No. 1.243 Khutbah Thariq bin Ziyad dan Pilkada 2017

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Renungan Jumat ISTAID No. 1.243 | Jumadil-Awwal 1438 H | Februari 2017
Jumat, 17 Februari 2017

KHUTBAH THARIQ BIN ZIYAD DAN PILKADA 2017

“Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang kafir sebagai wali (pemimpin dan pelindung) kamu dengan meninggalkan orang yang beriman”.
(QS. An-Nisa: 144)

Menghadapi pilkada 2017 sebaiknya umat Islam membaca kembali Khutbah Thariq bin Ziyad sewaktu menghadapi pasukan Roderic yang berada di hadapan mereka, sedangkan lautan luas berada di belakang mereka setelah sampai di tepi pantai Jabal Thariq, panglima Thariq membakar kapal-kapal yang mengangkut mereka, sehingga prajurit hanya memiliki dua pilihan, kemenangan atau kematian. Hari ini 15 Februari 2017 adalah Hari Penentu Masa Depan Umat khususnya di Jakarta, oleh sebab itu marilah kita menyimak kembali khutbah monumental panglima Tharq bin Ziyad seperti di bawah ini:

Wahai sekalian pasukan kaum Muslimin. Kemana kalian akan pergi?. Lautan ada di belakang dan musuh ada di hadapan kalian. Maka demi Allah, kalian tidak punya pilihan lain, kecuali bersungguh-sungguh dan bersabar.

Ketahuilah, bahwa kalian di pulau ini jauh lebih sebatang kara dari anak-anak yatim. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan persenjataan serta bahan makanan yang lengkap. Sementara kalian sama sekali tidak mempunyai tempat berlindung selain pada pedang-pedang kalian. Kalian tidak punya perbekalan kecuali dari apa yang berhasil kalian rampas dari musuh-musuh kalian. Jika perang ini berkepanjangan dan kalian tidak segera mengatasinya, maka kekuatan kalian akan binasa. Berhati-hatilah, musuh kalian yang mulanya takut kepada akan berganti dengan keberanian menghadapi kalian. Rasa takut dalam hati mereka akan berganti dengan keberanian. Karena itu, hilangkan dari hati-hati kalian rasa khawatir akan apa yang akan terjadi dengan menghadapi sang thagut itu. Karena kotanya yang terbentengi itu telah menyerahkannya kepada kalian.

Sesungguhnya sangat mungkin bagi kita untuk memanfaatkan kesempatan ini jika kalian merelakan kematian. Dan aku, jika aku mengingatkan kalian terhadap suatu hal, maka kau juga ikut menanggungnya. Aku juga tidak pernah membebani kalian untuk mengorbankan nyawa kalian, kecuali aku sendiri telah memulainya. Ketahuilah, jika kalian bersabar sedikit menghadapi hal yang paling berat, niscaya kalian akan menikmati kenyamanan dan kelezatan dalam waktu yang sangat panjang. Jadi, jangan memandang bahwa diri kalian telah berjasa kepadaku ketika kalian mendapatkan bagian yang lebih banyak dari bagianku.

Mungkin kalian telah mengetahui tentang wanita-wanita cantik yang tumbuh dan lahir di pulau ini, yang berasal dari keturunan Yunani, perhiasan-perhiasan yang terbuat dari emas murni, serta wanita-wanita pingitan yang tinggal di dalam istana-istana yang bermahkota. Dan Al Walid bin Abdul Malik telah memilih kalian sebagai pahlawan-pahlawan, serta meridhai kalian menjadi ipar dan kerabat para raja di pulau ini. Itu karena ia percaya bahwa kalian sangat tenang menghadapi tikaman-tikaman prajurit musuh, kelapangan dada kalian menghadapi tekanan-tekanan pasukan musuh yang berjalan kaki maupun yang berkuda, agar mendapatkan balasan Allah karena telah menegakkan agamaNya, menampakkan agamaNya di pulau ini, sehingga harta rampasan perangnya murni menjadi milik kalian, bukan miliknya (khalifah) dan kaum Muslimin lain selain kalian. Dan Allah Ta’ala-lah yang akan menolong hingga nama kalian akan dikenang di dunia dan akhirat.

