No. 1245 Kunjungan dan Memuliakan Tamu

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Renungan Jumat ISTAID No. 1.245 | Jumadil-Akhir 1438 H | Maret 2017
Jumat, 3 Maret 2017

KUNJUNGAN DAN MEMULIAKAN TAMU

“Dan peliharalah hubungan silaturrahim”. (QS. An-Nisa: 1)

Dalam ajaran agama Islam, berkunjung dan bertamu itu adalah merupakan amal ibadah. Rasulullah bersabda dalam hadits: “Jika seseorang itu mendatangi kawan atau saudaranya yang lain, maka sesungguhnya Allah akan mengutus malaikat yang akan bertanya kepadanya: Hendak kemana engkau berjalan?, Orang itu berkata: Saya akan berkunjung ke rumah saudaraku si fulan, Malaikat bertanya lagi: Apakah kunjungan engkau itu karena sesuatu nikmat yang akan engkau dapatkan?, Orang itu menjawab: Tidak, aku berkunjung hanya karena aku mencintainya karena Allah (Karena Allah memerintahkan hambaNya untuk saling berkunjung dan bersilaturahmi), Mendengar jawaban itu, malaikat akan berkata: Aku ini adalah malaikat utusan Allah yang bertugas untuk menyampaikan pesan Allah kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana kecintaan kamu kepada saudaramu tersebut” (Hadits riwayat Muslim). Dari hadits ini terlihat bahwa kunjungan yang dilakukan dengan niat karena Allah akan mendapatkan kecintaan Allah.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa kunjungan kepada orang lain itu merupakan cara untuk mendapatkan surga, sebagaimana dinyatakan dalam hadits: “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit, atau berkunjung ke tempat seseorang dengan niat karena Allah, maka dia akan diseru oleh penyeru dari langit: “Berbuat baiklah dalam kunjunganmu tersebut, dan berjalanlah dengan penuh kebaikan, nanti engkau akan disediakan tempat di dalam surga”. (Hadis Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain juga disebutkan: “Nanti di surga ada kamar-kamar dimana orang yang di dalam kamar itu akan nampak apa yang ada di luar kamar, dan orang yang diluar kamar juga akan nampak apa saja yang ada di dalam kamar, kamar itu hanya disediakan khusus bagi orang yang saling mencintai saudara  muslim yang lain, dan muslim yang selalu berkunjung ke rumah yang lain, dan muslim yang selalu membantu finansial kepada orang lain”. (Riwayat Thabrani)

Sahabat nabi, Abu Ruzain al Uqaily berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Wahai Abu Ruzain, sesungguhnya seorang Muslim itu jika berkunjung dan bersilaturahmi kepada seseorang, maka dia akan diringi oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang terus berdoa: Ya Allah, sebagaimana dia berkunjung untuk menghubungkan silaturahmi dengan niat karena Engkau, maka sambungkanlah orang itu dengan Dzat-Mu yang Maha Mulia” (Riwayat Thabrani). Shafwan bin Adi al Murady bertanya  kepada  Zurri ubnu Hubaisy yang sedang duduk-duduk bersama kawan-kawannya sesama sahabat: Apakah kalian suka berkunjung dan silaturahmi kepada yang lain?. Mereka menjawab: Ya, kami suka berkunjung kepada yang lain. Shafwan menjawab: Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berkunjung kepada saudaranya, maka dia itu berada di dalam rahmat Allah selama kunjungan itu berlangsung, dan barangsiapa yang mengunjungi saudaranya yang sakit, maka dia itu berada di dalam taman-taman syurga sampai dia kembali dari kunjungan tersebut”. (Riwayat Thabrani)

Abdullah ibnu Mas’ud berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Apakah kalian suka duduk-duduk berkumpul bicara kosong?”. Mereka menjawab: “Tidak, kami telah meninggalkan perbuatan tersebut”. Ibnu Masud bertanya lagi: “Apakah kalian suka saling kunjung mengunjungi sesama yang lain?”. Mereka menjawab: “Ya, kami suka melakukannya, malahan kami selalu akan mencari saudara kami, dan berkunjung ke tempatnya, kalau perlu sampai ke kota Kufah sampai kami berjumpa dengannya”. Ibnu Mas’ud berkata: “Kamu semua akan tetap di dalam kebaikan, jika kamu masih melakukan perbuatan tersbut”. (Riwayat Thabrani)

Bagi yang berkunjung akan mendapat pahala dan kebaikan, demikian juga bagi orang yang dikunjungi akan mendapat pahala dengan penyambutan dan pemuliaan tamu, sebab menerima, melayan, dan memuliakan tamu merupakan kewajiban seorang muslim. Dalam hadis sahih dinyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah dia itu memuliakan tamu” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Menghormati tamu itu merupakan adab dan kewajban walau kepada non-muslim. Abu Qatadah berkata bahwa telah datang utusan Negus, raja Habasyah (Ethiopia) ingin menjumpai Rasulullah, maka Rasul sendiri segera bangun untuk mengurus kedatangan utusan raja tersebut. Sahabat-sahabat nabi yang melihat keadaan tersebut berkata: “Wahai Rasulullah, engkau tidak perlu mengurusnya, biar kami saja yang akan mengurus kedatangan tamu ini”. Rasulullah segera menjawab: “Tidak, mereka itu dahulu telah memuliakan sahabat-sahabatku sewaktu sahabatku berhijrah ke negeri mereka, maka sekarang aku ingin membalas budi baik mereka itu”.

