No 1240 Akar Sejarah Merah Putih

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Renungan Jumat ISTAID No. 1.240 | Rabi’ul-Akhir 1438 H | Januari 2017
Jumat, 27 Januari 2017

AKAR SEJARAH MERAH PUTIH

“Seandainya mereka beriman dan bertaqwa maka mereka pasti mendapat pahala dari sisi Allah jika mereka mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 103)

Setiap bangsa memiliki bendera yang merupakan tanda dan identitas bangsa. Bendera adalah sepotong kain yang kerap dikibarkan di tiang, pada umumnya digunakan sebagai simbolis dengan maksud memberikan sinyal ataupun identifikasi. Hal tersebut paling sering digunakan untuk melambangkan suatu negara untuk menunjukkan kedaulatannya. Hal yang sama seperti yang diterapkan pada negara Indonesia yang memiliki bendera berwarna merah-putih. Dalam UUD 1945, Bab I, pasal I, telah ditetapkan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Dalam penetapan UUD 1945 pasal 35 menyatakan bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Dengan demikian, sejak ditetapkannya UUD tersebut, Sangsaka Merah Putih merupakan bendera dari negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk pertama kalinya Bendera pusaka ini dijahit oleh Ibu Fatmawati yang merupakan salah seorang istri dari Presiden Soekarno, dengan ukuran 276 x 200 cm. Bendera ini berbahan dari katun Jepang, namun ada pula yang mengatakan terbuat dari kain woll asal London yang saat itu memang khusus dibuat untuk bendera–bendera Negara di dunia karena terkenal dengan kualitasnya yang tahan lama. Sang Merah Putih dalam catatan sejarah dinyatakan pertama kali dikibarkan resmi pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat. Sejak itulah Sang Dwiwarma kita menjadi bendera kebanggaan bangsa Indonesia yang diakui dan dihormati di dalam maupun di luar negeri.

Menurut Muhammad Yamin dalam bukunya 600 Tahun Sang Merah Putih, menyatakan bahwa  “Bendera Merah putih dalam Kerajaan Mataram dikenal sebagai Gula Kelapa, konon bendera Gula Kelapa itu diartikan gula sama dengan merah, kelapa sama dengan warna putih”. Sejarah juga menyatakan bahwa kerajaan Kediri yang menggunaknannya sebagai panji–panji merajh dan putih. Raja Jayakatwang atau sering disebut Jayakatong dari Kediri pada saat melakukan perlawanan melawan Kerajaan Singasari di bawah tampuk kekuasaan Kertanegara sudah mengibarkan panji berwarna merah putih, tepatnya pada tahun 1292.  Mpu Prapanca juga menceritakan di dalam buku karangannya yang berjudul Negara Kertagama, menceritakan tentang digunakannya warna Merah Putih dalam upacara hari kebesaran raja pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389 M. Menurut Prapanca, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta-kereta raja-raja yang menghadiri hari kebesaran itu bermacam-macam antara lain kereta raja puteri Lasem dihiasi dengan gambar buah meja yang berwarna merah. Atas dasar uraian itu, bahwa dalam kerajaan Majapahit warna merah dan putih merupakan warna yang dimuliakan. Dalam sejarah pahlawan bangsa, Sisingamaraja IX menggunakan bendera dengan warna dasar merah-putih saat berperang di tanah Batak, para pejuang Aceh menggunakan warna dasar merah-putih sebagai umbul-umbulnya, kerajaan Bugis Bone menggunakan bendera merah putih sebagai symbol kekuasaan dan kebesarannya, dan Pangeran Diponegoro juga memakai panji–panji merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda.

