1446 Kegelisahan Umar Bin Khattab

today February 12, 2021 account_circle Arifin Ismail

KEGELISAHAN UMAR BIN KHATTAB 

“ Satu hari pemimpn yang adil sama dengan ibadah selama enam puluh tahun “ ( Hadis Riwayat Thabrani )

Pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab berkata : “ Aku tidak dapat tidur di malam hari karena takut urusanku dengan Allah tidak selesai. Dan aku takut tidur di siang hari karena urusanku dengan rakyat tidak selesai “. Inilah pemimpin yang selalu mengkhawatirkan dirinya sehingga tidak dapat tidur karena merasakan begitu besarnya tanggungjawab  baik kepada rakyat maupun kepada Tuhan yang pasti dijumpainya di hari akhirat nanti. Umar bin Khttab sadar bahwa pemimpin sejati adalah pemimpin  yang melayani rakyat dan mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat, sesuai dengan hadis  : “ Sayyidul Qaumi Khaadimuhum “, pemimpin suatu masyarakat adalah pelayan bagi masyarakat tersebut. Oleh karena itu seseorang yang siap untuk menjadi pemimpin harus siap menjadi pelayan umat, sebab setiap orang akan ditanya akan kepemimpinan yang diberikan kepadanya, sebagaimana dalam sebuah hadis bahwa pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hambaNya yang mendapat amanah kepemimpinan ; “ Wahai hambaKu, Aku telah memberi engkau kekuasaan, maka mana tanggungjawabmu atas kekuasaan yang kuberikan tersebut ? “ ( Imam Ahmad / Kitab Nihayah fil fitan wal malahim, Ibnu Katsir, jilid 2, hal. 48 )

            Seorang pemimpin masyarakat harus memiliki sikap memikirkan akan  pertanggungjawaban  di akhirat nanti di depan allah Taala.  Untuk itu setiap pemimpin  harus mempunyai sifat zuhud ( mendahulukan akhirat dan tidak tamak oleh kehidupan dunia ), sifat rendah hati ( bukan rendah diri ), pemaaf, penyabar, mencintai akhirat, mencintai rakyat, pemurah dan berani. Apabila seseorang mengingat akan tanggungjawab ini, seyogyanya seseorang sewaktu dia dilantik menjadi pemimpin, pejabat, menjadi wakil rakyat, dan lain sebagainya maka dia seharusnya menangis, karena khawatir tidak dapat menjalankan amanah dengan baik dan lulus dari tanggungjawab di depan Allah. Umar bin Khattab sebaik dilantik menjadi kepala negara , dia berkata : “ Kalaulah aku mengetahui bahwa di antara kamu ada yang lebih baik dan lebih kuat daripada diriku  dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai khalifah  ini, maka aku rela jika leherku dipotong daripada menerima jabatan ini “.

Seorang pemimpin harus mengabdikan dirinya untuk rakyat, kapan saja selagi rakyat tersebut memerlukan bantuannya. Pernah suatu hari Umar bin Khattab sedang sibuk dengan satu urusan penting negara. Tiba-tiba datang seorang rakyat kecil yang ingin mengadukan suatu persoalan agar diselesaikan. Umar merasa agak terganggu dengan kedatangan rakyat kecil itu, dia memukul orang itu sambil  berkata kepadanya : “ Bila aku duduk untuk menerima pengaduanmu, engkau tidak datang; tetapi bila aku sedang sibuk dengan urusan negara , engklau datang menganggu aku “. Tanpa berkata sedikitpun , orang itu berlalu meninggalkan Umar. Tetaapi lama kemudian,  Umar memanggil orang tersebut dan  berkata : “ Marahilah dan pukullah aku untuk membalas perbuatanku tadi “. Orang itu segera menjawab : “ Aku telah memaafkan Amirul Mukminin karena Allah “. Umar segera kembali ke rumahnya melaksanakan shalat sunat dua rakaat sambil menangis menyesali perbauatannya tersebut.

Oleh sebab itu, setiap  pemimpin yang selalu tawadhu’, rendah hati dan merasa hina di depan ilahi, tidak boleh merasa sombong dan angkuh, pemimpin yang melihat setiap jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan Tuhan, tetapi jika dia lupan dengan tanggungjawab tersebut, dia akan  merasa bahwa dengan dilantik, berarti dia mendapat kesempatan untuk menumpuk kekayaan  )  .

 Selagi seorang pemimpin  merasa bahwa kursi dan  jabatan sebagai kenikmatan bukan sebagai ujian, maka dia tidak akan dapat merasakan penderitaan rakyat dan masyarakat. Pemimpin yang mempunyai hati yang sombong, angkuh, arogan, kelak akan berakibat kepada kehancuran semua tatanan masyarakat. Mereka yang sebenarnya menjadi pencetus segala kekacauan di dalam masyarakat, dengan kemaksiatan yang meraja lela, yang menimbulkan berbagai krisis yang di hadapi masyarakat.

Maka untuk mengatasi krisis tersebut , masyarakat perlu melahirkan pemimpin yang benar-benar berjiwa rakyat, pemimpin yang merasakan bahwa setiap kebijaksanaan dan keputusan yang dibuat akan dipertanggungjawabkan di depan pengadilan Tuhan di akhirat nanti. Mempersiapkan  pemimpin yang siap berkorban untuk rakyat, bukan yang siap menguras harta dan kekayaan rakyat. Jika pemimpin rakyat mempunyai sifat-sifat seperti diatas, maka janji Allah, pemimpin tersebut pasti dapat memerintah negara dengan penuh kedamaian. Sebagaimana yang telah tyerbukti dalam pemerintahan Umar bin Khattab, dengan keadilan dan sifat yang mulia, maka dia dapat menguasai dua pertiga dunia. Berkat kepemimpinannya rakyat berada dalam keadaan damai, malahan alam semesta juga mengikuti segala perintahnya.