Majlis pertemuan antara tamu dan tuan rumah itu merupakan majlis yang penuh dengan keberkatan sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari ummu Salmah, istri nabi menceritakan bahwa Rasulullah pernah berkata kepadanya: “Rancang dan atur  majlis pertemuan dengan  baik, sebab majlis pertemuan dengan tamu itu akan diturunkan malaikat yang tidak pernah turun pada acara yang lain di muka bumi ini” (Hadis riwayat Ahmad ). Mengatur majlis pertemuan juga merupakan cara untuk menghormat tamu yang datang ke rumah, dan sikap memuliakan tamu  itu merupakan kewajiban seorang muslim.

Islam adalah agama keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial, sehingga sewaktu Nabi mendengar ada seorang sahabat bernama Abdullah bin Umar terlalu sibuk ibadah di malam hari malahan sepanjang malam, juga sibuk berpuasa sunat sehinga kurang bergaul dengan masyarakat, dan beraktifitas sosial lainnya, maka Rasulullah segera menegurnya untuk melakukan ibadah tapi jangan meningalkan kewahjiban sosial lainnya. Abdullah bin Umar bercerita bahwa pada suatu hari Rasulullah berkunjung ke rumahnya dan bersabda: “Saya diberitahu bahwa engkau itu setiap hari terlalu sibuk dengan ibadah shalat tahajjud di tengah malam, dan sibuk dengan  puasa sunat di siang hari”. Abdullah bin Umar menjawab: “Benar Ya Rasulullah”. Rasulullah bersabda : “Jangan engkau berbuat demikian, terlalu sibuk dengan ibadah sehinga menginggalkan kegiatan sosial yang lain, tetapi lakukanlah shalat tahajjud di malam hari, dan tidurlah untuk istirahat badan; berpuasa sunat di siang hari, dan juga tidak melakukannya jika ada keperluan yang lain, karena sesungguhnya engkau mempunya kewajiban yuntuk menjaga badan engkau, ada kewajiban kepada mata engkau untuk tidur, ada kewajiban kepada istri engkau, da nada kewajian kepada tamu yang datang berkunjung ke rumah engkau”.  (Riwayat Muslim)

Oleh sebab itu, agama Islam menyarankan agar dalam membuat dan membangun  rumah, selain membuat kamar-kamar untuk keluarga,  juga sunat dipersiapkan kamar untuk tamu, sebagaimana dinyatakan dalam hadits nabi: “Satu tempat tidur bagi lelaki, satu tempat tidur bagi wanita, satu tempat tidur bagi tamu,  dan jangan sampai ada kamar bagi syetan (jika kamar dibuat tapi kosong tidak berguna)”. (Hadits Riwayat Muslim)

Melayani tamu itu juga wajib, sebagaimana dinyatakan: “Melayani tamu yang datang itu merupakan suatu kewajiban, dan kewajiban melayani itu selama tiga hari, lebih dari tiga hari itu menjadi sedekah” (Hadits Bukhari). Maksudnya jika tamu itu datang maka wajib melayani tamu paling tidak sampai 3 hari, jika tamu itu tidak dilayani selama tiga hari itu, maka tuan rumah itu berdosa, tetapi jika setelah tiga hari, tidak di layani, itu merupakan suatu dosa, sebaliknya jika tamu tetap dilayani lebih dari tiga hari, maka itu merupakan nilai keutamaan, dan pahalanya lebih tinggi, sebagaimana pahala sedekah yang lebih tinggi daripada pahala melakuan perkara wajib, sebab suatu yang wajib jika tidak dilakukan berdosa, sedangkan suatu yang sunat jika tidak dilakukan tidak mengapa.

Seluruh aktivitas dalam melayani tamu akan dinilai ibadah dan pahala, menyambut kedatangan, dan menyuguhkan makanan dan hidangan, sebagaimana dinyatakan dalam hadits: “Kebaikan itu akan datang kepada rumah yang datang tamu berkunjung dan disuguhkan makanan” (Hadis Riwayat Ibnu Majah). Dalam hadits yang lain: “Malaikat akan tetap berdoa selama hidangan masih terhidang di atas meja untuk menghormati tamu” (Riwayat Thabrani).  Diantara adab pelayanan kepada tamu, adalah mengantarkan tamu sampai ke pintu atau pagar rumahnya jika tamu akan kembali, sebagaimana sabda Rasul: “Diantara amalan sunat bagi orang yang mempunyai tamu, adalah mengantarkan tamu sampai ke pintu rumah”. (Hadits Riwayat Ibnu Majah)

Menghormati tamu kewajiban seorang Muslim kepada siapapun yang datang ke rumahnya baik itu Muslim atau bukan Muslim, sebagaimana nabi menghormati tamu seorang Yahudi yang datang berkunjung ke rumah kediaman beliau. Pada waktu itu, di rumah nabi tidak ada sesuatu apapun yang dapat disajikan untuk menghormati tamu, maka Nabi berkata kepada Rafi pembantunya: “Telah datang tamu seorang Yahudi ke rumah, maka pergilah engkau ke tetangga sebelah yang juga orang Yahudi, dan katakana kepadanya bahwa aku pinjam sedikit tepung gandum sebab ada tamu di rumah, dan aku akan bayar tepung itu nnti di bulan rajab. Pergilah pembantu nabi ke tetanng sebelah, dan Yahudi jiran berkata: “Aku tidak meminjamkannya kecuali dengan jaminan barang”. Pembantu kembali kepada nabi menceritakan bahwa Yahudi jiran meminta jaminan atas penjaman tersebut. Nabi menjawab: “Ambillah baju besi yang aku punya itu dan gadaikan baju besi itu kepadanya”. Demikian sikap nabi untuk menghormati dan melayani tamu, walaupun sampai menggadaikan baju besinya.

Semoga kunjungan Raja Salman ke negara kita dan penerimaan kita kepada kedatangannya, menjadi ibadah dan dapat mempererat persaudaraan umat.

Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This