1438 Keadilan Pemimpin : Naungan Allah Di Muka Bumi

today December 18, 2020 account_circle Arifin Ismail

" Tidaklah layak untuk menerima janjiKu (sebagai pemimpin) orang yang dzalim " ( QS. Al Baqarah : 124 ).

Sewaktu nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar anak cucunya juga menjadi pemimpin, maka Allah menjawab bahwa orang yang layak memimpin adalah orang yang memiliki keberanian untuk menegakkan keadilan, sedangkan mereka yang dzalim dan tidak adil tidak layak menjadi pemimpin, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 124 dari surat alBaqarah diatas. Pemimpin yang menegakkan keadilan merupakan asas kedamaian dunia dan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu dalam sejarah islam sangat banyak cerita keberanian dan keadilan pemimpin terdahulu sehingga pemimpin mendatang dapat menarik teladan dari sejarah kepemimpinan tersebut.

Khalifah Umar bin Khatab baru saja sampai ke negeri Syam dalam salah satu kunjungan kenegaraan yang dilakukannya. Sebaik sampai disana, tiba-tiba datang seorang Yahudi mengadukan perkara yang dialaminya : “ Wahai Amirul Mukminin, Seorang lelaki dari kalangan mukminin telah melakukan sesuatu ke atas diriku sebagaimana yang kamu lihat ini “. Lelaki yahudi itu menunjukkan kepalanya yang terluka dan badannya yang cidera akibat dipukul oleh seorang muslim. Melihat keadaan yahudi tadi, Khalifah Umar sangat marah dan berkata kepada Shuaib : “ Pergilah siasat perkara ini dan cari informasi siapakah yang paling bertanggungjawab melakukan perbuatan ini dan jika engkau mendapatkannya segera bawa orang itu menghadapku “.

Shuaib segera mencari informasi dan melakukan investigasi dan mendapatkan bahwa orang yang bertanggungjawab atas perbuatan pemukulan kepada yahudi itu adalah Auf bin Malik al-Asjai. Shuaib berkata kepada Auf bin Malik : “ Khalifah sangat marah atas perbuatanmu yang telah engkau lakukan ke atas lelaki yahudi itu. Oleh karena itu segeralah kamu berjumpa dengan Mu’adz bin Jabal dan ceritakan perkara ini kepadanya, karena aku tidak mau mengambil tindakan kasar kepadamu. Seusai shalat, Khalifah Umar bin Khattab bertanya kepada Shuaib : “ Apakah kamu datang kesini dengan membawa orang yang bertanggungjawab dalam perkara itu ? “. Shuaib menjawab : “Ya, khalifah, saya telah melakukan pencarian “. Sebelumnya Auf bin Malik telah menjumpai Muadz bin Jabal dan menjelaskan duduk perkara yang dilakukannya sehingga dia memukul yahudi tersebut “. Mendengar Khalifah Umar sudah bertanya tentang siapakah yang bertanggungjawab keatas pemukulan yahudi tadi, maka Mu’adz bin Jabal berkata kepada Umar : “ Wahai Amrul Mukminin, orang yang bertanggung jawab adalah Auf bin Malik, maka dengarkanlah penjelasan mengenai perkara tersebut terlebih dahulu, agar khalifah tidak tergesa-gesa mengambil tindakan dan salah dalam memutuskan dalam perkara ini “.

Khalifah Umar berkata : “ Apa yang terjadi ? ”. Auf bin Malik kemudian bercerita di hadapan Khalifah : ” Wahai Amirul Mukminin, beberapa hari yang lalu saya melihat lelaki yahudi ini menyeret seorang wanita muslimah di atas keledainya. Di dalam perjalanan lelaki yahudi ini telah memukul wanita muslimah itu agar dia jatuh tetapi dia gagal berbuat demikian. Karena gagal untuk memukulnya, maka lelaki yahudi ini menolak wanita muslimah sehingga wanita muslimah itu jatuh dan pingsan ”. Mendengar itu, khalifah Umar berkata : ” Bawalah ke hadapanku wanita muslimah tersebut, agar dapat diketahui apakah cerita itu betul atau tidak ”. Auf bin Malik segera mendatangi wanita muslimah tersebut, suami wanita dan orangtuanya dan menceritakan apa yang terjadi. Suami dan orangtua wanita memarahi wanita itu sebab merasa malu dengan kejadian tersebut. Wanita muslimah membenarkan cerita itu tetapi sewaktu diajak untuk menghadap khalifah dia berkata : ” Saya tidak mau berjumpa khalifah jika pergi berdua bersamanya (Auf bin Malik ) ”. Akhirnya suami dan ayah wanita itu berkata : ” Biarlah kami berdua yang mewakili wanita ini untuk menjumpai khalifah ”.

