1430 Perlindungan Kerja dalam Islam

today October 8, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Dan bekerjalah kamu, maka sesungghnya, Allah Taala, dan rasulNya, dan umat yang beriman  akan melihat hasil kerjamu “ ( QS.  Attaubah : 105 )

Kerja  dalam pengertian luas adalah segala bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik yang bersifat materi atau non-materi, intelektual, fisik atau non-fisik, yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Dalam al Quran terdapat 602 kata-kata yang berkaitan dengan kata kerja. Pekerjaan juga merupakan bukti keimanan seorang hamba, di dalam al Quran terdapat lebih dari 300 ayat yang mengkaitkan kata-kata iman dengan kata-kata “amal”, yaitu kerja. Dalam surah at Tin dinyatakan : “ Siapa yang beriman dan beramal shaleh, maka baginya pahala yang tidak putus-putus “ ( QS. At Tin : 6 ). Malahan dalam surah al kahfi, kata-kata bekerja dihubungkan dengan perjumpaan dengan Tuhan “ Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang shaleh “ ( Qs. Al Kahfi : 110 ).  

Kerja dalam Islam merupakan ibadah, sebagaimana dinyatakan dalam hadis : “ Mencari rezeki yang halal itu adalah kewajiban setelah kewajiban shalat lima waktu “ (  Riwayat Thabrani dan baihaqi ). Dari hadis ini terlihat bahwa perintah shalat yang wajib dilanjutkan dengan perintah wajib dalam mencari rezeki yang halal, berarti mencari rezeki yang halal adalah wajib, dan merupakan ibadah kepada Allah Taala.  Begitu tinggi nilai bekerja dalamislam, sehingga sayidina Umar bin Khattab berkata : “ Aku lebih suka meninggal dunia sewaktu sedang bekerja mencari rezeki yangb halal “. Alasan beliau sebab dalam ayat 20 surah al Muzammal, Allah telah meletakkan kalimat “mencari rezeki yang halal itu setelah kalimat “ berperang di jalan Allah “, dimana hal itu menunjukkan bahwa bekerja mencari rezeki yang halal, adalah amal yang paling mulia setelah berjihad di jalan Allah.

Oleh sebab itu majikan harus menerima pekerja yang sesuai dengan pekerjaannya, dan tidak menerima pekerja yang tidak pakar dalam pekerjaan, apalagi jika pilihan berdasarkan kepada kroni dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda kepada Abu Dzar : “ Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini adalah lemah padahal pekerjaan itu adalah amanah. Sesungguhnya pekerjaan itu nanti di hari kiamat akan menjadi penyesalan bagi seseorang  kecuali jika seseorang  dapat melakukannya dengan penuh amanah dan bertanggungjawab “ ( Hadis riwayat Abu daud dan hakim ).  Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa : Jika seseorang itu mengabil seorang pekerja dikarenakan keluarganya atau kaumnya, padahal disana masih ada orang yang lebih layak untuk menduduki pekerjaan tersebut, maka dia telah mengkhianati Allah dan rasulNya “ ( riwayat Hakim )  

Islam juga menjamin hak-hak pekerja sehingga majikan tidak boleh berlaku sewenang-wenang kepada pegawai atau pekerjanya. Bertindak sewenang-wenang kepada pekerja merupakan perbuatan dzalim di dunia yang akan mengakibatkan kesengsaran di akhirat kelak, sehingga seorang majikan diharap dapat memberikan gaji kepada pekerjanya  dengan baik dan segera. Rasulullah bersabda : Berikanlah upah kepada pekerjamu sebelum keringatnya kering “ ( Riwayat Ibnu Majah, Thabrani ). Dalam hadis lain disebutkan : “ Barangsiapa  yang memimpin urusan sepuluh orang atau lebih, tidak seperti dia mengurus dirinya sendiri, maka dia tidak akan mendapatkan harumnya aroma surga “ ( riwayat Thabrani ).

Bekerja dalam Islam harus memiliki keepakatan kerja yang jelas, dan kedudukan yang jelas, apakah sebagai pekerja tetap atau pekerja tidak tetap, dan lain sebagainya. Abu said meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang mempekerjakan seseorang kecuali setelah dijelaskan tentang gaji dan bentuk pekerjaannya, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya.: Hai orang yang beriman, apabila kamu mengadakan transaksi naka hendaklah kamu tuliskan transaksi tersebut “ ( QS. Al Baqarah : 282 ).

 

Dalam masalah penggajian, ada beberapa ketentuan yaitu (1) gaji disesuaikan dengan tingkat profesionalitas kerja yang dilakukan. Dalam al Quran dijelaskan : “ dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia timbangan dan takarannya “ ( QS. Al A’raf : 85 ). Kemudan ketentuan (2) adalah ” Tidak ada pemaksaan dalam bekerja, dan besarnya gaji ditentukan dengan kesungguhan orang yang bekerja, keperluan hidup, dan jenis pekerjaan yang dilakukan “. Rasulullah sallahu alaihi wasallam bersabda bahwa : “ Barangsiapa yang mempekerjakan seseorang , maka hendaklah dia memberitahukan tentang gajinya, dan melarang memperkerjakan seseoang sebelum dijelaskan berapa gajinya “.

