1447 Pemborosan

today February 18, 2021 account_circle Arifin Ismail

 

“ Sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara syetan “  ( Surah al isra: 27 )

 Pada suatu hari Amirul Mukminin Muawiyah, sebagai kepala negara telah memutuskan pemberian bantuan kepada sebagian kaum muslimin yang diambil dari harta Baitul Maal. Tak lama setelah keputusan itu diberlakukan, Muawiyah mengadakan sebuah pertemuan dengan rakyatnya dan memberikan amanat sebagaimana lazimnya seorang kepala negara. Dalam pidatonya Muawiyah mengawali dengan ucapan : wahai kaum muslimin, dengarlah dan taatlah…! Belum habis kalimat yang keluar dari mulutnya, tiba-tiba salah seorang pendengar bernama Abu Muslim al Khulani berdiri dan berkata ; ‘ Wahai Muawiyah, sekali-kali kami tidak akan mendengarkan pidatomu dan tidak akan patuh kepadamu..”. Mendapat sanggahan demikian, Muawiyah bertanya : ‘ Apa sebabnya kalian tidak mau patuh dan tunduk kepadaku..? “. Abu Muslim segera menjawab : “ Karena engkau telah berani memutuskan pemberian bantuan kepada kaum muslimin dari kekayaan baitul maal, padahal harta itu bukan hasil keringatmu, juga bukan harta ayahmu dan ibumu “.

 Mendengar kata-kata yang pedas seeprti itu membuat wajah Muawiyah menjadi merah karena menahan amarah. Muawiyah segera turun dari mimbar dan meminta kepada hadirin agar tetap di tempat duduk masing-masing karena sebentar lagi dia akan kembali. Muawiyah keluar dari tempat pertemuan tersebut dan tak lama kemudian dia telah kembali dengan wajah yang basah sebagaimana orang berwudhu’. Dia segera naik ke atas mimbar dan kemudian melanjutkan pidatonya : “ Tadi Abu Muslim telah melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaanku, sehinga membuatku sangat marah. Tetapi di saat itu aku teringat dengan sebuah hadis rasulullah saw ; “ marah itu adalah perbuatan syetan, dan syetan itu dijadikan dari api..Api tidak dapat dipadamkan kecuali dengan air, maka barangsiapa diantara kamu sednag marah, hendaklah dia segera mandi “ ( hadis riwayat Abu Nuaim ).

 Berdasarkan hadis ini tadi saya turun sebentar untuk mandi. Apa yang dikatakan oleh Abu Muslim itu benar, bahwa kekayaan baitul maal itu bukanlah hasil keringatku, juga bukan milik ayah atau ibuku. Oleh karena itu, barangsiapa yang merasa dirugikan dengan keputusanku yang terdahulu, maka sekarang mereka boleh mengambil bantuan dari Baitul Maal.”. Demikianlah sikap yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin Islam, yaitu sikap tidak marah terhadap orang yang mengkritik kebijaksanaan yang dilakukannya, dan tidak malu untuk meminta maaf serta meralat kembali keputusan itu jika seandainya keputusan itu merugikan masyarakat dan orang banyak. Dalam masyarakat islam, seorang rakyat berhak mempertanyaakan segala sesuatu yang dilakukan oleh kepala negara, dan kepala negara berkewajiban untuk menjawab. Selama pertanyaan itu tidak terjawab maka rakyat tersebut mempunyai hak untuk tidak patuh dan taat kepadanya. Kepala negara juga berkewajiban menjelaskan sedetail mungkin alasan tindakan yang diambilnya, dan jika memang terbukti tindakan itu keliru dan salah, maka kepala negara harus segera meralat tindakannnya , dan berterima kasih kepada orang yang  memberikan nasehat atau kritikan kepadanya, bukan merekayasa sesuatu untuk menutupi kesalahannya.

 Sewaktu Khalifah Umar bin Khattab berpidato : wahai kaum muslimin, dengarlah dan taatlah..! Tiba-tiba Salman al Farisi berdiri dan berkata ; Hai Umar, kami tidak akan mendengar pidatomu sebelum kamu dapat menjelaskan tentang kain baju yang engkau pakai. Engkau membagi-bagikan kain kepada kami dan kain itu tidak cukup dipakai buat baju, dan secara hukum engkau juga mendapat jatah yang sama seperti kami. Tapi sekarang kami melihat engkau memakai baju dari kain yang dibagi itu, berarti engkau mendapat bagian yang lebih banyak daripada kami. Sebelum engkau menjelaskan darimana engkau mendapat kain baju lebih itu, kami tidak akan taat kepadamu”.

Mendengar interupsi tersebut, Umar berkata : baik, semuanya akan saya jelaskan “. Umar segera memanggil anaknya  : wahai Abdulah bin Umar,..! Abdullah bin Umar yang juga berada di hadapan Umar segera menjawab ; “ Aku berdiri dihadapanmu ya Amirul Mukminin “. Umar bertanya kepada anaknya ; “ wahai Abdullah, aku bertanya kepadamu, bukankah baju yang aku pakai ini sebagian kainnya berasal darimu ? “. Abdullah menjawab : “ Benar. Aku mendapat bagian yang sama seperti yang lain, kemudian bagianku tersebut aku hadiahkan kepadamu sehingga engkau dapat membuat sebuah baju yang engkau pakai sekarang “. Mendengar penjelasan Abdullah tersebut, Salman al farisi segera menyahut : Baik, kami telah memahami asal daripada baju itu, maka sekarang lanjutkanlah pidatomu dan kami akan mendengar dan patuh kepadamu “.

