No. 1252 Panduan Hidup dari Israk – Mi’raj

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Renungan Jumat ISTAID No. 1.252 | Rajab 1438 H | April 2017
Jumat, 21 April 2017

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya dari Majidil Haram ke Masjidil Aqsha”. (QS. al-Isra’: 1)

Peristiwa Israk Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab tahun kesebelas kenabian (622 M) yang terjadi dalam sejarah kehidupan Rasulullah merupakan peristiwa yang penuh dan sarat dengan makna serta pelajaran untuk kehidupan seorang muslim dalam  menjalankan kehidupan. Itulah sebabnya peristiwa tersebut selalu diperingati dan diingat sehingga dengan merayakan, memperingati peristiwa mukjizat kepada Rasulullah dapat menjadi panduan bagi kehidupan sebab di balik peristiwa tersebut banyak pelajaran dan hikmah serta contoh kehidupan yang dapat menjadi panduan muslim dalam mencapai kehidupan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Diantara makna kehidupan dan pengajaran serta panduan hidup yang dapat kita petik dari peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bukti kebenaran ajaran Islam

Israk dan Mi’raj adalah mukjjzat yang diberikan oleh Allah kepada rasulullah saw., untuk membuktikan bahwa semua yang disampaikan oleh RasulNya adalah suatu yang benar. Muhammad mengajarkan bahwa Tuhan itu Allah, dan keyakinan itu terbukti dengan perjumpaan beliau dengan Allah di malam yang mulia tersebut. Islam mengajarkan bahwa setiap muslim harus meyakini adanya malaikat, dan ini terbukti dimana Muhammad telah melihat, berjumpa, dan berkomunikasi dengan para malaikat. Islam mengajarkan adanya balasan surga bagi kebaikan dan balasan neraka bagi perbuatan buruk, dengan Israk Mi’raj Muhammad telah berkunjung ke tempat tersebut. Islam mengajarkan adanya tujuh langit, Sidratul Muntaha, Lauh Mahfudz, Arsy, tanda-tanda kekuasaan Allah. Itu semuanya telah dilihat oleh nabi Muhammad pada malam israk dan mi’raj. Berarti perjalanan isra mi’raj adalah membuktikan kebenaran ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan alam ghaib.

2. Pengakuan kebesaran Tuhan

Peristiwa israk dan mi’raj membuktikan bahwa manusia dengan kekuasaan Alah dan kebesaran dan pertolonganNya dapat melakukan sesuatu yang tidak mungkin, sebab Allah Maha Kuasa, sebagaimana perjalanan nabi Muhammad saw dari Makkah ke bumi palestina, dan naik ke langit ke tujuh dan kembali lagi hanya dilakukan dalam masa yang sangat singkat. Ini membuktikan kekuasaan dan kebesaran Allah yang dapat diberikan kepada manusia yang beriman kepadaNya. Tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah Taala, sebab Dia Memiliki segala kekuasaan dan alam semesta.

3. Tugas manusia sebagai khalifah Allah

Isra Mikraj adalah perjalanan di bumi dari Masjidil Haram ke Masjid al Aqsha, ini menggambarkan bahwa tugas manusia  sebagai khalifah di muka bumi. Muhammad berangkat dengan Bouraq dari  Masjid Haram (makna haram: suci) menuju Masjid al Aqsha (makna al aqsha: paling jauh). Dengan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjdil Aqsha di malam Israk Mi’raj merupakan simbol agar manusia khususnya umat Muhammad harus dapat bertugas sebagai khalifah di muka bumi dengan seorang muslim harus dapat menguasai dan mengatur dunia dari tempat dimana dia berpijak sampai tempat yang paling jauh di muka bumi.

4. Penguasaan sumber daya alam

Masjid al Aqsha  adalah tempat bumi nabi-nabi diantaranya adalah nabi Daud dan Sulaiman. nabi Daud mempunyai kepandaian dalam industri besi, dan menjadi raja di muka bumi, dan nabi Sulaiman, mempunyai kekayaan dan mempunyai kepandaian dalam komunikasi (bahasa). Baitul Maqdis adalah lambang kekuasaan dan kekayaan, sedangkan Masjidil Haram adalah lambang kesucian. Dengan isra mikraj berarti seorang muslim harus dapat menguasai dunia dan seluruh permukaan bumi sehingga mempunyai kekuasaan dan kekayaan sebagaimana nabi daud dan nabi Sulaiman, tetapi semuanya itu dilakukan dengan penuh kesucian dan untuk menghambakan diri kepada Allah subhana wataala.

