No. 1258 BULAN TADARUS DAN TADABBUR

today September 4, 2018 account_circle Arifin Ismail

Buletin Istaid no1.258 Ramadhan / juni 2017

BULAN TADARUS DAN TADABBUR

“ Dan Al Qur an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu dapat membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan “ ( Surah Al Isra /17 : 106 )

 

Bulan ramadhan ada;ah bulan tadarus al Quran. Sebenarnya membaca Al Quran disebut dengan nama  Tilawah; sedangkan membaca dengan mempelajari makna yang terkandung di dalamnya dinamakan dengan Tadarus, sebab kata-kata tadarus berasa dari kata-kata “daa ra sa” yang bermakna sama-sama mempelajari al Quran.  Hanya saja dalam masyarakat tadarus berarti membaca al Quran bersama-sama. Dalam Al Qur an dinyatakan : “ Dan aku ( Muhammad ) diperintahkan untuk membacakan  Al Qur an kepada manusia, maka barangsiapa yang dapat mengambil petunjuk daripadanya berarti dia telah mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka katakanlah  bahwa  sesungguhnya aku ini hanyalah orang yang memberi peringatan “( Surah An Naml / 27 : 92 ).

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw telah  bersabda : “ Sebaik-baik ibadah ummatku adalah membaca Al Qur an “ ( riwayat Abu Nuaim ). Dalam hadis lain disebutkan : “ Dan  tiadalah berkumpul sekumpulan manusia di dalam rumah-rumah Allah dimana mereka membaca ayat-ayat Allah dan mempelajari makna dan kandungan isinya ( bertadarus ) bersama-sama melainkan kepada mereka akan diturunkan ketenangan hati, dan mereka akan selalu diliputi oleh rahmah, dan dikelilingi oleh para malaikat; dan Allah akan selalu menyebut nama-nama mereka yang membaca dan bertadarus tersebut  di sisi-Nya”. ( riwayat Muslim )

 

Rasulullah juga sangat khawatir jika ummatnya  tidak mau membaca dan mempelajari kitab suci tersebut; sebagaimana dalam sebuah hadis dinyatakan : ‘ Wahai pemilik Al Qur an..! janganlah kalian jadikan Al Qur an sebagai bantal sandaran; tetapi bacalah Al Qur an itu dengan bacaan yang benar baik di tengah malam maupun di siang hari. Ajarkanlah ayat-ayat Al Quran tersebut dan perhatikanlah makna yang terkandung di dalamnya dengan sungguh-sungguh; mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan “ ( riwayat Baihaqy ).

Rasulullah saw  pada setiap bulan ramadhan selalu bertadarus Al Qur an dengan malaikat Jibril as; sebagaimana dinyatakan dalam hadis :“ Rasulullah saw adalah sebaik-baik manusia dan masa yang terbaik adalah di bulan ramadhan diwaktu beliau berjumpa dengan malaikat Jibril, dimana pada saat itu malaikat Jibril menjumpai beliau pada setiap malam bulan ramadhan untuk bertadarus Al Qur an “ ( riwayat Muttafaq alaihi ).

 

Membaca Al Qur an dapat dilakukandengan membaca tartil, membaca mujawad, atau membaca dengantadabbur. Membaca Tartil atau murattal  adalah membaca Al Qur an sesuai dengan kaedah ilmu tajwid yaitu ilmu cara membaca Al Qur an dengan benar .“ Dan Al Qur an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu dapat membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan “ ( Surah Al Isra /17 : 106 ) “ Dan bacalah Kitab Al Qur an itu dengan bacaan tartil  yaitu dibaca dengan bacaan yang baik dan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat “ ( Surat Al Muzammil / 73 : 4-5 ). Para sahabat rasul biasanya membaca Al Qur an dengan perlahan-lahan sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang sahabat rasul yang bernama  Ibnu Abbas  : “ Aku lebih suka membaca surah Al Baqarah dan surah Ali Imran secara perlahan-lahan daripada membaca Al Qur an dengan cepat dan terburu-buru "“

 

Membaca Al Qur an secara mujawwad adalah membaca Al Qur an dengan suara yang indah dan merdu sehingga dapat menggetarkan hati orang yang mendengar. Bacaan tersebut akan lebih terkesan jika Al Qur an itu dibaca dengan penuh penghayatan akan makna yang terkandung. Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Hiasilah Al Qur an dengan suara kamu  “ ( riwayat Abu Daud dan Nasai dan Ibnu Majah ).

 

Dalam sebuah riwayat juga dinyatakan bahwa pada suatu malam rasulullah saw menunggu isterinya Aisyah r.a.  yang terlambat pulang. Ketika Aisyah tiba rasulullah saw bertanya kepadanya : “ Apa kabar Aisyah..? Sayyidina Aisyah menjawab : “ Ya Rasulullah, adinda pulang terlambat pulang karena di tengah perjalanan tadi aku mendengarkan seseorang yang membacakan Al Qur an dengan suara  merdu yang belum pernah aku dengar sebelumnya “. Mendengar jawaban tersebut rasulullah segera berangkat pergi untuk mendengarkan bacaan Al qur an dengan suara yang merdu sebagaimana yang diceritakan oleh isteri beliau. Tak lama berselang, rasul kembali ke rumahnya dan berkata kepada isterinya ; “ wahai Aisyah, ketahuilah bahwa orang yang membaca Al Qur an dengan suara merdu tersebut adalah Salim, seorang budak. hamba sahaya dari Abu Hudzaifah.

