1445 BELAJAR DARI  KEKALAHAN 

today February 5, 2021 account_circle Arifin Ismail

BELAJAR DARI  KEKALAHAN 

“ Taatlah kamu kepada Alah dan RasulNya dan janganlah kamu berpecah belah karena akan membuat kamu gagal dan hilang kekuatan “ ( Qs. Al Anfal : 46 ).

Sejarah Islam telah mencatat bahwa sebenarnya pada awal perang Uhud, pasukan Islam mendapat kemenangan walaupun jumlah pasukan Islam hanya tujuh ratus orang dan pasukan kaum musyrikin sebanyak tiga ribu orang. Kemenangan tersebut disebabkan keberanian pasukan Islam , semangat yang tinggi dalam berjuang, walaupun dalam jumlah yang sedikit, sehingga dapat menghancurkan pasukan yang jauh lebih banyak. Disamping itu juga dengan strategi Rasulullah membagi pasukan menjadi dua. Pasukan pertama sebanyak enam ratus orang berperang di bawah; sedangkan pasukan pemanah yang berada di atas bukit , untuk menjaga pasukan Islam di bawah dan menyerang setiap musuh yang datang. Semangat juang yang tinggi dengan landasan iman dan stretagi yang jitu ini membuahkan hasil kemenangan. Pasukan pemanah di atas bukit yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair diperintahkan agar tidak boleh meninggalkan tempatnya baik pasukan islam mengalami kekalahan maupun kemenangan sebab kewajiban mereka hanyalah mempertahankan pasukan Islam dari serangan pasukan musuh yang datang dari belakang.  

Ternyata setelah kemenangan berada di tangan, dengan larinya pasukan musuh dengan meninggalkan harta benda yang banyak ( ghanimah ); dan Rasulpun belum mengeluarkan satu perintahpun, tiba-tiba sebagian pasukan kaum muslimin merasa lebih baik mengambil harta ghanimah tersebut dengan segera. Melihat sebagian kawannya telah mengambil harta ghanimah tersebut, maka pasukan pemanah yang diatas tidak sabar, sehingga mereka juga berminat untuk ikut mengambil harta tersebut. Pemimpin pasukan memperingatkan mereka bahwa Rasul telah berpesan bahwa apapun yang terjadi mereka tidak boleh meningalkan tempat mereka tersebut; tetapi karena mereka melihat pertempuran telah usai maka sebagian dari pasukan pemanah merasa bahwa keberadaan pasukannya tidak diperlukan lagi, sehingga akhirnya sebagian besar dari mereka segera turun untuk ikut mengambil harta ghanimah tersebut. Sebanyak empat puluh orang turun ke bawah untuk ikut mengambil harta ghanimah tersebut sedangkan sepuluh orang lagi bersama komandan pasukan tetap bertahan mengikuti perintah Rasululah agar bertahan walau apapun yang terjadi,

Pasukan musuh melihat bahwa pasukan yang berada di bukit uhud telah ditinggalkan oleh sebagian pasukan islam, sehingga mereka berpikir jika demikian, maka merupakan kesempatan kepada mereka untuk kembali menyerang pasukan Islam yang sednag lalai dengan harta benda di bawah bukit. Akhirnya pasukan musyrikin dengan kekuatan dua ratus orang pasukan berkuda menyerb pasukan pemanah yang tinggal sepuluh orang. Setelah pertahanan kaum muslimin diatas bukit dapat dikalahkan, barulah mereka menyerang pasukan Islam yang sednag sibuk dengan harta ghanimah. Ditangah berkecamuknya peperangan yang kedua ini, maka ada suara yang mengatakan bahwa Rasulullah telah terbunuh, padahal musuh hanya membunuh Mus’ab bin Umair; tetapi mereka menyangka itu Rasyulullah. Akibat serangan mendadak dan informasi Rasulullah terbunuh, membuat pasukan islam pecah tiga. Sebagian pasukan segera menarik diri dari pertempuran mendekati ke arah Madinah; sebagian lain tetap bertempur tetapi pikiran mereka terganggu dengan mendengar isu bahwa Rasululah terbunuh, dan pasukan ketiga adalah pasukan yang tetap bertahan bersama rasulullah saw.

Dengan terpecahnya pasukan kaum muslimin terbagi tiga bagian maka mudahlah bagi kaum musyrikin untuk mengalahkan kemenangan setelah mereka mendapat kekalahan. Dari kisah perang uhud diatas dapat kita lihat bahwa penyebab kekalahan adalah pertama ketamakan terhadap harta rampasan ( ghanimah ) sehingga sebagian pasukan berani meninggalkan pos yang harus mereka jaga. Hal ini juga yang menjadi penyebab kekalahan umat islam hari ini, dengan ketamakan mendapatkan harta benda mereka berani beralih dari satu pilihan kepada pilihan lain hanya disebabkan bahwa pilihan yang lain menjanjikan kedudukan yang lebih empuk. Malahan kadang-kadang sebagian umat islam berani mendukung presiden yang jelas tidak seajalan dengan prinsip keislaman asalkan dia mendapat harta, tahta dan kadang-kadang juga mendapat wanita.

