No. 1251 Dzikir dan Godaan Kehidupan

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Renungan Jumat ISTAID No. 1.251 | Rajab 1438 H | April 2017
Jumat, 14 April 2017

DZIKIR DAN GODAAN KEHIDUPAN

“Sesungguhnya mengingat Allah itu akan memberi manfaat yang besar”.
(QS. Al-Ankabut: 45)

Dalam menghadapi tantangan kehidupan, seorang manusia memerlukan kekuatan, karena manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Kekuatan yang paling utama adalah kekuatan dari Dzat yang memiliki segala kekuatan, kekuatan dari pencipta, pemilik dan pengatur segala kehidupan, Allah swt. Salah satu cara untuk mendapatkan kekuatan tersebut adalah selalu mengingat Dzat Yang Maha Kuasa tersebut, dan cara untuk mengingat Allah itu disebut dengan istilah “Dzikir”. Dalam al-Quran dinyatakan bahwa dzikir itu adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah: “Maka ingatlah Aku (Allah), supaya Aku ingat kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 152). Dalam ayat lain disebutkan bahwa kita boleh melakukan dzikir sebanyak-banyaknya: “Ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya”(QS. Al-Ahzab: 41), sebab dzikir itu akan memberi manfaat kepada kehidupan manusia “Sesungguhnya mengingat Allah itu akan memberi  manfaat yang sangat besar” (QS. Al-Ankabut: 45). Oleh sebab itu kita dibolehkan membaca dzikir dalam keadaan apapun juga “Orang-orang yang berdzikir kepada Allah baik ketika berdiri, ketika duduk, dan ketika berbaring” (QS. Ali-Imran: 191). “Apabila kamu telah selesai mendirikan shalat, maka ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring” (QS. An-Nisa: 103). Sahabat Nabi (Ibnu Abbas) berkata: “Ingatlah Allah, pada malam hari, pada siang hari, di darat dan di laut, dalam perjalanan atau sedang berada di tempat tinggal, waktu kaya atau miskin, waktu sakit atau sehat, secara berbisik atau terang-terangan.

Harian Umum Republika perna memberitakan bahwa seorang dokter spesialis saraf dari rumah sakit Satyanegara, Sunter, Arman Yurisaldi Saleh, mengungkapkan bahwa dzikir itu mampu menyehatkan saraf. Hal itu terbukti setelah ia melakukan penelitian terhadap pasien-pasien yang ia tangani. Ternyata pasien yang suka berdzikir mengalami perbaikan lebih cepat dibandingkan pasien yang tidak suka berzikir. Misalnya, beberapa pasien yang mengalami gangguan saraf, seperti penderita alzheimer dan stroke, akan membaik kondisinya setelah membiasakan dzikir dengan mengucapkan kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” dan kalimat istigfar “astaghfirullah”. Menurutnya, setelah ditinjau dari sudut ilmu kedokteran kontemporer, pengucapan lafadz dzikir seperti dzikir dengan mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah ( Tiada Tuhan selain Allah )”  dan dzikr dengan lafadz “astaghfirullah” itu dapat menghilangkan nyeri dan bisa menumbuhkan ketenangan serta kestabilan saraf bagi penderita. Sebab, dalam kedua bacaan dzikir tersebut terdapat huruf jahr yang dapat mengeluarkan CO2 dari otak. Dokter Arman menemukan bahwa dalam kalimat “laa ilaaha illallah” itu terdapat huruf “jahr” (yang dibacakan dengan jelas) yang diulang tujuh kali, yaitu huruf lam, dan astaghfirullah terdapat huruf “ghayn”, huruf “ra”, dan dua buah huruf “lam” sehingga ada empat huruf “jahr” yang harus dilafalkan keras sehingga kalimat dzikir tersebut akan mengeluarkan karbondioksida lebih banyak saat udara diembuskan keluar mulut. Dan CO2 yang dikeluarkan oleh tubuh tidak memengaruhi perubahan diameter pembuluh darah dalam otak. Sebab, bila proses pengeluaran CO2 kacau, maka CO2 yang ke luar juga kacau sehingga menyebabkan pembuluh darah di otak akan melebar berlebihan ketika kadar CO2 di dalam otak menurun. Sehingga, menurut beliau, bahwa lafadz dzikir itu jika dilihat dari tinjauan ilmu saraf, terdapat hubungan yang erat antara pelafalan huruf (makharij al-huruf) pada bacaan dzikir dengan aliran darah pernapasan ke luar yang mengandung zat CO2 (karbondiokida) dan proses yang rumit di dalam otak pada kondisi fisik atau psikis seseorang.

Menurut beliau,  efek dan akibat dari seseorang yang melakukan zikir secara intens dan khusyuk seraya memahami artinya, maka pembuluh darah di otak akan membuat aliran karbondioksida yang ke luar dari pernapasan menjadi lebih banyak. Kadar karbondioksida dalam otak pun akan turun secara teratur. Dengan begitu tubuh akan segera menunjukkan kemampuan refleks kompensasi. ‘‘Saya sering menyaksikan terjadinya perubahan yang cukup besar ke arah penyembuhan pada pasien-pasien yang terbiasa berdzikir dengan khusuk dibanding pasien yang tidak pernah berdzikir meskipun keduanya memiliki gejala penyakit yang sama”, ungkap dokter Arman. “Sebagai seorang dokter spesialis saraf, nyaris setiap hari saya bertemu dengan pasien mengeluhkan rasa nyeri atau sakit di kepalanya, atau keluhan-keluhan lain yang berhubungan dengan gangguan jaringan saraf”, lanjutnya. (Republika/17 Juli 2010)