Dari kisah ini jelas bahwa kepatuhan kepada pemimpin jika memang pemimpin tersebut telah melakukan segala sesuatu dengan penuh keadilan, tetapi jika terbukti pemimpin itu telah menyimpang dari hukum seperti melakukan tindakan koupsi, kronisme dan kedzaliman lainnya, maka pemimpin tersebut tidak perlu ditaati dan dipatuhi apalagi disokong dengan segala daya upaya.

Rakyat juga berhak untuk mempertanyakan kemana saja uang negara yang dipakai oleh kepala negara, sebagaimana dalam kisah Abu ja’far al manshur. Pada suatu hari kepala negara islam, Abu Ja’far al Manshur kembali dari menunaikan ibadah haji. Dia meminta  pengawalnya untuk menghadirkan seorang ulama Sofyan assauriy ke istana. Ternyata ulama tersebut tidak mau datang menghadap kepadanya. Akhirnya Abu Ja’far memerintahkan agar ulama tersebut dibawa dengan paksa. Setelah sampai di istana, Abu ja’far bertanya :   Wahai Sofyan, ..mengapa sejak aku pulang  menunaikan ibadah haji, engkau tidak pernah datang menghadapku, padahal banyak masalah yang ingin aku konsultasikan kepadamu. Selama ini apa saja yang engkau nasehatkan selalu kami turuti dan apa yang engkau larang juga kami jauhi.”

Sofyan sauriy menjawab : Aku akan bertanya kepadamu : ‘ Berapa banyak uang negara yang kamu pakai untuk perjalanmu ke tanah suci ? Abu Ja’far menjawab ; “ Aku tidak tahu, tetapi engkau dapat menanyakan hal itu secara rinci kepada bendaharaku “. Imam Sofyan bertanya  : “ Apa jawabanmu di hari kiamat nanti jika engkau ditanya oleh Allah tentang hal itu..?” Dan ingatlah ketika Khalifah Umar bin Khattab pulang dari haji, maka beliau ditanya oleh salah seorang pembantunya : “ berapa banyak uang yang telah kita pergunakan dalam perjalanan haji ini..? Pembantu itu menjawab : “ Delapan belas dinar Ya Amirul mukminin “. mendengar jumlah uang tersebut Umar langsung berkata ; ‘ Celaka..berarti kita telah memakai harta Baitul Maal “. Dalam hadis , rasulullah bersabda ; “ Siapa yang menggunakan harta Allah dan rasul-Nya dengan sekehendak nafsunya maka baginya api neraka pada hari kemudian”. Hadis ini diriwayatkan oleh Manshur bin Ammar dari sahabat Ibnu mas’ud.

Khalifah Abdurrahman an Nasir dalam membangun kota Zahra yang megah telah mencurahkan segala perhatian, tenaga dan pikiran. Beliau juga telah menghabiskan  harta kekayaan negara yang banyak untuk mewujudkan cita-citanya mempunyai sebuah kota yang megah dan sibuk mengurusi pembangunan kota tersebut sampai pada suatu hari dia terlupa untuk melaksnakan shalat jum’at. Pada waktu itu ada seorang ulama terkemuka Syekh Al Mundzir bin said. Melihat sikap pemborosan tersebut, ulama ini  berkhutnbah dalam shalat Jumat dimana khalifah hadir ditempat itu. Syekh al Mundzir mengawali khutbahnya dengan ayat  : “ Apakah kamu mendirikan bangunan di setiap tanah yang tinggi untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan tujuan agar kamu kekal dalam kekuasaaan? Dan apabila kamu menghukum maka kamu melaksanakan hukuman dengan penuh kekejaman ? Maka bertaqwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepada-Nya. An bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa saja yang kamu ketahui. Dia juga telah memberi rezeki berupa  binatang ternak, dan anak—anak “ ( Surah  As-Syura : 128 – 133 ).

 Kemudian ayat tersebut disambung dengan ayat : ‘ Katakanlah bahwa kesenangan di dunia itu hanyalah sebentar dan kesenangan di akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa ( Surah an Nisa : 77 ) Selanjutnya dalam khutbah jum’at itu Syekh al Mundzir mengupas secara penjang tentang pemborosan uang dan kekayan negara kemudian mengakhiri dengan ayat : ‘ Maka apakah orang yang mendirikan masjid diatas dasar taqwa dan keridhaan Allah itu lebih baik , ataukah orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya itu jatuh bersamanya ke dalam neraka jahannam ? “ ( Surah at taubah ; 109 ). Dari kisah diatas dapat dilihat bahwa pemakaian uang negara oleh pemimpin dan pejabat negara sampai kepada uang untuk keperluan naik haji harus dapat dipertangungjawabkan baik kepada rakyat maupun kepada Allah di hari kiamat nanti. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

 

Buletin

Share This