No. 1255 Faktor Utama Kebangkitan Nasional

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Renungan Jumat ISTAID No. 1.255 | Sya’ban 1438 H | Mei 2017
Jumat, 12 Mei 2017

FAKTOR UTAMA KEBANGKITAN NASIONAL

“Dan barangsiapa yang berjihad di jalan Kami, maka Kami akan memberikan petunjuk dan jalan kepada mereka”. (QS. Al-Ankabut: 69)

Sejarah Indonesia mencatat bahwa pelopor kebangkitan bangsa adalah berdirinya organisasi Boedi Oetama yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta, sehingga setiap tanggal 20 Mei akan diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Pada awalnya Boedi Oetama adalah organisasi siswa STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) seperti Sekolah Kedokteran di Jakarta. Oleh sebab itu, Boedi Oetama pada pertama kali dipimpin oleh Soetomo, siswa sekolah STOVIA tersebut. Sebelumnya  telah berdiri organisasi Islam seperti Syarekat Dagang Islam yang berdiri pada tahun 16 Oktober 1905 di Solo dibawah pimpinan Haji Samanhudi (1868-1956) sebagai organisasi jaringan pedagang muslim, dan merupakan respon dari sistem Tanam Paksa yang diberlakukan oleh penjajah Belanda.

Pada tahun yang sama, di Jakata, berdiri organisasi Jamiat Khoir, organisasi orang-orang Arab yang berdiri pada 17 Juli 1905 di kawasan Tanah Abang, Jakarta yang memfokuskan pada pendidikan bangsa. Oleh sebab itu ada yang berpendapat bahwa organisasi Boedi Oetama didirikan sebagai sikap persaingan atas berdirinya organisasi Islam tersbeut, sebab menurut penulis sejarah Ahmad Mansur Surya Negara dalam buku Api Sejarah 2 menyatakan bahwa “Untuk mengantisipasi dan mengimbangi Jamiat Khair, maka atas inisiatif Bupati Serang, P. A. A. Achmad Djayadiningrat, dibangun sebuah organisasi imbangan yang juga berada di Batavia. Organisasi itu harus dipimpin oleh bangsaan karena anggota Jamiat Khoir juga terdiri dari bangsawan Jawa, antara lain Achmad Dahlan yang kelak mendirikan organiasi Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330, Senin Legi, 18 November 191. Adapun nama organisasi tandingan tersebut, harus sama dengan nama Jamiat Khair, maka untk itu dipilihlah nama Boedi Oetama, sebab nama ini adalah pengalihan nama dari bahasa Arab kepada bahasa Jawa. Jamiat Kair artinya adalah jamaah yang baik, maka Boedi Oetama juga bermakna Budi pekerti yang utama”. (Ahmad Mansyur, Api Sejarah, hal. 350)

Jika Syarikat Dagang Islam beranggotakan pedagang muslim dari seluruh daerah di Indonesia, dan jamiat Khair beranggotakan bangsaan Arab, maka pada awal berdirinya Boedi Oetama dikhususkan bagi keturunan bangsawan Jawa. Sejarah menctat bahwa pemimpin pertama Boedi Oetama adalah Dr. Soetomo, kemudian digantikan oleh Raden Adipati Tirtokoesomo, bupati Karang Anyar. Pada konges kedua di Jogya karta, Dr. Tjipto Mangoenkusumo mengusulkan agar keanggotaan dibuka untuk setiap orang ang lahir, hidup dan mati di tanah Hindia, tetapi usul tersebut ditolak oleh Dr.Radjiman, sehingga terkesan Boedi Oetomo merupakan organisasi eklusif dan terbatas.

Syarekat Dagang Islam kemudian berubah nama menjadi Syarekat Islam, sehingga keanggotaan tidak terbatas hanya kepada saudagar dan pedagang, tetapi kepada setiap orang. Pada Kongres Syarekat Islam tahun 1916 di Bandung bertempat di gedung Gedung Merdeka sekarang, maka anggota kongres pada waktu itu menuntut agar bangsa Indonesia memiliki pemerintahan sendiri, sedangkan menurut AK. Pringgadigdo dalam buku Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia menyatakan bahwa sampai kongres Boedi Oetomo tahun 1928 di Surakarta, masih tetap menolak keangotaan dari luar suku jawa, sehingga terkesan menolak persatuan Indonesia. Pada waktu itu, anggota Sarekat islam di tahun 1916 telah tercatat 360.000 orang yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia. Dari realitas sejarah diatas dapat dikatakan bahwa suara kebangkitan bangsa Indonesia sebenarnya disuarakan terlebih dahulu oleh organisai Islam seperti Syarekat Dagang Islam, Syarekat Islam, Jamiah Khair, dan organisasi Islam lainnya yang berdiri pada masa tersebut.

Oleh sebab itu, menurut pakar sejarah Indonesia, George Mc Turner Kahin dalam buku Nationalism and Revolution in Indonesia menyatakan bahwa factor utama kebangkitan Indonesia adalah factor agama Islam, sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk dan bangsa Indonesia. Malahan beliau menekankan bahwa terbentuknya integritas nasional dan tumbuhnya kesadaran nasional di Indonesia disebabkan oleh factor utama tersebut. Menurut beliau hal tersebut dapat terjadi disebabkan bebeapa hal, antara lain:

Pertama, terbentuknya kesatuan agama bangsa Indonesia. Agama islam dianut oleh 90% penduduk dan tidak hanya dianut oleh penduduk pulau Jawa tetapi juga oleh penduduk pulau-pulau di luar Jawa. Kesamaan keyakinan dan agama ini menjadi dasar terbentuknya solidaritas perlawanan terhadap pemerintahan Belanda yang menjajah bangsa.

