No 1325 ILMU, IMAN DAN KEPEMIMPINAN BANGSA

today September 4, 2018 account_circle Arifin Ismail
ILMU , IMAN DAN KEPEMIMPINAN BANGSA
“ Allah menjanjikan bagi orang  beriman dan beramal shaleh untuk memegang kepemimpinan di muka bumi " ( QS.an Nur :55 ) 
Sewaktu Allah akan menciptalan seorang khalifah di muka bumi, maka para  malaikat bertanya kepada Allah : “ Ya Tuhan, apakah engkau akan menjadikan seorang khalifah yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memunji Engkau dan mensucikan Engkau ? Tuhan berfirman : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui “ ( QS. AlBaqarah : 30 ). Pertanyaan malaikat tersebut bukanlah bermakna bahwa sudah ada manusia sebelum adam, sehingga malaikat mengajukan pertanyaan demikian, sebab Adam merupakan manusia pertama diciptakan Tuhan. Pertanyaan itu terjadi, menurut Ibnu Kasir adalah pertanyaan untuk mencari hikmah dari penciptaan. Malaikat bertanya : “ Ya Allah, apa hikmah penciptan Khalifah tersebut, sebab nanti dapat terjadi mereka merusak bumi dan menumpahkan darah. Jika diciptakan hanya untuk beribadah, dan bertasbih kepadaMU, maka kami para malaikat tetap bertasbih dan memujaMu “.( Tafsir Ibnu kasir, jilid 1, hal. 89 ).
Para Malaikat memprediksi bahwa jika ada khalifah baru, maka khalifah tersebut akan merusak bumi dan menumpahkan darah. Hal ini dinyatakan malaikat bukan karena mereka sudah ada manusia sebelum nabi Adam, tetapi mereka melihat bahwa selama ini, khalifah bumi sebelum nabi Adam yang diamanahkan kepada makhluk jin, ternyata lebih banyak merusak bumi dan menumpahkan darah. Imam Ibnu Kasir dalam tafsirnya mengutip ucapan Dahhak dan Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya makhluk yang pertama diam di atas permukaan bumi adalah jin, dimana mereka selalu merusak bumi dan menumpahkan darah sesama mereka, maka Allah ciptakan Adam untuk menggantikan kedudukan mereka menjadi khalifah di muka bumi “ ( Tafsir Ibnu Kasir, jlid 1, hal.90)
Malaikat yang hanya beribadah dan bertasbih tidak memenuhi syarat untuk menjadi khalifah, sebab tidak memiliki akal dan kreatifitas;  sedangkan Jin, setelah dicoba untuk menjadi khalifah, ternyata jin lebih banyak merusak bumi dan menumpahkan darah. Oleh sebab itu diperlukan makhluk lain yang lebih layak, memiliki kemampuan  untuk menjadi khalifah dan memegang kepemimpinan dunia. Syarat utama untuk menjadi khalifah adalah ilmu pengetahuan. Oleh seab itu Allah menciptakan nabi Adam dan memberikan kepadanya ilmu pengetahuan sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama seluruh benda kemudian dia mengemukakannya kepadapara  malaikat dengan firmanNya: Sebutkanlah nama-nama benda itu jika kamu mengetahui! Malaikat menjawab : “ Maha suci Engkau, tidak ada ilmu pada kami selain apa yang telah Engkau ajarkan  kepada kami. “. ( QS. AlBaqarah : 32 ). Kamudian Allah memerintahkan Adam : “ Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu “. Maka Adam segera memberitahukan kepada mereka nama-nama benda semuanya “ ( QS. AlBaqarah : 33 ).
Dalam ayat diatas dapat dilihat kelebihan Adam daripada malaikat adalah karena Adam diberi Allah Taala ilmu tentang nama-nama benda. Dengan ilmu pengetahuan itulah nanti Adam akan menjadi khalifah di atas permukaan dunia, sebab ilmu merupakan syarat untuk menjadi khalifah. Dengan akal yang diberi untuk berpikir dan modal ilmu pengetahuan, maka Adam layak untuk memimpin dunia. Malaikat tidak layak memimpin dunia sebab mereka tidak mempunyai ilmu walaupun mereka bertasbih dan memuji Allah setiap saat. Jin juga tidak layak sebab mereka akan merusak bumi dan menumpahkan darah, sebab hawa nafsu yang menguasai mereka.
