Membaca Alam & Beramal Jariyah

today September 3, 2018 account_circle Arifin Ismail

Wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat 1 sampai 5 dari surah al- ‘Alaq, yang bermaksud: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia yang telah mengajarkan manusia dengan perantaraan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. al-‘Alaq: 1-5)

Inilah ayat-ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan dan diajarkan kepada umat manusia. Dari ayat ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa perintah MEMBACA adalah perintah pertama kepada manusia, baik itu membaca alam semesta, karena alam semesta itu merupakan makna yang tersirat dari “apa yang diciptakan”, termasuk juga di dalamnya perintah membaca “manusia”, baik penciptaan manusia, proses penciptaan manusia sejak dari bersatunya sprema lelaki dan ovum perempuan yang tergantung di dinding rahim seorang wanita.

Proses awal penciptaan manusia dalam Rahim inilah yang disebut dengan “alaq”, sebab kata “a-la-qa” dalam bahasa Arab sebenarnya adalah sesuatu yang bergantung dengan sesuatu yang lain, dan sains membuktikan bahwa penciptaan manusia mulai berproses ketika airmani lelaki bergantung dirahim seorang perempuan.

Proses ini harus dapat dibaca, dikaji, di analisa oleh manusia sehingga memberikan suatu pertanyaan dalam dirinya, apakah penciptaan dan proses yang terjadi di dalam alam dan penciptaan manusia itu terjadi dengan sendirinya?.

Akal manusia akan berpikir bahwa tidak mungkin sesuatu itu dapat terjadi tanpa ada yang menjadikan. Jika seseorang melihat ada sebuah kursi, maka dalam pikiran pasti terlintas bahwa kursi ini ada, karena ada orang yang membuat kursi, dan tidak mungkin kursi ini dapat terjadi dengan sendirinya.

Demikianlah juga dengan alam semesta dan manusia, dimana tidak mungkin terjadi alam dan manusia tanpa ada yang menjadikan dan memproses kejadian dari satu poses kepada proses selanjutnya.

Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa siapa yang melihat dan mem-perhatikan, meneliti dan mengkaji alam semesta, akan mendapatkan keyakinan bahwa alam ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Mencipta. Oleh karenanya alam semesta ini merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah Ta’ala.

Dalam surah Dzariyat dinyatakan: “sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat Allah untuk orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu, dan pada binatang yang melata yang bertebaran di muka bumi terdapat tanda kekuasaan Allah (ayat Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian siang dan malam, hujan yang diturunkan dari langit lalu dihidupkan bumi sesudah matinya, dan pada perpindahan angin berhembus, pada itu semua terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berakal”. (Adz-Dzariyat: 3-5)

Ibnu Battan memperhatikan dan mengadakan penyelidikan akan alam tumbuh-tumbuhan, dan mencatatnya sehingga segala ilmu yang berkaitan dengan ilmu tumbuh-tumbuhan disebut dengan nama ilmu Botani.

Alkhawarizmi mempelajari ilmu matematika dan mengembangkan ilmu tersebut, dan menulis buku “alJabru wal Muqabalah”, sehingga menemukan kaedah matematika yang disebut dengan ilmu Aljabar, logaritma, dan lain sebagainya.

Ibnu Jahiz membaca, memperhatikan kejadian, pergerakan dan sifat-sifat hewan yang ada sehinga menulis buku “AlHayawan alKubra”, yang menjadi ensiklopedia berkaitan dengan hewan.

Al-Idrisi, yang memiliki bakat melukis dan memperhatikan serta melukis alam dimana dia berada, sehingga karya lukis merupakan cikal bakal ilmu tentang peta bumi.

Ibnu Sina memperhatikan segala sesuatu yang terjadi kejadian dalam badan manusia terutama segala penyakit yang terjadi pada manusia, dan mencari obat dari penyakit tersebut dan dicatat dalam buku “Al Qanun fit Tibbi”, yang menjadi rujukan ilmu kedokteran berabad-abad.

Ibnu Haitham memperhatikan tentang cahaya dan pandangan yang terjadi pada mata, sehingga menemukan teori-teori tentang ilmu optic.

Al-Biruni seorang pengembara yang selalu memperhatikan kedaan, sifat, karakter masyarakat yang dijumpainya dalam perjalalan, dan mencatat itu semua, sehingga menjadi pakar dalam ilmu antropologi.

Ibnu Khaldun memperhatikan tentang keadaan masyarakat dan memberikan analisa dan teori terhadap perkembangan keadaan masyarakat, sehingga menjadi pelopor ilmu sosiologi.

Demikianlah ilmuwan muslim membaca, mengkaji alam semesta, memperhatikan ayat – ayat Allah dalam segala penciptaan dan proses perkembangan yang terjadi sehingga menemukan teori-teori keilmuwan dan sains berdasarkan pengamatan analisa tersebut.