5. Kesucian diri dan kekuatan iman, dan ilmu.

Sebelum nabi Muhammad  menaiki Bouraq, maka hati beliau dibasuh dan diisi dengan iman, ilmu, dan hikmah. Peristiwa ini memberikan pelajaran kepada umat Muhammad harus mengisi dirinya dengan iman, ilmu, dan hikmah sebelum melakukan ikhtiar untuk menguasai dunia, sebab  penyucian hati yang diisi dengan iman, ilmu, dan hikmah inilah manusia dapat membawa dunia ini untuk berjalan menuju tuhan, inilah keberhasilan manusia muslim dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah. Manusia yang menguasai teknologi, tetapi tanpa iman, ilmu, dan hikmah, maka manusia akan dikuasai oleh hawa nafsu dan lain sebagainya.

6. Memilih yang terbaik

Setelah disisi dengan iman, nabi diberi pilihan apakah minum arak atau susu, dan nabi memilih susu. Ini menggambarkan jika manusia telah diberi iman, dibersihkan hatinya, maka dia akan memilih sesuatu yang baik untuk keperluan hidupnya, baik makanan, minuman, pakaian, dan lain sebaginya. Tetapi jika tidak ada ilmu, dan tiada iman maka manusia akan memilih yang enak bukan yang fitrah (suci), sebab dia akan memilih karena hawa nafsu, karena kesenangan bukan karena iman.

7. Penguasaan teknologi

Setelah nabi pandai memilih dan bersih hatinya, maka nabi naik kenderaan Bouraq menuju ke Baitul Maqdis. Bouraq adalah kenderaan untuk suatu perjalanan, berarti Bouraq adalah lambang teknologi, alat untuk menguasai dunia, media  khalifah Allah. Untuk berjalan yang jauh diperlukan kenderaan yang cepat seperti kilat (makna bouraq adalah kilat) dan untuk naik ke langit diperlukan tangga, maka nabi naik dengan mi’raj (secara bahasa mi’raj berarti tangga). Penguasaan alam, penjelajahan bumi, tidak mungkin tercapai tanpa dengan memakai alat sebab itu merupakan sunnatullah. Kejayaan di atas bumi dengan alat dan teknologi, dan kejayaan akhirat juga dengan amal ibadah, seperti shalat maka shalat adalah mikraj bagi seorang mukmin, tetapi untuk shalat diperlukan pakaian dan lain sebagainya, maka bagi seorang muslim wajib menguasai industri konveksi, untuk haji diperlukan menguasai industri transfortasi. Oleh sebab itu masyarakat muslim wajib mengasai sain dan teknologi untuk membiktikan diri sebagai khalfah Allah.

8. Memimpin dalam segala bidang

Dalam israk mi”raj nabi Muhammad diangkat sebagai imam shalat dengan seluruh nabi yang lain menjadi makmum, sebab Muhammad adalah pemimpin semua rasul (sayyidul mursalin). Peristiwa ini menggambarkan bahwa seorang muslim sepatutnya dengan israk mi’raj dapat menjadi pemimpin dalam segala bidang profesi, pemimpin segala zaman, dan pemimpin dunia akhirat. Seorang muslim harus dapat membuktikan dirinya lebih baik dan lebih cemerlang dari baik dalam bidang spiritual, imam dalam ekonomi, imam dalam ilmu pengetahuan, imam dalam teknologi, imam dalam seluruh bidang kehidupan, sebab seorang muslim adalah imam (pemimpin) bagi masyarakat dunia.

9. Menjalin Silaturahmi dan Komunikasi

Dalam Israk Mi’raj nabi Muhammad berjumpa dengan nabi-nabi yang lain seperti nabi Adam, Isa, Yahya, Idris, Yusuf, Harun, Musa, Ibrahim. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk tetap menjalin kemunikasi dan silaturahmi dengan semua orang. Walaupun nabi Muhammad menjadi imam dan penghulu semua nabi, tetapi dia tetap menghargai nabi-nabi yang lain, dan tetap berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan mereka semua.

