1432 Kehormatan Agama

today October 31, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

Sesungguhnya orang yang menyakiti Allah dan RasulNya Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. ( QS. Al Ahzab : 57) 

Setiap manusia memiliki kehormatan diri dan juga kewajiban setiap orang untuk menghormati kehormatan diri orang lain, demikian juga dengan suatu keluarga, memiliki kehormatan keluarga, suatu bangsa memiliki kehormatan bangsa, suatu umat memiliki kehormatan diri sebagai umat, demikian juga suatu agama memiliki kehormatan agama, demmikian juga setiap umat memiliki tokoh agama, yang wajib dihormati, dan memiliki nabi yang wajib dimuliakan, dan mempunyai tuhan yang wajib dimuliakan. Orang lain juga memiliki kehormatan diri, keluarga lain mempunyai kehormatan keluarga, bangsa lain juga memiliki kehormatan dan symbol negara yang wajb dijaga, demikian juga agama lain juga memiliki kehormatan agama, apalagi nabi dari agama lain atau tuhan dari agama lain, juga wajb dihormati. Sikap saling menghormati orang lain, itu merupakan hidup bermasyarakat walaupun berbeda bangsa, agama dan negara.

Jika terjadi penghinaan seseorang kepada orang lain, suatu keluarga kepada keluarga lain, suatu bangsa kepada bangsa lain, satu agama kepada agama lain, maka hukum terhadap penghina perlu ditegakkan, agar masyarakat dapat hidup dengan tenang. Jika suatu penghinaan dibiarkan dengan alasan kebebasan berpendapat,kebebasan bersuara,  maka kebebasan pendapat itu dapat menjadi penyebab kekacauan dalam masyarakat. Kebebasan bersuara dan berpendapat dapat dilakukan selama tidak menganggu kehormatan orang lain, tidak mengakibatkan kekacauan dalam masyarakat. Jadi setiap orang bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi jika kebebasan pendapat tersebut menimbulkan kekacauan  dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedudukan seorang nabi bagi suatu agama merupakan kunci kehidupan bagi setiap umat beragama, dan menghina seorang nabi dari suatu agama, berarti akan menimbulkan kekacauan dalam suatu masyarakat. Oleh sebab Islam sangat melarang umatnya, apalagi umat dari agama lain untuk menghina kedudukan nabi, atau pemuka agama dan menghukum penghina nabi atau oemuka agama dengan hukuman yang berat, sehingga perbuatan tersebut tidak diikuti oleh masyarakat lain.

Di antara mereka [orang-orang munafik] ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. ( QS. At Taubah : 61)

Imam Abu Ja’far Tabari dalam tafsirnya menjelaskan ayat diatas berkata bahwa: “Bagi orang munafik yang menghina Rasulullah SAW  dengan perkataan mereka: "Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)", dan perumpamaan-perumpamaan mereka untuk mendustakan Baginda, dan mereka yang berkata dengan mulut yang kasar dan batil, bagi mereka ini azab yang memedihkan daripada Allah di dalam neraka Jahanam.” Demikian juga Syeikh al-Maraghi dalam tafsirnya juga berkata bahwa : “Menyakiti Rasulullah SAW setelah kewafatannya, sama seperti menyakiti beliau semasa hayatnya. Keimanan kepada Baginda akan menghalangi orang mukmin daripada melakukan perbuatan yang dapat menyakiti Baginda. Ini adalah dosa dan kederhakaan yang paling besar.”

Dalam ayat lain, dinyatakan bahwa : “ Sesungguhnya orang-orang yang melakukan perkara yang tidak diredai Allah dan RasulNya, maka Allah akan melaknatkan mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan untuk mereka azab siksa yang menghina ( QS. alAhzab 33:57 ). Imam Ibn Katsir menyebut dalam tafsir bahwa “Allah menjauhkan mereka daripada Rahmat-Nya di dunia dan di akhirat dan menjanjikan mereka di akhirat nanti azab yang menghinakan dan kekal di dalam azab itu selama-lamanya.”

 

Syeikh a-Maraghi menafsirkan ayat ini berkata bahwa : “Terdapat sebagian dari manusia yang menyakiti RasulNya seperti orang yang mengatakan Rasulullah itu seorang penyair, ahli nujum, orang gila, dan banyak lagi kata-kata yang dapat menyakitkan Baginda. Siapa yang menyakiti Rasul berarti dia telah menyakiti Allah SWT; dan sesiapa yang mentaati Rasul berarti dia telah mentaati Allah dan Allah Taala akan menjauhkan mereka daripada rahmat dan nikmat-Nya ketika di dunia lagi. Maksudnya baha Allah Taala akan menjadikan mereka terus berada dalam kesesatan dan menjadikan mereka gembira melakukan kesesatannya itu. Kesesatan ini bakal menyeret mereka ke dalam neraka, sebagai tempat yang amat buruk; kemudian mereka akan dilaknat ketika ketika di akhirat nanti dengan memasukkan mereka ke dalam neraka yang membakar tubuhnya.”