Hal ini  terbukti pada waktu negeri Mesir mengalami krisis karena air sunagi Nil menjadi kering, maka Khalifah Umar bin Khattab segera mengirim surat kepada Sungai Nil berbunyi : “ Surat ini dikirim oleh Umar, Amirul Mukminin kepada sungai Nil. Wahai sungai Nil, kalaulah air yang mengalir dalam tubuhmu itu bukan dari kuasa Allah , maka kami tidak memerlukan engkau. Tetapi kami percaya Allah itu Maha Kuasa dan kepada-Nya kami memohon agar engkau mengalir seperti biasa “. Apabila surat itu dijatuhkan ke dalam sungai Nil, maka airnya segera mengalir sebagaimana biasa.  Jika pemimpin dekat kepada rakyat, dan dekat kepada Tuhan ; maka segala doa dan harapan pasti menjadi kenyataan; karena rasul sendiri telah bersabda bahwa diantara doa yang dimakbulkan oleh Allah adalah doa seorang pemimpin yang adil. Tetapi sebaliknya jika pemimpin tersebut tidak adil, jangankan doa kepada rakyat, shalat dan ibadahnyapun yang ditujukan untuk diri sendiri tidak akan diterima. 

Salah satu penyebab utama krisis dunia hari ini adalah karena dunia telah dipimpin oleh pemimpin yang tidak berjiwa rakyat, tidak dapat menjalankan amanah dan tanggungjawab dengan penuh keadilan, pemimpin yang tidak mempunyai jiwa tawadhu’, dan zuhud. Jika para pemimpin hanya  sibuk mencari kekayaan, selalu menebar janji dan meneriakkan slogan tanpa kenyataan, malahan kadangkala ada pemimpin yang dapat melakukan  tindakan korupsi,  kekerasan, kecurangan demi mempertahankan jabatan dan kedudukan. Jika suatu negara dipimpin oleh  pemimpin seperti ini, maka  keadaan negara akan tambah kacau, dan krisis akan terus berkepanjangan; karena selagi pemimpin  tidak takut kepada Allah, tidak dekat kepada rakyat, serta tidak profesional dalam memimpin, maka selama itu pula sekian krisis , musibah, kekacauan akan menimpa masyarakat, bangsa dan negara. Sejarah mencatat, begitu takutnya Khalifah Umar bin Khattab dalam memegang jabatan kepala negara sehingga  ketika hampir wafat, setelah ditikam, beliau sempat berpesan kepada anaknya Abdullah bin Umar : Wahai Abdullah, keluarga Umar tidak  tidak menaruh sedikitpun niat untuk menjadi khalifah. Cukuplah dikalangan keluarga kita, Umar bin Khattab saja yang akan ditanyai Allah subhana wataala akan tanggungjawabnya terhadap umatnya. Anakku, sesekali jangan, jangan mengingat-ingat jabatan khalifah ini “.

Dalam ajaran Islam, kewajiban utama seorang pemimpin adalah menegakkan hukum Allah terhadap rakyat yang ada bawah kekuasaannya, sebab menurut Ibnu Khaldun seorang pemimpin adalah “ pengganti pemegang syariat dalam memelihara kehidupan beragama dan bernegara “. Oleh sebab itu jabatan kepala negara dalam agama Islam mengandung dua pengertian, dari sisi agama dan politik. Pemimpin negara adalah pengganti Rasul dalam melaksanakan hukum Allah di tengah masyarakat dan negara yang dipimpinnya. Oleh sebab itu melaksanakan aharan agama, dan membela agama termasuk kewajiban seorang kepala negara. Demikian juga pemimpin negara adalah pemimpin yang bertangungjawab terhadap keselamatan, keselamatan, dan kesejahteraan hidup rakyatnya.

Oleh sebab itu pahala pemimpin yang adil itu sangat besar disisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “ Sartu hari pemimpin yang adil sama dengan beribadah ritual selama enam puluh tahun “ ( Riwayat Thabrani ) Tetapi sebaliknya jika seorang pemimnpin dzalim dan tidak menjalankan kewajibannya dalam menjaga agama, keamanan, kesejahteraan rakyatnya dan tidak menegakkan keadilan hukum bagi rakyat di bawah kuasanya, maka satu hari kedzaliman yang dilakukan akan sama dengan kemaksiatan selama enam puluh tahun 

Pemimpin yang saleh dan adil merupakan modal untuk mendapatkan kedudukan mulia di hari akhirat kelak, sebaagimana Rasulullah bersabda : “  Semulia-mulia kedudukan di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah kedudukan pemimpin yang adil dan bersikap lemah lembut kepada rakyatnya, sedang seburuk-buruk kedudukan seorang hamba Allah di akhirat nanti adalah kedudukan pemimpin yang dzalim dan kasar kepada rakyatnya   ( Thabrani ). Malahan ibadah shalat seorang pemimpin dapat diterima Allah tergantung bagaimana dia menjalankan kepemimpinannya sebagaimana dalam sebuah hadis : “ Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat pemimpin yang dzalim “ ( Riwayat Hakim / Kitab Targhib wat tarhib No. 3233 ).   Semoga para pemimpin kita diberi Allah petunjuk dalam menjalankan kepemimpinannya sehinga dapat membawa masyarakat dan negara menjadi negara “baldatun thayyibah wa rabbun ghafur “, negeri yang berkah, dan mendapat ampunan Allah “, sebab masyarakatnya dapat menjalankan kewajiban beriman dan bertaqa serta dapat syariat dalam kehidupan, sehingga menjadi masyarakat bahagia dunia dan akhirat. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Buletin

Share This