1442 AGAMA ITU MUDAH 

today January 16, 2021 account_circle Arifin Ismail

AGAMA ITU MUDAH 

 

" Sesungguhnya Agama itu mudah " ( Hadis riwayat tBukhari )

 

Islam adalah agama yang berisi petunjuk hidup bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kehidupan yang abadi di alam akhirat kelak. Oleh sebab itu Allah menjamin bahwa seluruh ajaran agama Islam itu dapat dilaksanakan dengan mudah, dan tidak ada sesuatupun yang menyusahkan kehidupan manusia. Dalam alQuran dinyatakan : “ Dan Allah tidaklah menjadikan kesusahan bagimu dalam menjalankan agama ".(QS.AlHaj : 78 ). Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya agama itu mudah, dan janganlah seseorang itu mempersulit diri dalam menjalankan agama, kecuali dia akan kalah, maka mudahkanlah, dekatkanlah, dan berikan kabar gembira " ( riwayat Bukhari ).J

ika seandainya ada sesuatu wajib tetapi sulit untuk dilaksanakan, maka Allah akan memberikan kemudahan dan keringanan. Sebagai contoh, jika seorang itu mufasir, maka dibolehkan untuk melakukan shalat dengan jamak dan qashar. Sedeang dalam amalan yang sunat, diberikan banyak pilihan untuk melakukannya, sehingga dalam ibadahj yang sunat, Rasulullah akan memberikan berbagai variasi amalan, sehingga umatnya dapat mengikuti amalan yang mudah, dan semuanya berdasarkan kepada sunah Rasulullah saw. 

 

Sebagai contoh, seorang sahabat nabi yang bertanya kepada Aisyah. Sahabat Nabi, Abdullah bin Qais berkata : “ Saya bertanya kepada istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu anha mengenai shalat witir yang dilaksanakan oleh Rasulullah, apakah Rasululah melaksanakan shalat witir tersebut di awal malam atau di akhir malam ? Aisyah menjawab :  “ Kedua-duanya dilakukan oleh Rasulullah, kadang kala beliau melaksanakan shalat witir di awal malam, dan pada waktu yang lain beliau melaksanakan shalat witir di akhir malam “. Saya (Abdullah bin Qais ) berkata : “ Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam perkara ini “.

 Kemudian saya bertanya lagi kepada Aisyah r.a. : “ Bagaimana bacaan al Quran Rasulullah, apakah dengan suara yang keras atau dengan suara yang perlahan ? “. Sayidatina Aisyah menjawab : “ Semuanya baginda lakukan, kadang kala beliau membaca al Quran dengan suara yang keras, dan kadang kala juga beliau membaca al Quran dengan suara perlahan “. Abdullah bin Qais berkata : “ Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam perkara ini “. 

Sahabat Nabi bertanya lagi kepada Aisyah : “ Bagaimana perbuatan baginda Nabi Muhammad saw setelah melakukan hubungan suami istri ( jinabah ), apakah beliau mandi wajib dahulu baru kemudian tidur lagi, atau baginda tidur setelah berhubungan, baru setelah bangun dari tidur melakukan mandi wajib ? Aisyah menjawab : “ Nabi melakukan dua-duanya, kadang kala beliau mandi terlebih dahulu baru tidur, dan juga kadangkala beliau setelah berhubungan, langsung tidur, baru kemudian melakukan mandi wajib “. Saya, kata Abdullah bin Qais berkata : “ Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam perkara ini “. Hadis riwayat Imam Tirmidzi dalam kitab sahihnya.

Dari keterangan hadis diatas dapat kita lihat, bahwa agama Islam adalah agama yang mudah dan lapang, bukan agama yang susah, atau menyusahkan atau sempit, sehinga nabi melakukan suatu perkara dalam berbagai bentuk variasi, dan waktu. Nabi melakukan shalat witir di awal malam, sebelum tidur, dan nabi juga pernah melakukan shalat witir di akhir malam. Oleh sebab itu jika ada diantara umatnya yang akan salat witir di awal malam, maka janganlah dia menyalahkan orang lain yang melakukan shalat witir di akhir malam; demikian juga jika seseorang itu melakukan shalat witir di akhir malam, maka janganlah menyalahkan orang lain yang melakukan witir di awal malam, sebab keduanya pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.

 Perbedaan perbuatan nabi tersebut adalah untuk memudahkan bagi umatnya melakukan sesuatu amalan dengan mudah, dan lapang, dengan berbagai pilihan. Selama perkara tersebut dilakukan nabi, maka semuanya boleh dilakukan, dan bagi seseorang yang memilih suatu perbuatan yang dilakukan nabi, maka tidak boleh menafikan perbedaan pendapat dari yang lain selama amalan tersebut berlandaskan kepada hadis dan perbuatan nabi. Inilah kelapangan Islam, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Dan Allah tidaklah menjadikan kesusahan bagimu dalam menjalankan agama “ ( QS. AlHaj/22 : 78 ). 