 Penyebab kedua adalah isu yang dikembangkan pihak musuh, seakan-akan Rasulullah terbunuh padahal yang mereka bunuh adalah seorang sahabat yang bernama Mush’ab bin Umair. Isu tersebut akan mempengaruhi semangat juasng sebagain sahabat , dan memudahkan syetan untuk memberikan keraguan dalam bersikap sebab jika Rasulullah telah terbunuh, apakah kita masih tersu berjuang..? Keraguan dalam berperang inilah yang menyebabkan kekalahan sebab walaupun mereka dalam keraguan tersebut tetap melanjutkan peperangan tetapi membuat semangat juang mereka tidak sama dengan semangat juang kali pertama, apalagi konsentrasi talah terpecah mengingat terbunuhnya Rasulullah sehinga memudahkan musuh untuk mengalahkan mereka.

 Penyebab ketiga adalah terpecahnya pasukan menjadi tiga bentuk, sebagian pasukan mulai mundur ke balakang, sebab harta sudah ditangan di tambah termakan isu bahwa rasul telah terbunuh; pasukan kedua tetap bertahan tetapi dengan pikiran yang masih termakan isu bahwa rasul terbunuh, dan pasukan ketiga pasukan yang terus berjuang dengan seluruh keyakinan sebab mereka berjuang bersama Rasulullah saw. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit dimana riwayat menyebutkan bahwa pasukan yang bersama Rasulullah hanya empat belas orang, tujuh Muhajirin dan tujuh dari pasukan Anshar.

 Terlebih lagi dalam suasana yang kacau tersebut, dan terpecahnya pasukan dalam beberapa pasukan dan gencarnya serangan musuh sehingga kekompakan pasukan Islam telah hilang, sehingga semuanya berperang dengan cara masing-masing tanpa komando yang jelas, sehingga sebagian riwayat menyatakan akibat hilangnya komando dan sandi perang, maka ada diantara pasukan Islam membunuh pasukan islam sendiri sebab disangka itu adalah pasukan musuh. Inilah akibat daripada berpecahnya pasukan , sehingga tidak dapat membedakan lagi mana yang musuh mana yang kawan, yang mengakibatkan kekalahan.

 Masalah perpecahan merupakan masalah utama dalam menjalankan agama, sehingga semua rasul dinasehatkan agar menghindarkan perpecahan, sebagaimana dinyatakan dalam Surah al Syura : “ Dia ( Allah ) telah mensyari’atkan bagi kamu ( wahai Muhammad )  tentang agama dengan apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ’Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada agamaNya orang yang kembali [kepada-Nya]. ( QS. Al Syura 13)

Dalam ayat diatas terlihat bahwa “ jangan berpecah belah “ merupakan syarat tegaknya suatu agama. Inilah yang telahdiswsiatkan kepada seluruh nabi-nabi terdahulu. Demikian juga sewaktu Hulako menghancurkan kota Baghdad, maka Hulako bertanya kepada  seorang ulama pada waktu itu. Hulaku bertanya : Apakah yang menyebabkan aku dapat mengalahkan kota ini ? Ulama tersebut menjawab, engkau dapat mengalahkan kota ini sebab kami lalai dari bersyukur atas nikmat dan berpecah belah. Kemudian Hulako bertanya lagi : Apa yang dapat mengeluarkan aku dari kota ini ? Ulama tersebut menjawab : Jika kami menjalankan perintah agama dan tidak berpecah sesame sendiri. Menjalankan agama dengan taat, itu merupakan kekuatan personal, sedang tidak berpecah, walaupun berbeda satu sama lain, tetapi semua kelompok saling menghormati perbedaan dan menjaga persatuan dan persaudaraan itu merupakan sumber kekuatan umat. Kita dapat lihat, bagaimana sebuah peperangan yang diikuti oleh Rasulullah, dimana umat ilam mengalami kekalahan, disebabkan umat yang berpecah sehingga dengan mudah kaum kafir mengalahkan umat islam.

Semoga umat islam dapat mengambil pelajaran dan perhatian dari sejarah perang uhud diatas, dimana selama umat Islam berpecah maka kemenangan tidak akan di dapat, walaupun pada waktu itu Rasuylulah bersama mereka; apalagi pada saat sekarang, dimana tidak ada Rasul, tidak ada sahabat, tidak ada pemimpin yang dapat diharapkan, jika kita saling berpecah dengan kelompok masing-masing, sehebat apapun kelompok itu maka tidak akan menang; sebagaimana kelompok pasukan uhud, walaupun ada pasukan yang bersama nabi sebanyak empat belas orang; tetapi karena kelompok lain telah berpecah maka perpecahan itu yang mengakibatkan kekalahan. Inilah sunnatullah dalam kehidupan bahwa setiap perpecahan hanya menguntungkan musuh dan mengakibatkan kekalahan sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Al Quran : “ Dan taatlah kamu kepada Allah dan rasulNya dan janganlah kamu berpecah belah sebab akan membuat kamu gagal dan hilang kakuatan “ ( QS. Al Anfal : 46 ).

Buletin

Share This