1428 KEPEMIMPINAN RASULULLAH

today September 25, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Dalam diri Rasulullah terdapat contoh yang baik “ ( QS. Al Ahzab : 21 )

 Setelah Nabi Hijrah , kota Madinah yang awalnya hanya kampung bernama Yastrib, dipimpin Nabi dan dikembangkan menjadi seperti sebuah   negara, yang memiliki wilayah sampai ke Yaman, dan beberapa kawasan di sekitarnya  dengan pusat pemerintahan di ibukota  Madinah. Sebelum itru, Semenanjung Arab belum pernah diperintah, diatur dan dipimpin  oleh kepemimpinan yang tunggal, sebab sebelumnya Arab dipimpin oleh kabilah-kabilah yang menguasai awasan-kawasan tertentu.  Tetapi dengan kedatangan Rasulullah ke kota Madinah, maka Rasulullah melaksanakan suatu kepemimpinan yang terbaik. Rasulullah sebagai khalifah Allah di muka bumi adalah satu-satunya pemimpin yang berkuasa di bidang politik, ekonomi, sosial dan agama bagi masyarakat Madinah dan penduduk disekitarnya. Kepemimpinan ini dilakukan oleh Rasulullah sejak pertama kali beliau datang ke Madinah,  dengan menetapkan "Piagam Madinah "sebagai undang-undang dasar yang diberlakukan kepada seluruh penduduk Madinah, baik kabilah Arab maupun kaum Yahudi yang semuanya taat dan  tunduk di bawah satu kepemimpinan. Dalam menjalankan kepemimpinannya Rasulullah mengatur  kota Madinah dan kawasan disekitarnya dengan sistem kepemimpinan  yang terbagi kepada  kepemimpinan dalam urusan pemerintahan pusat yang mengurus urusan ketenteraan, urusan keuangan, dan urusan agama dan kepemimpinan wilayah yang dipegang oleh gubernur yang diangkat oleh Rasulullah untuk memimpin  wilayah tersebut.

 Dalam sistem kepemimpinan negara Madinah tersebut, rasulullah membagi sistem kepada dua iaitu sistem pemerintahan pusat dan sistem pemerintahan wilayah. Sistem pemerintahan pusat, terdiri dari wakil pimpinan  negara ( naib ), penasihat ( mushir ), sekretaris negara ( katib ), duta negaradi kawasan tertentu  ( rasul ), petugas-petugas  urusan khusus seperti pengawas pasar dan lain sebagainya , penyair ( syair ), dan pegawai penerangan  ( khatib ). Sedangkan kepemimpinan  tingkat wilayat terdiri daripada gubernor ( wali ), pemimpin kawasan tertentu ( rais ), pemimpin kelompok  ( naqib ), hakim ( qadhi ), dan pegawai pasar ( sahibussuq ).

 Kepemimpinan pusat dipegang oleh Rasulullah saw sendiri, hanya saja sewaktu Rasulullah keluar kota Madinah, seperti berperang, maka kepemimpinan diserahkan kepada wakil rasulullah yang disebut dengan Naib Rasul. Setiap kali Rasulullah akan meninggalkan kota Madinah untuk suatu keperluan seperti memimpin peperangan, maka nabi akan melantik seorang sahabat atau beberapa orang sebagai wakil yang diberi kuasa untuk mengatur  segala sesuatu yang berkaitan dengan kepemimpinan beliau. Dalam sejarah tercatat yang pernah menjadi wakil beliau adalah :

  1.  Saad bin Ubadah dari Kabilah Kharaj pada perang Waddan ( safar,2 H/Agustus 623 ).
  2. Saad bin Muadz dari kabilah Aus pada perang Buwat ( rabiul awal,2H/ agustus 623 ).
  3. Zaid bin Haritsah ( hamba sahaya rasul ) pada perang Safwan ( rabiul awal 2H/ Agustus 623 ).
  4. Abu Salamah bin Abdul Asad dari kabilah Quraisy pada perang Dzatul Ushairah ( jumadal akhir ,2H/ oktober 623 ).
  5. Amr bin Ummu Maktum dari kabilah Qurasiy, , Abu Lubahah Bashir dari kabilah Aus, Harist bin Hatib dari kabilah bin Auf, dan Asim bin Adi dari kabilah Aus menjadi timbalan pada perang Badar al kubra ( Ramadhan 2 H/Maret 624 ).
  6. Abu Lubabah basher dari kabilah Aus pada perang Bani Qainuqa ( Syawal 2H/ April 624 ).
  7. Abu Lubabah Bashir pada perang sawiq ( Syawal 2H/ Mei 624 ).
  8.  Amr bin Ummu Maktum dari kabilah Quraisy pada perang al Kudr ( Muharram,3 H/ Juli 624 )
  9. Usman bin Affan dari kabilah Quraisy pada perang Zu Ammar ( rabiul awal 3H / September 624 ).
  10. Amr bin Ummu Maktum dari kabilah Quraisy pada perang Buhran ( Jumadalawal 3 H / Oktober 624 )
  11. Amr bin Ummu Maktum pada perang Uhud ( Syawal 3 H/ Maret 625 ).
  12. Amr bin Ummu Maktum pada perang Hamratul Asad ( Syawal 3 H/ Maret 625 ).
  13. Abu Salamah bin Abdul Asad pada perang Dzatul ushairah ( Muharam,4 H/Juni 625 ).
  14. Amr bin Ummu maktum pada perang bani Nadzir ( Rabiul awal 3 H/Agustus 625 ).
  15. Abdullah bin rawwahah dan Abdullah bin Abdullah bin Ubay dari kaum kharaj pada perang Badar II ( Dzulqa'dah 3H/ April 626 ).
  16. Usman bin Affan dan Abu Dzar al Ghifari pada perang Dzatul Riqa ( Muharram, 5 H/Juni 626 ).
  17. Siba bin Urtafah dari kabilah Ghifar pada perang Dumah ( Rabiul awal 5 H/ Agustus 626 ).
  18. Zaid bin Harisah pada perang Muraisi ( Rajab 5 H/ January 627 ).
  19. Amr bin Ummu Maktum pada perang Khandaq ( Dzulqa'dah 5 H/April 627 ).
  20. Amr bin Ummu Maktum pada perang Quraizah ( Dzul qa'dah 5 H/April 627 ).
  21. Amr bin Ummu Maktum pada perang Lihyan ( Rabiul awal 6 H/ Juli 627 ).
  22. Amr bin Ummu Maktum pada perang Al Ghabah ( R. akhir 6 h/July 627 ).
  23. Amr bin Ummu Maktum dan Numailah bin Abdullah pada perang Hudaibiyah ( Dzulqa'dah 6 H/ Maret 628 ).
  24. Siba bin Urtafah dan Numailah bin Abdullah pada perang Khaibar ( Safar 7 H/ Juni 628 ).
  25. Abu Ruhm Kulthum bin Husein dan Abu Dzar dan Umaif bin Al Azbat pada perang Umratul Qada ( Dzulqa'dah 7 H/ Maret 629 ).
  26. Amnr bin Ummu Maktum pada perang Fathu Makkah ( Sya'ban 8 H/ January 630 ).
  27. Amr bin Ummu Maktum dan Abu Ruhn Kulthum pada perang Hunain ( Syaban 8 H/ January 630 ).
  28. Muhammad bin Maslamah dan Siba bin Urfatah pada perang Tabuk ( Rajab 9 H/ Oktober 631 ).
  29. Ali bin Abi Thalib pada perang Tabuk ( rajab 9 / Okt. 631 ).
  30. Siba bin Urfatah, Amr bin Ummu maktum, dan Abu Dujanah pada haji wada' ( Dzulhijjah 10 / Maret 632 ).