Pada saat sekarang ini, sebagian umat Islam telah terbagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok mempunyai ciri khas amalan yang diambil dari salah satu hadis nabi. Sepatutnya setiap pengikut kelompok tersebut walaupun melaksanakan amalan sesuai dengan paham dan ajaran kelompoknya maka dia tidak boleh menyalahkan amalan dari kelompok lain yang berbeda dengannya selama amalan kelompok lain itu juga mempunyai dalil daripada hadis nabi yang saling berbeda dalam melaksanakan amalan tersebut. Inilah maksud dengan kelapangan dalam beramal yang dapat menimbulkansaling menghargai pendapat yang lain. 

Tetapi jika amalan suatu kelompok diikuti dengan sikap fanatik terhadap apa yang diajarkan oleh kelompoknya, maka disinilah timbulnya perpecahan antar kelompok umat islam, sehingga setiap kelompok akan mempertahankan ajaran kelompoknya dan menuding ajaran kelompok yang lain itu salah dan sesat.

Akibatnya perbedaan pendapat dan dalil yang sepatutnya menjadi rahmat bagi umat dengan adanya kelapangan dalam beramal, akan berakibat menjadi sumber perpecahan dikarenakan perbedaan amalan dan sikap fanatik terhadap suatu amalan.

Pada masa dahulu, para Imam Mujtahid  seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii, Imam Hanbali akan mengambil ijtihad dalam suatu hukum fikih berdasarkan kepada dalil-dalil hadis yang mereka pilih. Imam Hanafi memilih hadis yang satu, sedangkan Imam Maliki memilih pendapat yang berdasarkan hadis yang kedua. Imam Syafii, melihat kepada hadis yang lain sehingga berpendapat yang berbeda dengan Imam Malik yang pernah menjadi gurunya. Imam Syafii tidak fanatik dengan gurunya, sehingga dia mengambil ijtihad yang berbeda berdasarkan hadis yang dipahaminya, tetapi disaat yang sama dia tidak mencela gurunya sekalipun gurunya itu berbeda dengan pendapatnya. Demikian juga Imam Hambali, walaupun dia murid Imam Syafii, tetapi dia berbeda pendapat dengan gurunya, dengan tetap menghormati pendapat gurunya yang berbeda dengan pendapatnya.  Perbedaan pendapat dan ijtihad tidak menjadi sumber perpecahan, dan setiap pendapat layak untuk dihargai selama pendapat tersbeut berdasarkan kepada dalil-dalil baik dari al Quran dan hadis-hadis nabi yang kadang-kadang berbeda dalam suatu amalan. Tetapi biasanya perbedaan ini bukan kepada amalan yang wajib, sebab dalam amalan wajib yang berdasarkan dalil qat’I (dalil yang tetap ) ; tetapi perbedaan terjadi biasanya dalam amalan sunat dengan dalil dzanni ( dalil yang berfariasi dan memungkinkan banyak penafsiran ). 

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baru selesai dari perang Ahzab pada tahun ke lima Hijriyah dan meletakkan peralatan perang. Pada saat itu, datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berkata, ‘Berangkatlah menuju perkampungan Bani Quraizhah.’ Maka saat itu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para sahabat agar segera berangkat menuju perkampungan Bani Quraidxah,  dan bersabda: “Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Al Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.) 

Para sahabat berbeda pendapat dalam memahami nash hadits ini. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah agar mereka segera berangkat, sehingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah sebelum shalat ‘Ashar. Karena itulah, ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tetap melaksanakan shalat ‘Ashar dan tidak menta’khirkannya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah.

Sedangkan yang lain memahami bahwa yang dimaksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah agar mereka jangan melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tidak langsung melaksanakan shalat ‘Ashar dan menundanya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. 

Sahabat yang shalat sebelum tiba di perkampungan Bani Quraidzah tidak mencela kelompok yang shalat di perkampungan Bani Quraidzah, dan setiap kelompok saling menghormati pendapat yang lain. Setelah berjumpa dengan nabi, mereka menceritakan perbedaan antara mereka dalam melaksanakan perintah tersebut, nabi membenarkan kedua pendapat sahabat tersebut. 

Sudah saatnya hari ini umat islam berlapang dada dengan pemahaman yang berbeda dari kelompok yang lain, selama perbedaan tersebut tetap berlandaskan dalam perbedaan memahami nash dalil yang besumber dari al Quran dan Hadis, tetapi disaat yang lain umat islam harus bersikap tegas terhadap pemahaman yang sesat yang keluar daripada prinsip-terhadap prinsip akidah dan syariah. Dengan demikian, umat islam dengan kelapangan Islam tersebut dapat bersatu dalam ukhuwah jamaah dalam kelompok berbeda, bukan hanya berjamaah dalam satu kelompk sahaja. Fa’tabiru ya Ulil albab.

 

Buletin

Share This