Suami dan ayah wanita itu segera menemui khalifah dan memberitahukan kepada khalifah sebagaimana yang sudah diceritakan oleh Auf bin Malik. Mendengar itu Khalifah sadar bahwa yahudi tadi hanya membuat-buat cerita agar Auf bin Malik dihukum, padahal dialah yang menyebabkan semua itu terjadi.. Khalifah Umar sangat marah dengan perbuatan lelaki yahudi yang merekayasa cerita bahwa dia dipukul agar Auf bin Malik dihukum, padahal sebenarnya Auf bin malik tidak bersalah, malahan yang bersalah adalah lelaki yahudi itu sebab Auf bin Malik memukulnya akibat dia telah menyeret, dan menolak sampai jatuh seorang wanita muslimah. Umar sangat marah dan berkata : Kami tidak mau lagi melihat rekayasa kriminal yang seperti ini lagi ”. Akhirnya khalifah menghukum lelaki yahudi atas perbuatannya yang menolak wanita muslimah dengan hukuman di salib. Hukuman berat tersebut bukan hanya karena mendorong wanita sampai terjatuh tetapi sebab berani merekayasa laporan agar orang yang tidak bersalah dihukum, dan orang yang bersalah bebas dari hukum. Lelaki yahudi itu segera disalib agar memberikan peringatan kepada yang lain agar tidak mudah-mudah merekayasa cerita dengan memfitnah orang lain dalam masalah kriminal.

Demikianlah sikap seorang pemimpin dan khalifah dalam menghadapi perkara-perkara yang terjadi, dia harus tegas dan berani tetapi bijak, sehingga orang yang salah mendapatkan hukuman yang setimpal, dan orang yang tidak salah bebas dari tuduhan yang mungkin saja direkayasa oleh pihak-pihak tertentu. Oleh sebab itu seorang pemimpin harus memiliki sifat berani untuk menegakkan keadilan dan tidak mudah terpengaruh kepada informasi sepihak, sebab pemimpin bertanggungjawab di depan Allah dalam menegakkan keadilan walaupun kepada orang kafir dzimmi, sebagaimana diucapkan oleh Umar : ” Wahai manusia, takutlah kamu kepada Allah mengenai perkara yang berada di bawah tanggungjawabmu. Barangsia di kalangan rakyatmu baik itu orang kafir yang dibawah perlindungan negerimu melakukan perbuatan seperti ini, maka tidak ada yang terlepas daripada tanggungjawab kami ”. Maksud dari pernyataan ini bahwa walaupun itu hanya masalah dan perkara seorang kafir dzimmah maka sepatutnya seorang pemimpin islam harus mengadakan investigasi, dan tidak mengabaikan perkara ini, sebab semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah saw dalam sebuah hadis bersabda : “ Kekuasan itu akan kekal bersama orang kafir jika dilakukan dengan penuh keadilan, dan kekuasan itu akan hancur bersama orang yang dzalim “. Dari hadis ini dinyatakan bahwa kesinambungan suatu pemerintahan bukan tergantung kepada siapa yang memegangnya tetapi tergantung kepada sistem yang dilaksanakan dalam pemerintahan tersebut. Siapapun orang yang memegang kekuasaan, jika pemerintahan itu dilaksanakan dengan penuh keadilan, keterbukaan dan kejujuran, maka kekuasaan itu akan terus berjalan dengan baik, walaupun kekuasaan itu dipegang oleh kafir atau muslim. Tetapi jika kekuasaan itu dijalankan dengan penuh rekayasa, permainan dan kedzaliman, maka kekuasan itu akan hancur walaupun yang menjalankannya adalah seorang yang terpandang , atau orang yang mempunyai karisma, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah hadis disebutkan : “ Akan datang sesudahku, pemimpin-pemimpin yang berdusta dan dzalim. Maka barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kedustaannya dan menolong mereka diatas kedzalimannya, maka mereka itu tidaklah termasuk golonganku dan aku terlepas daripada mereka, serta mereka itu tidak akan dapat menghampiri kolamku nanti di hari akhirat “ ( Hadis riwayat Tirmidzi )


Ujian seorang pemimpin adalah ujian keberanian untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Dengan keadilan maka masyarakat akan hidup dengan penuh kedamaian, sebab yang salah pasti dihukum dan yang baner pasti mendapat perlindungan. Tetapi masyarakat tidak akan tenang jika kedzaliman terus berlangsung di depan mata, walaupun ekonomi rakyat dan pembangunan fisik terus berjalan, sebab ketenangan dan kedamaian hidup lebih didambakan daripada kenikmatan hidup.

Keadilan merupakan faktor utama dan menjadi asas yang perlu ditegakkan untuk menjamin kemerdekaan dan kebahagiaan masyarakat. Apabila keadilan dapat ditegakkan dalam semua aspek seperti keadilan hukum, keadilan ekonomi, maka keamanan, kesejahteraan, akan tercapai. ‘ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu untuk menetapkan undang-undang di kalangan manusia supaya kamu dapat menetapkan hukum dengan penuh kedadilan “ ( QS. An Nisa : 58 ).

Hasan al Basri, ulama salaf berkata : “ Sesungguhnya Allah menjadikan pemimpin negara yang adil itu untuk meluruskan semua yang bengkok, melenyapkan semua yang mengherankan, memperbaiki semua kerusaan dan kebinasaan, menguatkan orang yang lemah, membela orang yang teraniaya, dan menyenangkan hati semua orang yang susah…Pemimpin negara yang adil adalah berdiri antara Allah dengan hambaNya. Dia mendengar Kalam Allah dan juga mendengarkan suara hamba-hambaNya. Dia melihat Allah dan juga melihat kepada hamba-hambaNya. Dia menuju Allah dan mengemudikan dan membawa hamba-hambaNya menuju ke jalan Allah “. Oleh sebab itu Rasulullah bersabda : " as sulthan dzillullah fil ardh “, pemimpin yang adil adalah naungan Allah di atas permukaan bumi “ ( riwayat baihaqi ).   Fa’tabiru Ya Ulil albab.

 

 

Buletin

Share This