Kedua, Islam tidak hanya sebagai agama yang mengajarkan perlunya membangun jamaah. Islam juga merupakan simbol perlawanan terhadap penjajahan asing Barat. Seperti yang telah dikemukakan oleh W. F. Wertheim, ketika terjadi penetrasi imperalis Katolik Portugis di Indonesia, yang mendorong raja-raja Hindu dan Budha pada waktu itu untuk masuk agama Islam, sebab kedatangan penjajah Portugis tersebut telah merusak tatanan kehidupan masyarakat Hindu dan Budha. Selanjutnya proses pengaruh Islam semakin kuat dan meluas ketika terjadinya pergantian penjajahan dari tangan Portugis yang beragama katholik kepada penjajah Belanda yang beragama kriten protestan.

Ketiga, factor lain yang mendorong terbentuknya integritas dan kesatuan bangsa adalah adanya perkembangan Bahasa Melayu yang berkembang menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia.Perubahan ini terjadi akibat kebijakan Penjajah Belanda dalam upaya penjajahannya denan menciptakan rasa rendah diri (inferiority) di kalangan umat Islam. George Kahin mengutip pendapat Bousquet yang mengatakan: “Kehendak yang sebenarnya dari Belanda adalah masih tetap berkeinginan untuk mempertahankan superioritas atas dasar kebodohan pribumi”. Selanjutnya Bousquet menambahkan bahwa guna menciptakan kondisi umat Islam tetap dalam kondisi rendah diri, sebelum terjadinya kebangkitan nasional, pemerintah colonial Belanda melarang umat Islam menggunakan bahasa Belanda. Akibatnya, umat Islam menjadikan bahasa Indonesia sebagai senjata kejiwaan yang sangat ampuh untuk mengekspresikan aprisiasi perjuangan nasionalnya.

Realiatas sejarah mencatat bahwa para ulama, santri, dan pemimpin organisasi Islam sejak abad ke 9 Masehi sampai abad 20 membangkitkan semangat bangsa untuk mengusir penjajah Belanda serta membangun pemerintahan sendiri. Pahlawan Bangsa meyoritas terdiri dari para ulama seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar Johan Pahlawan, Tengku Cik Ditiro, Imam Bonjol, dan lain sebagainya memimpin umat melawan penjajah sampai darah terakhir, dilanjutkan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam dari Syarikat Islam, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al Irsyad, Jamiah al Khair, Persatuan Islam, Matlaul Anwar, Al Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, semuanya mengarahkan umat kepada perlawanan terhadap penjajahan.  Semangat perlawanan dari para ulama, dan persatuan umat dan perjuangan pemerintahan sendiri terlepas dari penjajahan  yang diperjuangkan oleh organisasi islam ini merupakan faktor utama kebangkitan bangsa dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Hanya saja, pada waktu pemerintahan Indonesia dipegang oleh kabinet Hatta, dalam menghadapi pemberontakan kaum Marxist pada tahun 1946, pemerintah merasa perlu untuk menumbuhkan semangat kesadaran kembali sejarah perlawanan nasional melawan penjajah. Untuk tujuan tersebut, diperlukan penentuan tanggal awal dan organisasi apa yang mempelopori timbulnya gerakan kebangkitan nasional, dimana akhirnya dipilih organiasasi Boedi Oetomo yang pada sudah tidak berdiri lagi. Diputuskan Boedi Oetomo sebagai organisasi kebangkitan bangsa dan dijadikan tanggal berdirinya yaitu 20 Mei menjadi hari kebangkitan nasional, bukan organisasi Islam yang sudah berdiri sebelumnya. Ini disebabkan sikap deislamisasi terhadap gerakan Islam, padahal organisasi islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Jamiah Al Washliyah, lain sebagainya masih tetap berdiri, hidup dan berkembang hingga saat ini, mempengaruhi masyarakat dan berperan aktif dalam membangun bangsa dalam bidang pendidkan, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, keputusan kabinet Hatta tersebut merupakan tindak lanjut dari ditiadakannya tujuh kata dari sila pertama pada Piagam Jakarta sehingga cabinet Hatta merumuskan dalam penulisan sejarah Indonesia juga dikenakan sistem deislamisasi sejarah Indonesia, dimana akibatnya keputusannya bertentangan dengan fakta sejarah Boedi Oetomo itu sendiri. Sekali lagi, tidak mungkin kebangkitan nasional dipelopori oleh para pejabat seperti bupati yang memimpin organisasi Boedi Oetomo pada waktu itu karena organisasi gerakan kebangkitan nasional adalah bersifat kerakyatan dan anti penjahah. (Api Islam, hal. 376)

Malahan, organisasi Islam seperti Syarikat Islam menyadari kuatnya penjajah karena memiliki superitas militer. Sebaliknya ulama dan santri berada dalam posisi lemah karena tidak memiliki organisasi militer modern. Dengan menyertakan pemuda dalam sistem pertahanan yang dilaksanakan oleh pemerinah kolonial dalam menghadapi Perang Dunia, diharapkan nantinya mereka akan merebut kembali kedaulatan bangsa dan negara dari penjajah. Rencana tersebut baru berhasil pada masa pendudukan jepang dalam upaya memenangkan Perang Timur Raya dengan terbentuknya Tentera Pembela Tanah Air dan Laskar Hizbullah yang meruagkan cikal bakal Tentera Negara Indonesia. (Api Islam, hal. 395). Dari penjelasan diatas terlihat bahwa umat Islam merupakan faktor utama kebangkitan dan kemerdekaan bangsa.

Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This