1478 Mengenal Sudirman, Jenderal Militer Yang Shaleh

today November 12, 2021 account_circle Arifin Ismail

 

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur di jalan Allah, bahwa mereka itu  mati; bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. ( QS. Al Baqarah : 154 )

Salah satu figur yang sentral dalam sejarah militer Indonesia tentu saja sosok Jenderal Sudirman. Nama Sudirman memberi kita beberapa sudut pandang menarik dalam melihat sejarah militer Indonesia. Pertama, ia adalah seorang sosok militer pemersatu yang sejatinya tak bisa dilepaskan dalam pergulatan politik di Indonesia. Rekam jejaknya membentuk karakter dan kepribadian Tentera Nasional Indonesia saat ini. Kedua, Jenderal Sudirman adalah jenderal yang memiliki sosok dengan latar belakang keimanan dan pemahaman keagamaan yang kental.

Anwar Djaelani. dalam tulisan Jenderal Shalih Bernama "Haji" Sudirman  menyatakan bahwa Sudirman lahir di Purbalingga Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Dia berasal dari kalangan rakyat biasa. Dia bersahaja dan jujur. Hanya saja, yang menarik, Sudirman tumbuh dalam lingkungan yang sangat memerhatikan pendidikan agama. Semasa bersekolah, Sudirman termasuk murid yang rajin dan berpikiran maju. Dia menyukai pelajaran Bahasa Inggris, Ilmu Tata Negara, Sejarah Dunia, Sejarah Kebangsaan, dan Agama Islam.

Ketekunannya dalam memelajari agama Islam dikenal banyak orang, terutama oleh teman-temannya. Semangat belajar Sudirman memang tinggi. Dalam belajar agama, dia santri / jamaah yang aktif dalam pengajian malam Selasa yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Kauman – Yogyakarta. Sisi menarik lainnya, sesibuk apapun, Sudirman rajin membantu berbagai pekerjaan rumah seperti mengisi bak kamar mandi dan menyapu. Dia sangat taat pada orangtua. Hal lain, dia suka olahraga dan dikenal cakap di dalam olahraga sepakbola.

Semasa sekolah, Sudirman aktif di kegiatan Muhammadiyah dan kepanduan. Pada awalnya, dia menjadi anggota Kepanduan Bangsa Indonesia. Kemudian menjadi anggota kepanduan Hizbul Wathan  Muhammadiyah. Bakat dan jiwa kepejuangan Sudirman terlihat sejak dari kepanduan Hizbul Wathan. Juga, peningkatan kemampuan fisik dan penggemblengan mental kemiliterannya ditempa melalui organisasi berbasis dakwah ini. Di Hizbul Wathan, Sudirman tak hanya sebagai anggota tapi kemudian menjadi ketua. Di kalangan Hizbul Wathan, pengaruh Sudirman sangat besar sehingga dia diangkat sebagai pimpinan. Meski pendiam, dia tegas. Dia selalu berpegang kepada kebenaran. Dia dapat mengayomi kawan-kawannya. Di dalam aktivitas di Hizbul Wathan, di samping memberikan latihan teknik kepanduan seperti pada umumnya, Sudirman juga memberikan pelajaran agama Islam kepada anggotanya. Lebih dari itu, semangat dan kebanggaan para anak buahnya selalu dipertinggi dengan sering menampilkan mereka di berbagai acara.

Keberhasilan Sudirman memimpin Hizbul Wathan  tidak hanya di skala lokal, Cilacap. Di tingkat wilayah dan nasional, ada juga jejak prestasi Sudirman. Misal, di Muktamar Muhammadiyah ke-29 pada 1939 di Yogyakarta, dia mengusulkan agar pandu Hizbul Wathan mengenakan celana panjang. Alasan Sudirman, agar saat waktu shalat tiba mereka tidak perlu sulit mencari sarung tapi langsung bisa mengerjakannya dengan celana panjang yang dipakainya. Usulan argumentatif itu diterima forum.

Sudirman memiliki semangat berdakwah yang tinggi. Saat berdakwah, dia lebih banyak menekankan ajaran tauhid. Berikutnya, Sudirman menekankan kesadaran beragama dan kesadaran berbangsa. Menurut Sudirman, bahwa dengan membenahi tauhid maka akan timbul dengan sendirinya semangat jihad untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Oleh sebab itu dalam melawan penjajah,  sikap dan jiwa tauhid ini harus ditanamkan dalam diri setiap orang. Terlebih ketika itu masyarakat masih sangat kental dipengaruhi adat-istiadat yang tak sejalan dengan nilai tauhid.

Di soal jihad, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang sering dikutip Sudirman. Di antaranya adalah QS As-Shaff : 10-11, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih, yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di Jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.  Juga, QS Al-Baqarah: 154 yang artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. Makna “hidup” di ayat itu, yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini. Di situ, mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah. Selebihnya, tentang makna “hidup” ini, hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.