Ketahuilah oleh kalian, bahwa aku adalah orang yang pertama yang memenuhi apa yang aku serukan kepada kalian. Dan, sungguh aku akan berada di tempat pertemuan kedua pasukan, Aku akan membawa diriku menghadapi thagut kaumnya itu, Roderic, dan membunuhnya, Insya Allah. Maka bertahanlah kalian bersamaku. Jika aku akhirnya gugur menghadapinya, maka setidaknya aku telah meringankan kalian dari bebannya. Kalian tidak akan kekurangan seorang pahlawan yang cerdas yang dapat kalian serahkan urusan kalian kepadanya jika aku akhirnya gugur sebelum sampai ke sana. Maka (jika aku gugur), segeralah angkat penggantiku untuk menyelesaikan misiku ini, dan sabarkanlah diri kalian bersamanya. Cukupkanlah tekad kalian untuk menaklukkan pulau ini dengan membunuhnya (Roderic) , karena sepeninggalnya pastilah mereka akan segera dikalahkan. (Khutbah ini dikutip dari  buku “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia”, karangan Dr. Raghib al Sirjani, terbitan Pustaka Al Kautsar, hlm. 61-63).

Mengangkat pemimpin yang beriman, merupakan kewajiban umat, sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran: “Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang kafir sebagai wali (pemimpin dan pelindung) kamu dengan meninggalkan orang yang beriman”. (QS. An-Nisa: 144 )

Menurut Imam al Mawardi dalam kitab al Ahkam Sulthaniyah bahwasanya syarat utama pemimpin itu setelah beriman adalah memiliki ilmu pengetahuan, adil, jujur, memiliki kemampuan untuk memimpin, dan kemiliki kesempurnaan serta kesehatan jiwa dan badan, juga pikiran dalam memimpin. Jika seandainya masyarakat salah daam memilih pemimpin, maka akibatnya akan dirasakan oleh masyarakat itu selama kepemimpinan orang yang dipilihnya. Oleh sebab itu, masyarakat jangan mudah tergoda oleh janji-janji calon pemimpin dalam kampanye politik, dan jangan mudah terpengaruh dengan pemberian sembako atau serangan fajar, di pagi hari pemilihan. Sebab memilih pemimpin itu bukan untuk sehari atau dua hari tetapi untuk beberapa tahun kekuasaan yang diberikan kepadanya. Apalagi, Rasulullah telah memperingatkan umatnya bahwa memilih pemimpin juga akan berakibat kepada kehidupan di akhirat kelak.

Rasulullah saw. bersabda: “Akan datang penguasa yang dzalim dan fasiq, maka barangsiapa yang percaya akan kebohongannya, maka orang yang percaya itu bukan dari golonganku (umat Muhammad) dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak akan masuk ke dalam surga” (Hadits riwayat Tirmidzi ). Dalam sebuah hadits lain disebutkan: “Akan datang sesudahku, pemimpin-pemimpin yang berdusta dan dzalim. Maka barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kedustaannya dan menolong mereka diatas kedzalimannya, maka mereka itu tidaklah termasuk golonganku dan aku terlepas daripada mereka, serta mereka itu tidak akan dapat menghampiri kolamku nanti di hari akhirat” (Hadits riwayat Tirmidzi). Seorang pemimpin tidak boleh menipu rakyat atau mempergunakan rakyat untuk kepentingannya sendiri, apalagi memakai politik uang untuk mempertahankan kedudukannya.  Semoga pemimpin hari ini  masih selalu ingat dengan hadits dari Rasululah yang artinya: “Jika seorang hamba diberi Allah kekuasaan untuk memimpin rakyatnya tetapi dia melakukan penipuan terhadap rakyat yang dipimpinnya, maka nanti setelah meningal dunia ma ka Allah akan mengharamkannya masuk ke dalam surga” (Hadits Muttafaqun Alaihi). Dalam hadits disebutkan: “Siapa yang menjadi pemimpin walaupun terhadap tiga orang maka dia akan diikat tangannya untuk diminta tanggung jawab, jika dia adil maka ikatan itu akan dibuka, tetapi jika dia tidak adil, maka ikatan itu yang akan menariknya ke dalam neraka”. (Hadits Sahih riwayat Ibnu Hiban)

