No 1324 Syawal, Silaturahmi dan membangun Sinergi

today September 4, 2018 account_circle Arifin Ismail

 

 

“ ( Orang bertaqwa) adalah mereka yang sanggup menahan marah dan memaafkan kesalahan yang lain “ ( QS. Ali Imran : 134 )

 

Makna Syawal secara bahasa adalah peningkatan, sedangan ramadhan secara bahasa berarti pembakaran. Selama dalam bulan ramadhan, manusia secara totalitas, baik fisik, psikis, dan mental telah dimasukkan ke dalam bengkel ramadhan, yang membakar dosa, membakar hawa nafsu, sebagaimana besi yang berkarat, maka dibakar agar menjadi bersih kembali, seperti keadaan semula. Itulah sebabnya dapat dikata bahwa Ramadhan adalah bengkel kemanuiaan. Setelah keluar dari ramadhan tersebut, manusia mempunyai kekuatan mentalitas, pemikiran, dan kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya. Setelah ramadhan, ,masuk ke syawal, bulan peningkatan, sehingga manusia dalam syawal akan meningkat dirinya untuk siap bertarung di dalam kancah kehidupan masa mendatang. Kita bayangkan saja jika mobil di servis, dari ban sampai ke mesin, dari kaca spion sampai kepada segala aksesoris, malahan kalau perlu ditambah lagi kekuatannya, sehingga mobil yang sudah terpakai itu sebaik keluar bengkel kembali macam mobil yang baru dibeli. Inilah contoh pribadi syawal, pribadi yang siap untuk berjalan dengan segala kekuatan internal, kekuatan jiwa, raga, pikiran, nafsu, dan lain sebagainya. Tetapi pribadi ramadhan yang dibentuk tersebut tidak cukup tangguh dalam berjalan jika tidak diimbangi dengan kekuatan kerjasama “ networking “, dengan pribadi yang lai, sebab sebaik apapun seseorang, sehebat apapun dan sepintar apapun, tidak akan dapat berhasil dalam melaksanakan tugas jika tidak ada kerjasama dan bantuan dengan yang lain. Jika dalam ramadhan kita dibentuk untuk dapat menahan nafsu dalam segala hal, maka dalam syawal kita dibentuk untuk menjadi manusia yang suka bekerja sama dengan orang lain. Jika dalam ramadhan kita dibentuk dengan shalat tarawih berjamaah, maka dalam bulan syawal kita dibentuk agar suka berkerja sama dengan sesama mansuia dan makhluk yang lain, membangun synergy dan jaringan, dengan berkunjung, silaturrahmi, memaafkan kesalahan di masa lampau, dan membangun kerjasama dimasa mendatang.

 

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Dua orang yang bersaudara itu adalah laksana dua belah telapak tangan yang satu membasuh tangan yang lain “ . Dari hadis ini rasulullah saw menggambarkan bahwa ssatu orang dengan orang yang lain adalah laksana dua belah telapak tangan. Jika satu telapak tangan itu kotor, maka telapak tangan yang satu lagi yang akan membersihkan kotoran yang ada di tangan sebelahnya; demikian juga jika kita tidak mampu untuk mengangkat sesuatu dengan satu tangan, maka tangan yang sebelah lagi yang akan menolong tangan yang satu. Tetapi sikap ini tidak mungkin jika si tangan kiri iri dan marah dengan tangan kanan; atau si tangan kanan merasa lebih hebat dari pada tangan kiri. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat bahwa ada pekerjaan yang hanya di lakukan oleh tangan kiri, tidak oleh tangan kanan; dan ada lagi pekerjaan yang dilakukan oleh tangan kanan tanpa tangan kiri. Jika kita makan, lebih banyak memakai tangan kanan, sedangkan jika kita akan membersihkan kotoran maka kita akan memakai tangan kiri; walaupun demikian si tangan kiri tidak pernah iri dengan tangan kanan, dan tangan kanan tidak sombong merasa lebih hebat dari tangan kiri.

 

Demikian juga dalam membangun silaturrahmi, ada masyarakat kiri, kelompok marginal, kelompok yang kurang mampu dalam ekonomi, dalam posisi, dalam ilmu , dalam status sosial dan lain sebagainya; dan juga ada kelompok kanan, kelompok yang sudah mapan. Kelompok yang kurang mampu harus dapat tidak perlu iri dengan kelompok yang sudah mapan, dan kelompok yang diatas jangan pula merasa lebih daripada kelompok yang dibawah. Semuanya memahami bahwa perbedaan status, perbedaan derajat adalah merupakan sunnatullah, hokum Allah dalam kehidupan, agar dengan demikian akan tercipta rasa sayang menyayangi, bantu membantu , sehingga tercipta rasa ukhuwah yang lebih erat. Perbedaan profesi, kedudukan, tingkat, keilmuan, ekonomi merupakan modal dalam mengadakan sinergy sehingga menjadi kekuatan bersama. Jika selama ini ada yang tersinggung, maka dengan syawal kita membangun kembali kekuatan yang telah pernah rusak, bina kembali rasa toleransi, maafkan yang telah berlalu, untuk membanun masa depan yang lebih cerah. Oleh sebab itu dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Abu Hurairah bertanya kepada Rasululah : Ya Rasulullah, perbuatan dan amal ibadah apakah yang paling baik..? rasulullah saw menjawab : “ Perbuatan yang paling baik adalah engkau menyambung silaturahmi dengan orang yang telah memutuskannya , engkau memberi maaf kepada orang yang berbuat dzalim kepadamu, dan engkau memberikan sesuatu (bantuan , hadiah ) kepada orang yang selama ini tidak mau memberikan sesuatupun kepada engkau “.