Dzikir dapat dilakukan secara personal maupun berkelompok, sebagaimana sabda Rasulullah sallahu alaihi wasallam: “Tidaklah suatu kaum duduk pada suatu majlis, dimana mereka berdzikir kepada Allah Taala, melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat, diliputi oleh rahmat dan disebutkan mereka oleh Allah Taala dalam golonga yang ada dalam hadhiratNya” (Hadits sahih riwayat muslim dari Abu Hurairah). Abu Hurairah masuk ke sebah pasar dan melihat manusia semuanya sibuk denga kegiatan jual beli, kemudian dia berkata: “Saya melihat sibuk dengan aktviti masing-masing, sedang pusaka rasulullah sedang dibagi-bagikan di masjid”. Mendegar itu semua bergerak ke masjid, ternyata di sana mereka hanya melihat sekumpuan orang berdzikir, maka mereka bertanya kepada Abu Hurairah: Wahai Abu Hurairah, kami tidak melihat ada harta yang dibagi-bagikan di masjid in  Abu Hrairah menjawab: “Apa yang kamu lihat disana?”, Mereka menjawab: “Kami hanya melihat majlis dzikir dan membaca serta mempelajari al Quran”. Abu Hrairah menjawab: “Itulah Pusaka Rasulullah”.

Dzikir kepada Allah tersebut dapat dilakukan dengan mengucapkan lafadz dzikir seperti lafadz “Laa Ilaaha Illallah”, Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, dan lain sebagainya. Dengan mengucapkan lafadz, lafadz tersebut, maka pikiran kita seharusnya langsung akan mengingat Allah, baik mengingat Allah dalam arti mengingat bahwa Allah itu adalah Tuhan Yang Memiliki segala kekuasaan di bumi dan di langit, mengingat segala sifat-sifatNya, seperti sifat Rahman, sifat Qadir, dan lain sebagainya. Jika kita sedang dalam keadaan lemah, maka segera kita berdzikir, dengan lafadz tersebut memberi kita keyakinan bahwa segala  kekuatan itu hanya ada pada Allah. Pada waktu kita dalam keadaan sakit, maka kita berdzikir kepada Allah, dan dengan ucapan dzikir yang kita lakukan tersebut, kita akan meyakini bahwa segala sesuatu datang dari Allah, sehingga Allah dapat memberi kesehatan dan kesembuhan akan penyakit yang kita derita, dan penderitaan itu jika dihadapi dengan penuh kesabaran, yang merupakan amal ibadah yang nilainya tiada terhingga.

Dzikir juga dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan manusia, sehingga jika seseorang itu berdzikir kepada Allah, maka dia akan segera ingat bahwa Allah itu memiliki petunjuk baik itu berupa perintah dan larangan. Sewaktu seseorang itu diberi kesempatan dan peluang untuk melakukan korupsi, atau jika seseorang datang kepadanya untuk melakukan penyuapan atas suatu perkara, maka seharusnya seorang muslim harus segera berdzikir dengan lafaz dzikir, yang diikuti oleh pikiran mengingat Allah telah melarang untuk menerima uang suap, dan juga mengingat bahwa jika dia menerima suapan tersebut maka di alam akhirat nanti telah menunggu siksaan yang sangat berat, dengan mengingat peringatan Allah tersebut, maka dia segera mencegah dirinya dari memakai peluang atau kesempatan atau tawaran untuk berkorupsi. Inilah berdzikir yang dapat mencegah manusia dari perbuatan yang terlarang.

Godaan dunia seperti tawaran dan peluang berbuat dosa itu juga dapat terjadi kepada kelompok masyarakat, seperti godaan uang kepada suatu jamaah, lembaga swadaya masyarakat, partai, golongan dan lain sebagainya. Jika hal ini terjadi kepada kelompok, maka segera pimpinan kelompok, partai dan jamaah tersebut untuk berdzikir secara jamaah dan kelompok, menyadari bahwa segala bentuk pemberian yang menyimpang dari tujuan kemaslahatan umat, dan mementingkan nafsu dunia dan berakibat dapat membahayakan umat Islam, itu semua merupakan godaan kepada jamaah dan kelompk tertentu, sehingga diperlukan dzikir berjamaah sehingga umat terselamat daripada segala bentuk permainan setan dalam menghancurkan akidah dan persatuan umat. Jika segenap pengurus dan pimpinan segera berzikir mengingat Allah yang diaplikasikan dalam sikap politik, dan lain sebagainya, maka umat akan selamat, dan rahmat Allah akan datang. Tetapi jika seandinya pimpinan organisasi itu lupa daripada mengingat Allah.

Pada akhir-akhr ini sangat banyak bentuk godaan dunia baik kepada individu dan jamaah, kepada personal maupun kepada pengurus organisasi dan kelompok, oleh sebab itu pada saat sekarang ini sangat memerlukan kekuatan dzikir kepada Allah baik secara personal apalagi secara berjamaah dan kelompok, sebab sikap dzikir inilah yang akan memberikan ketenangan dan kebahagaian dalam hidup secara individu, maupun secara berjamaah, sehingga individu dan organiasi terhindar dari segala macam bentuk dan pengaruh yang dapat menghancurkan individu muslim dan umat. Semoga kita berdzikir kepada Allah baik secara individu maupun jamaah, baik dengan dzikir lisan, atau dzkir pemikiran, dan fdzikir perbuatan.

Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This