Dengan bertambah banyak melakukan penelitian dan riset, maka akan bertambah yakin akan kebesaran Tuhan, inilah yang dimaksud dengan membaca alam dengan nama Tuhan sebagaimana perintah dalam ayat, “Iqra’ Bismi Rabbika”, bacalah dan kaji serta selidikan apa yang terjadi dalam alam semesta, dalam kehidupan manusia dan masyarakat, dengan bacalah itu semua dengan menyebut nama Tuhanmu, sebab segala kejadian dalam penciptaan dan proses tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan iradah Tuhan, dan segala sifat-sifat yang Tuhan miliki.

Metode belajar dengan melakukan pengamatan, penelitian, dan kajian ini merupakan ibadah sebagaimana dikatakan, “tafakkur tentang ciptaan Allah dalam 1 menit itu lebih baik dari pada mela kukan ibadah shalat sunat sepanjang malam”.

Dalam atsar sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan: “Membaca dan belajar itu Ibadah, mengulang kembali kajian melalui penga-matan dan observasi itu adalah Tasbih, dan melakukan kajian lebih dalam, riset, dan penyelidikan itu adalah Jihad”.

Motivasi ibadah dalam membaca, mengkaji dan menyelidiki alam semesta inilah yang memberikan semangat para ilmuwan muslim tidak pernah berhenti sepanjang masa. Dengan motivasi ibadah, mereka terus mengkaji dan menemukan teori-teori baru dalam sains dan memproduk penemuan dan teknologi bagi umat manusia. Teori keilmuwan yang mereka dapat dari riset dan kajian di laboratorium tersebut, mereka mintakan persetujuan dari Allah, Tuhan Yang Memiliki segala ciptaan dan pemelihara alam semesta, melalui shalat istikharah dan tahajjud, sehingga penemuan sains mereka itu merupakan sunatullah dalam kehidupan.

Sunatullah sains dan teknologi yang mereka temukan tersebut digunakan oleh masyarakat, maka sebagai penemu teori mereka mendapatkan pahala selama masyarakat mempergunakan teori dan penemuan tersebut, dan karya mereka itu disebut sebagai amal jariyah, amal yang memiliki pahala yang terus menerus sampai hari kiamat.

Selama masyarakat menulis angka bilangan nol yang diciptakan oleh Khawarizmi, selama itu beliau mendapat pahala walaupun beliau telah berada di alam barzakh. Selama teori kedokteran Ibnu Sina masih dipakai dalam kedokteran, selama itu dia mendapat pahala, demikian selanjutnya, sebagaimana dinyatakan dalam hadis: “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amal pebuatannya kecuali tiga hal yaitu: do’a anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, dan sedekah yang berkelanjutan”.

Metode dan sistem belajar masyarakat muslim terdahulu inilah yang merupakan rahasia kemajuan masyarakat Islam terdahulu, sehingga Muhammad Abduh, dalam buku Islam dan Peradaban, mengutip pernyataan Gustave Le Bon, seorang ahli filsafat Perancis: “Metode belajar masyarakat muslim terdahulu adalah “Lakukan penyelidikan dan observasi, maka kamu akan mendapatkan ilmu pengetahuan” sedangkan metode belajar masyarakat Eropah pada masa itu adalah “ikuti apa saja kata guru, maka kamu mendapat ilmu”.

Bagi Gustav Le Bon metode yang dipakai masyarakat muslim itu menjadi kunci peradaban dimasa kejayaan Islam, sedangkan metode belajar masyarakat Eropah yang hanya ikut kata guru, itulah penyebab Eropah dalam masa kegelapan.

Muhammad Abduh kemudian melanjutkan, dari kedua metode belajar itu, metode manakah yang dipakai oleh masyarakat Islam hari ini?. Jika mereka memakai metode pemikir muslim terdahulu maka masyarakat muslim akan menjadi masyarakat yang maju dalam peradaban sebagaimana masyarakat muslim terdahulu. Tetapi jika masyarakat muslim pada hari ini mengikuti cara belajar masyarakat eropah terdahulu dengan hanya mengikut kata guru, tanpa berani mengadakan penyeidikan, riset dan kajian, maka masyarakat muslim akan menjadi masyarakat terbelakang sebagaimana masyarakat eropah terdahulu.

Metode riset dan kaji inilah yang merupakan rahasia kejayaan masyarakat muslim, sedangkan metode belajar ikut kata guru tanpa bertanya, dan melakukan kajian inilah yang menyebabkan kemunduran. Metode belajar dan membaca manakah yang dilakukan oleh umat Islam sekarang?.

Maka mari kita galakkan semangat membaca, mencari ilmu, semangat melakukan riset dan penyelidikan, semangat mengadakan inovasi sebab itu merupakan ibadah kepada Allah, dan teori serta teknologi yang ditemukan merupakan amal jariyah yang kita sumbangkan bagi peradaban kemanusiaan di masa mendatang.

Fa’tabiru Ya Ulil Albab.

Buletin

Share This