Dalam hadis diceritakan bahwa ada seeorang lelaki buta mempunyai istri yang selalu menghina Rasulullah saw dan ia benar-benar telah melakukannya (penghinaan). Lelaki tersebut telah melarang istrinya dari perbuatan tersebut dan mengancamnya namun tetap istrinya tidak berhenti. Ibn Abbas meneruskan ceritanya berkata : Pada suatu malam, wanita itu kembali menghina Rasulullah saw, maka akhirnya lelaki tersebut mengambil sebilah pisau yang tajam dan meletakkannya di perut wanita tersebut dan  menikamnya. Lelaki tersebut telah membunuhnya sementara antara dua kaki wanita tersebut lahir seorang bayi dalam keadaan wanita tersebut berlumuran darah. Apabila tiba waktu pagi, kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi SAW, lalu baginda SAW mengumpul orang ramai dan bersabda: “Aku bersumpah kepada Allah SWT atas seorang lelaki, dia telah melakukan sesuatu perbuatan kerana aku dan dia adalah benar (perbuatannya)”. Kemudian lelaki buta itu melangkah di antara manusia hingga dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah suaminya akan tetapi dia (wanita) telah mencela dan menghinamu. Aku telah melarangnya dan mengancamnya tetapi dia tetap tidak berhenti atau tidak memperhatikannya. Daripadanya aku telah dikurniakan dua orang anak yang merupakan permata, isteriku sangat sayang kepadaku. Namun, semalam dia telah mencelamu dan menghinamu, lalu aku mengambil pisau dan aku letakkan di perutnya lantas aku menikamnya sehingga meninggal. Nabi SAW bersabda : “Ketahuilah bahawa darah wanita adalah sia-sia (halal).”. Suami tersebut tidak bersalah karena dia melakukan perbuatan tersebut agar kehidupan masyarakat menjadi tenang tidak terganggu oleh perbuatan istrinya yang melakukan penghinaan kepada Rasulullah, yang dapat menimbulkan kemarahan umat.

Abd al-Hamid bin Abd al-Rahman bin Zaid bin al-Khattab, menulis surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz: “Aku mendapati seorang lelaki telah mencelamu di Kufah dan telah terbukti bahwa dia benar-benar telah mencelamu, maka aku ingin membunuhnya atau memotong kedua tangannya atau memotong lidahnya atau menyebatnya, akan tetapi aku terfikir untuk meminta pendapatmu  k terlebih dahulu tentang perkara ini.” Khalifah Umar bin Abdul Aziz membalas surat : “Salam sejahtera ke atasmu, Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, jika engkau membunuhnya maka aku akan membunuhmu disebabkan olehnya, jika engkau memotongnya maka aku akan memotongmu disebabkan olehnya, jika engkau mencambuknya  maka aku akan menariknya daripada engkau. Apabila engkau menerima suratku ini maka keluarlah engkau dengannya ke al-Kunasah (tempat pembuangan sampah) mak engkau celalah dia sebagaimana dia mencelaku atau engkau memaafkannya kerana itu lebih aku suka, karena, tidak halal membunuh seorang muslim yang mencela salah seorang daripada manusia melainkan seseorang  itu mencela Rasulullah sallau alaihi wasallam.” Dari tulisan ini terlihat Khalifah Umar Abdul Aziz melakukan hukuman yang keras terhadap penghina Rasulullah tetapi memaafkan kepada orang yang menghina dirinya

Akhir-akhir ini, dengan berlandaskan kebebasan berpendapat, terlihat banyak orang dengan bebas menghina agama lain, menghina nabi Muhamad, menghina agama Islam, dengan penghinaan yang dapat membangkitkan kemarahan umat. Seharusnya setiap institusi, apalagi negara jika menginginkan kehidupan yang damai dalam negaranya, seharusnya mewajibkan setiap warganya untuk menghormati agama lain, serta menghukum warganya jika warga tersebut menghina agama lain, atau symbol dan tokoh agama dari setiap agama. Jika pemerintah membiarkan penghina agama untuk menghina agama lain, maka pemerintah tersebut tidak boleh melarang jika penganut agama melakukan perlawanan terhadap perkara tersebut, jika sama-sama menghormati kebebasan. Tetapi jika sama-sama ingin hidup damai berdampingan dengan agama atau kelompok yang lain, maka seharisnya pemerintah mengambil sikap tegas dan menghukum setiap warga yang menghina agama lain atau tokoh apalagi nabi dari agama lain. Syeikh Azhar Ahmad Tayyib  berkata: “Al-Azhar memberi peringatan yang keras kepada sesiapa yang  menggunakan  media massa untuk menghina dan menjatuhkan martabat kenabian yang mulia. Ini bagi memelihara maqam kenabian yang mulia itu daripada dihina sekalipun tanpa niat yang tidak baik. Sebaliknya orang Islam sejati sentiasa memenuhi hati mereka dengan kecintaan kepada Nabi SAW “. Seorang muslim berkewajiban untuk mencintai nabinya, dan berkewajiban untuk membela nabinya dari apapun penghinaan agama lain, tetapi pembelaaan terhadap kehormatan agama dilakukan tanpa melalui kekerasan, dan diharapkan setiap agama dan setiap bangsa menghormati kehormatan agama lain, sehinggat ercipta masyarakat yang damai memiliki peradaban mulia. Fa’tabiru Ya ulil albab.

Buletin

Share This