Ilmu pengeathuan tentang nama-nama benda, merupakan syarat untuk menjadi khalifah Allah di atas permukaan bumi. Nabi Adam dipersiapkan untuk  menjadi pemimpin di bumi, maka dia perlu mengetahui karakter, sifat, segala sesuatu informasi tentang apa yang akan dipimpin. Dengan pengetahuan dasar itulah dia dapat mempergunakan alam menjadi lebih baik lagi, disebabkan dia mempunyai akal dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tentang nama-nama benda itu menjadi modal bagi Adam untuk mengelola alam semesta menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih baik lagi, sebab tugas khalifah menurut Ibnu Kasir, mengutip ucapan Muhammad bin Ishaq, adalah “ saakinan wa ‘aamiran “ mendiami bumi dan mengelola bumi dan memakai segala sesuatu di bumi sebagai sarana beribadah kepadaNya.
Kemampuan kekhalifahan dan kepemimpinan dunia harus dapat  dibuktikan dengan amal saleh, kerja produktif, dan memberikan manfaat bagi seluruh alam. Oleh sebab itu, sejarah mencatat bahwa  pada waktu nabi Adam turun ke atas permukaan bumi, maka datanglah malaikat Jibril untuk mengajarkan nabi Adam cara menanam pohon gandum, kemudian menuai biji gandum, dan menggiling biji gandum menjadi tepung, dan kemudian mengolah tepung gandum menjadi roti yang siap dimakan. Sejarawan muslim, Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wan Nihayah menceritakan :
“ Ibnu Abbas menceritakan tentang makanan pertama yang dimakan oleh nabi Adam di muka bumi : “ Malaikat Jibril datang menjumpai Adam dengan tujuh biji gandum di tangannya. Adam bertanya : “ Apa itu wahai Jibril ? Jibril menjawab : Inilah pohon yang dulu kamu dilarang untuk mendekatinya, maka sekarang makanlah biji ini “. Adam bertanya lagi : “ Apa yang dapat saya buat dengan biji tersebut “. Malaikat Jibril berkata : “ Tanamlah biji ini di bumi, maka Adam segera menanam biji gandum tersebut. Tak lama tumbuhlah pokok gandum dari biji tadi, maka Adam menuai gandum tersebut, kemudian Adam menggiling biji gandum dan menjadi tepung gandum dan mengolah tepung gandum menjadi roti. Barulah Adam memakan roti yang dibuatnya sendiri dengan lahap “ ( Ibnu Kasir, Bidayah wan Nihayah, Jilid 1, hal. 94 ). 
Setelah Nabi Adam selesai membuat roti dari tepung gandum, maka Adam kembali membuktikan dirinya sebagai khalifah dengan membuat baju dari bulu domba. Ibnu Kasir menceritakan : “ Pakaian pertama Adam dibuat daripada bulu-bulu domba. Adam menyisir bulu domba tersebut, kemudian merajutnya menjadi jubah yang dipakainya dan Adam juga membuatkan pakaian untuk Hawa berupa baju dan kerudung untuk menutup kepalanya “ ( Ibnu Kasir, Bidayah wan Nihayah , jilid 1, hal. 94 ).
Dari kisah diatas dapat dilihat bahwa nabi Adam dijadikan khalifah dengan bekal ilmu pengetahuan, dan ilmu tersebut dipakai nabi Adam untuk memproduksi segala sesuatu keperluan hidup seperti makanan dan pakaian. Itulah sebabnya nabi-nabi yang lain terkenal dengan kehebatan ilmu dan produktifitasnya seperti nabi Nuh dengan kapal yang dibuat dengan tangannya sendiri. Nabi Idris tercatat dalam sejarah sebagai penjahit baju. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat nabi iIdris sudah berpakaian.  Nabi Daud terkenal sebaagi nabi yang dapat membuat baju besi, sehingga sejarah mencatat bahwa Nabi Daud dapat memproduksi 25 baju besi perhari. . Nabi Sulaiman memiliki kepakaran komunikasi sehingga dapat berkomunikasi dengan semua binatang. Nabi Musa memiliki kepakaran dalam bidang peternakan sehingga perkawinan beliau dilaksanakan dengan mas kawin bekerja sebagai peternak selama sembilan tahun. Nabi Isa memiliki kepakaran dalam farmasi dan kedokteran. Nabi Ibrahim pakar dalam perniagaan sebab kemana beliau pergi selalu membawa pakaian untuk dijual. Nabi Ismail pakar dalam berburu, Nabi Muhammad juga telah membuktikan dirinya pakar dalam perniagaan dengan menjalankan barang perniagaan milik Khadijah. Beliau juga pakar dalam farmasi, dengan sekian banyak hadis tentang penyakit dan obat. Beliau juga pakar dalam teknologi dengan membangun Ka’bah, membangun masjid Kuba, Masjid Nabawi, dan menciptakan “almanjanik “ alat pelempar batu api dalam perang ketika itu.
