1436 Mencari Pemimpin Yang Amanah

today December 4, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Kemudian Kami jadikan kamu sebagai khalifah di muka bumi, supaya Kami ( Allah ) dapat memperhatikan apa yang kamu perbuat “ ( QS. Yunus ;14 ).

 

Khalifah Umar bin Khatab melantik Bashar bin Ashim sebagai petugas pengutip zakat bagi penduduk Hawazin. Setelah dilantik, ternyata Bashar mengulur-ulur waktu kerjanya, sehingga dia ditanya oleh Khalifah Umar : “ Apakah yang menyebabkan kamu melambat-lambatkan tugas yang telah diberikan kepadamu.? Apakah kamu tidak mendengar dan taat kepada tugas yang kami berikan..? Bashar menjawab : Bukan begitu ya Amirul Mukminin..tetapi sebab aku telah mendengar rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa yang menjadi pemimpin bagi suatu urusan kaum muslimin, maka dia nanti pada hari kiamat akan berdiri di atas jembatan yang berada di atas neraka. Jika dia dapat melakukan tugas dengan baik, maka dia akan selamat meniti jembatan tersebut. tetapi jika dia melakukan kejahatan dalam tugas yang diberikan kepadanya, maka jembatan itu akan runtuh dan dia akan terjatuh ke dalam nyala api neraka selama tujuh puluh tahun.

Dari kisah diatas dapat dilihat bahwa seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas segala tugas yang diamanatkan kepadanya, jika dia tidak melakukan tugas tersebut dengan baik, maka dia akan disiksa dalam api neraka selama tujuh puluh tahun.

 

Begitu beratnya tugas seorang pemimpin, pejabat dan siapa saja yang dipercaya untuk menjabat suatu jawatan sehingga Abu dzar al Ghifari berkata kepada Khalifah Umar bin Khattab : “ Wahai Umar, apakah engkau mendengar sesuatu dari Rasululah..?”. Tidak, kata Umar. Abu dzar melanjutkan ; ‘ Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Sallahu Alaihi wasallam bersabda : “ barangsiapa yang bertanggungjawab atas urusan kaum muslimin, maka dia akan datang di hari kiamat nanti berdiri di atas jembatan neraka. Jika dia dalam menjalankan tugas tersebut dengan baik maka dia akan selamat. Tetapi sebaliknya, jika dia tidak dapat menjalankan amanat dan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik, maka jembatan itu akan roboh dan dia akan terhempas masuk ke dalam nyala api neraka yang gelap dan hitam itu selama tujuh puluh tahun”. 

 Setelah mendengar kedua hadis itu, maka seseorang bertanya kepada Umar bin Khatab : hadis manakah yang menggetarkan hatimu.? Umar menjawab : kedua-dua hadis itu.  Kalau demikian apakah ada orang yang berani menjadi khalifah..? Abu dzar berkata ; “ Orang yang berani hanyalah orang yang hidungnya telah terpotong dan pipinya dekat ke tanah “. Tetapi menurutku, jabatan khalifah ini memang baik untukmu, karena jika engkau berikan jabatan khalifah ini  kepada orang yang tidak dapat berlaku adil, berarti kamu telah berkongsi dosa dengannya..”.

 

Menurut Abu Dzar, jika kita memilih seorang pemimpin hendaklah seorang pemimpin yang memang benar-benar dapat berlaku adil sesuai dengan kepribadian dan akhlak yang ditunjukkannnya selama ini. Jika seandainya kita mengangkat seorang pemimpin , padahal kita telah mengetahui bahwa selama ini orang itu tidak dapat berlaku adil  dan bertanggungjawab sesuai dengan beberapa  sikap yang ditunjukkannya selama ini, tetapi walaupun begitu kita masih memilih dan mengangkatnya sebagai pemimpin, maka kita telah ikut berdosa dengan orang yang kita angkat tersebut.

Oleh sebab itu jika kita akan mencari seorang pemimpin, dan mengangkatnya kita harus melihat kepada sepak terjangnya selama ini, apakah dia itu dapat menjalankan tugas dengan baik, dapat menjaga amanah, dan lain sebaginya..? jJangan memilih seseorang karena ikut-ikutan, atau karena keturunan, atau karena suatu kepentingan tertentu, tapi pilih dan angkatlah seseorang itu dengan penuh keikhlasan dan siap untuk bertanggungjawab kepada Allah  di pengadilan Ilahi nanti.

Mengapa kalian mendukung si fulan sebagai pemimpin, padahal selama ini dia itu telah terbukti tidak dapat menjalankan tugas dengan baik.? pertanggungjawaban kita bukan hanya kepada rakyat dan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti. Demikian juga kita akan ditanya mengapa engkau mendukung si fulan menjadi pemimpin atau menghujat si fulan sebagai pemimpin, apakah karena emosi, hawa nafsu, atau karena “ lillahi Taala.” .?