10. Konsultasi dengan yang berpengalaman.

Nabi Muhammad setelah menerima perintah shalat berkonsultasi dengan nabi Musa sebab nabi Musa lebih dahulu berpengalaman dengan umatnya, dan nabi Muhammad menerima nasehat dari nabi Musa. Beliau tidak berkomunikasi dengan nabi Ibrahim yang berada di langit ke tujuh tetapi dengan nabi Musa sebab nabi Musa lebih berpengalaman dalam menghadapi berpengalaman umat Bani Israel yang terkenal dengan sikap susah diatur. Ini merupakan pengajaran bagi setiap muslim yang mempunyai pengalaman untuk memberikan nasehat kepada orang lain, dan juga pengajaran bagi setiap pemimpin untuk menerima nasehat dari orang yang berpengalaman sebagaimana Nabi Muhammad walaupun dia sayidul mursalin, tetapi masih menerima nasehat dari nabi Musa sebab Nabi Musa sudah lebih berpengalaman dalam memimpin masyarakatnya.

11. Kebahagian bagi mereka yang berbuat baik

Dalam perjalanan israk mi’raj nabi Muhammad diperlihatkan ganjaran orang yang berbuat baik seperti pahala bagi orang yang jihad di jalan Allah yang digambarkan bahwa orang yang berbuat baik akan mendapat balasan yang berlipat ganda yang digambarkan dengan mendapat hasil tanaman berulang kali. Gambaran ini memberikan keyakinan bahwa orang yang berbuat baik di dunia pasti akan mendapatkan balasan pahala dan kebahagian berlipat ganda di akhirat.

12. Kesengsaraan bagi mereka yang berbuat keji

Dalam isra mikraj juga digambarkan bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan akan mendapatkan siksaan atas perbuatan yang dilakukannya, baik perbuatan yang berkaitan dengan ritual ibadah, seperti meninggalkan shalat, tidak berzakat, berzina, maupun dalam kejahatan dalam bidang sosial, seperti memfitnah, mencaci, menghina, sombong, dan lain sebagainya. Siksaan itu bukan khayalan tetapi suatu kepastian sebab semuanya telah disaksikan oleh Rasulullah dalam Israk Mi’raj yang dilakukannya.

13. Tidak terpengaruh dengan godaan.

Dalam peristiwa isra mikraj juga dapat diambil pelajaran bahwa orang yang berjaya di dunia dan di akhirat adalah mereka yang dapat mudah terpengaruh dengan segala bentuk godaan keimanan dan godaan nafsu keduniaan, sebagaimana digambarkan bagaimana nabi Muhammad dalam perjalanan Israk dan Mi’raj, beliau  tidak terpengaruh oleh panggilan dan seruan baik dari sebelah kiri dan sebelah kanan, dan juga dari panggilan perempuan yang cantik di depannya, tetapi nabi terus berjalan menuju tujuan yaitu Masjid al Aqsha. Jibril berkata bahwa pangilan kanan dan kiri itulah panggilan dari nasrani dan yahudi, dan ppanggilan perempuan itu merupakan godaan dunia. Seorang muslim harus waspada dalam perjalanan hidup menuju Allah sebab dia akan mendapat panggilan dan godaan dari kakan, kiri dan hadapan, baik godaan keimanan maupun godaan dunia.

14. Menjadikan shalat sebagai inti kehidupan.

Dalam isra mikraj nabi diwajibkan shalat dalam sehari semalam, sehingga segala kesibukan dunia, harus dapat ditujukan hanya untuk  ibadah kepada Allah, sebab itu shalat diwajibkandari pagi sampai malam dalam waktu yang berlainan, sehingga setiap saat manusia harus tetap berhubungan, berkonsultasi, memnita perlindungan, petunjuk daripada Allah. Kesibukan kerja, kehidupan dunia, tidak boleh melupoakan kewajiban kepada Allah, dan seluruh kekuasaan, kekayaan, harus dapat dapat menjadui ibadah kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh nabi Daud, walaupun dia menguasai dunia dengan teknologi besi, tetapi beliau meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah subhana wataala. Dengan shalat, maka manusia akan mencapai derajat tertinggi, sebagaimana disebutkan oleh hadis nabi “shalat itu adalah mikraj bagi seorang mukmin”. Semoga kita dapat mengaplikasikan pengajaran dari Israk Mi’raj ini dalam kehidupan sehari-hari dimasa-masa mendatang.

Fa’tabiru Ya ulil albab.

Buletin

Share This