Diantara hak pekerja juga adalah mendapatkan tempat tinggal, sebagaimana disabda oleh rasulullah bahwa : “ Adalah hak bagi anak cucu Adam, untuk mendapatkan rumah yang akan ditempati, pakaian yang akan dipakai dalam bekerja yang digunakan untuk menutup auratnya, serta sepotong roti dan air “ ( riwayat Tirmidzi ).

Majikan juga harus dapat memperhatikan masalah pernikahan pegawainya, seperti dengan memberikan cuti perkawinan, bonus gaji untuk meringankan pegawai dan pekerja bagi biaya pernikahan. Hal ini berdasarkan kepada hadis : : Hendaklah kamu memperhatikan masalah hati yang selalu berzikir, lisan yang sellau bersyukur, dan istri yang selalu memperhatikan masalah akhirat ( agar kamu terhindar daripada dosa maksiat ). Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad bin hanbal, dan Baihaqi.

Majikan juga harus menyediakan transportasi kepada pekerjanya, sebab transportasi merupakan hak pekerja dalam bekerja, sehingga biaya transportasi tidak mengamnbil dari gaji dalam bekerja, melalui penyediaan kenderaan atau memberikan biaya transportasi bila pekerja tidak memiliki kenderaan, sebab diantara kewajiban majikan adalah memberikan keringanan kepada pekerjanya, sebagaimana sabda Rasulullah : “ Jika kamu memberikan keringanan kepada pembantumu dalam bekerja, maka itu merupakan pahala bagimu dalam timbangan amal di akhirat kelak “ ( riwayat Ibnu Hibban ).

Majikan juga harus memberikan hubungan yang harmonis dengan pekerjanya,penuh persaudaran dan keadilan dan persamaan hak,  sebagaimana sabda Rasulullah : “ Sesungguhnya sejelak-jelek pemimpin itu adalah pemimpin yang galak dan kejam “ ( Riwayat Ahmad bin Hanbal ). Majikan juga berkewajiban memberikan waktu untuk istirahat yang cukup kepada pekerjanya sebagaimana dinyatakan oleh rasulullah : ‘ Istirahatkanlah hatimu barang sejenak, karena sesungguhnya jika hati telah  jenuh, makai hatinya pun akan buta “ ( Hadis riwayat baihaqi ).

Pekerja di dalam islam berhak menolak untuk memotong gajinya karena untuk membayarkan hutang yang dideritanya sebagaimana dikatakan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib : “ Jangan sekali-kali kamu memukul seorang pekerjamu karena masalah dirham, serta jangan menjual harta apapun yang dimilikinya dengan mengambil haknya dengan paksa, akan tetapi berikanlah maaf kepada mereka “.

Islam juga sangat memperhatikan masa tua dari pekerja yang bekerja kepadanya, sebagaimana Rasulullah bersabda : “ Tidak termasuk golonganku orang yang tidak mengasihi mereka yang kecil, dan menghormati mereka yang lebih tua “ ( Hadis riwayat Tirmidzi ). Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan dana dari Baitul Maal bagi yahudi yang telah tua renta, dan tidak berpenghasilan.

Demikian juga Islam memberikan jaminan kepada pekerja yang tertimpa musibah atau kecelakaan dalam bekerja, atau menderita cacat dan lain sebagainya. Khalid bin walid, menyebutkan bahwa dana Baitul maal pada waktu dulu ada yang diperuntukkan bagi orangtua yang lemah, dan tidak mampu bekerja, karena terkena musibah, atau mereka yang mengalami bangrkut dalam keuangan pekerjaan sehingga terpaksa berhutang. Mereka semua dapat bantuan melalui Baitul Maal, termasuk juga bantuan untuk anak dan keluarganya.   

Demikianlah konsep islam dalam hubungan kerja antara majikan dan pekerjanya, demikian bagaimana bentuk perlindungan kerja yang baik dan merupakan ibadah, tanpa diwarnai oleh kedzaliman dan ketidak adilan.  

Masyarakat dan bangsa yang beriman kepada Allah, seharusnya melaksanakan panduan islam dalam perlindungan kerja, sehingga tidak akan terjadi kedzaliman, tetapi perlindungan pekerja tidak mengikuti petunjuk Allah, apalagi hanya mengikuti keinginan dari para majikan dan investor, maka itu semua akan menyebabkan kedzaliman dan kemiskinan dalam masyarakat. Semoga kita terhindar dari segala bentuk kedzaliman dan ketidak adilan. Fa’tabiru ya ulil albab.

 

 


Buletin

Share This