 

Pada suatu hari Abubakar as-shiddiq berkata : “ Sesungguhnya jabatan amir ( pemimpin ) yang kamu saksikan hari ini tidaklah mempunyai tarikan apa-apa. Tetapi nanti akan tiba suatu masa dimana jabatan pemimpin ini amat menarik bagi masyarakat, sehingga orang yang tidak layakpun akan berusaha untuk mendapatkan jabatan tersebut. Sesungguhnya orang yang menjadi pemimpin itu akan dihisab dalam waktu yang lama dan akan disiksa dengan siksaan yang pedih. Sedangkan orang yang tidak menjadi pemimpin akan dihisab dengan mudah dan cepat, serta siksaannya akan lebih ringan. Hal ini disebabkan bahwa jabatan pemimpin dan pengurus itu lebih mudah untuk melakukan kedzaliman kepada masyarakat. Baransgiapa yang melakukan kedzaliman kepada masyarakat berarti dia telah memutuskan hubungan perjanjiannya dengan Allah. Dan jiran tetangganya. Demi Allah, jika seseorang itu mengganggu kambing atau unta tetangganya, sehingga tetangga itu tidak dapat tidur di malam hari, maka Allah berhak untuk murka kepada orang itu.

Umar bin Khatab juga pernah berkata ; ‘ Jabatan ketua dan pemimpin pada suatu masa nanti akan menjadi rebutan masyarakat, sehingga kamu sendiri nanti mungkin akan menyandangnya atau jawatan itu akan diambil oleh orang lain…Sesungguhnya jika seseorang itu menjadi ketua dan pemimpin kemudian gagal  dalam menegakkan hukum bagi masyarakat, sampai jika dia gagal menegakkan hukum bagi kambing yang berkeliaran sehingga masyarakat tidak dapat tidur dengan nyenyak, maka Allah berada di belakang  masyarakat yang gelisah dan marah disebabkan oleh ulah kambing yang tidak terjaga tersebut “.

Menurut Khalifah Umar bin Khattab, jika kita memilih seorang pemimpin maka kita juga ikut bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukannya, paling tidak kalau dia salah, maka kita berkewajiban untuk meluruskan tindakan tersebut.  dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab bertanya kepada khalayak ramai ; ‘ bagaimana pendapat kalian jika seandainya aku melantik seseorang yang baik dari kalangan orang-orang yang aku kenal memang bersifat baik dan aku memerintahkan orang itu untuk bersikap adil, apakah aku telah menjalankan tanggungjawab..? Orang ramai menjawab : Ya, betul engkau telah melaksnakannya.  Jawaban tersebut tidak sejalan dengan pikiran Umar sehingga dia berkata : bagi aku, jawaban kalian itu tidak betul. Karena menurut pendapatku, aku belum malaksanakan tanggungjawabku sehingga aku melihat akan tindakan orang yang aku lantik itu apakah dia menjalankan perintahku atau tidak “.

Dari beberapa kisah diatas dapat diambil kesimpulan agar masyarakat perlu berhati-hati dalam memilih pemimpin, mendukung pemimpin dan lain sebagainya. Jangan sampai salah niat dalam memilih dan mendukung seseorang. Kita harus memilih dan mendukung berdasarkan kebenaran, keadilan, dan kriteria yang ditunjukkan sebagai seorang pemimpin. Jika kita memilih pemimpin bukan karena Allah, tetapi karena untuk menjaga keamanan dan ketentraman masyarakat, maka nanti akhirnya malah setelah dipilih tambah rusuh dan tidak karuan. 

 Dukunglah dan pilihlah seorang pemimpin , pengurus, ketua, pejabat, dan apa saja namanya hanya dengan niat lillahi Taala, karena siapapun yang akan kita pilih akan kita pertanggungjawabkan kepada sejarah dan juga kepada Allah subhana wataala.  Ingatlah bahwa dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa barang siapa memilih seorang pemimpin yang sebenarnya tidak layak, sedangkan dinatara mereka masih ada orang yang layak, maka Allah akan memberikan laknat dan kutukannya. Dalam sebuah hadis juga disebutkan : “ jika suatu urusan diserahkan kepada seseorang yang tidak layak maka tunggulah kehancuran urusan tersebut “..

Jika urusan bisnis diberikan kepada orang yang tidak pandai bisnis, maka tunggulah kehancurannya. Jika urusan negara diserahkan kepada orang yang tidak layak untuk memimpin, maka tunggulah kehancurannya. Itulah sebabnya kita harus memilih seseorang secara profesional,  yaitu sesuai dengan kebolehan, kepandaian, pengalaman, dan sikap yang ditunjukkan selama ini, bukan disebabkan oleh fanatisme golongan, atau disebabkan oleh keturunan dan lain sebagainya.

Di saat krisis seperti ini kita memdambakan sosok pemimpin yang benar-benar sesuai dengan keperluan , bukan pemimpin gadungan atau pemimpin karbitan bukan pemimpin yang dapat dijadikan bulan-bulanan atau permainan sekelompok orang yang hanya memntingkan perut dan diri sendiri, tetapi pemimpin yang dapat menjadi pengayom masyarakat, membawa bangsa dan negara kepada kemajuan dan kemuliaan. Fa’tabiruu Ya Ulil Albab.(Muhammad Arifin Ismail )

 

 

Buletin

Share This