1427. Jihad Bekerja

today September 20, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Kami jadikan siang hari  itu untuk bekerja “ ( QS. An Naba” 11) 

Setelah masjid selesai dibina, maka kehidupan masyarakat madinah kembali seperti biasa. Pada mulanya, rasulullah membina ukhuwah antara kaum muhajirin dengan anshar, sehingga setiap keluarga Anshar terdapat keluarga Muhajirin yang menumpang tinggal untuk  sementara waktu. Ada juga yang berdiam di dalam masjid nabi, karena rumah-rumah kaum Anshar tidak dapat menampung seluruh Muhajirin. Dengan semangat ukhuwah dan persaudaraan, kaum Anshar memperlakukan kaum Muhajirin sebagaimana dua bersaudara. Segala kesenangan dan penderitaan mereka rasakan bersama, dan kehadiran Muhajirin di rumah mereka tidak menjadi beban bagi mereka.

Kelompok masyarakat yahudi di Madinah tidak senang melihat keharmonisan hidup antara kaum Muhajirin dan Anshar tersebut. Mereka mulai menyebarkan isu bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya menjadi beban bagi penduduk kota Madinah. Mereka hanya menumpang tidur dan makan tanpa bekerja atau memberi imbalan yang setimpal.  Menanggapi isu dan fitnah tersebut, maka rasulullah saw menganjurkan seluruh kaum Muhajirin untuk berusaha menutupi keperluan hidupnya dengan bekerja. Pada mulanya kaum Muhajirin agak kaku dengan kehidupan di Madinah. Selama di makkah mata pencaharian mereka adalah berdagang, sedangkan sumber pencaharian masyarakat madinah adalah berladang, berkebun dan bercocok tanam. Untuk menyesuaikan dengan keadaan tersebut, maka sebagian muhajirin mulai belajar berladang dan mengolah lahan pertanian. Setiap Muhajirin bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan masing-masing. Rasulullah sendiri juga ikut menggarap lahan pertanian, walaupun usia beliau pada saat itu sudah lanjut ( 53 tahun ). Pria dan wanita semuanya berusaha memenuhi keperluan hidupnya sebagaimana dilakukan oleh Asma binti Abu bakar dimana dia ikut berkebun walaupun ayahnya adalah seorang pedagang yang kaya.

Lahan pertanian di kota Madinah tidaklah mencukupi, oleh sebab itu sebagian Muhajirin mulai membuka usaha yang lain, yaitu usaha perniagaan. Kelompok muslim yang kaya menyumbangkan modal usaha bagi muslim yang lain, dan memberikan infaq, dan sadaqah kepada mereka yang tidak mampu untuk modal bekerja. Abubakar Shiddiq mengeluarkan infaq sebanyak 4000 dirham bagi mereka yang tidak mampu bekerja, sedangkan Umar bin Khattab menyumbangkan setengah dari harta kekayaannya. Setiap hartawan muslim berlomba-lomba untuk membantu saudaranya, sehingga dalam waktu yang singkat taraf hidup dan penghasilan masyarakat muslim mulai terangkat lebih baik. Akhirnya kondisi dan status masyarakat muslim Madinah menjadi lebih tinggi, karena mereka telah mempunyai penghasilan yang cukup dan dapat hidup dengan lebih baik. Setiap orang bekerja dan berusaha dengan sekuat tenaga, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu bekerja, maka mereka akan mendapat haknya dari infaq, sadaqah dan zakat dari kelompok yang berpunya.

Rasulullah bersabda : “ Tidaklah seseorang itu memakan sesuatu yang lebih baik daripada makanan yang diusahakannya dari pekerjan tangannya sendiri, sebagaimana Nabi daud alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya sendiri “ ( Hadis riwayat Bukhari ). Dari hadis ini terlihat bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan tangannya sendiri, sebagaimana diketahui bahwa nabi Daud alaihisslaam itu berusaha dan bekerja membuat baju besi dengan tangannya sendiri, dan baju besi itu dijual dan dengan uang hasil penjualan baju besi itulah dia membeli makanan untuk dirinya dan keluarganya. Oleh sebab itu Rasulullah  bersabda : “ Sesungguhnya Allah sangat mencintai seseorang yang bekerja dengan membuat dengan membuat sesuatu yang baru  ( riwayat Thabrani ).

Rasulullah juga menyuruh umatnya untuk bekerja dari pagi hari, sebagaimana sabda beliau : “  Berangkatlah pada pagi hari untuk mencari rezeki, sebab keberkatan itu terdapat di waktu pagi “ ( Riwayat Thabrani ), sedangkan tidur dipagi hari itu dapat menghalangi rezeki sebagaimana sabda beliau : Tidur di pagi hari itu dapat mencegah datangnya rezeki “ ( riwayat Ahmad dan baihaqi ). Dalam hadis yang lain juga disebutkan : “ Siapa yang tidur di sore hari karena penat pekerja di pagi hari, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya “ ( Riwayat  Thabrani ). Diriwayatkan pada suatu hari rasulullah berjumpa dengan seorang sahabat yang memiliki tangan hitam, dan nabi bertanya : mengapa tanganmu hitam ? sahabat tersebut menjawab bahwa tangannya hitam sebab dia bekerja membelah batu di tengah  terik panas matahari. Mendengar itu rasulullah berkata : Ini adalah tangan surga “. Begitulah Rasul menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.

