kepada mereka, Kami akan ambil apa yang telah Kami berikan tersebut, dan mereka akan gagal sepenuhnya“ ( QS. Al An’am : 44 ).

Peringatan Allah itu disebabkan manusia telah lupa dengan perdoman hidup sehigga manusia berbuat dosa dan kemaksiatan tanpa mengingat perintah dan laranganNya.

“Dan tidaklah suatu musibah itu terjadi, melainkan akibat perbuatan manusia itu sendiri“ (QS. An Nisa : 79). Dalam ayat yang lain dinyatakan:

“Maka apa saja musibah dan bencana yang menimpa kamu itu semua merupakan perbuatan kamu sendiri, dan Allah telah mema’afkan sebagian besar kesalahan kamu“ (QS al Syura : 30).

Bencana dan musibah itu sebagai peringatan Tuhan kepada sekelompok manusia yang melakukan kemaksiatan, kedzaliman, dan dosa-dosa lainnya. Tetapi musibah itu terjadi bukan hanya kepada mereka yang berbuat dosa dan dzalim, tetapi juga kepada semua orang dan masyarakat, baik yang berbuat dosa atau tidak berbuat dosa.

 

“Dan takutlah kamu kepada bencana yang akan terkena bukan saja kepada orang yang dzalim diantara kamu, dan ketahuilah Allah itu maha keras dalam memberikan balasan “ (QS. al Anfal: 25).

 

Oleh sebab itu, dapat kita katakan bahwa bagi orang yang berbuat dosa, maka bencana alam itu merupakan peringatan Tuhan, sedangkan bagi orang yang tidak berbuat dosa, maka bencana itu merupakan ampunan dosa  dan  peluang pahala.

Ada yang berkata bahwa jika bencana alam itu merupakan azab dan peringatan bagi orang yang bermaksiat dan berdosa, mengapa ada orang yang berdosa di tempat lain tidak mendapat bencana, malah mereka hidup terus dalam kesenangan. Bagi orang yang berbuat dosa tetapi tidak terkena bencana maka itu merupakan suatu “istidraj”, sebagaimana dinyatakan dalam alQuran:

 

“Dan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka akan Kami  biarkan mereka dalam pendustaan tersebut sehingga suatu saat Kami akan beri balasan atas perbuatan mereka itu (istidraj) tanpa mereka sadar atas kesalahan mereka tersebut“ (QS. al A’raf : 7).

 

Mereka yang berbuat maksiat dan kedzaliman, tetapi Tuhan biarkan dan tidak diberi peringatan sampai suatu saat terakhir nanti Tuhan berikan balasan langsung. Sedang bagi orang yang melakukan kemaksiatan dan diberi peringatan dengan musibah dan bencana,  berarti Allah masih sayang kepada mereka, masih mengajak mereka agar kembali kepadaNya dengan bencana dan musibah.

“Orang yang diberi bencana dan musibah maka mereka  berkata: Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan kembali kepadaNya “Inna lillahi wa inna ilahi rajiun  (QS. alBaqarah: 156).

 

Oleh itu dapat dikatakan bahwa musibah itu memiliki dua sisi. Pada suatu sisi, musibah itu merupakan peringatan Tuhan atas perbuatan manusia, sedangkan disisi yang lain musibah itu merupakan ujian keimanan agar kita bersabar, dan dalam kesabaran itu terdapat pahala dan kebaikan bagi manusia. Abu Hurairah dan Abu Said r.a menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

 

“Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan, kelelahan, atau kerisauan hati dan pikiran melainkan itu semua akan menjadi penebus dosa bagi orang tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Bencana dan musibah itu juga merupakan ujian keimanan. Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabat: “Apakah kamu termasuk orang yang beriman.? Sahabat terdiam, dan Umar bin Khattab menjawab: Ya Rasulullah, kami ini orang yang beriman.  Rasulullah bertanya lagi: “Apakah tanda kamu orang yang beriman..?.

Sahabat menjawab: Tanda kami beriman ialah kami berSyukur dengan Nikmat, Sabar dengan Musibah dan Ridha dengan segala ketentuan Allah“. (Riwayat Thabrani).

 

Oleh sebab itu,  iman itu mempunyai dua sendi, yaitu YAKIN dan SABAR. Syahar bin Hausyab bahwa: “Sesuatu yang paling sedikit yang diberikan kepada kamu adalah Yakin dan Sabar.

Artinya, di dalam melihat sesuatu kejadian kita meyakini bahwa itu semua datang dari Allah dengan penuh kebaikan dan rahmatNya, oleh sebab itu kita harus menghadapinya dengan penuh kesabaran, sebab didalam kejadian musibah dan bencana tersebut kita akan mendapatkan pahala, mendapatkan ampunan dosa, kenaikan pangkat dan kedudukan di depan Allah subhana wa ta’ala.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata dalam pidatonya:

“Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada seorang hamba, lalu dicabutnya nikmat tersebut dan digantikannya dengan SABAR, maka apa yang digantikan Allah tersebut (sabar) lebih utama dari nikmat yang dicabutNya“ kemudian dia membaca ayat:

“Sesungguhnya bagi orang yang sabar itu akan disempurnakan Allah ganjaran pahala atas kesabaran tersebut dengan balasan  pahala yang tiada terhingga“ (QS.az Zumar : 10).

 

Bencana membuat kita ingat kepada Allah atas segala dosa, kemaksiatan, kesombongan diri kita di depan Allah. Bayangkan jika masyarakat yang berdosa tersebut dibiarkan dalam kemaksiatan, maka bencana iman, bencana akidah akan lebih berbahaya lagi, sebab bencana dunia hanya akan berdampak kepada  kerugian dunia saja, sedangkan bencana iman dan agama akan memberikan kerugian dunia dan akhirat yang merugikan kita selama-lamanya.

 

Khalifah Umar bin Khattab berkata:

“Tidaklah aku mendapat bencana melainkan ada padanya empat nikmat:

1) Bencana itu bukan bencana yang merusak agamaku,

2) Tiada terjadi bencana yang lebih besar daripadanya

3) Dengan bencana, aku mendapatkan sikap redha kepada takdirNya

4) Dengan bencana, aku bersabar dan mendapatkan pahala dari bencana tersebut.

 

Demikianlah pandangan muslim terhadap musibah dan bencana yang terjadi, dimana bencana dan musibah itu dapat menjadi peringatan Tuhan atas dosa yang dilakukan, juga dapat merupakan ujian keimanan bagi seorang hamba.

Bagi mereka yang berdosa, musibah itu merupakan peringatan, sedang bagi mereka yang tidak berdosa, maka musibah itu merupakan ujian iman, dan kematian mereka merupakan kematian yang mulia, syahid, dan itu lebih baik daripada hidup bergelimang maksiat dan dosa.  

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap musibah dan bencana yang terjadi.

Fa’tabiru Ya Ulil albab.

   

 

Buletin

Share This