1405 Persiapan Ramadhan di Masa Pandemik

today April 17, 2020 account_circle Arifin Ismail

 

“ Hebdaklah setiap diri mempehatikan apa yang telah diperbuatnya untuk  di hari esok “ ( QS.al Hasyr : 18 )

Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 15 April 2020 telah mengeluarkan Tausyiyah Menyambut Ramadhan dalam situasi Covid-19 yang menyatakan bahwa  sehubungan dengan akan masuknya bulan suci Ramadhan 1441 H dan mengingat kondisi pendemik Covid-19 yang masih berlangsung, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat dengan senantiasa mengharap rahmat, taufiq dan ridha Allah Subhana WaTa’ala  menyampaikan hal-hal sebagai berikut yaitu :

1. Mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadhan tahun ini benar-benar sebagai momentum meningkatkan keimanan, ketaqwaan, keikhlasan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ila Allah), serta secara khusyu’ berzikir, bermunajat, memperbanyak membaca al-Quran dan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar pendemik Covid-19 dan wabah lainnya segera diangkat dan dihilangkan dari negara tercinta Indonesia dan negara-negara lain. Hal ini berdasarkan dalil hadis dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah sallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa : “ Ada tiga golongan orang tidak ditolak doanya: orang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang teraniaya” (Hadis riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

2. Mengajak umat Islam untuk tetap mematuhi protocol kesehatan sehingga bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Apabila di suatu kawasan oleh instansi yang berwenang ditetapkan sebagai daerah yang rawan penyebaran Covid-19, maka umat Islam agar tidak melaksanakan ibadah yang melibatkan berkumpulnya orang banyak, seperti shalat Jumat, jamaah shalat Rawatib (shalat lima waktu), Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya serta pengajian umum atau tabligh akbar. Ibadah-ibadah tersebut dapat dilaksanakan di kediaman masing-masing dengan tanpa mengurangi kekhusyu’an dan keikhlasan. Terkait pengajian umum atau tabligh akbar bisa dilakukan secara online. Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang berkata bahwa  Rasulullah Sallahu alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa : “Siapa yang mendengar azan lalu tidak ada halangan udzur baginya (tapi dia tetap tidak memenuhi panggilan adzan tersebut dan ia shalat sendiri) maka shalatnya  tidak berpahala. Para sahabat bertanya: “Apa saja uzur tersebut ?” Rasulullah SAW menjawab: “Ketakutan atau sakit.” (Hadis riwayat  Imam al-Hakim)

3. Menghimbau umat Islam untuk lebih meningkatkan amal shalih, salah satunya dengan membantu fakir-miskin dan dhu’afa (terutama di daerah sekitar ia tinggal), melalui penyaluran zakat, infak, dan shadaqah. Khusus terkait zakat dapat dibayarkan lebih cepat dari waktunya (ta’jil az-zakat), dengan ketentuan: untuk zakat fitrah dapat dibayarkan di awal Ramadhan tanpa menunggu malam iedul fitri (lailatul ‘ied), sedangkan zakat mal apabila telah mencapai nisab dapat dibayarkan lebih cepat tanpa menunggu genap satu tahun (hawalanil haul). Hal ini berdasarkan hadis dari Sayyidina  Ali bin Abi Thalib  yang berkata bahwa  Abbas radhiyalahu anhu bertanya kepada Nabi sallahu alaihi wasalam tentang (hukum) mensegerakan bayar zakatnya sebelum datang masanya (haul), kemudian Nabi sallahu alaihi wa sallam membolehkan hal itu” (Hadis riwayat  Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

4.Mengajak umat Islam untuk meningkatkan solidaritas dan saling membantu antar sesama manusia, khususnya di antara tetangga di suatu kawasan, baik dalam hal menjaga kesehatan bersama dan memitigasi penyebaran covid-19, saling menjaga ketertiban dan keamanan, serta saling menanggung dan membantu kebutuhan (at-takaful wat-ta’awun).

Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhyallahu anhu yang menyatakan bahwa  sesungguhnya Rasulullah sallahu alaihi wasalam telah  bersabda bahwa  “tidak masuk surga orang yang tidak menjaga tetangganya dari keburukan atau kejahatan”. (Hadis riwayat  Imam Muslim)

Dalam hadis lain dari Abu Hurairah radhyalahu anhu bahwa Rasulullah sallahu alaihi wasallam telah  bersabda bahwa “siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah dia  memuliakan tetangganya”. Di riwayat lain dinyatakan : “ hendaklah seseorang itu  berperilaku baik kepada tetangganya”. Di riwayat lain disebutkan dengan pernyataan  “jangan menyakiti tetangganya”. (HR. Imam Muslim). Dalam hadis lain dari Umar bin al-Khathab radhyallahu anhu yang  berkata bahwa saya mendengar Rasulullah sallahu alaihi wasalam telah  bersabda bahwa : “seseorang jangan makan kenyang sedangkan tetangganya lapar”. (Hadis riwayat  Imam Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Hakim)

5. Menyeru pemerintah agar membatasi secara ketat pergerakan masyarakat yang akan melaksanakan mudik ke daerah lain. Hal itu karena kondisi daerah perkotaan umumnya tinggi penyebaran covid-19, sehingga apabila masyarakatnya mudik ke daerah lain sangat beresiko menjadi mata rantai penyebaran covid-19 ke daerah tujuan mudik. Kepada umat Islam agar tidak  melakukan mudik ke daerah lain dan silaturrahim lebaran dilakukan secara online. Hal ini berdasarkan hadis dari Usamah bin Zaid RA, Dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di suatu tempat sedang kamu berada di dalamnya, maka kamu jangan keluar dari tempat itu." (HR Imam alBukhari)