Dalam pergerakan menegakkan kemerdekaan, diniatkan oleh Sudirman bahwa hal itu sebagai bagian dari pelaksanaan jihad fi sabilillah. Dia tanamkan kepada para anak buahnya, bahwa jika mereka gugur dalam perang maka itu tidaklah mati sia-sia melainkan gugur sebagai syuhada. Sudirman berusaha meneladani seluruh kehidupan Rasulullah Saw. Terasakan oleh lingkungannya, bahwa dia sebagai pribadi terlihat sederhana, suka kebersihan, memelihara kebersamaan, dan punya siasat tangguh dalam melawan musuh. Sudirman dikenal tabah dan teguh dalam bersikap. Pernah, misalnya, pada 1935 Hizbul Wathan Banyumas mengadakan jambore di Dieng  Jawa Tengah. Kala itu, kawan-kawan Sudirman banyak yang meninggalkan kemah pindah ke rumah-rumah penduduk karena tidak tahan udara dingin. Berbeda dengan Sudirman, dia tetap bertahan. Alasan dia, sebagai latihan untuk menguatkan diri apabila mengalami keadaan yang lebih dingin. Pada waktu tentera Jepang membentuk lasykar Pembela Tanah Air ( Peta ), maka Sudirman bergabung ke dalam lasykar tersebut, sebagaimana juga para lasykar tentera Hizbullah, dan lasykar rakyat lainnya. Pengalaman memimpin Hizbul Wathan, menjadikan dirinya menjadi pemimpin di Peta, dan kemudian menjadi cikal bakal menjadi pemimpin di Barisan Keamanan Rakyat, yang menjadi cikal bakal Tentera Nasional Indonesia.  

Setelah kemerdekaan, negara Indonesia membentuk Badan Keamanan Rakyat, yang menghimpun segala bentuk lasykar kekuatan rakyat sebelum kemerdekaan, termasuk tentara Pembela Tanah Air yang berdiri pada pendudukan Jepang, Tentara Hindia Belanda ( KNIL ) dan lain sebagainya. Sudirman terpilih menjadi Ketua Badan Keamanan Rakyat kawasan Banyumas. Pada 18 Desember 1945, Sudirman terpilih menjadi Panglima Badan Keamanan Rakyat dengan pangkat Jenderal, dan merupakan jenderal pertama dalam Badan Keamanan Rakyat. Badan Keamanan Rakyat kemudian berubah nama menjadi Tentera Nasional Indonesia.  Oleh sebab itu, Salim Said dalam buku “ Genesis of Power: General Sudirman and The Indonesian Military in Politics 1945-1949 (1992) menyebutkan bahwa Jenderal Sudirman adalah  ‘Bapak’ bagi militer Indonesia

Sebagai panglima besar tentera Indonesia terutama dalam menghadapi penjajah maka di antara tema yang sering disampaikan Sudirman adalah tentang jihad dan tugas yang paling utama adalah “amar makruf nahi munkar”, sehingga tugas tentara adalah menjaga tanah air, membasmi kemungkaran dan menegakkan keadilan dan kebenaran, sehingga  Sudirman sering menekankan kepada anakbuahnya    ungkapan “ Hidup mulia atau mati syahid ”, sebagai ungkapan siap hidup menegakkan kebenaran dan mati membela kebenaran.

Sudirman juga adalah pencetus perang gerilya dalam teori peperangan. Perang gerilya yang Sudirman lakukan tak luput dari usahanya dalam mencontoh stretegi Rasulullah saw. Sewaktu berada di Desa Karang Nongko, setelah sebelumnya menetap di Desa Sukarame, Panglima Besar Sudirman memiliki perhitungan bahwa  desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Sudirman lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dengan taktik penyamaran. Ini diilhami atas apa yang dilakukan Rasulullah Saw beserta para sahabatnya saat akan berhijrah. Setelah shalat subuh, Sudirman dengan beberapa pengawal pergi menuju hutan. Mantel yang biasa dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu termasuk beberapa anggota rombongan, yaitu Supardjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya, Heru Kesser segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Supardjo Rustam berjalan menuju arah selatan. Sampai pada sebuah rumah, barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Sudirman. Sore harinya, pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya membombardir rumah yang sempat disinggahi Supardjo Rustam dan Heru Kesser itu. Hal ini membuktikan, betapa Sudirman sangat menguasai taktik dan sejarah perjuangan dalam Islam. Bangsa Indonesia beruntung dan harus bersyukur pernah memiliki putra terbaik. Sudirman adalah Bapak Tentara Indonesia yang shalih. Dia salah satu tokoh besar. Sudirman wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang. Umurnya relatif pendek, hanya 34 tahun. Tapi, jasa-jasanya kepada agama dan bangsa sungguh sangat panjang. Untuk itu, pertama, atas jasa-jasanya maka sangat pantas jika pada 1997 pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Jenderal Besar. Kedua, atas jasa-jasanya, nama Sudirman lalu diabadikan sebagai nama sebuah perguruan tinggi negeri di Purwokerto. Ketiga, atas jasa-jasanya maka patut jika nama Sudirman kemudian diabadikan menjadi nama ruas-ruas jalan utama di hampir seluruh kota di Indonesia. Demikian sosok Sudirman, Jenderal pertama bangsa Indonesia, peletak dasar perang gerilya dalam perang kemerdekaan, jenderal yang saleh  memiliki keimanan yang kuat, mencontoh sejarah Nabi dalam strategi perjuangan, yang menjadi pemimpin perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan, sebagai bukti bahwa perjuangan bangsa ini dalam kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai iman dan agama. Fa’tabiru Ya ulil albab.

 

 

 

Buletin

Share This