1424 Piagam Madinah : Konstitusi Tertulis Pertama di dunia

today August 29, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Jika kamu menjalankan hukum maka  tegakkanlah hukum diantara manusia dengan penuh keadilan “ (QS.Al Maidah : 42)

Setelah sampai di Madinah, sebagai pemimpin masyarakat Madinah, maka nabi membuat piagam Madinah sebagai konstitusi tertulis pertama di dunia, sebab sebelum Rasulullah, seluruh raja dan pemimpin Negara mengatur kerajjaannya dengan peraturan yang dikeluarkan secara lisan, sebab setiap ucapan raja adalah undang-undang. Berbeda dengan Rasulullah, beliau adalah pemimpin Negara madinah yang terdiri dari kaum Arab Muhajirin Makkah, Arab Madinah, dan masyarakat yahudi yang hidup di Madinah, maka peraturan yang mengikat seluruh penduduk yang terdiri dari bebagai kaum dan kabilah yang menjadi penduduk Madinah, diletakkan di bawah undang-undang dasar tertulis yang disebut dengan piagam Madinah. Adapun isi dari piagam Madinah yang terdiri dari 47 pasal itu  itu adalah sebagai berikut :

“ Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisy  dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka

 (1)Sesungguhnya mereka (kaum muhajirin dari Makkah ,kaum  anshar dari madinah dan kaum yang menggabungkan diri dengan mereka dalam wlayah madinah ) itu merupakan satu umat, diantara komunitas masyarakat lain.

(2) Kaum muhajirin dari Quraisy tetap dalam kebiasaan mereka dalam bahu membahu membayar diat (tebusan atas pembunuhan) di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.

(3) Banu Auf tetap dengan kebiasaan mereka dan bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara kaum mukminin.

(4) Banu Sa’idah tetap dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara kaum mukminin.

(5) Banu Al-Hars tetap dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

(6) Banu Jusyam tetap dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

(7) Banu An-Najjar tetap dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

(8)Banu ‘Amr bin ‘Awf tetap dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

(9)Banu Al-Nabit tetap  dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

(10) Banu Al-‘Aws tetap  dengan kebiasaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

.(11) Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang lain dalam menanggung beban yang berat  dalam tebusan dan diat diantara mereka tetapi membantunya dengan baik dalam poembayaran tebusan atau diat tersebut.

.(12) Seorang mukmin tidak diperbolehkan menyalahi perjanjian yang telah dibuat dengan   mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.

(13) Orang-orang mukmin yang taqwa harus menentang orang yang  mencari atau menuntut sesuatu secara zalim , atau bermaksud jahat, atau melakukan permusuhan dan  kerusakan di kalangan mukminin. Setiap orang harus bersatu dalam menentang kedzaliman tersebut, sekalipun itu dilakukan oleh anak dari salah seorang di antara mereka.

.(14) Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya untuk membantu orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir untuk (membunuh)  orang beriman.

(15)Jaminan Allah itu satu untuk seluruh kaum. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat dalam hubungan kekarabatan.. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, dan tidak boleh bergantung kepada golongan yang lain.

(16)Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita, mereka  berhak mendapatkan pertolongan dan bantuan, selama  kaum mukminin  tidak terzalimi dan mereka (yahudi) itu tidak melakukan permusuhan denga mereka.

(17)Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.

(18) Setiap pasukan yang ikut  berperang bersama kita, maka kita harus bahu membahu dan membantu satu sama lain.

(19) Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.

(20) Orang musyrik Madinah dilarang memberikan perlindungan harta dan jiwa orang musyrik Quraisy Makkah, dan tidak boleh ikut campur tangan dalam perang melawan orang beriman.

(21) Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali terbunuh rela untuk menerima diat. Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.

(22) Tidak dibenarkan orang mukmin yang mengakui piagam ini, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan dan menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, maka dia akan mendapat kutukan dari Allah pada hari kiamat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.

(23) Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya dirujuk kepada ketentuan Allah Taala dan keputusan Muhammad SAW.

(24) Kaum Yahudi bersama kaum muslimin ikut memikul biaya peperangan yang terjadi dengan serangan  musuh dari luar Madinah.

(25) Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah mempunyai hak yang sama kaum mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Kebebasan beragama ini berlaku bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat sebab hal demikian akan merusak diri dan keluarga.

(26) Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

(27)Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

(28) Kaum Yahudi Banu Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

(29) Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

(30) Kaum Yahudi Banu Al-‘Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

 (31) Kaum Yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

 (32) Kaum Yahudi Banu Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

 (33) Kaum Yahudi Banu Syutaibah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.

 (34) Sekutu-sekutu Sa’labah diperlakukan sama seperti mereka (Banu Sa’labah).

 (35) Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi) dalam Madinah.

 (36) Tidak seorang pun dibenarkan untuk berperang, kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dihalangi seseorang untuk (menuntut pembalasan) akibat luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali jika ia teraniaya. Sesunggunya Allah sangat membenarkan ketentuan ini.

(37) Bagi kaum Yahudi memiliki kewajiban untuk membayar biaya dan bagi kaum muslimin ada kewajiban  biaya . Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu membantu dalam menghadapi musuh yang melanggar piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Dan memenuhi janji. Seseorang tidak boleh menanggung hukuman akibat (kesalahan) orang lain. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.

 (38) Kaum Yahudi bersatu dengan kaum muslimin dalam  menghadapi serangan luar.

(39) Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga yang mengikuti piagam ini.

 (40) Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.

 (41) Tidak boleh jaminan diberikan kecuali seizin ahlinya.

 (42) Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan dapat menimbulkan bahaya, maka urusannya diserahkan penyelesaiannya menurut ketentuan Allah Azza Wa Jalla, dan keputusan Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik atas isi piagam ini.

(43)Sungguh tidak ada perlindungan bagi kaum kafir Quraisy Mekkah dan juga bagi para pendukung mereka.

(44) Mereka (pendukung piagam) harus bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.

(45) Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksankan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.

 (46) Kaum Yahudi Al-‘Aws, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.

 (47) Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Demikianlah isi perjanjian, yang berasal dari  Muhammad Rasulullah.

Demikianlah isi dari piagam Madinah yang merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia, dan sejak itu seluruh Negara dan pemerintahan di dunia mengikut sistem undagng-undang tertulis sebagaimana yang telah dirintis oleh Rasulullah. Fa’tabiru Ya Ulil albab.

Buletin

Share This