Hal ini berdasarkan hadis dari Abû Sa’îd al-Khudzriy radhyallahu anhu yang berkata bahwa, Rasûlullâh sallahu alaihi wasallam. Bersabda bahwa  “Tidak boleh membahayakan diri dan tidak boleh membahayakan orang lain”. (Hadis riwayat  Imam al-Dâruquthni, al-Baihaqi, al-Hakim)

6. Mendorong para pengelola media massa, khususnya TV dan radio, agar mempersiapkan berbagai acara siaran Ramadhan yang sejalan dengan nilai-nilai al-akhlaq al-karimah dan semangat gotong royong, saling membantu dan berlomba dalam kebaikan, sehingga tercipta di tengah masyarakat religiusitas dan kebersamaan untuk menghadapi dampak terjadinya pendemik covid-19. Demikianlah isi taushyah Ramadhan dari Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia dalam persiapan Ramadhan dalam situasi pandemik yang sedang berjangkit selama ini.

Ramadhan pada tahun ini memang berbeda dengan ramadhan pada tahun-tahun yang lalu, sebab ramadhan kali ini umat Islam berada dalam keadaan sedang berjangkitnya wabah penyakit virus covid 19 yang telah memakan korban ribuan orang di seluruh pelosok dunia. Oleh sebab itu puasa yang dilakukan pada ramadhan tahun ini dilakukan di dalam rumah masing-masing. Biasanya walaupun berpuasa di siang hari, umat islam masih dapat bekerja di kantor masing-masing, anak sekolah masih dapat belajar di sekolah, tetapi ramadhan kali ini orangtua dan anak, sama-sama berada di dalam rumah sebagai upaya untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus covid,

Oleh sebab itu diharapkan semua orang yang berada di dalam rumah agar dapat mempergunakan waktunya dengan baik dan positip, jangan sampai keberadaan di rumah bernilai kosong. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan selama ramadhan, seperti membaca al Quran sampai khatam, malahan dapat melakukan khatam berkali-kali, atau setelah khatam, dilanjutkan dengan membaca tafsir singkat seperti Terjemahan Al Quran . Setelah khatam membaca terjemahan Al Quran juga boleh dilanjutkan dengan membaca Tafsir Ibnu Kastir, atau Tafsir Al Azhar Hamka, dan lain sebagainya.

Selain membaca Tafsir,, waktu siang hari dapat dipakai juga untuk membaca Hadis-hadis nabi, dari kitab Hadis Arbain Imam Nawawi, Hadis Riyadhussalihin yang berkaitan dengan akhlak, Hadis Sahih Bukhari, Muslim, dan kitab hadis yang lain.

Selanjutnya waktu luang tersebut dapat dipakai untuk  membaca buku Sejarah nabi Muhammad, atau untuk membaca kitab fikih singkat seperti Kitab Fiqih karangan Sulaiman Rasyid, dan lain sebaginya.  Jika merasa bosan dengan membaca, dapat juga waktu siang tersebut dipakai untuk mendengarkan ceramah agama dari youtube, facebook, para ulama yang bertebaran di dalam dunnia maya. Demikian juga waktu dapat dipakai untuk melihat filem-filem kehidupan rasulullah, seperti filem Risalah , serial filem kehidupan Umar bin Khatab, filem tentang pahlawan dan pejuang Islam seperti Salahuddin al Ayubi, Al Faith dan lain sebagainya.  

Sebagai contoh, setelah shalat subuh dilanjutkan dengan  membaca al Quran, kemudian membaca tafsir dari ayat yang dibaca, setelah itu melakukan shalat duha, setelah shalat membaca kitab tafsir singkat untuk lebih memahami surat yang dibaca setelah subuh, dilanjutkan dengan  membaca  hadis, atau sejarah rasul, atau buku-buku agama islam yang berkaitan dengan hukum fikih, akhlak, tasauf, atau waktu dapat dipakai untuk mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya. Lebih baik lagi jika sambil membaca buku atau ceramah, kita mencatat hal-hal yang penting dalam buku catatan ramadhan yang dapat kita buka kembali sewaktu-waktu.

Shalat dzuhur dilakukan dengan berjamaah bersama keluarga, kemudian tidur siang sebagai persiapan untuk bangun di tengah malam, dilanjutkan dengan shalat ashar, dan membaca kisah-kisah para sahabat atau ulama, saintis muslim terdahulu, seperti enam puluh karakteristik sahabat nabi karangan Khalid Muhammad Khalid, Kehidupan sahabat ( hayatussahabah ) karangan Maulana Kandahlawi, diharapkan kita sebagai muslim dapat melihat kegemilangan Islam di masa lalu, sehingga termotivasi untuk kembali bangkit menegakkan peradaban Islam di masa mendatang.

Berbuka besama keluarga, dilanjutkan dengan shalat magrib, shalat isya dan taraweh berjamaah, dilanjutkan dengan tiidur di awal malam, agar dapat bangun qiyamulail, beristighfar, zikir dan tafakur, dilanjutkan dengan sahur dan shalat subuh berjamaah di rumah bersama keluarga.  Diharapkan jika hari-hari ramadhan diisi dengan program bermanfaat,maka Ramadhan tahun ini walaupun dalam situasi pandemik, tetapi kita dapat menjadikannya ramadhan yang akan lebih baik sebab ramadhan sarat dengan ilmu, amal, ibadah, zikir, tafakur, dengan penuh kekeluargaan dan kasih sayang. Fa’tabiru ya ulil albab.

 

Buletin

Share This