 

Membaca Al Qur an dengan tadabbur adalah membaca Al Qur an dengan penuh penghayatan akan makna yang terkandung di dalamnya dan serta merta memberikan respon terhadap bacaan tersebut.  Diantara cara mengadakan respon terhadap ayat yang dibaca ialah seperti apabila seseorang membaca ayat – ayat yang berisikan perintah pujian kepada Allah, maka yang sedang membaca segera membacakan ucapan tahmid ( pujian ) kepadaNya. Sebagai contoh apabila kita membaca ayat :“ Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi “ ( Surah Al A’la : 1 ) maka sepatutnya setelah membaca ayat tersebut kita  segera   mengucapkan  tasbih   “ Subhaana Rabbika al A’laa ….. Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi “.

 

Apabila kita membaca  ayat yang menyeru untuk beristighfar memohon ampun kepada Allah seperti dalam ayat“ Maka bertasbihlah engkau dengan memuji tuhanmu dan beristighfar kepada Nya sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat “ ( Surah Al Nasr / 110 : 3 ) maka setelah selesai membaca ayat tersebut hendaklah kita langsung memohon ampunan dengan mengucapkan istighfar :  “ Astaghfirullaha al adzim “.“ Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Besar “. Apabila ayat yang sedang kitab baca menerangkan tentang nikmat kehidupan di dalam syurga, maka hendaklah kita membaca ayat tersebut dengan perasaan gembira dan memohon kepada Allah agar kenikmatan tersebut dapat dilimpahkan kepada kita yang sedang membaca. Apabila kita sedang membaca ayat yang menceritakan tentang siksa neraka, maka hendaklah kita segera membayangkan bagaimana pedihnya siksa tersebut, sehingga boleh jadi kita akan menangis sewaktu membaca ayat tersebut disebabkan rasa takut atas siksa yang pedih tersebut, dan segera memohon kepada Allah agar kita dilindungi dari azab yang pedih tersebut. Apabila kita membaca ayat yang menyeru kepada bershalawat kepada nabi sebagaimana dalam ayat“ Hai orang yang beriman, bershalawatlah kepadanya (nabi) dan ucapkanlah salam kepadanya  “ ( Surah Al Ahzab / 33 : 56 ) Pembaca setelah selesai membaca ayat tersebut sepatutnya segera membaca shalawat kepada nabi dengan ucapan  “ Ya Allah berikanlah shalawat kepada nabi Muhammad  beserta keluarganya dan sahabat - sahabatnya sekalian dan curahkanlah keselamatan atas mereka “. Apabila kita sedang membaca ayat yang memerintahkan kita untuk bersujud ( ayat sajadah ), maka setelah membaca ayat tersebut kita sepatutnya langsung bersujud kepada Allah swt. Sujud dilakukan sekali saja dan dalam ilmu fiqih sujud ini dinamakan dengan sujud tilawah.

 

Sebagai seorang muslim, tiada suatu kebahagiaan melainkan jika kita dapat membaca, bertadarus dan bertadabbur Al Qur an satu ayat demi satu ayat sampai kita dapat mengkhatamkannya. Tradisi mengkhatamkan Al Qur an dengan mempelajari isi kandungannya ini merupakan tradisi dan budaya para sahabat rasulullah dan masyarakat Islam terdahulu. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa rasulullah saw pernah menyuruh Abdullah bin Umar untuk bertadarus al Qur an sampai khatam sekali dalam seminggu. Cara mengkhatamkan sekali seminggu juga dilakukan oleh para sahabat lain seperti Usman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab; sehingga telah menjadi tradisi para sahabat untuk mengkhatamkan tadarus Al Qur an pada setiap hari Jum’at.  Khalifah Usman bin Affan mengkhatamkan tadarus Al Qur an dalam setiap minggu dengan jadwal sebagai berikut : Malam Jum’at memaca  Dari Surah Al Baqarah  sampai Surah Al  Maidah. Malam Sabtu        membaca surah Al An’am  sampai Surah Huud . Malam Ahad membaca  surah Yusuf sampai surah Maryam. Malam Senin membaca surah Thaha sampai surah Al Qashash. Malam Selasa  membaca Dari surah Al Ankabut sampai surah Shaad. Malam Rabu membaca  dari surah Az Zumar sampai surah ar Rahman. Malam Kamis membaca  dari surah al Waqiah sampai surah An Naas

 

Sedangkan sahabat rasul yang lain seperti Ibnu Mas’ud, mengkhatamkan Kitab suci Al Qur an juga dalam seminggu tetapi dengan urutan sebagai berikut. Hari pertama   membaca 3 surah   (  dari  Al Baqarah sampai An Nisa ). Hari kedua membaca 5 surah   (  dari surah al Maidah sampai  At Taubah ). Hari ketiga  membaca 7 surah   (  dari surah Yunus sampai An Nahl ). Hari keempat membaca 9 surah    ( dari surah  Al Isra sampai  Al Furqan ). Hari kelima  membaca 11 surah ( dari surah Asyuara sampai Yasin ). Hari keenam membaca 13 surah ( dari As-Shaffat sampai Al Hujuraat ) dan di Hari ketujuh  Membaca  sampai khatam ( dari surah Qaaf sampai An Naas ).. Ada juga diantara sahabat rasul yang mengkhatamkan tadarus Al qur an dalam dua atau tiga hari; dan juga ada yang mengkhatamkan bacaannya dalam tempoh satu bulan. Biasanya yang mengkhatamkan tadarus dalam waktu sebulan tersebut bukan hanya sekedar membaca tetapi lebih banyak membaca dengan menghayati  makna yang terkandung di dalamnya ( tadabbur ). Marilah kita mengisi ramadhan kita dengan tadarus dan tadabur al Quran, mengkhatamkan al Quran dengan tilawah, dan dapat menghafal serta memahami kandungan surah-surah yang kita pilih., sehingga ramadhan lebih bermakna. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

                

Buletin

Share This