Dari kisah para nabi terdahulu terlihat bahwa Ilmu pengetahuan yang merupakan dasar utama inovasi dan produksi teknologi yang dapat dipakai dalam membangun peradaban masyarakat dunia, merupakan syarat utama kepemimpinan (khalifah) dunia. Ulama dari Pakistan, Abul A’la Al Maududi dalam suatu pertemuan dengan pelajar Darul Ulum Lucknow di India pernah berkata : ‘Kepemimpinan suatu bangsa sangat bergantung kepada pendidikan. Hanya melalui proses pendidikan sajalah yang membuat manusia layak menjadi pemimpin dan khalifah di muka bumi".
Manusia dianugerahkan panca indera penglihatan, pendengaran dan perasaan, yang mana dengan panca indera ini dia memiliki kelebihan daripada makhluk yang lain. Ini berarti negara yang paling maju dalam pendidikan akan menduduki tempat yang paling berpengaruh di dunia . Kepemimpinan dunia merupakan suatu anugerah yang diberikan kepada masyarakat yang telah dapat menggunakan panca indera mendengar, melihat, mengamati alam, memahami dan mengolah bahan baku alam menjadi teknologi yang bermanfaat dan dipakai dengan sebaik-baiknya. Tetapi ilmu dan teknologi tanpa iman tidak dapat mengenal Tuhan dan akan menghancurkan masyarakat dunia, sedangkan ilmu, teknologi yang dilandaskan dengan iman dan ilmu agama, akan memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat dunia. Dengan ilmu agama tersebut, pelajar, mahasiswa dapat membawa  masyarakat itu akan lebih takut dan bertaqwa kepada Allah, sebaliknya  
Masyarakat yang memiliki pengetahuan semata tanpa memiiki dasar agama sebenarnya tidak untuk memegang kepemimpinan dunia selama mesayarakat tersebut tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Ini merupakan suatu Sunnatullah ( hukum Allah ) t kepemimpinan dunia, sebab ilmuwan dan sarjana tanpa agama, tidak akanmerasa takut kepada Allah, sehingga teknologi yang akan dihasilkan dapat menjadi penyebab kemunsnahan peradaban dunia.  
Pada hari ini, kemajuan teknologi dan peradaban barat lebih ba"nyak membawa kesengsaraan masyarakat dunia, pada waktu yang sama ,  umat islam sangat jauh tertinggal ditinggal dalam riset, dan inovasi ilmudan teknologi.  Umat islam menjadi hina karena sikap tidak peduli kepada sains dan ilmu pengetahuan, dan memiliki kebekuan intelektual ( intellectual fossilization ). Pendidikan akademis umat Islam hanya terbatas pada ilmu-ilmu “ second hand “. Ini semua disebabkan karena umat islam telah lama kehilangan tabiat ingin tahu ( curiosity ) dan tidak memiliki keghairahan untuk membuat penyelidikan saintifik ( passion for scientific enquiry ).
Sebaliknya negara barat yang telah mempergunakan ketiga-tiga indera tersebut telah maju  dalam semua bidang “. Oleh sebab itu jika umat Islam ingin maju dan bersaing dengan barat, dan memimpin peradaban dunia, maka umat Islam harus meningkatkan riset dan inovasi teknologi, dengan landasan iman dan nilai-nilai agama, sehingga umat Islam diharapkan dapat membawa sains dan teknologi kepada kemaslahatan dunia, sebaliknya jika pendidikan umat dipisahkan dari nilai-nilai agama, maka kita akan mengulangi kembali kegagalam barat dimana teknologi hanya untuk mencapai kerakusan materi dan keserakahan hawa nafsu
Akhir-akhir ini ada selentingan ingin menghilangkan pendidikan agama baik pendidikan agama yang bersifat ekstra kurikuler seperti institusi rohis (rohani islam) di sekolah, dan mata kuliah agama di perguruan tinggi, padahal pendidikan agama dan rohani islam itu merupakan landasan utama bagi pelajar dan agama dalam aplikasi ilmu di masyarakat. Seharusnya sebagai masyarakat agamis, pendidikan agama dan kuiah agama perlu ditambah, sebab nilai-nilai agama seperti adanya rohis dalam sekolah, dan pelajaran agama dalam mata kuliah di perguruan tinggi bukan sekedar  pelajaran tambahan tetapi merupakan pelajaran dan mata kuiah dasar yang merupakan nilai utama atas pelajaran dan mata kuliah yang lain, sebab agama tersebut akan membawa si pemilik ilmu kepada sikap yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Jika nilai dan pendidikan agama dihilangkan atau dikurangkan atau dinomorduakan dalam proses pendidikan sejak di sekolah sampai perguruan tinggi, maka dapatkah kita bayangkan kira-kira bagaimanakah bentuk kepemimpinan  bangsa di kemudian hari ?
  Fa’tabiru ya ulil albab. 
Buletin

Share This