Dalam buku berjudul “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara, disebutkan bahwa bendera Republik Indonesia, Sang Saka Merah Putih adalah Bendera Rasulullah Muhammad saw. Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih sebagai bendera Rasulullah saw. kepada bangsa Indonesia dengan mengajarkannya kembali sejak Abad Ketujuh Masehi atau abad kesatu Hijriah. Masa ini bertepatan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Mansyur menyatakan para ulama membudayakan bendera merah putih dengan berbagai sarana antara lain tiga cara berikut:

Pertama: setiap awal pembicaraan atau pengantar buku, sering diucapkan atau dituliskan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah?. Lalu, apabila buah pinang diiris atau dibelah akan terlihat di dalamnya berwara putih?.

Kedua: budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi serta Tahun Baru Islam, serta peringatan hari Asyura senantiasa dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih.

Ketiga: pada saat membangun rumah, di susunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari Jum’at, mimbar Jum’at di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Dalam buku Api Islam tersebut juga menyatakan bahwa pendekatan budaya yang dilakukan para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial Belanda tidak sanggup melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat Indonesia. Beliau juga menegaskan bahwa bendera Rasulullah saw. berwarna Merah Putih seperti yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani, Rasulullah saw. Bersabda: “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini al-Ahmar wal Abjadh”. Artinya, “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”.

Ada beberapa argumen pendukung untuk memperkuat pendapat, bahwa merah putih adalah bendera Rasulullah Muhammad saw. dalam Hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani, berkata: Zuhair bin Harb bercerita kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna din Ibnu Bagyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu’aelz bin Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dan Oatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, Dari Tsauban radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai apa yang telah dinampakkan untukku. Aku diberi dua harta simpanan (merah dan putih). Dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar Dia tidak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri sehingga menyerang perkumpulan mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh dan Aku tidak akan memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka, walaupun musuh mengeepung mereka dari segala penjurunya, hingga akhirnya sebagian dari mereka (umatmu) membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain”. (HR. Muslim No. 2889)

Rasulullah Muhammad saw. memanggil istrinya (Siti Aisyah ra), dengan sebutan Humairah yang artinya merah. Busana Rasulullah SAW yang indah juga berwarna merah, seperti disampaikan oleh Al Barra: “Kanan Nabiyu Sallahu alaihi wasallam marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a, Ma raitu syaian ahsana min hu” Artinya: “Pada suatu hari Nabi SAW duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah dan  Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu”. Dari hadits ini  terlihat bahwa  warna merah putih juga dipakai oleh Rasulullah dimana nabi memakai jubah dan sorban berwarna putih dengan kain merah yang dililitkan di leher beliau, disamping itu riwayat menceritakan bahwa  pedang Sayidina Ali ra berwarna merah dan sarung pedang Khalid bin Walid juga berwarna merah-putih. Dalam buku “Menemukan Sejarah: wacana pergerakan Islam di Indonesia”, juga dinyatakan bahwa warna merah putih nampak pada masjid nabawi di masa khalifah Usmaniyah menguasai tanah Arab.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945  bertepatan 9 Ramadhan  1364, dibacakan oleh Soekarno-Hatta dengan mengibarkan bendera merah dan putih. Dari kajian sejarah terdapat keterkatan sangat erat antara nilai-nilai Islam dengan proklamasi dan bendera, sehingga para pendiri bangsa menyatakan bahwa kemerdekaan itu merupakan rahmat Allah kepada bangsa Indonesia sebagaimana tertulis dalam piagam Jakarta bahwa: “Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya”. Sejarah juga mencatat bahwa pahlawan Muslim terdahulu dengan uapan takbir menggerakkan semangat rakyat dalam berjuang dalam melawan penjajahan. Oleh sebab itu tak dapat disangkal bahwa ajaran Islam, nilai tauhid, dan peranan umat Isam sangat besar dalam kemerdekaan bangsa. Semoga kita tidak melupakan sejarah, dan dapat mengisi dan meneruskan perjuangan para pahlawan tersbut dengan membangun negara  yang bersendikan kepada nilai-hilai tauhid dan sejarah kehidupan Rasulullah saw., sebagaimana telah terbukti bahwa kedua nilai tersebut telah mendasari semangat umat dalam perang kemerdekaan bangsa dan negara.

Fatabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This