 

Renungkan bagaimana Rasulullah menyuruh kita untuk mengadakan silaturahmi bahkan kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan kita. Itu merupakan sesuatu kerja yang luar biasa, karena jika engkau mengadakan kontak kepada kawan itu biasa, tetapi jika engkau mengadakan kontak dengan musuh, lawan dan orang yang engkau benci maka itu sesuatu yang luar biasa. Menjaring silaturahmi dengan mereka berarti kita menambahkan potensi silaturahmi sehingga akan membangun sinergy kerja, yang tadinya tidak termasuk dalam hitungan, sekarang kita rangkul dan kita jadikan mitra dalam usaha. Inilah pribadi syawal. Pribadi yang menjalin dan membangun kerja sama dengan siapa saja, baik kawan, lawan, maupun yang lain“ care to friend, care to others, and care to enemy “.

 

Sewaktu Rasululah hijrah, beliau dikejar oleh Suraqah denghan pedang terhunus, tetapi setelah tiga kali berusaha untuk membunuh rasul, suraqah akhirnya terhempas di hadapan rasul ; tetapi di saat demikian, Rasul memberikan maaf dan hadiah kepada suraqah. Dalam kisah yang lain, ada seorang yahudi yang setiap hari membuang najis dari atas rumahnya ke atas kepala nabi yang sedang berjalan melalui rumahnya menuju masjid. Suatu hari si yahudi tadi tidak melakukan kerja rutinnya, membuang najis ke atas kepala nabi; sehingga nabi bertanya-tanya kemanakah si yahudi tersebut. Sahabat agak merasa heran mengapa nabi bertanya tentang orang yang selalu mengganggunya..? Akhirnya nabi menerima informasi bahwa si yahudi tadi sedang sakit, sehingga tidak mengganggu nabi. Mendengar dia sedang sakit, nabi segera datang menjenguk si yahudi tadi, dengan membawa makanan dan hadiah. Inilah pribadi rasulullah, dan akhirnya si yahudi tadi masuk islam setelah melihat keluhuran budi dan akhlak rasululah.

 

Demikian juga dengan Salahuddin Al Ayyubi, panglim pasukan Islam dalam perang Salib. Sewaktu beliau mendengar bahwa musuhnya , panglima pasukan kristiani Richard “ the lion heart “ sedang sakit, maka beliau segera datang menyamar sebagai dokter ke Jerussalem bukan untuk membunuh lawan perangnya tersebut tetapi untuk mengobati musuh yang sedang sakit sehinga sembuh. Inilah akhlak seorang muslim, akan selalu menolong yang lain walaupuin itu seorang musuh politik.

 

Bagaimana dengan akhlak manusia modern hari ini, yang kadang-kadang sebab perbedaan pandangan politik , perbedaan partai, perbedaan persepsi, maka semua disikat habis.. Tanpa sadar nilai-nilai silaturahmi dalam arti memaafkan mereka yang tidak sealiran dengan kita sudah mulai runtuh, kita hanya menjaring mereka yang sepaham dan sekelompok. Silaturahmi berubah menjadi fanatisme dan arogansi kelompok, karena kita hanya bersilaturahmi dengan satu kelompok kita saja, tanpa melihat yang lain. Padahal silaturahmi harus dilakukan dengan semua orang tanpa mengenal perbedaan, kelompok.

 

Pribadi syawal adalah pribadi membangun sinergy dengan semua orang baik itu kawan, lawan, saingan, musuh, sampai kepada orang yang pernah menganiaya kita , dengan cara memaafkan mereka, mengambil hikmah dari sikap mereka, membangun kerjasama dan potensi secara bersama dengan melihat kelebihan masing-masing, sehingga tercipta kerja yang berkualitas, sehingga tercipta komunitas yang berprestasi. Akibat daripada sikap hidup yang demikian, maka segala urusan akan menjadi mudah, dan rezeki akan bertambah, sebagaimana telah dinyatakan dalam sabda Rasulullah “ Barangsiapa yang berkeinginan agar umurnya dipanjangkan dan rezekinya dimudahkan maka henbdaklah dia menghubungkan silaturahmi “ ( hadi riwayat Bukhari dan Muslim ) . Sikap silaturahmi dengan membangun sinergy ini merupakan sikap “ Faizin “, sikap seorang pemenang, sikap orang yang meraih kemenangan. Tanpa sikap silaturahmi, maka mustahil akan tercipta peningkatan kualitas . Mari kita jadikan bulan syawal menjadi bulan untuk mendidik sikap hidup bersilaturahmi, dengan memaafkan mereka yang bersalah kemudian membina relasi, dengan meningkatkan sinergy dan potensi untuk meraih prestasi dan keridhaan Ilahi.

Fa'tabiru Ya Ulil albab

Arifin Ismail

Buletin

Share This