Islam sejak dini telah menyatakan perang terhadap kemiskinan, dan berusaha keras untuk memberantas dan membendungnya, serta mengawasi hal-hal yang dapat menimbulkan kemiskinan tersebut, sehingga dapat memelihara aqidah, akhlak, dan memelihara kehidupan rumah tangga, serta menjaga stabilan dalam masyarakat, disamping mewujudkan jiwa dan rasa persaudaraan antara sesama angota masyarakat. Untuk itu Islam mengharuskan agar setiap individu mencapai taraf hidup yang layak di dalam masyarakat. Kemiskinan merupakan bahaya besar terhadap keyakinan dan kepercayaan beragama. Kemiskinan dapat mengundang keraguan terhadap sunnatullah serta dapat menimbulkan rasa tidak adil terhadap tuhan dalam pembagian rezeki. Oleh sebab itu , maka rasulullah saw telah bersabda : “ Kaadal faqru ay yakuuna kufran , yang maksudnya ,hampir saja kemiskinan itu dapat menjadikan seseorang menjadi kafir “ ( hadis riwayat Abu Nu’aim ).

Kemiskinan juga dapat membahayakan moral manusia. Kemiskinan dapat membuat seseorang menjadi frustasi, kecewa, dan tidak menghiraukan nilai-nilai moral. Disebabkan kemiskinan, banyak orang yang terjebak ke dalam perbuatan penipuan, pembunuhan, pencurian, perampokan, perjudian dan perzinahan. Ada juga yang disebabkan miskin sehingga tidak menghiraukan perintah agama, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya. Bahaya kemiskinan juga dapat mengancam dan mempengaruhi pikiran seseorang. Seorang yang tidak mampu untuk memenuhi keperluan hidupnya, keluarganya, dan anak-anaknya akan sulit berpikir dengan tenang. Apalagi jika jiran tetangganya selalu mendemontrasikan kekayaannya melalui barang-barang yang mahal yang selalu terpajang di dalam rumah mereka. Dalam hal ini Imam Hanafi berkata : “ Janganlah kalian meminta fatwa kepada orang yang tidak mempunyai gandum di dalam rumahnya ",  karena  dikhawatirkan ketiadaan gandum di rumahnya tersebut dapat mengganggu  ketenangan pikirannya sewaktu memberikan fatwa, sehingga dapat mengakibatkan keputusan yang diambil tidak sebijaksana mungkin. Seorang penyair juga berkata : ‘ Bila kemiskinan telah datang, berpikirpun menjadi susah karena seluruh isi langit dan bumi terasa menjadi sempit, sehingga yang pintar dapat berubah menjadi orang yang dungu, meskipun semula dia serba tahu “.

Bekerja adalah senjata utama untuk memerangi kemiskinan, modal utama dalam mencapai kejayaan. Islam menganjurkan umat agar memilih lapangan kerja yang sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan kesenangan. Islam memberikan kebebasan memilih lapangan kerja, namun bila ternyata akan membawa bahaya, baik terhadap individu maupun sosial, moral ataupun materi, maka lapangan kerja yang semacam itu diharamkan seperti menjual minuman keras, berjudi, mencuri, memakan uang riba, dan lain sebagainya.

Dalam kitab suci Al quran kata-kata “ keluar mencari rezeki di bumi Allah “ diletakkan bersamaan dengan kata-kata “ jihad fi sabilillah “, sebagaimana tertulis dalam ayat : “ Dan yang lain akan bepergian di bumi Alah mencari sebagian daripada karunia Allah, dan yang lain berjihad di jalan Allah “ ( QS. Al Muzammil : 20 ). Sayidina Umar bin Khattab kemudian berkata : “ Tidak ada pengorbanan yang lebih aku cintai , sesudah jihad fi sabilillah, melainkan bekerja mencari karunia Allah”; lalu beliau membacakan firman Allah sebagaimana yang terdapat dalam surat al Muzammil  diatas. Rasulullah saw juga bersabda ; “  Seorang muslim yang menaburkan benih atau menanam tanaman lalu datang seekor burung atau seseorang, atau seekor binatang memakan sebagian dari apa yang ditanam tersebut, maka sesuatu yang dimakan itu dihitung sebagai sadaqah bagi orang yang menanam tersebut “ ( hadis riwayat Bukhari ).

Pada suatu hari sahabat nabi melihat seorang anak muda yang memiliki badan yang kekar berjalan. Salah seorang sahabat yang melihat anak muda itu berkata ; Sayang sekali, anak muda ini memiliki badan yang kuat tetapi dia tidak pergi berperang untuk jihad di jalan Allah. Sewaktu Nabi Muhammad mendengar ucapan tersebut, maka beliau bersabda : “ Jika anak muda ini bekerja untuk menutupi keperluan dirinya maka itu jihad di jalan Allah, dan jika dia bekerja untuk untuk menutupi keperluan anak dan istrinya, maka itu juga jihad di jalan Allah, dan jika dia bekerja untuk membnatu kedua orangtuanya, maka dia telah berjihad di jalan allah, tetapi jika dia bekerja untuk kesombongan dirinya di depan orang lain , maka itu jihad di jalan syetan “ ( Hadis riwayat Thabrani ) Mari kita bekerja, dan menjadi masyarakat produktif, sebab kerja itu adalah jihad, dan berbuat yang kreatif dan produktif itu adalah amal jariyah. Fa’tabiru ya Ulil albab.

 

 

Buletin

Share This