Dalam menjalankan kepemimpinan tersebut, Rasulullah saw juga meminta pendapat para sahabat. Sahabat nabi yang selalu diminta pendapat dan diajak bermusyawarat tersebut disebut dengan " musyir ". Ada beberapa kejadian dimana Rasulullah meminta pendapat para sahabat seperti :

  1. Dalam masalah azan nabi bemusyawarah dan menerima usulan daripada sahabat Umar bin Khattab dan Abdullah bin Zaid.
  2.  Dalam perang Badar al Kubra nabi menerima pendapat dari  sahabat Abu Bakar , Umar bin Khattab, Miqdad bin Amr, Saad bin Muadz, Saad bin Ubadah, Hubab bin Munzdir yang mengusulkan agar umat islam keluar menghadang tentera quraisy makkah.
  3. Nabi menerima pendapat tempat berkemah dalam perang Badar Kubra daripada sahabat Hubab bin Mundzir.
  4. Dalam masalah tawanan perang Badar , nabi menerima pendapat Abubakar agar Rasulullah menerima tebusan  dan tidak membunuh mereka sebagaimana yang diusulkan oleh Umar bin Khattab.
  5. Dalam perang Uhud, nabi menerima pendapat Hamzah bin Abdul Muthalib, Saad bin Ubadah, Malik bin Sinan, Nu'man bin malik, Iyas bin Aus, Khaitamah bin haristh, dan Anas bin Qatadah yang mengusulkan agar pasukan muslimin keluar dari kota Madinah dan menghadang tentera Qurasiy di medan terbuka.
  6. Dalam perang Khandaq, nabi menerima usul dari Muhammad bin Maslamah untuk membunuh Ka'ab bin Ashraf yang selalu menghina Islam dan Rasul.
  7. Dalam perang Khandaq nabi menerima usulan dari  Salman al farisi untuk menggali lobang disekitar kota madinah.
  8. Dalam perang Khandaq nabi menerima usulan dari Saad bin Ubadah, Saad bin Muadz, dan Usyaid bin Huzair yang mengusulkan agar nabi membatalkan perjanjian dengan bani Ghatafan.
  9. Dalam perang Hudaibiyah nabi menerima usulan Umar bin Khatab untuk mengirim Usman bin Affan sebagai utusan ke kota makkah.
  10. Dalam perang Hudaibiyah , Rasulullah menerima pendapat isterinya Ummu salamah untuk terlebih dahulu menyembelih hewan sebagai qurban.
  11. Dalam perang Khaibar nabi menerima pendapat Hubab bin Al Mundzir yang mengusulkan tempat medan pertempuran.
  12. Dalam perang Khaibar nabi menerima pendapat Abubakar agar menebang pohon kurma sedangkan Saad bin Ubadah berpendapat agar pohon tersebut tidak ditebang.
  13. Dalam Fathu Makkah, Abbas bin Muthalib, Umar bin Khatab, dan Abubakar menngusulkan agar nabi menyatakan bahwa rumah Abu Sofyan juga dipakai sebagai tempat perlindungan.
  14. Dalam perang Thaif ,Salman al Farisi, Nasufal bin Muawiyah dan Umar bin Khattab mengusulkan teknik mengepung kawasan musuh dan penggunakan al Manjaniq sebagai alat pelempar batu api.
  15. Dalam perang tabuk, Umar bin Khattab mengusulkan agar pasukan  balik ke Madinah sebelum penyerangan.

 

Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa Rasulullah memimpin dengan sistem kepemimpinan yang begitu teratur dan tidak bertindak secara otoriter tetapi meminta pendapat dan usul dari para sahabat dan memiliki pengalaman di bidang masing-masing. Fa’tabiru Ya ulil albab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25

 

 

Buletin

Share This