Khalifah Umar bin Khattab berkata bahwa pemimpin dan penguasa itu ada empat katagori: (1) Penimpin dan pegawai yang mampu menguasai hawa nafsu. Mereka ini termasuk mujahid di jalan Allah, dan Allah akan selalu memberkati kerja dan usaha mereka. (2) Pemimpin yang baik tapi lemah, sehingga kelemahan tersebut memberikan kesempatan kepada pegawainya untuk berbuat yang tidak baik. Pemimpin seperti ini bagaikan berada di tepi jurang kehancuran kecuali jika Allah menolongnya. (3) Pemimpin yang tidak baik tetapi pegawainya berprilaku baik. Pemimpin seperti ini berada di neraka Huthamah, sebab dia telah mencelakakan dirinya sendiri.(4) Pemimpin dan seluruh pegawainya tidak baik, maka semuanya akan hancur binasa.

Imam Ghazali dalam kitab “Fadhaihul Batiniyah wa Fadhail al Mustadzhirah” menyatakan bahwa ada empat sifat yang menjadi syarat bagi sahnya kedudukan seorang pemimpin Negara yaitu pemimpin yang memiliki sifat: “Najdah” (mempunyai kekuatan dan wibawa ), “Kifayah” (mampu menyelesaikan segala persoalan), “Wara” (menjaga dari sesuatu yang haram/bersih nafsunya dari keinginan dunia ), dan “Ilmu” (mempunyai ilmu pengetahuan). (al Ghazali, Fadhaihil Baitiniyah / 2002: 125-133 )

Dari ke-empat syarat tersebut, menurut al Ghazali, maka syarat Wara yaitu terjaga daripada nafsu kekuasaan adalah merupakan syarat yang paling utama, sebab jika syarat yang tiga dipunyai oleh seorang pemimpin, tetapi dia tidak memiliki syarat wara, dan tidak dapat menjaga diri daripada nafsu kekuasaan, maka negara akan hancur berantakan, sehingga kedzaliman akan merupakan sesuatu yang tersistem dengan keilmuan, manajemen dan peraturan. JIka seorang pemimpin memiliki sifat najdah, kifayah, wara, dan ilmu dalam mengatur pemerintahan, barulah negara dapat keluar dari krisis yang berkepanjangan. Sebab menurut al Ghazali bahwa krisis terjadi disebabkan oleh penyalahgunaan kekuasaan, keruntuhan moral ekonomi, dan kerakusan terhadap nafsu dunia. (Zainal Abidin Ahmad, Konsepsi Negara Bermoral: 251-260).

Semoga pilkada kali ini masyarakat dapat memilih pemimpin yang tidak memiliki nafsu kekuasaan tetapi memiliki rasa dedikasi untuk melakukan hal yang terbaik kepada masyarakat, bangsa dan negara sehingga pemimpin yang terpilih tersebut memiliki rasa amanah dan tanggung jawab kepemimpinan sehingga dapat bangsa Indonesia dapat keluar dari krisis baik nasional maupun global yang sedang terjadi pada saat ini menuju negeri yang makmur dan sejahtera sebab negara kita adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang menggiurkan dunia, selamat mendapatkan pemimpin yang terabik untuk masa depan bangsa.

Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

 

Buletin

Share This